NovelToon NovelToon
KODE MERAH: CINTA

KODE MERAH: CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Sci-Fi / Romantis
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ririma

Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Drop

Aroma mesin pendingin ruangan dan bau logam dari puluhan komputer di ruang kendali Kantor Keamanan Sektor Empat hari ini terasa berkali-kali lipat lebih menyengat di penciuman Nezha. Sejak dua jam lalu, perutnya terus-menerus bergejolak, memicu rasa mual hebat yang membuat seluruh tubuhnya lemas dan gemetar.

Nezha buru-buru membekap mulutnya. Tanpa memedulikan baris data yang sedang ia periksa di layar, ia bangkit berdiri dengan cepat dan melangkah setengah berlari menuju toilet di sudut ruangan.

Di dalam bilik toilet yang sempit, Nezha bertumpu pada dinding wastafel, memuntahkan cairan bening dari perutnya yang kosong. Napasnya terengah-engah, peluh dingin membanjiri dahi dan tengkuknya. Ia membasuh mulutnya dengan air dingin, lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat pasi, matanya sayu.

'Efek kehamilan ini benar-benar gila ternyata,' batin Nezha sambil memegangi perutnya yang mulai sedikit menonjol. Untungnya masih bisa ia sembunyikan di balik seragam kerja yang longgar.

Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya sebelum melangkah keluar dan kembali ke kubikel kerjanya. Untung saja, hari ini bukan jadwal timnya untuk melakukan patroli lapangan. Jika tidak, ia pasti sudah ambruk di jalanan sejak awal. Namun tetap saja, menatap ratusan grafik pergerakan warga di depan monitor dengan kondisi kepala berputar seperti ini adalah siksaan tersendiri.

Pip. Pip. Pip.

Sebuah bunyi peringatan intermiten bernada rendah terdengar dari pergelangan tangan kiri Nezha. Nezha tersentak pelan. Di sana, indikator lampu pada gelang perak mulai berkedip-kedip memancarkan warna kuning statis.

Nezha refleks menarik lengan seragamnya untuk menutupi gelang tersebut, melirik cemas ke sekeliling ruangan. Detak jantungnya sempat berpacu cepat karena panik, sebelum ia teringat bahwa Carson sudah memanipulasi algoritma gelang itu beberapa pekan yang lalu. Gelang itu tidak akan memancarkan sinyal anomali biologis seperti kehamilan ke server pusat. Sensornya saat ini telah dimanipulasi agar hanya membaca statusnya sebagai efek kelelahan kronis.

"Nezha? Kamu tidak apa-apa?"

Suara cemas itu membuat Nezha menoleh. Jena, rekan satu timnya yang duduk di kubikel sebelah, sudah berdiri di dekatnya dengan kening berkerut dalam.

"Aku tidak apa-apa, Jena. Cuma agak pusing," jawab Nezha, memaksakan sebuah senyuman tipis yang terlihat sangat tidak meyakinkan.

Mendengar percakapan itu, dua anggota lain, yaitu Yuan dan Finke, yang tadinya sibuk memeriksa logistik persenjataan di meja tengah, langsung ikut menoleh dan berjalan mendekat.

Yuan meletakkan tablet digitalnya, menatap Nezha dari atas ke bawah. "Tidak apa-apa bagaimana? Wajahmu itu sudah putih seperti kertas, Nezha. Tadi aku juga melihatmu bolak-balik ke toilet. Kamu sakit?"

"Iya, Nezha. Suaramu saja sampai serak begitu," timpal Finke, melipat kedua tangannya di dada dengan raut wajah khawatir. "Dan tunggu... itu gelangmu berkedip kuning, kan? Gelang itu tidak pernah berbohong. Itu tandanya sekarang kamu sedang drop, Nezha."

Nezha menggelengkan kepala, mencoba meraih kembali tetikus di hadapannya untuk melanjutkan kerja. "Aku hanya kurang tidur saja, sungguh. Akhir-akhir ini jadwalku agak berantakan. Santai saja, ini akan hilang setelah aku minum air hangat kok."

"Jangan keras kepala," tegur Jena, langsung menepis pelan tangan Nezha dari atas meja kerja. "Tuh lihat, tanganmu saja sampai bergetar begitu. Kamu tahu sendiri kan, jam kerja kita masih tersisa empat jam lagi, Nezha. Dengan kondisimu yang seperti ini, sudah pasti kamu tidak akan kuat. Lebih baik kamu ke Ruang Kesehatan sekarang, minta vitamin atau apalah dari dokter di sana."

Mendengar kata 'Ruang Kesehatan', alarm bahaya langsung berdering di kepala Nezha. Pergi ke sana sama saja dengan menyerahkan diri. Dokter di ruangan itu memiliki alat pemindai medis yang jauh lebih canggih yang tidak bisa dikelabui oleh gelang peraknya. Jika mereka memeriksa darah atau melakukan pemindaian tubuh total, rahasia kehamilannya akan terbongkar dalam hitungan detik.

"Tidak. Aku tidak perlu ke Ruang Kesehatan," jawab Nezha dengan nada yang sedikit cepat, membuat Jena dan Yuan saling pandang dengan heran. Nezha segera melunakkan suaranya. "Maksudku... aku hanya butuh istirahat saja. Aku tidak perlu obat. Lagian obat dari sana selalu membuatku mengantuk berat. Pekerjaanku untuk minggu ini belum selesai, aku tidak mau meninggalkan tanggung jawabku pada kalian."

Finke menghela napas, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Pekerjaan bisa kita kerjaan bersama, Nezha. Kita ini satu tim, jangan seperti orang asing begitulah. Kalau kamu tidak mau ke Ruang Kesehatan, pulang saja sekarang. Ajukan izin pulang awal ke kepala pusat, biar aku yang urus administrasinya."

"Benar, Nezha. Pulang saja terus istirahat," dukung Yuan. "Kamu bisa pingsan kalau memaksakan diri di sini."

"Aku tidak mau pulang duluan," cetus Nezha lagi, bersikeras bertahan di kursinya meskipun pandangannya sempat memburam sesaat akibat pusing. "Tanggung, tinggal beberapa jam lagi sampai jam pulang. Aku hanya akan duduk diam di sini, sambil menyelesaikan pekerjaanku pelan-pelan."

Jena menggosok pelipisnya, merasa frustrasi dengan tekad rekan satu timnya yang terkadang terlalu berlebihan. "Kamu ini benar-benar keras kepala ya—"

Bzzzt.

Pintu otomatis ruang kendali terbuka lebar, memotong kalimat Jena. Suara langkah sepatu bot yang berat dan riuh terdengar masuk ke dalam ruangan. Itu adalah tim lain yang baru saja menyelesaikan giliran patroli mereka. Di antara para petugas yang tampak lelah dan berdebu itu, terlihat Shanaz sang komandan tim patroli, disusul oleh Bylla yang sedang sibuk melepas rompi pelindungnya yang berat.

Mata Bylla yang jeli langsung menangkap kerumunan kecil di kubikel tim Nezha. Sifatnya yang penuh rasa ingin tahu dan ekspresif membuatnya langsung melangkah lebar memisahkan diri dari timnya, menghampiri meja mereka.

"Wah, ada apa ini? Kenapa muka kalian tegang semua begini?" tanya Bylla dengan nada ceria seperti biasanya, namun senyumnya langsung memudar begitu melihat kondisi Nezha. "Eh... Kak Nezha? Kakak kenapa? Kok pucat sekali?"

Jena langsung menggamit lengan Bylla, seolah-olah gadis magang itu adalah jawaban dari masalah mereka. "Bylla, kebetulan sekali kamu sudah kembali. Ini, senior satu apartemenmu ini sedang sakit, tapi kepalanya sekeras baja. Disuruh ke Ruang Kesehatan tidak mau, disuruh pulang awal juga tidak mau. Padahal gelang peraknya sudah berkedip-kedip sejak tadi."

Bylla langsung menunduk, memperhatikan gelang di pergelangan tangan Nezha yang masih berkedip pelan. "Astaga, Kak Nezha! Itu artinya tubuh Kakak sudah kelelahan parah. Kenapa tidak mau pulang?"

"Aku bilang aku tidak apa-apa, Bylla. Cuma butuh istirahat sebentar sampai jam pulang," kata Nezha, suaranya melemah, pertahanannya mulai terkikis oleh rasa lemas yang makin menjalar ke seluruh sendi.

Jena menatap Bylla dengan tatapan memohon. "Bylla, timmu kan sudah selesai patroli dan sekarang tinggal menunggu jam pulang. Bagaimana kalau kamu antar Nezha pulang ke apartemen sekarang? Pekerjaan Nezha biar kami yang menangani. Yang penting dia sampai di apartemen dengan selamat."

Nezha buru-buru menyela sebelum Bylla sempat mengiyakan. "Jena, tidak usah repot-repot begitu. Bylla juga pasti lelah setelah patroli seharian. Sisa waktu kerja tinggal sedikit lagi, aku benar-benar akan menunggu jam pulang bersama yang lain saja."

Bylla memandangi Nezha dengan cermat. Meskipun ia terkenal enerjik dan terkadang tampak polos, sebagai pengawas walaupun masih magang, ia dilatih untuk membaca situasi fisik seseorang. Ia tahu Nezha sedang menahan rasa sakit yang tidak biasa.

"Begini saja kalau begitu," Bylla mengambil jalan tengah, mengetuk-ngetuk dagunya dengan ekspresi berpikir yang jenaka. "Kak Nezha tidak mau pulang sekarang karena merasa tidak enak meninggalkan jam kerja, kan? Kalau begitu biar saya saja yang menunggu di sini. Kebetulan setelah ini saya tidak ada pekerjaan yang mendesak. Jadi, kalau tiba-tiba ada sesuatu yang terjadi dengan Kak Nezha, saya bisa langsung menyeretnya pulang. Bagaimana?"

Jena mengembuskan napas lega, senyumnya kembali muncul. "Nah, itu ide bagus! Terima kasih banyak, Bylla. Kamu memang bisa diandalkan."

Yuan dan Finke pun ikut mengangguk setuju. "Ya, itu jauh lebih aman daripada membiarkan dia terus keras kepala seperti itu," ujar Finke setengah menyindir dengan nada bercanda.

Nezha memandangi rekan-rekannya, lalu menatap Bylla yang sudah mulai menarik sebuah kursi kosong untuk duduk di sisi kubikelnya. Di satu sisi, ia merasa lega karena tidak perlu dipaksa ke Ruang Kesehatan yang berbahaya bagi rahasianya. Namun di sisi lain, ia harus ekstra waspada sepanjang sisa hari ini, karena menghabiskan waktu berjam-jam di bawah tatapan mata Bylla yang tajam, meski dibungkus keceriaan, bukanlah hal yang mudah bagi seseorang yang sedang menyembunyikan kehamilan di dunia distopia ini.

"Terima kasih, Bylla. Maaf jadi merepotkanmu," bisik Nezha akhirnya, pasrah menerima keputusan bersama itu.

"Sama-sama, Kak Nezha! Anggap saja ini balasan karena Kakak sudah membantu saya pindahan," jawab Bylla riang, mulai menyalakan layar monitor cadangan di meja Nezha sambil bersenandung kecil.

1
Rudy satria
kapan avnan di rekrut jadi anggota tim cari jalan kapur carson,jangan lama²😅
Rudy satria
semoga carson bisa menemukan jalan keluar,supaya kita bisa ketemu emm tapi kalo udah keluar jangn ke negara Konoha ya carson pemerintah nya sama,sama² menindas rakyat🤭🤭
ririma: waduh, kayaknya carson juga bakal mikir dua kali kalau mau pindah ke sana kak😅
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir bg
Rudy satria
mudah²n kalo
i ini panglima berbuat baik
Rudy satria
semakin kuat kalo avnan mau di ajak gabung,hancurkan negara yang memiliki peraturan di luar loh 😅😅😅
Rudy satria
iiih ternyata teman👏👏
ririma: yeayy👏🏻
total 1 replies
kabur ke luar negeri aja🤭
berati udah gak ada lagi hiburan model gituan, hambar banget idupnya, apa maen sendiri juga bakal kena pasal?🤭
berati orang-orang di sini gadak yang nikah juga kah?
ririma: yap,,
total 1 replies
jadi buron dong ya
ririma: iya kalau ketahuan tapi kak, untungnya sejauh ini masih aman kak
total 1 replies
wkwk, baru juga pembukaan🤭
halo kak, aku mampir🤭
Rudy satria
nah bylla itu penuh misteri yang tak terduga,mudah²n si dia kekasih avnan,mereka berempat kalo bersatu bisa semakin kuat dan mungkin mereka bisa menembus pertahanan pemerintah
Rudy satria
mudah²n si itu bylla,dan juga mudah²n bylla mendukung dan tidak menangkap Nessa+carson
Rudy satria
👏👏🥳🥳keren, sebelum nya saya slalu baca yang retingnya sudah tinggi atau pembacanya banyak itu di pastikan bagus,nggk sengaja ngeklik novel yang mungkin author nya baru merintis sungguh karyamu keren Thor semoga saya bisa ngawal sampai kamu sukses,saya yakin dengan cerita yang rumit saja bisa di pahami saya yakin kamu bakal sukses semangat terus Thor🥰🥰🥰🥰
ririma: maaf kak, irl lagi sibuk soalnya, sekarang uda up kok, bisa langsung di cek yaa😊
total 3 replies
Rudy satria
benar² pejabat yang kurang teliti pantes gampang di tipu,selamat carson semoga bisa dapat jalan keluar👏👏
Rudy satria
astaghfirullah ikut deg,deg,degan aku,untung komandan militernya masih keturunan Konoha jadi bisa di tipu😅😅😅
Rudy satria
apakah panglima,beneran percaya atau malah sudah menuju apartemen carson
Devi..
seru dan unik ceritaanya thor..semoha bisa berlanjut smpai selesai ceritanya😊
ririma: terima kasih banyak kak🥰, aamiin semoga ya kak
total 1 replies
Devi..
serius kyk d konoho TNI.nya diistimewakan..😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!