NovelToon NovelToon
Alisha

Alisha

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintamanis / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:62.3k
Nilai: 4.7
Nama Author: Yuliana Farida

Ini hanyalah kisah romansa remaja yang dialami Alisha, remaja SMA ketika ia dekat dengan seorang anak laki laki yang berbeda dengan dirinya. Keseharian berjualan kaki lima tak surut untuk Alisha dalam mendekati Dika yang diam diam menyimpan kesempurnaan dalam hidupnya.


"Aku menyukainya.. tidak mau menahu akan pandangan orang orang disekitar akan dirinya, karena hanya aku yang mengetahui segalanya mengenai dia, Dika Arya."

Alisha Puteri,



"Sejak kapan kamu menjadi sosok puitis?"


Dika Arya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuliana Farida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertandingan

Hari Kamis adalah hari penentuan kemenangan perlombaan Basket. Dan beruntungnya, Tim Basket kelasku yang akan bertanding di final nanti. Aku harap mereka bisa menang kembali seperti Tim Futsal kemarin yang memenangkan pertandingan.

Semua siswa mulai memenuhi sisi lapangan untuk melihat pertandingan yang akan berlangsung dua menit lagi. Kebetulan hari ini tidak ada jadwal dari perlombaan lain, sehingga banyak sekali siswa yang menonton.

Aku melihat di seberang lapangan, Dika sedang ikut memperhatikan teman temannya yang sedang mengatur strategi bermain sebelum pertandingan dimulai. Ia terlihat serius mendengarkan penjelasan Evan walaupun ia tak bermain. Sesekali ia mengangguk dan memberikan pendapatnya yang entah itu apa karena jarak kami yang jauh sehingga aku hanya melihat gerak tubuhnya saja.

"Eh Lish, kayaknya kelas kita bakal menang gak?" Tanya Dina yang duduk di samping kiriku. Aku menolehkan kepala dan mengangguk kuat, yakin kelasku akan memenangkan lagi pertandingan.

"Kita punya si Evan yang jelas jelas udah profesional." Jelasku pada Dina sembari memberikan kedua acungan jempolku padanya. Kulihat, Dina tertawa gugup dengan pandangan tepat ke arah pandanganku tadi.

"Kasih semangat dong si Evan, biar tambah semangat mainnya." Saranku pada Dina, melihat ia sedang memandang Evan yang masih berkumpul dengan timnya.

"Enggak." Tolak Dina seraya mengalihkan pandangan. Aku berdecak pelan, kemudian Kina mengampiri kami dan duduk di sebelah Dina setelah memberikanku dan Dina sebuah susu kotak.

Pertandingan dimulai setelah Wasit meniupkan peluitnya. Kali ini bola pertama kali dilayangakan Evan kepada Vino. Bola saling diperebutkan, akan tetapi teman temanku bisa mempertahankannya hingga akhirnya Evan sang kapten memasukkan bola ke ring lawan. Semua orang bersorak ramai menyambut masuknya bola basket itu ke dalam ring.

Aku melihat Dika yang sedang tersenyum melihat rekan tim nya mencetak poin. Sesekali ia mengepalkan tangan gemas ketika bola direbut tangan lawan. Aku tertawa melihat tingkahnya itu tanpa dia sadari.

Selama pertandingan itu, aku hanya sibuk melihatnya dari pada melihat orang orang yang berlarian di tengah lapangan. Dina memegang tanganku dan tiba tiba berdiri berteriak senang ketika permainan berakhir dan kelas kami pemenangnya. Aku pun ikut saja untuk berteriak memeriahkan kemenangan kedua kami yang sudah pasti. Semua teman kelasku menghampiri mereka yang sedang beristirahat dan mengucapkan selamat berkali kali. Aku, Dina, dan Kina pun ikut bergabung dan kemudian terkejut ketika melihat Andre yang duduk di samping sedang mengerang kesakitan memegang bahunya.

"Dre? Kenapa? Eh si Andre kenapa nih?" Ucapku panik mengalihkan perhatian kerumunan itu. Evan menghampiri Andre dan melihat bahu Andre.

"Cedera nih. Ayo ke UKS." Jelas Evan dan segera membawa Andre ke UKS tanpa memegang bahu kanannya yang kesakitan.

"Kalian ke kantin duluan, sesuai janji aku kemarin. Jajan sepuasnya." Ucap Evan kepada kami semua sebelum memapah Andre ke UKS.

Teman temanku bersorak senang karena ada traktiran lagi yang menunggu. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju kantin. Aku pun menghela nafas sedih, kenapa mereka masih merasa senang ketika ada temannya yang sedang tidak baik?

Kemudian Dika menepuk bahuku dan mengajakku ke kantin. Aku pun mengangguk lesu dan mengajak pula Dina dan Kina ke kantin. Namun sepertinya Dina sedang memiliki urusan, jadi ia meminta kami pergi duluan ke kantin.

"Kamu kenapa?" Tanya Dika saat kami baru saja duduk di bangku kantin.

"Kasihan si Andre, gak bisa makan traktiran dong." Jawabku lesu. Kina mengelus ngelus bahuku bermaksud menenangkan, dan ia berkata.

"Nanti dia di traktir khusus kok sama Evan. Kan dia yang main, masa gak di kasih jatah." Jelas Kina seraya melepaskan tangannya dari bahuku.

Aku pun tak menjawab dan mulai memakan siomay kesukaanku hingga habis. Saat itu pula, Dina dan Evan menghampiri bangku kami sambil membawa nampan makanan masing masing.

"Habis dari mana Din?" Tanyaku saat ia menyuap bakso pertamanya. Ia diam beberapa saat, kemudian menggeleng dan melanjutkan kembali memakan baksonya yang sempat tertunda. Aku mengernyit penasaran karena Dina tidak menjawab pertanyaanku. Kemudian aku melirik pada Evan yang tengah menyeringai jahil ke arah Dina membuatku semakin bingung.

"Dina! Jawab dong." Protesku kesal.

"UKS. Sakit perut." Ucap Dina singkat membuatku memandang khawatir kepada Dina.

"Kenapa gak bilang? Aku bisa antar kan." Rajukku kesal karena Dina selalu menyembunyikan sesuatu jika mengenai keadaan dirinya sendiri.

"Gak." Dina menjawab pertanyaanku datar, membuatku bertambah kesal.

"Kamu kenapa sih? Evan, ngapain juga kamu dari tadi senyum senyum gitu? Jelek tau." Aku semakin kesal melihat Evan yang terus tersenyum menyeringai ke arah Dina membuat Dina risih dan semakin enggan menjawabku.

Aku melihat Dika yang sedang menahan tawa membuat lipatan di keningku semakin bertambah.

"Dika! Ngapain juga kamu senyum gak jelas?" Tanyaku penasaran diiringi perasaan jengkel. Namun Dika hanya menggeleng ketika mendapatkan tatapan tajam dari Evan.

"Kina? Mereka kenapa?" Tanyaku berbisik pada Kina karena tak kunjung mendapat jawaban dari mereka bertiga.

Namun, sepertinya hari ini aku akan terus dibuat bingung oleh ke empat temanku itu, karena Kina juga menggelengkan kepala memilih menghabiskan siomaynya yang tersisa sedikit lagi.

Aku pun mendengus kesal dan menyenderkan tubuh di kursi sambil melipat tangan membalas tatapan mereka dengan malas. Aku kesal, mereka terlihat senang membuatku kebingungan seperti ini.

Kemudian, ditengah kekesalanku, seorang laki laki yang merupakan adik kelasku menghampiri meja kami dan berkata pada Evan.

"Bang, ada murid dari sekolah sebelah, katanya mau tanding sama yang tadi menang. Mau gak?" Ucap murid itu yang aku ingat bernama Riko setelah membaca name tag di seragamnya.

"Siapa Ko?" Tanya Evan masih santai.

"Itu dari SMA Citra Nusa." Jawab Riko.

Hah? Sekolah Internasional itu? Bukannya itu sekolahnya Alex? Kenapa mereka tiba tiba meminta tanding ke sekolah kami?

Aku memandang Kina yang ada di sebelahku menanyakan apakah Alex memberitahunya terlebih dahulu sebelum ke sini. Namun Kina juga tidak tahu menahu tentang kedatangan Alex yang sangat tiba tiba itu.

Ku lihat Evan berdiri dan bertanya pada timnya apakah sanggup untuk bermain sekarang melawan anak anak sekolah yang terkenal hedon itu.

Mereka semua mengangguk semangat dan setuju untuk bermain. Namun, Rion menyela dengan menanyakan bagaimana dengan rekan satunya lagi yang sedang cedera, yaitu Andre.

"Lang, mau main kan?" Tawar Evan kepada Gilang yang masih asik minum jus apel di tangannya.

"Van, kamu tahu kan? Kakiku lebih berkompeten dibandingkan tanganku dalam menguasai bola. Noh, si Farhan aja." Ujar Gilang sambil melemparkan penawaran Evan kepada Farhan.

"Gak, gak. Lihat mereka aja udah nyiut ah. Mereka kan jago jago main basketnya. Yang lain deh." Farhan kembali menolak seperti penuturan teman sebangkunya tadi.

"Terus siapa?" Tanya Evan frustasi karena tidak ada yang mau menggantikan Andre. Sementara jumlah laki laki dikelasku hanya segitu adanya.

"Si Toni sama si Bimo gak sekolah hari ini." Beritahu Gilang pada Evan.

"Aris?" Tanya Evan.

"Gak tau kemana, sama pacarnya kali." Jawab Gilang, membuat Evan mendengus kesal. Ia sudah tahu jika Aris sudah berduaan dengan pacarnya itu, ia tidak bisa di ganggu sama sekali meskipun Whatsapp miliknya sedang aktif, ia selalu mengacuhkannya, sepenting apapun itu.

Ditengah kerisauan itu, aku melihat ke arah seseorang yang ada di depanku. Aku memperhatikannya sebentar dan berteriak memecahkan keheningan yang sempat terjadi.

"Dika!" Seruku membuat semua orang melihat ke arah Dika.

"Oh iya, dari tadi gak kepikiran. Kamu main ya Dik." Evan memerintahkan Dika untuk bermain menggantikan Andre. Kulihat, Dika mengerjapkan matanya dan melirik ke arah Evan, hendak menolak. Namun, Evan memotong terlebih dahulu penolakan Dika yang belum sempat terucap.

"Please ya Dik? Tinggal kamu saja harapan kita semua." Bujuk Evan yang kurasa terlalu lebay. Aku mendengus sebal, tapi tak ayal membuatku untuk ikut membantu membujuk Dika.

"Dika,main ya?" Bujukku kembali di depan Dika yang sedang duduk merajuk padaku. Kali ini, kami berdua sedang di ruang ganti olahraga setelah Evan memaksa Dika untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian Basket.

"Lish, aku gak bisa main." Ucap Dika kekeuh untuk menolak bermain.

"Gak papa, asal aja. Yang penting kamu main gantiin Andre." Ucapku agar Dika meng-iya kan permintaan kami sekelas.

"Alish, gak mau." Kali ini Dika merengek sambil menggoyang goyangkan tangan kiriku menggunakan kedua tangannya membuatku tertawa keras. Sejak kapan Dika suka merengek?

Ceklek.

Aku dan Dika seketika diam saat salah sati pintu ruang ganti terbuka menampakkan seorang kakak kelas yang telah berganti baju. Perlaha, kurasakan pegangan Dika di tanganku dia lepaskan dan memasang wajah datar sekaligu malunya karena kepergok sedang merengek tak jelas padaku. Aku pun tersenyum pada orang itu sebelum ia keluar. Setelah merasa ia telah pergi, aku kembali menatap Dika yang kini cemberut memalingkan wajah dariku.

"Cepet ganti baju! Kamu main pokoknya!" Putusku pada akhirnya dan berjalan keluar memilih menunggu Dika di depan pintu ruang ganti.

"Lima menit kemudian, Dika muncul dengan wajah lesunya, kemudian ia melemparkan seragamnya ke arahku untuk ku terima. Aku pun menerimanya dengan senang hati dan tersenyum menyemangati Dika yang sebentar lagi akan bertanding.

"Ayo, ayo. Sebentar lagi di mulai." Ajakku mulai menyeret Dika yang masih enggan ikut bermain.

Saat kami sampai di lapangan, aku menemani Dika yang ku paksa untuk ikut mendengar Evan yang sedang memberi strategi yang tepat untuk melawan. Namun sepertinya, meskipun Dika terlihat enggan bermain, ia tetap mendengarkan penjelasan Evan dengan serius. Kemudian setelah selesai, mereka berteriak dan ber-tos ria untuk menyemangati satu sama lain.

"Semangat." Ucapku pelan saat Dika melihat ke arahku sebelum masuk ke dalam garis lapangan. Namun Dika terus melihatku sambil berjalan ke tengah lapang seolah tidak rela ia bermain.

"Se-ma-ngat, se-ma-ngat, Dika semangat." Kali ini aku berteriak kencang guna meningkatkan semangat dan kepercayaan diri Dika. Akhirnya Dika tersenyum kecil dan mulai berbalik berlari ke tengah lapang.

Semua orang kembali berkumpul mengelilingi lapangan bersorak ria menyambut pertandingan yang sebentar lagi di mulai. Aku terus menatap Dika yang sedang menatap lawan dengan wajah datarnya, terutama pandangannya terhadap Alex yang tengah memandang sinis terhadap Dika.

"Kina." Aku melihat Kina yang berjalan mengahmpiriku.

"Kamu dukung kelas ya, jangan pacar kamu." Ingatku pada Kina yang kini hanya menyengir merasa bingung untuk memilih mendukung siapa.

"Din, buat siapa?" Tanyaku saat Dina menghampiriku membawa sekardus botol minuman.

"Ya buat tim kita lah." Jawab Dina sambil menyimpan dus itu di bawah.

"Dari siapa?" Tanyaku penasaran.

"Dari Bu Yanti." Jawab Dina yang ternyata minuman itu pemberian dari wali kelas kami.

Kemudian pertandingan di mulai. Aku mulai memperhatikan jalannya pertandingan. Sesekali aku berteriak menyemangati Dika yang sedang menggiring bola. Tetapi wasit meniupkan peluitnya tanda pelanggaran terjadi. Ternyata Dika terlalu lama menggiring bola tanpa melemparnya ke rekannya yang lain.

Dika tampak diam disana, tampaknya ia masih tak mengerti. Kemudian Evan menghampirinya dan memberi tahu sedikit peraturan bermain bola basket.

Setelah itu, Alex menghampiri Dika dan mengambil paksa bola yang di pegang bola untuk kembali memulai pertandingan. Kulihat, raut wajah Dika sedang tak tenang, aku pun kembali melayangkan kata kata semangat kepada Dika agar ia kembali fokus ke pertandingan.

Kali ini Dika bermain sesuai aturan. Aku tahu Dika cepat sekali tanggap dengan apa yang orang katakan. Jadi, ia tak terlalu sulit mengingat dan mencerna tahapan dan peraturan bermain basket.

Di babak kedua permainan, kini Dika tampil lebih baik dari sebelumnya, ia bahkan sudah memasukkan bola ke dalam ring sebanyak tiga kali membuatku tersenyum bangga dan mengacungkan kedua jempolku ke arahnya saat ia sesekali melihat ke arahku.

Di babak ketiga, terlihat dengan nyata, Alex sengaja mendorong Dika hingga ia terjatuh dan mengerang kesakitan memegang bahu kirinya. Aku memandangnya khawatir dan ingin menghampirinya, akan tetapi ia telah berdiri kembali dan siap melanjutkan permainan. Ku lihat wasit memberi teguran pada Alex dan memberi sangsi padanya berupa lemparan jarak dekat untuk tim Evan. Kali ini, Evan sendiri yang melakukannya. Ia melemparkan bola dengan mudah dan langsung masuk ke dalam ring dengan mulus. Kali ini tim Evan yang mewakili sekolah kami lebih unggul poinnya dari pada tim Alex.

Di babak ke empat, aku melihat kondisi Dika yang semakin menurun dan terlihat menahan sakit di bahunya, aku ingin menghentikannya. Tapi tidak ada yang mau menggantikannya. Dika pun memaksakan diri menyelesaikan pertandingan hingga selesai. Dan ia sempat memasukkan bola dua kali ke dalam ring lawan di detik detik terakhir.

Kali ini pertandingn benar benar berakhir, aku menghela nafas dan tersenyum senang karena pertandingan ini dimenangkan oleh sekolahku. Aku bermaksud untuk menghampiri Dika dan mengajaknya ke UKS, namun sebelum aku sampai, Alex dengan kerasnya mendorong bahu kiri Dika hingga ia terjatuh mengerang kesakitan.

Aku mengahmpiri Dika dengan cepat, kemudian, guru olahragaku sekaligus salah satu wasit pertandingan tadi mengahmpiri kami dan memeriksan keadaan bahu Dika.

Dika tak berhenti mengerang kesakitan membuatku menangis tak tega. Keringat dingin terus mengucur dari tubuhnya menunjukkan betapa sakitnya yang dirasa Dika.

Kemudian seseorang memberikan es batu ke arah Pak Raka dan mengarahkan es batu itu ke bahu kiri Dika yang kesakitan itu.

Ringisan Dika semakin menjadi, hingga air matanya sesekali menetes membuatku ikut menangis dan mencoba menghapuskan air matanya.

Setelah itu, anggota PMR mengahmpiri kerumunan dan membawa Dika dengan hati hati ke atas brankar untuk di bawa ke UKS. Aku pun mengikutinya sembari memeluk erat botol aqua yang hendak aku berikan kepada Dika.

1
lee_you
haaiii... masih ada yang Dateng ke lapak ini?? semoga aja ada yak😆.. meskipun cerita ini udah tamat.. aku kangen banget sama Dika dan mampir kesini lagi setelah sekian lama😭😭😭 kepikir buat revisi semua bab karena aku akui novel ini masih banyak kekurangan.. mulai dari alur yang berantakan, bahasa kepenulisan yang masih banyak salah.. dan banyak lagi😭😭 aku pikir mau rombak cerita ini sepenuhnya agar lebih baik lagi dan layak baca🥰🥰 thanks banget buat yang udah baca cerita ini sampai habis.. apalagi sama komentar" yang inovatif, suportif, dan kocak".. semoga cerita ini begitu berkesan yaa:)
🍒⃞⃟🦅₳яяσω σƒ яσмαη¢є
Baca ulang deh, kangen banget sama Dika
🍒⃞⃟🦅₳яяσω σƒ яσмαη¢є: Wah MaasyaaAllah.. Kembali berjumpa kita ya. Semangat terus dalam berkarya ya Yul
total 2 replies
🍒⃞⃟🦅₳яяσω σƒ яσмαη¢є
Ehh baru sempat buka cerita ini lagi, dulu aku baca pakai akun yang satunya, btw update selanjutnya pindah lapak ya yul..?
Aduh gak bisa ikutan aku😭
Doaku, semoga dikau sukses di lapak sebelah ya..!

Ini aku admin gc mu, aku udh gak menerima member karna gc sekarang pada sepi, takut cuma nampung doang sedang kita disana sering bertukar poin. Member disana asli sudah terpercaya dan memanfaatkan gc sebijak mungkin.
🍒⃞⃟🦅₳яяσω σƒ яσмαη¢є: Akhir² ini aku jarang on, aplikasi error terus. Gc pada hilang.
total 2 replies
Joko Jokoo
evan n dina jg seru kyk ny. buat crita evan yg ditinggl kekasih ny. trus nmuin cewk bru gitu.
Joko Jokoo: oche 👍
total 2 replies
Joko Jokoo
crita alex n kina, mau buat di mna thor??
lee_you: di dreame juga.. nunggu rampung dika sama alish dulu haha
total 1 replies
Nenk Fadila
inovel ada ga thor ?
lee_you: ada kak
total 1 replies
Joko Jokoo
kangen dika n alish
lee_you: sabaaarr😭😆
total 1 replies
Joko Jokoo
kpan lnjut lgi??
lee_you: tunggu beberapa hari lagi yaa
total 1 replies
Kiki•Put(ভ_ ভ)
haahhh... 🙀
begitu berat... tapi gak apa lahh,
Semangat terus kak Yul😁😆😆
lee_you: siapp😆❤
total 1 replies
RO_che
semaangat thor.. edisi jilid 2 yaa thorr... 🥰🥰🥰🥰🥰 pindah t4 kah thor??
lee_you: iyaa.. terima kasihh😁
total 1 replies
Flamboyan Dari Timur
suka bnget nget
Flamboyan Dari Timur
suka bnget..... jgn cpat tmat donk
lee_you: nantikan Dr.D ya☺💕
total 1 replies
Joko Jokoo
dika dri naik sepeda, smpe naik mobil. saling setia dn saling mendukung dlm meniti karir masing2.
lee_you: uwuu banget kak😁
total 1 replies
Joko Jokoo
ini lnjut di nt atw dream thor.

jangn buat konflik yg berat2 dong. msa crita ny di pisah kn melulu. 😣😣

ap lgi klw ad smpe ad konflik lupa ingatn dn gk ingt dgn pasangn ny.
Joko Jokoo: 👍👍👍👍👍👍👍
total 4 replies
Akifa
sukaaaa
lee_you: makasihh❤
total 1 replies
melfida
suka bangetttttt.....
lee_you: bener?? uuhh makasihh😘
total 1 replies
RO_che
masih puanjangg kan thoor ceritaanya..🥰🥰
RO_che: okeh siap thorr.. 🥰🥰
total 2 replies
RO_che
jgn buru2 dunk thor..
RO_che: ceritanyaa.. jgn c4 ending thor
total 4 replies
Joko Jokoo
dika, nyebeliiiiinnnn

tpi kmu suka kn liiiiisssshhh
lee_you: sukaaa😝
total 1 replies
icha.sunflower
yang novelnya welcome to wania disana ta thor. Dr. D nya belum ada
lee_you: iya.. Dr. D belum bikin, nanti nyusul☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!