Dia terlihat piawai bermain dengan ekspresi dan gesture tubuhnya. Bergaya dengan busana elegant dan mewah. Ketampanannya adalah anugerah dan ekspresi adalah bahasa jiwa. Membuat semua wanita dan rekan bisnisnya berdecak kagum.
Namun siapa sangka, di balik kegemilangan kariernya, ia menyimpan sisi gelap yang hidup di alam bawah sadarnya. Latar belakangnya Kesepian dan kepedihan hidupnya ia sembunyikan dengan sekeras-kerasnya hingga nyaris tidak memiliki kehidupan pribadi. Bahkan ia tidak mengerti apa itu cinta. Yang ia pahami hanya rasa sakit dan tersisih.
Dalam perjalanan alam bawah sadar ia menciptakan pribadi lain di saat ada guncangan emosional datang. Entah saat sedih atau gembira, bahkan saat bercinta,
ia menjelma menjadi pribadi lain yang bernama Rava Alexi Ortama, dengan sifat yang sangat cerdas, licik, dingin, psikopatik dan sangat bengis.
Saat menjadi Rava, yang ia pikirkan adalah mencari teman untuk dirinya di masa lalu. Semua orang harus mengalami rasa sakit, penderitaan, kesepian, ketakutan, sama seperti yang dirasakannya selama ini.
Penasaran dengan kisahnya, yuk simak jangan lupa tinggalkan jejak.
Cover by pinteres.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tidak perduli
Pagi pukul 7:30
"Bagaimana hubunganmu dengan Beby? kapan kau akan memperkenalkan pacarmu itu?" tanya Anita sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas.
"Nanti malam, Ma.."Sahut Aditya menoleh ke arah Anita.
"Apakah kau sudah tahu siapa keluarganya?" tanya Enzi melirik sesaat ke arah Aditya.
"Sudah, Pa..dia gadis yang baik. Aku harap, Papa dan Mama tidak mencampuri urusan pribadiku. Aku punya pilihan sendiri, dan aku tidak mau di jodohkan dengan siapapun." Jawab Aditya tegas.
"Aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu. Terserah, kau juga sudah besar." Timpal Enzi, melirik jam tangannya.
Tiba tiba suara bel berbunyi, tanda ada tamu yang datang berkunjung.
"Mbok, tolong di lihat!" perintah Anita.
"Baik Nyonya!" sahut Mbok. Kemudian mbok pergi keluar ruangan.
"Siapa pagi pagi bertamu." Rutuk Enzi.
Tak lama ia kembali bersama seorang pria yang tak lain adalah Avram. Enzi terdiam menatap wajah Avram yang terilhat kurus dan berantakan.
"Avram!" seru Enzi lalu berdiri menghampiri Avram dan memeluknya erat. "Kau kemana saja?"
"Siapa dia, Pa?" tanya Aditya, lalu berdiri menghampiri mereka berdua yang tengah berpelukan.
"Dia, Pamanmu." Jawab Enzi seraya melepas pelukannya.
"A, aditya?" sapa Avram tersenyum samar menatap wajah Aditya. "Benarkah kau, Aditya? sudah besar kau, Nak."
"Paman!" sapa Aditya.
"Kau menghilang kemana selama ini?" tanya Anita sinis. "Aku pikir kau tidak ingat kami lagi."
"Maaf, aku tidak memberi kabar kalian." Jawab Avram.
"Pa, Ma..sudah siang, aku kerumah sakit dulu." Kata Aditya.
"Iya Nak, hati hati!" sahut Anita.
"Paman, aku pergi dulu!" Aditya tersenyum sekilas, lalu beranjak pergi keluar ruangan.
"Avram, duduklah. Aku siapkan kau sarapan." Anita mempersilahkan Avram untuk duduk di kursi.
"Terima kasih!" sahut Avram lalu duduk di kursi.
"Sekarang kau tinggal di mana?" tanya Anita.
"Aku tidak punya tempat tinggal, aku juga tidak punya pekerjaan." Ungkap Avram.
"Kau bisa tinggal di sini untuk sementara waktu. Bantu saja kakakmu, dari pada kau keluyuran tidak jelas." Timpal Anita.
"Terima kasih!" sahut Avram.
Kemudian mereka melanjutkan sarapan pagi tanpa ada yang bicara sepatah katapun hingga selesai.
"Aku ke kantor, apa kau mau istirahat atau ikut denganku?" tanya Enzi menatap ke arah Avram.
"Aku ikut denganmu, mungkin ada yang bisa kukerjakan." Jawab Avram.
"Baiklah!" sahut Enzi. Kemudian mereka berdua berpamitan pada Anita.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku.." ucap Anita dalam hati.
***
Di dalam mobil, Avram dan Enzi terlibat perbincangan ringan hingga perdebatan panjang.
"Semua ini gara gara kau, andai aku tidak memenuhi keinginanmu. Mungkin hidupku tidak berantakan seperti ini!" Ungkap Avram kesal.
"Apa maksudmu? aku hanya minta kau menyingkirkan bayi itu, dan melenyapkan semua musuhku, dan kau sudah menerima uang sesuai kesepakatan?" balas Enzi tak kalah kesal. "Aku terpaksa meminta kau melenyapkan bayi itu, karena aku tidak mau pernikahanku dengan Anita sampai gagal."
"Kau egois!" umpat Avram.
"Aku tahu, dan aku sadar telah berbuat kesalahan." Ucap Enzi penuh penyesalan.
"Aditya sudah besar, tampan, seorang Dokter.." ucap Avram matanya berbinar menatap ke arah Enzi.
"Tunggu dulu, di mana putramu?" tanya Enzi.
"Putraku sudah meninggal sejak bayi." Kata Avram menundukkan kepalanya.
"Elena?" tanya Enzi lagi.
"Elena sudah mati.." Jawab Avram. "Aku menyesal telah melibatkan Elena, dia anak yang baik."
"Ya Tuhan.." ucap Enzi mengusap wajahnya sendiri. "Bagaimana dengan bayi itu, apakah kau sudah melenyapkannya bukan?"
"Tidak, aku tidak tega membunuhnya. Aku biarkan bayi itu hidup dan sudah kuserahkan kepada ibunya." Ungkap Avram.
"Apa??" Enzi terkejut, selama ini ia menduga kalau bayi dalam keranjang itu masih hidup.
"Ya, bayi itu masih hidup dan sekarang sudah besar. Dan menjadi pengusaha sukses di usianya yang masih sangat muda." Ungkap Avram menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.
"Di mana mereka sekarang? aku ingin bertemu mereka." Kata Enzi antusias.
"Kau serius?" tanya Avram.
Enzi menganggukkan kepalanya, ia tidak mau di hantui rasa bersalah dan mimpi buruknya lagi. Mungkin dengan menemui mereka dan meminta maaf akan menyelesaikan semua kegelisahannya selama ini.
"Baiklah, kita temui mereka sekarang." Usul Avram.
Enzi menganggukkan kepala, "kau tahu di mana mereka tinggal?"
Avram tersenyum sinis, melirik sesaat ke arah Enzi. "Tentu saja!"
"Baiklah, kita ke sana sekarang!"
Enzi menyalakan mesin, lalu memutar arah mobilnya menuju rumah Quenby. Sepanjang perjalanan, Enzi sudah membayangkan wajah bayi yang selama ini ia coba singkirkan.
Hanya butuh waktu tiga puluh menit saja, mereka telah sampai di halaman rumah, Quenby. Di dalam mobil, Avram melihat Rava dan Quenby baru saja keluar dari dalam rumah, sepertinya mereka hendak pergi kesuatu tempat. Avram dan Enzi keluar dari pintu mobil bersamaan.
"Apa kabarmu, Dad?" sapa Rava tersenyum manis. "Suatu kehormatan, Enzi Alexi Ortama datang berkunjung ke rumahku sepagi ini."
Avram dan Enzi saling pandang sesaat, lalu keduanya menatap ke arah Quenby yang hanya tersenyum, tanpa ada reaksi yang berlebihan saat melihat kedatangan mereka berdua.
"Rava, aku datang kesini mau minta maaf." Ucap Avram. "Aku juga mau memperkenalkan kalian-?" Avram tidak melanjutkan ucapannya.
"Dady ku?" potong Rava, lalu menoleh ke arah Quenby. "Hahahaha!" mereka tertawa bersama membuat Avram dan Enzi saling pandang tidak mengerti.
"Kalian pulanglah, jangan membual di pagi hari. Kami sudah tidak perduli lagi, dan jangan mengganggu hari kami yang menyenangkan. Bukan begitu Mom?" Rava melirik sesaat ke arah Quenby
"Kau benar sayang, selama ini kita sudah menyia nyiakan waktu hanya untuk memikirkan pria pria brengsek. Lebih baik kita jalan jalan sekarang, ayo!"
Quenby menarik tangan Rava, lalu masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan mereka berdua. Avram dan Enzi menatap bingung, memperhatikan mobil milik Rava melaju meninggalkan halaman rumah.
"Ini aneh, apakah mereka sudah gila?" gumam Avram dalam hati.
"Jadi? Rava Alexi Ortama itu putraku?" tanya Enzi.
"Ya, kau benar!" sahut Avram.
"Dan..wanita tadi..gadis yang aku nodai dulu?" tanya Enzi lagi.
"Ya, kau benar!" sahut Avram.
"Cantik sekali, dulu dia masih sangat anak anak." Kata kata Enzi semakin membuat Avram bingung.
"Jangan bilang, kau menyukainya dan ingin kembali padanya?" tanya Avram balik.
"Entahlah, aku masih bingung. Ayo kita pulang!" Enzi membuka pintu mobil, lalu masuk ke dalam di susul Avram.
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah Quenby. Sepanjang perjalanan, Enzi terus membayangkan wajah Quenby dan Rava. Sementara Avram, menaruh curiga kalau Enzi akan mendekati Quenby lagi.