meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Sorotan
Keesokan harinya, Joglo Langit berubah wajah. Dari tempat yang sunyi dan penuh kenangan pribadi, ia kini bertransformasi menjadi pusat perhatian media dan influencer ternama di Jawa Tengah. Dekorasi minimalis bernuansa earth tone dengan sentuhan teknologi Augmented Reality (AR) mengubah setiap sudut joglo menjadi panggung futuristik. Lampu sorot menyinari kayu-kayu tua yang kokoh, menciptakan kontras estetik antara tradisi dan modernitas yang menjadi inti kampanye "Rumah Impian, Nyata Adanya".
Meylani berdiri di belakang tirai panggung utama, mengenakan gaun blazer putih elegan yang membuatnya terlihat tajam namun tetap feminin. Jantungnya berdegup stabil. Ia telah mempersiapkan presentasi ini selama berminggu-minggu. Timnya, Dimas dan rekan-rekan dari cabang Surabaya serta Jakarta, sudah siap di balik layar dengan tablet dan headset komunikasi.
"Mbak Meylani, lima menit lagi," bisik Dimas sambil memberikan headset kecil padanya. "Semua tamu VIP sudah duduk. Termasuk perwakilan dari Kementerian PUPR dan beberapa investor asing."
Meylani mengangguk, menarik napas dalam-dalam. Ia melirik ke arah penonton melalui celah tirai. Barisan depan dipenuhi oleh wajah-wajah penting. Dan di sana, di barisan ketiga, duduk seorang pria dengan kemeja batik modern yang tampak akrab. Itu adalah Pak Hendra, klien lama dari PT Graha Properti yang dulu pernah meragukan kemampuannya. Kini, Pak Hendra tersenyum dan memberikan isyarat jempol ke arah Meylani. Sebuah validasi kecil yang berarti besar.
Acara dimulai. Musik instrumental gamelan modern bergema lembut, dipadukan dengan dentuman beat elektronik yang energik. Meylani melangkah keluar ke tengah panggung. Sorotan lampu menyilaukan, namun ia tidak silau. Ia merasa seperti ikan yang kembali ke air.
"Selamat pagi, Semarang. Selamat pagi, Indonesia," suara Meylani terdengar lantang dan jelas melalui sistem audio berkualitas tinggi. "Hari ini, kita tidak hanya berbicara tentang beton, besi, dan kaca. Kita berbicara tentang 'rasa'. Rasa aman. Rasa memiliki. Rasa pulang."
Selama dua puluh menit berikutnya, Meylani mempresentasikan visi perusahaannya dengan karisma yang memukau. Ia menggunakan teknologi AR untuk menunjukkan bagaimana sebuah rumah kosong bisa diubah menjadi ruang hidup yang hangat hanya dengan sentuhan digital. Ia menceritakan kisah nyata keluarga muda di Surabaya yang menemukan kebahagiaan di proyek mereka, dan lansia di Semarang yang merasa terlindungi di hunian vertikal mereka. Narasinya kuat, emosional, dan didukung data yang solid.
Tepuk tangan menggema saat ia selesai berbicara. Bukan tepuk tangan sopan, tapi tepuk tangan antusias. Beberapa orang bahkan berdiri (standing ovation). Meylani tersenyum, membungkuk hormat, dan mundur ke belakang panggung.
Di balik tirai, timnya bersorak pelan. Dimas memberi high-five. "Luar biasa, Mbak! Reaksi audiens sangat positif!"
Meylani menghela napas lega, mengambil botol air mineral. Namun, kebahagiaannya terusik oleh notifikasi ponselnya yang bergetar keras di saku blazernya. Ia mengambilnya, expecting pesan pujian dari atasan atau ibu.
Namun, yang muncul adalah judul berita breaking news dari portal berita nasional:
"SKANDAL KORUPSI LAHAN PROYEK PERUMAHAN NASIONAL? DOKUMEN INTERNAL BOCOR MENYERET NAMA DIREKTUR PEMASARAN."
Darah Meylani seolah membeku. Jantungnya yang tadi tenang kini berpacu kencang. Ia membuka artikel tersebut dengan jari gemetar.
Artikel itu menyebutkan adanya dugaan mark-up harga tanah dan suap kepada pejabat lokal untuk mempercepat perizinan salah satu proyek terbesar perusahaan di kawasan Cikarang. Yang lebih mengerikan, artikel itu menyertakan kutipan email internal yang tampaknya berasal dari akun pribadi Meylani. Email yang berisi persetujuan anggaran mencurigakan yang tidak pernah ia buat.
"Ini... ini palsu," bisik Meylani, wajahnya pucat pasi. "Saya tidak pernah mengirim email ini."
Dimas melihat perubahan ekspresi Meylani. "Ada apa, Mbak?"
Meylani menunjukkan layar ponselnya pada Dimas. Mata asistennya itu membelalak. "Astaga, Mbak! Ini fitnah! Siapa yang bisa mengakses akun email Mbak?"
Sebelum Meylani bisa menjawab, telepon genggamnya berdering. Nama "Pak CEO" muncul di layar. Meylani menelan ludah, tangannya berkeringat dingin. Ia harus mengangkatnya. Ia harus menghadapi ini.
"Halo, Pak," suaranya bergetar sedikit, namun ia berusaha tetap profesional.
"Meylani, di mana kamu sekarang?" suara Pak CEO terdengar dingin dan tajam, berbeda dari nada ramah biasanya.
"Saya masih di Joglo Langit, Pak. Acara baru saja selesai."
"Jangan kemana-mana. Tetap di ruang tunggu VIP. Saya akan mengirimkan tim legal dan humas segera. Jangan berikan pernyataan apapun pada media. Apapun yang terjadi, jangan bicara. Mengerti?"
"Mengerti, Pak," jawab Meylani lirih.
Telepon diputus. Meylani merasa dunianya runtuh kembali. Baru saja ia mencapai puncak, kini ia ditarik ke dasar jurang. Fitnah ini sangat terstruktur. Seseorang ingin menjatuhkannya. Seseorang yang tahu cara kerja sistem, tahu akses ke akunnya, dan tahu timing yang tepat untuk menghancurkan reputasinya.
Siapa?
Pikirannya berputar cepat. Kompetitor bisnis? Mantan rekan kerja yang dengki? Atau... seseorang dari masa lalunya yang ingin menyakitinya?
Tiba-tiba, ingatan tentang Andrian muncul. Apakah ini ada hubungannya dengan kasus korupsi yang sedang ditanganinya? Tidak mungkin. Andrian adalah penegak hukum, bukan pembuat skandal. Tapi, apakah ada pihak lain yang menggunakan nama Andrian atau kasus yang ia tangani untuk menyerang perusahaan Meylani sebagai bentuk tekanan politik?
Meylani menggelengkan kepala. Ia tidak boleh panik. Ia harus berpikir jernih. Ia adalah Director. Ia terlatih menangani krisis.
"Dimas," panggil Meylani, suaranya kini lebih tegas meski dadanya masih sesak. "Kumpulkan semua log akses email saya tiga bulan terakhir. Cek IP address yang digunakan untuk mengirim email palsu itu. Hubungi tim IT pusat, minta mereka melakukan forensic audit segera. Ini prioritas nomor satu."
"Siap, Mbak!" Dimas segera berlari menuju area teknis.
Meylani duduk di sofa ruang tunggu VIP, mencoba menenangkan napasnya. Di luar, suara kamera wartawan mulai terdengar. Mereka sudah mencium bau darah. Skandal ini akan menjadi konsumsi publik dalam hitungan jam.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini, pesan dari nomor tak dikenal. Isinya singkat dan mengerikan:
"Selamat datang di dunia nyata, Meylani. Di sini, kebenaran tidak selalu menang. Yang menang adalah yang punya bukti. Atau yang bisa memanipulasinya. Menyerahlah sebelum hancur total."
Meylani menatap pesan itu dengan mata menyala. Kemarahan menggantikan rasa takut. Ini bukan kecelakaan. Ini serangan sengaja. Dan Meylani Nur Haliza bukan tipe wanita yang menyerah tanpa perlawanan.
Ia mengetik balasan, meski tahu pengirimnya mungkin tidak akan merespons:
"Saya tidak bermain dengan aturanmu. Saya bermain dengan fakta. Dan saya akan membuktikan bahwa Anda salah."
Ia meletakkan ponselnya, menegakkan punggungnya, dan menatap pintu ruang tunggu. Tim legal perusahaan belum datang, tetapi Meylani sudah menyiapkan pertahanannya sendiri. Ia akan melawan. Bukan hanya untuk menyelamatkan karirnya, tapi untuk membuktikan integritasnya yang telah ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun.
Di luar jendela, langit Semarang kembali mendung. Badai bukan hanya datang dari alam, tapi juga dari manusia. Dan Meylani siap menghadapinya, sendirian jika perlu, karena ia tahu ia tidak lagi sendirian dalam arti spiritual. Ia memiliki keyakinan pada dirinya sendiri.
Pertarungan baru saja dimulai. Dan kali ini, taruhannya bukan hanya cinta, tapi harga diri dan kebebasannya.
...****************...