Kebahagiaan yang belum lengkap akan membuat hidup terlihat hampa. Rasa cinta yang tumbuh akan membuat kehampaan ini sirna tak tersisa.
Salva yang awalnya merasa begitu hancur karena gagal dalam kisah percintaan, siapa sangka datang seorang dokter cinta untuk mengobati goresan luka dihatinya.
Akankah mereka bahagia dalam jalinan asmara dalam ikatan halal itu?
Mampukah Arya menutupi goresan luka dihati Salva?
IKUTI KISAH MEREKA!
Kisah ini sambung dari cerita, Goresan hati yang terluka. Sebelum membaca kisah ini lebih baik saudara semua baca dulu GHYT.
Terimakasih, dan jangan lupa follow me
Ig:@ara putri 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ara putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seharusnya aku
Arya memeriksa keadaan nyonya Hanum, wanita tua itu terlihat masih belum sadar sepenuhnya. Sepertinya ia sempat diberitakan pertolongan pertama oleh keluarganya, terlihat luka dikeningnya yang sudah tidak mengeluarkan darah lagi.
Ia mencoba memeriksa kesehatan Hanum lagi, ternyata nyonya Hanum terjatuh karena penyakitnya kembali kambuh.
"Sepertinya lebih baik nyonya Hanum mengunakan kursi roda untuk sementara waktu. Sepertinya tulang yang retak dulu kembali bermasalah, dan ... Sepertinya penyakit pusing nyonya Hanum sering terjadi, kalian harus lebih mengawasinya."
Arya menjelaskan panjang lebar tentang kesehatan ibu Kaivan. Terlihat Hendra menarik nafas panjang, mungkin ia merasa sedih melihat istrinya kembali terbaring lemah.
Arya mencatat beberapa nama obat yang harus dikonsumsi pasiennya, setelah itu ia menyerahkan kertas itu pada pihak keluarga.
"Sayang! Ayo kita pergi." Ucapan Arya membuka semua orang sadar dengan kehadiran seseorang yang dari tadi tidak mereka perhatikan.
"Salva," cicit Hendra. Ia terkejut melihat mantan menantunya didepan pintu. Sedangkan Kaivan yang lebih dulu sudah tau hanya tersenyum kecut mendengar Arya memanggil Salva begitu mesra.
"Assalamualaikum, Ayah." Salva menyalami Hendra seperti biasa mereka bertemu.
"Waalaikum salam,"
Arya merasa suasana menjadi canggung, apalagi semua tatapan orang disana mengarah ke istrinya, membuat Arya langsung mengambil tangan Salva.
"Ayo kita pulang," ajak Salva.
Hendra langsung menyahut, "Kalian tidak perlu terburu-buru pergi ... Saya juga ingin berbicara dengan nak Salva." Ucap itu langsung menghentikan langkah mereka berdua. "Nak Salva tidak keberatan bukan?"
Salva langsung mengangguk, mana mungkin ia berani menolak. Arya terlihat tidak yakin, tapi ia juga tidak ingin menyingung perasaan pria tua itu.
"Berbicaralah ... Aku akan menunggu diluar," ucap Arya. Tapi langsung ditolak Salva, wanita itu menggeleng cepat.
Hendra mengerti, bahwa Salva tidak ingin ditinggalkan Arya, "Tidak apa-apa, nak Arya juga boleh ikut." Arya langsung mengangguk setuju.
Mereka bertiga langsung menuju ruang kerja Hendra, tuan Hendra sendiri terlihat bersemangat saat Arya mengizinkan Salva berbisnis bersamanya.
Sedangkan Kaivan yang masih berdiri disisi ibunya, hanya bisa menggigit jari melihat kebahagiaan keluarga Salva sekarang. Melihat wanita itu sedang hamil besar membuat dada pria itu Demak sesak. Ia selalu berpikir, jika bukan karena kebodohannya, seharusnya sekarang yang ada dalam perut Salva adalah anaknya bukan Arya!
Tapi lagi-lagi kenyataan menghantam ulu hatinya, bahwa ia telah melepas sebongkah berlian hanya untuk bisa menggenggam bayang yang tidak akan pernah bisa ia gapai. Cintanya untuk orang yang sudah tiada membuat ia lupa, bahwa ia telah melakukan sebuah dosa.
"Ibu lihat? Dia sudah bahagia Bu ... Dia bahkan tidak lagi Sudi melihat aku yang dulu sangat ia cintai, tapi sekarang sudah terkikis habis dari hatinya." Kaivan berbisnis sendiri dengan ibunya yang masih belum sadar.
"Ibu tau? Aku selalu m menayangkan, Andaikan ... Andaikan anak yang dikandung Salva sekarang adalah darah daging ku, bertapa bahagianya aku sekarang."
"Ternyata Ucapnya menjadi kenyataan. Hidupku bagaimana dipermainkan, aku tidak lagi bisa merasakan sebuah kebahagiaan karena penyesalan ini. Apa aku perlu bersujud padanya? Agar ia memaafkan ku, dan perasaan bersalah ini hilang dari hati."
Kaivan terus bercerita sendiri. Ia menggenggam tangan pucat itu dengan lembut, berharap ini segera sadar dari pingsannya. Wanita satu ini adalah perempuan yang paling ia cintai tapi siapa sangka jika, yang dulu hatinya selembut sutra, seputih susu biasa berubah menjadi begitu berbisa. Keadaan bisa merubah setiap orang, karena itu iman sangat penting untuk setiap orang agar kuat menghadapi hidup yang fana ini.
Dulu kaivan masih Sulit percaya ibunya sendiri tega melakukan itu. Tapi bagaimana lagi, maslahah ini berawal dari cinta buatannya, membuka semua orang ikut terlihat dan menderita.
"Allah telah mengabulkan permintaan mu, Salva. Ia sudah membalaskan setiap dosa yang aku lakukan padamu, dia mengujiku Begitu hebat, seakan ingin aku tidak mampu lagi untuk berdiri di tanah ini lagi."
******
Update dua kali, komennya juga diperbanyak ya🤗
Salam cinta dari Ara putri 😘❤️💖