Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Perang Administrasi
Cahaya matahari pagi yang pucat berjuang menembus lapisan debu tebal di kaca buram kantor Arka. Ruangan itu lebih mirip bangkai arsip—pengap, berbau kertas tua, dan diselimuti kelembapan yang membuat dindingnya berlumut. Namun, di atas meja kayu yang lapuk, tiga monitor canggih berdengung pelan, memancarkan cahaya biru dingin yang memantul di wajah Arka.
Di layar, pemetaan topografi Sektor 4 yang rumit bergerak dinamis, menandai titik-titik merah pergerakan pasukan Vanguard.
Pintu besi ruangan itu berderit nyaring, membelah keheningan sebelum Bram menerobos masuk. Napasnya memburu, membawa aroma kopi saset murahan yang beradu dengan bau keringat dingin. Ia melempar tablet ke meja, hingga debu beterbangan.
"Berita buruk, Bos," desis Bram, suaranya serak. "Vanguard mengumumkan status Force Majeure. Mereka memblokir seluruh akses ke 'Gua Ular Bangkai'. Kapten Yudha dan tim elitnya dievakuasi dalam keadaan kritis semalam. Surya Utama, CEO Vanguard, baru saja menyewa pembunuh bayaran dari underground untuk mencari tahu siapa yang berani menyabotase logistik mereka."
Arka tidak menoleh. Jari-jarinya menari di atas tuts kibor dengan irama yang brutal dan cepat. Neural Feedback mulai merambat—sengatan listrik panas di dasar tengkoraknya. Ia mengabaikan denyut nyeri itu, fokusnya terpatri pada aliran data.
"Biarkan mereka mencari hantu, Bram," jawab Arka tenang. Suaranya datar, tanpa emosi. "Mereka bereaksi menggunakan otot. Kita akan menyerang menggunakan administrasi hukum."
Bram mengerutkan dahi, otot bahunya menegang. "Hukum? Bos, Vanguard itu mengontrol hukum Sektor 4! Mereka menyuap petugas Asosiasi setiap bulan."
Arka berhenti mengetik. Ia menatap Bram, matanya sedingin obsidian. "Birokrasi memiliki celah yang tidak bisa ditutupi oleh uang suap jika kau tahu di mana harus menekan. Ada sebuah pasal usang dalam Regulasi Manajemen Bencana Asosiasi: Pasal 41-B. Jika sebuah Guild gagal menaklukkan Dungeon yang berpotensi Overflow dan menarik mundur pasukannya dalam keadaan darurat, hak kelola sementara akan jatuh kepada pihak ketiga yang memegang manifest logistik utama di wilayah tersebut."
Bram mematung. "Tunggu... manifest logistik utama? Itu milik Vanguard!"
"Bukan lagi," ucap Arka dingin.
Arka menekan satu tombol. Layar tengah menampilkan dokumen elektronik yang terenkripsi. Itu adalah manifest asli dari kotak suplai semalam—namun kini, alur distribusinya telah dimodifikasi sempurna ke dalam arsip pusat.
Vendor Penyuplai Darurat - Grey Underground.
"Saat sistem mereka buta selama sembilan puluh detik semalam, aku tidak hanya memindahkan fisik ramuan itu. Aku memodifikasi rute data supply chain mereka. Di mata server Asosiasi Hunter, kita adalah biro perjalanan logistik resmi yang suplainya ditelantarkan begitu saja oleh Vanguard di lokasi kejadian."
Arka memasukkan kode enkripsi terakhir. Tangannya gemetar hebat karena kelelahan saraf. Sebuah Tanda Tangan Elektronik (TTE) terverifikasi muncul di atas dokumen akta penguasaan Dungeon.
[Sistem Asosiasi: Pengajuan Hak Kelola Darurat 'Gua Ular Bangkai' (C-Rank) Diterima. Status Kepemilikan Sementara: Grey Underground.]
"Dengan akta ini," Arka bersandar, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat, "Vanguard tidak bisa memasuki Dungeon itu tanpa membayar royalti penalti kepada kita. Jika mereka memaksa masuk, sistem keamanan Asosiasi Pusat akan menetapkan mereka sebagai kriminal invasi."
Bram tertegun. Ia terbiasa menyelesaikan masalah dengan tebasan pedang, namun melihat kekaisaran raksasa seperti Vanguard dilumpuhkan oleh selembar kertas digital benar-benar merusak akal sehatnya.
"Tapi Bos," suara Bram bergetar, "Begitu Surya Utama tahu perusahaannya dirampok secara legal, dia tidak akan peduli pada Asosiasi. Dia akan mengirim regu hitman kemari. Kita tidak punya benteng fisik. Kita tidak punya penjaga!"
Tiba-tiba, suhu ruangan anjlok drastis. Napas Bram berubah menjadi kabut putih.
Di atas monitor, Kala—yang sedari tadi tampak seperti kucing hitam biasa—membuka matanya. Mata kuning keemasan itu menatap Bram dengan intensitas yang menusuk tulang, seolah sedang membedah ketakutan di dalam jiwanya. Segel mandala emas di dahi Kala berpendar, melepaskan untaian energi bayangan ungu yang merayap turun ke meja, melata di lantai, dan memanjat dinding.
Bayangan itu membesar, mengubah bentuknya menjadi siluet entitas purba yang menutupi separuh ruangan. Bayangan Kala melesat, mencengkeram bayangan Bram yang tercetak di lantai.
Bram seketika lumpuh. Kakinya terpaku. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis, meninggalkan kekosongan yang mencekik. Insting bertahannya menjerit; satu gerakan salah, dan makhluk itu akan memisahkan kepalanya dari leher tanpa suara.
"Kau terlalu berisik, Manusia Besar," suara Kala mendengung, beresonansi langsung di dalam tengkorak Bram. "Mereka boleh mengirim regu pembunuh sebanyak yang mereka mau. Biarkan mereka datang. Bayangan di gedung ini sudah sangat lapar."
Kala mengedipkan mata, dan tekanan mengerikan itu lenyap dalam sekejap. Ruangan kembali hangat. Kala kembali meringkuk di atas monitor, menjilati cakarnya seolah tidak terjadi apa-apa, sementara aura ungunya memudar menjadi kabut tipis.
Bram jatuh terduduk, terengah-engah, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia menatap Arka dengan pandangan horor bercampur takjub.
"Paham sekarang, Bram?" Arka tersenyum tipis. "Dokumen birokrasi ini adalah perisai terang kita. Dan Kala... adalah benteng gelap kita. Mulai hari ini, Grey Underground bukan lagi sekadar nama. Kita resmi berbisnis."
Di seberang kota, di lantai teratas gedung pencakar langit Vanguard, sebuah gelas kaca hancur berkeping-keping dilemparkan ke dinding oleh Surya Utama. Peringatan merah menyala dari Asosiasi Hunter baru saja masuk ke layar komputernya.
Sebuah Dungeon jutaan dolar milik perusahaannya baru saja dirampas secara sah oleh hantu bernama Grey Underground.
***
**[AUTHOR NOTE]**Siapa bilang senjata paling mematikan di Sektor 4 adalah pedang? Arka baru saja membuktikan bahwa selembar "kertas" digital bisa jauh lebih menghancurkan daripada serangan fisik mana pun! Vanguard kini terjebak dalam aturan yang mereka buat sendiri.
Bagaimana menurut kalian taktik "perang administrasi" Arka tadi? Apakah ini awal dari kehancuran Vanguard, atau justru memancing mereka untuk melakukan langkah yang jauh lebih nekat? Dan jangan lupakan tatapan maut Kala... apakah menurut kalian Bram akan tetap setia setelah diintimidasi secara psikologis tadi?
Tulis teori kalian di kolom komentar! Jangan lupa Bookmark novel ini agar tidak ketinggalan Bab 5, di mana Vanguard mulai membalas dendam dengan cara yang jauh lebih kotor!
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼