IG @Amisari
Muchamad Mahadam, seorang Dokter bedah saraf yang tampan nan sukses,
selama 4 tahun Aam biasa dia di panggil, hanya mampu mencintai dalam doa seorang Dokter Ais, kisah cinta yang bermula dari pandangan pertama nya pada gadis manis berlesung pipi itu di sebuah kegiatan amal
Namun cinta nya harus dia tahan dalam diam, karena wanita itu telah di jodohkan dari kecil oleh orang tua nya.
Apa kah Allah mengijabah doa Aam yang meminta Ais jadi jodoh nya ?
Bagaimana cara aam meluluhkan hati ais yang mengalami trauma?
Bagaimana pesantren abi menjadi saksi perjuangan Aam?
semua akan terjawab di sini
happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amisari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingin cepat di halal kan
..." Bukan apa yang kamu punya...
...tapi dengan siapa kamu menikmati nya"...
"Assalamu'alaikum sus," sapa Aam pada suster di bagain adminstrasi.
"Hari ini apakah ada jadwal operasi?" tanyanya lagi.
" Walaikumsalam dok,"
" Hari ini dokter bisa sedikit nyantai karena tidak ada jadwal operasi."
" Baiklah, terimakasih ya sus," Aam langsung melangkah berjalan menuju ruangannya.
Walau pun tidak ada jadwal operasi, jadwal Aam tetap padat, tadi pagi di mulai dengan rapat rutin mingguan, mengontrol pasien yang belum di operasi, memeriksa pasien yang kontrol.
" Assalamu'alaikum pak,"
" lagi menikmati suasana taman ya? Aam bertanya sambil tersenyum pada pasien nya yang sedang duduk di kursi roda, terlihat bapak itu termenung di taman rumah sakit.
" Walaikumsalam dokter,"
" Mencari angin segar sebentar,"
" Bosan rasa nya melihat dinding rumah sakit tiap hari dok," jawab bapak itu dengan tatapan nya lurus ke depan.
" Seperti nya saya akan minta pihak rumah sakit membuat taman di dalam kamar biar bapak bisa melihat selain dinding rumah sakit," Canda Aam pada bapak di sampingnya.
Pria separuh baya itu tertawa mendengar ucapan Aam,
" Tidak perlu dokter,"
" Saya hanya butuh teman bicara,"
" Menunggu saat nya di panggil sang pencipta," Aam langsung terkejut mendengar ucapan bapak Dekta yang merupakan pasiennya yang menderita kanker getah bening stadium 3.
" Bapak bisa datang sering-sering ke ruangan saya,"
" In sya Allah, ketika jadwal saya lagi kosong , saya akan dengan senang hati mengajak bapak mengobrol."
" Terimakasih dok, dokter Aam begitu baik pada saya,"
" Andai saya dulu memperlakukan anak dan istri saya dengan baik, mungkin mereka akan mengurus saya dengan baik saat saya sakit seperti ini." Pria yang duduk di kursi roda itu terlihat mengeluarkan Air mata nya tanpa suara.
Aam tersenyum penuh kehangatan, mencoba memberi rasa nyaman pada lawan bicaranya,
" Masih ada waktu pak,"
" Belum terlambat untuk memperbaiki semua nya,"
" Kata maaf begitu singkat tapi bermakna sangat dalam untuk sebuah penyesalan."
Pak Dekta menarik napas nya berat mendengar ucapan Aam,
" Saya tidak tahu mereka di mana dokter,"
" Sudah begitu banyak orang yang saya bayar untuk mencari keberadaan mereka,"
" Namun hasil nya tetap zonk." terlihat kesedihan yang amat dalam dari wajah beliau.
" Pak...," Aam berjalan mendekati tubuh di atas kursi roda itu
" Ketika sebagai manusia kita tidak sanggup lagi mencari jalan keluar untuk masalah yang kita hadapi, berserah lah pada sang pencipta,"
" Berdoa dan tetap berusaha, in sya Allah, Allah maha menyayangi kita,"
" Apakah Allah mau mengampuni dosa saya dok?"
" Saya begitu jahat, sampai anak dan istri saya pun korban kekerasan dan keserakahan saya,"
" Banyak orang yang saya sakiti, hingga Allah memberi saya penyakit ini,"
" Ini adalah hukuman atas dosa-dosa saya."
" Astaghfirullah pak..,"
" Allah maha pengampun, in sya Allah jika bapak bertobat dengan sungguh-sungguh, Allah akan mengampuni segala dosa bapak,"
" Dan untuk penyakit yang bapak derita, ini semua adalah cara Allah untuk mengampuni dosa-dosa bapak,"
" Asal bapak ikhlas dan sabar dalam menghadapinya."
Aam berhasil membuat pak Dekta menangis mendengar ucapannya,
" Terimakasih dokter, telah mengingatkan saya,"
" Mohon doa kan agar sebelum meninggal saya bisa bertemu dan meminta maaf kepada anak dan istri saya."
" In sya Allah pak..,"
" Semoga Allah mengijabah doa bapak,"
" Jangan menyerah, tetap lah berusaha dan berdoa meminta pada-Nya." Aam merangkul bahu pak Dekta untuk memberi sekali lagi kekuatan pada nya.
Lalu berjalan mengantar pak Dekta kembali ke ruangan rawat nya, setelah berpamitan, Aam buru-buru berjalan menuju parkiran, dia tidak sabar untuk sampai rumah
" Assalamu'alaikum."
" Walaikumsalam," Ais menjawab salam Aam.
Aam tersenyum, melihat Ais yang sibuk di dapur,
" Jadi cepat pingin menghalalkan kamu dek Ais." batin Aam
" Hari ini masak apa dek?" Aam sudah berdiri di pintu pembatas dapur dan ruang keluarga.
" Masak cumi goreng balado, sama sayur kangkung," Jawab gadis berjilbab itu sambil memotong tomat.
" Mas ke kamar dulu ya mau bersih-bersih dulu."
" Silahkan mas," Ais tetap menunduk, dia tidak ingin Aam melihat wajah nya yang memerah.
Aam berbalik kembali mendekati Ais.
" Dek...!"
" Di dalam mobil ada martabak telur,"
" Nanti di ambil ya, bawa ke kamar untuk di makan bersama teman-temannya."
" Terimakasih mas" Jawab nya Ais senang tapi dengan masih menunduk.
" Imut nya kamu dek, rasa nya aku tidak sabar ingin meminta kepada kedua orang tua mu, menghalalkan mu menjadi istri ku. Namun mengingat kejadian tadi malam, aku takut kamu menolak ku, karena seperti nya trauma itu masih ada dek," ucap Aam dalam hati.
Setelah sekolah malam, waktu nya Ais dan adik-adik nya mengobrol tapi kali ini Ais harus mengajar kan mereka matematika
" Mba yang kayak gini gimana cara ngerjain nya?" tanya Bela
" Kalau ini, sebenarnya sama kayak contoh yang pertama,"
" Cuma kalau soal yang ini kamu harus selesai kan dulu pangkat nya."
" Ah mumet, lanjut besok aja ya mba,"
" kita istirahat dulu," ucap Tri
" Baik lah anak cantik," goda Ais pada Tri, yang dari tadi memasang wajah kesal karena tidak mengerti mengerjakan soal Matematika nya.
" Mba punya martabak telur, kita makan bareng yuk di luar."
"Alhamdulillah, Hayo mba," ucap mereka semangat.
Ais merasakan makanan yang dulu tidak begitu enak rasa nya, namun sekarang karena makan bersama-sama terasa lebih enak dan nikmat.
Ini lah salah satu yang Ais senangi tinggal di pesantren.
" Terimakasih mas Aam, martabak telur nya benar-benar spesial,"
" Karena membuat anak-anak ini tersenyum senang," batin Ais sambil terus tersenyum puas melihat kebahagian adek-adek nya.
Martabak cinta spesial yang bikin senyum🤭
♥️♥️♥️♥️♥️
happy reading
tp jgn d kasih sndri" bingung jdnya