Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 032
Hari Biasa untuk Rangga
Tangga itu terlihat seperti daftar harga, foto detail, chat tertulis, dan keberanian meminta komisi.
Keesokan paginya, tangga itu membutuhkan plastik bening, kertas pembungkus, lap microfiber, dan buku nota murah.
"Bisnis orang kaya ternyata belanjanya ke pasar juga," kata Bunga sambil mengikat rambut.
"Semua bisnis pada akhirnya kembali ke logistik," jawab Rangga.
"Kalau kamu bilang begitu ke tukang plastik, dia mungkin kasih harga lebih mahal."
"Maka kamu yang bicara."
Itu kalimat sederhana, tetapi Bunga menyukainya. Kamu yang bicara. Bukan aku ambil alih, bukan biar saya saja, bukan kamu tidak akan mampu. Hanya kamu yang bicara.
Ia mengambil tote bag kain, memasukkan uang tunai secukupnya, ponsel, dan catatan daftar barang. Luka di tangannya sudah membaik. Plester baru dari Melati terlihat terlalu rapi untuk kamar kosnya.
Pasar tradisional dekat kos sudah ramai saat Bunga tiba. Aroma sayur basah, ikan, ayam potong, bumbu giling, kopi sachet, dan asap gorengan bertumpuk di udara. Lantai becek di beberapa titik. Pedagang berteriak saling menyalip. Motor lewat terlalu dekat. Seorang ibu menawar cabai dengan wajah seperti sedang berperang.
Rangga tidak bicara selama beberapa detik.
"Halo?" kata Bunga. "Tuan logistik pingsan?"
"Ini..."
"Kacau?"
"Penuh."
Bunga berhenti di pinggir lapak plastik. "Penuh bagaimana?"
"Semua hal terjadi sekaligus."
Bunga melihat pasar yang selama ini baginya biasa saja. Ibu-ibu menekan tomat, anak kecil menangis minta jajanan, pedagang tertawa sambil menghitung kembalian, radio tua memutar lagu dangdut. Bagi Rangga, yang hidupnya selama ini melewati lobby marmer, ruang rapat, mobil, dan kamar rumah sakit, tempat ini mungkin seperti dunia tanpa pintu.
"Boleh saya..." Rangga berhenti.
Bunga menunggu.
"Boleh saya memperhatikan lebih dekat? Bukan menggerakkan tubuhmu. Hanya fokus pada rasa dan suara."
Pertanyaan itu membuat sesuatu di dada Bunga melunak lagi.
"Boleh. Tapi kalau kamu mulai atur tanganku, aku jitak kepalaku sendiri."
"Ancaman yang rumit, tetapi dipahami."
Bunga berjalan masuk lebih jauh.
Ia membeli plastik bening setelah menawar tiga kali. Pedagang laki-laki itu awalnya memberi harga seolah Bunga datang dari apartemen, bukan gang sebelah. Bunga menatapnya datar.
"Pak, ini plastik, bukan sertifikat tanah."
Pedagang itu tertawa. "Galak amat, Neng."
"Harga Bapak yang ngajarin."
Akhirnya harga turun. Rangga di kepalanya terdengar hampir kagum.
"Negosiasi kamu sangat agresif."
"Itu namanya bertahan hidup."
"Di kantor, orang menyebutnya procurement efficiency."
"Di pasar, orang menyebutnya jangan mau dibodohi."
Mereka membeli lap microfiber, buku nota kecil, dan pulpen. Bunga juga berhenti di lapak kain untuk melihat pouch sederhana yang bisa dipakai membungkus barang titipan. Ia menyentuh jahitan, mencium kainnya sebentar, lalu memilih yang tidak berbau apek.
"Kamu mencium pouch," kata Rangga.
"Barang mahal kalau dibungkus bau lemari lembap, pembeli bisa kabur."
"Masuk akal."
"Tentu masuk akal. Hidung orang miskin itu alat audit."
Rangga benar-benar tertawa.
Bukan tawa rendah yang muncul karena sindiran. Bukan juga tawa sopan yang biasa ia pakai untuk menutup luka. Tawa itu pendek, heran, seperti ada bagian dirinya yang lupa cara keluar lalu tiba-tiba menemukan pintu kecil.
Bunga pura-pura sibuk menghitung uang kembalian.
Setelah belanja selesai, ia berhenti di penjual gorengan. Minyak panas meletup kecil. Bakwan, tahu isi, tempe mendoan, dan pisang goreng ditumpuk di atas kertas cokelat.
"Pilih," kata Bunga.
"Saya tidak punya kontrol tangan."
"Aku yang ambil. Kamu pilih dengan mulut."
"Bakwan yang baru diangkat."
"Sudah mulai pintar."
Ia membeli dua bakwan dan satu tahu isi. Panasnya menembus kertas. Bunga menggigit ujung bakwan sambil berdiri di pinggir jalan, meniup karena terlalu panas.
Rangga diam.
"Enak?" tanya Bunga setelah menelan.
"Panas."
"Itu bukan review."
"Asin. Renyah. Ada rasa kol, wortel, minyak yang seharusnya mungkin tidak dipakai lebih dari beberapa kali."
"Jangan rusak momen."
"Tapi enak."
Bunga tersenyum.
"Akhirnya."
Rangga terdengar pelan ketika berkata, "Saya tidak ingat kapan terakhir kali menikmati sesuatu tanpa harus menilai akibatnya."
Kalimat itu membuat jalan ramai di sekitar mereka terasa menjauh.
Bunga memegang kertas gorengan lebih erat. "Sekarang akibatnya cuma panas di lidah."
"Dan mungkin kolesterol."
"Aku tarik lagi gorengannya."
"Jangan."
Satu kata itu keluar cepat. Terlalu cepat. Bunga tertawa, dan Rangga tidak membantah.
Pulangnya, Bunga memilih naik angkot karena barangnya cukup banyak dan ojek sedang mahal. Angkot hijau itu berhenti setelah ia melambaikan tangan. Di dalam, kursi panjang sudah diisi ibu membawa belanja, siswa berseragam, dan seorang bapak dengan kardus kecil. Musik dari speaker kecil pecah di udara. Jendela terbuka, angin panas membawa debu jalan.
"Ini aman?" tanya Rangga.
"Relatif."
"Definisi relatif kamu mengkhawatirkan."
Bunga naik dan duduk dekat pintu. Tote bag dipeluk di pangkuan. Angkot bergerak sebelum ia benar-benar siap, membuat bahunya terbentur dinding.
"Itu normal?" tanya Rangga.
"Sangat."
Beberapa menit pertama, Rangga tidak bicara. Bunga merasakan pikirannya mengikuti guncangan angkot, suara koin, teriakan penumpang yang minta kiri, bau parfum murah bercampur kardus dan hujan lama di jok vinyl. Semua sederhana. Semua tidak peduli siapa Prabu, siapa Hartono, siapa Ratih.
Di angkot, tubuh Bunga hanya tubuh penumpang lain.
Mungkin itu yang membuat Rangga tenang.
"Bunga," katanya setelah mereka melewati pasar.
"Hm?"
"Hari ini... lebih ringan."
Bunga tidak langsung menjawab.
"Maksudnya?"
"Di sini." Ia tidak punya dada sendiri untuk ditunjuk, tetapi Bunga mengerti. "Biasanya ada beban seperti beton basah. Hari ini tidak hilang. Tapi ada lubang kecil untuk udara."
Kali ini Bunga tidak bercanda.
Ia melihat jalan dari jendela angkot, kabel listrik, warung, anak sekolah, pedagang es, dunia yang selalu terlalu penuh tetapi tetap berjalan.
"Kalau begitu," katanya pelan, "nanti kita cari lubang udara lain."
Rangga diam lama.
"Dengan izin," tambah Bunga.
"Dengan izin," jawab Rangga.
Ketika angkot berhenti di dekat gang kos, Bunga turun dengan tote bag berat dan hati yang sedikit lebih ringan daripada saat berangkat. Bisnisnya mendapat perlengkapan. Rangga mendapat hari biasa.
Di kamar, ia membongkar belanjaan di atas lantai. Plastik bening satu pak, lap microfiber, buku nota, pulpen, dan pouch kain disusun seperti inventaris toko sungguhan. Bunga membuka notes bisnis dan menulis biaya satu per satu.
"Boleh saya membantu kategori pengeluaran?" tanya Rangga.
"Boleh. Tapi jangan bikin tabel yang membuat ponselku panas."
"Pisahkan perlengkapan habis pakai, kemasan, transportasi, dan makan."
"Gorengan masuk makan atau terapi?"
Rangga diam sebentar. "Hari ini, mungkin terapi."
Bunga menulis sambil tersenyum: gorengan, terapi operasional.
"Itu tidak akan lolos audit," kata Rangga.
"Audit siapa? Aku CEO, staf, kurir, dan tukang makan bakwan sekaligus."
"Kalau begitu, keputusan direksi diterima."
Kalimat bercanda itu membuat kamar kos terasa lebih luas sedikit.
Dan Bunga baru menyadari, mungkin menyelamatkan seseorang tidak selalu dimulai dari rumah sakit.
Kadang dimulai dari bakwan panas, angkot penuh, dan izin kecil untuk merasakan hidup lagi.