Hidup mati setiap Manusia sudah digariskan oleh sang pencipta, meskipun kita tahu kapan kita mati namun kita tidak akan pernah bisa menghindar darinya.
Apakah salah mencintai seseorang yang berbeda dengan kita. Meskipun nyawa taruhannya, semuanya akan ku lakukan demi mendapatkan cintamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23.
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan perasaan mu padanya?" tanya Ki Darno
"Seumur hidupku Aku, aku rela melakukannya asal aku bisa tetap bersamanya itu sudah cukup membuatku bahagia Aki. Karena aku sudah berjanji padanya untuk menjaga dan melindunginya dari orang-orang jahat," sahut Garra
"Kenapa kau harus menyiksa dirimu dengan perasaan mu itu. Kau mungkin bisa menahan untuk tidak mengungkapkan perasaan mu padanya tapi apa kau bisa tahan jika seseorang mengungkapkan perasaannya kepada gadis itu, apa kau tahan jika ada orang lain yang mendapatkan hatinya dan menikahinya. Sebagai seorang anak Iblis aku tahu tidak akan bisa menahan amarahmu, karena itu adalah kelemahan mu. Kau mungkin adalah iblis yang akan mencintai gadis itu dengan tulus tapi kau juga yang akan membuatnya menderita, karena cintamu padanya akan membuat dirimu membunuh semua lelaki yang akan menikahinya, itulah kutukan bahu Laweyan yang harus kau terima. Satu lagi yang aku takutkan yaitu...bukan gadis itu yang akan membunuhmu tapi orang lain yang akan menggunakannya untuk menaklukkan dirimu karena mereka tahu dia adalah kelemahan mu," papar Aki Darno
"Aku mengerti Aki. Aku belum bisa memutuskan untuk meninggalkannya karena itu terlalu sulit untukku," sahut Garra berkaca-kaca
"Aku tahu luka di dada mu itu karena gadis itu, walaupun kau merahasiakannya dariku tapi aku bisa tahu dari sorot matamu." ucap Ki Darno
"Aku sudah merawat mu dari bayi jadi aku tahu semua tentang dirimu, jadi jangan menyembunyikan apapun dari ku Garra, karena kau sudah aku anggap seperti anakku sendiri," imbuh Ki Darno menepuk pundak Garra
"Makasih Aki," jawab Garra
"Jangan lupa minum obat mu, nanti malam Selasa Kliwon datanglah ke padepokan ku,"
"Baik Aki,"
Ki Darno kemudian berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.
Garra kemudian merebahkan tubuhnya ke sofa, menarik nafas sembari matanya menerawang ke langit-langit.
"Om Garra, aku pamit ke rumah sakit," tukas Tiwi menghampirinya
"Ah, kau masih harus ke rumah sakit?" tanya Garra
"Iya, kan aku sudah janji akan merawat Kenan sampai dia sehat seperti sediakala," jawab Tiwi
"Kalau begitu tunggu sebentar, biar aku yang mengantarmu," Garra segera bangun dari duduknya
"Kau terluka?" tanya Tiwi ketika melihat lebam di dada Garra
Garra segera mengancing piyamanya yang terbuka, "Tidak apa-apa, hanya luka bekas jatuh," jawabnya kemudian melipir meninggalkan Tiwi
Gadis itu segera berlari menyusul Garra dan membuka kancing bajunya membuat lelaki itu terperanjat melihatnya.
"Jangan bohong, aku harus memastikan sendiri jika luka itu benar-benar tidak berbahaya," Tiwi tidak menghiraukan Garra yang berusaha mencegahnya.
"Beraninya kau membuka piyama ku, apa kau tidak takut padaku!" seru Garra
"Aku tidak takut padamu, seharusnya kau yang harus takut padaku," sahut Tiwi menatap lekat laki-laki di depannya itu
"Dasar bocah nakal, apa kau tidak tahu aku ini seorang lelaki...." belum selesai Garra melanjutkan ucapannya Tiwi langsung membungkam mulutnya
"Kenapa Om tidak memberitahukan aku jika kau sedang terluka...." ucap gadis itu menatapnya sendu
"Selama ini kau sudah menjadi dewa penolong ku, tapi kenapa kau tidak memberikan kesempatan pada ku untuk membalas kebaikanmu. Apa kau tidak pernah menganggap ku ada sehingga kau tidak pernah terbuka padaku dan menyembunyikan semuanya dariku. Apa aku tidak pantas menjadi seseorang yang bisa kau jadikan sandaran untuk berkeluh kesah, apa aku ini benar-benar bukan wanita idealmu. Aku tahu ini bukan luka biasa dan kau pasti kesakitan karena ini, tapi kenapa kau tidak memberi tahukan aku Om ...Om jahat!" seru gadis itu memukulinya
"Maafkan aku Tiwi, bukan maksudku seperti itu tapi aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir itu saja kok," jawab Garra mencoba menenangkan gadis itu
"Om justru semakin membuat ku khawatir jika Om tidak memberitahukan aku," sahut Tiwi
"Ok, baik...mulai sekarang aku akan memberitahukan semuanya kepadamu, sekarang kamu puas?" tanya Garra sinis
"Belum," jawab Tiwi
"What???" tanya Garra melotot
"Aku belum puas kalau belum mengobati luka Om, jadi sekarang Om ikut aku dan diam!" seru gadis itu menarik Garra dan menyuruhnya duduk di sofa.
Ia kemudian mengambil es dan mengompresnya.
"Om pegang dulu ya, jangan dilepas!" seru gadis itu kemudian berlari meninggalkannya
"Dasar bocah, kau pikir ini adalah luka biasa yang akan sembuh dengan di kompres. Walaupun cuma perhatian kecil aku tapi entah kenapa aku merasa sangat bahagia mendapatkan perhatian khusus dari mu Tiwi," ucap Garra menatap kearah Tiwi yang sedang menyiapkan sesuatu untuknya.
"Siapa bilang kau bukan wanita idelku, asal kau tahu ...kau adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatku jatuh hati. Aku sudah menyukaimu saat pertama kali kita bertemu, kau adalah cinta pertama dan terakhir ku, walaupun aku tidak bisa menyatakannya padamu, tapi kau bisa merasakannya dari perhatianku padamu," ucapnya berkaca-kaca,
"Walaupun aku tidak bisa memiliki mu tapi aku juga tidak bisa menghapus rasa cinta ini yang semakin hari semakin bertambah padamu," Garra segera mengusap air matanya saat Tiwi mendekatinya.
"Sekarang Om harus meminum obat ini agar cepat sembuh," ucap gadis itu sumringah
Ia kemudian mengambil kompres dari dadanya dan memberikan minuman yang di bawanya kepada Garra.
"Ini bukan Obat, tapi susu!" cibir Garra membuat Tiwi tertawa terbahak-bahak.
"Anggap saja itu Obat Om, lagipula aku membuatnya dengan penuh cinta semoga Om bisa segera sembuh setelah meminumnya," jawab gadis itu.
Gadis itu kemudian menyentuh dada Garra membuat lelaki itu langsung menghindar darinya.
"Kau mau apalagi, please jangan sentuh aku!!" seru Garra menutupi dadanya
"Diih, jangan sok suci gitu. Om pikir Tiwi mau ngapain?" gerutu Tiwi
"Ingat Tiwi, kau dilarang menyentuh area sensitif lelaki dewasa, itu berbahaya!" sahut Garra
"Diih dasar Omes (otak mesum), orang Tiwi mau memastikan lukanya sudah hilang atau belum kok!" cibir Tiwi
"Aish dasar bocah, mana ada luka langsung sembuh setelah minum obat, kau pikir ini iklan apa, setelah minum obat langsung sembuh, ingat Tiwi ini real bukan dunia halu atau tipu-tipu sadar oii, sadar, bangun, bangun!!" seru Garra
"Iya Om aku tahu, tapi penasaran aja, jadi boleh ya lihat bentar," jawab gadis itu menyunggingkan senyum termanisnya
"Diih mengerikan, aku takut itu cuma modus kamu aja supaya bisa melihat dada bidang ku yang sexy," goda Garra
"Terserahlah om mau bilang apa, yang penting aku aku cuma memastikan saja. Silakan buka sendiri atau aku yang akan membukanya secara paksa!" seru Tiwi
"Astoge, baru kali ini gue di ancam oleh anak manusia," sahut Garra membuat Tiwi terkekeh mendengarnya
"Baiklah, lebih baik aku sendiri yang membukanya daripada terjadi hal-hal yang di inginkan jika kau yang membukanya...lebih baik aku menyerah dan pasrah saja," imbuh Garra dengan wajah memelas
"Diih dasar Omes!" cibir Tiwi
"Aku Garra bukan Omes," sahut Garra
"Iya Garra : ganteng tapi rada-rada!" seru Tiwi sambil tertawa
"Sue!" cibir Garra
"Luka cepat sembuh ya, jangan buat Om Garra kesakitan lagi, besok aku janji kasih susu lagi biar kamu cepat sembuh!" seru gadis itu mengusap luka lebam Garra.
Mendapatkan perhatian khusus dari mu semakin membuat kuncup bunga cintaku semakin bermekaran untuk mu, jadi bagaimana bisa aku melupakanmu sedangkan aku begitu menyukaimu. Meskipun aku tahu cinta kita tidak akan bisa bersatu setidaknya izinkan aku menikmati kebahagiaan ini walau cuma sesaat.