Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30
Gelang Giok Hijau Imperial
Pagi setelah kembang api, halaman Rumah Tan tidak lagi tampak seperti tempat orang sakit menunggu waktu.
Ada meja panjang di dekat pohon besar. Ada panggangan BBQ yang dipasang Darren sejak pukul sembilan pagi dengan tingkat keseriusan seperti sedang memimpin proyek nasional. Ada melati dan mawar yang diberi pita kecil oleh Sekar. Ada Si Oranye tidur di kasur donat, tidak peduli bahwa hari ini ulang tahun pemilik rumah.
Dan ada kue buatan tangan di dapur.
Kue itu tidak sempurna. Permukaannya sedikit miring, krimnya tidak serata toko mahal, dan tulisan "Selamat ulang tahun, Ardi" di atasnya tampak seperti dibuat oleh seseorang yang terlalu gugup memegang piping bag.
Ardian melihat kue itu cukup lama.
Sekar berdiri di samping meja dapur dengan celemek penuh tepung. "Kalau jelek, jangan komentar. Ini dibuat dengan cinta... maksud saya, dengan usaha."
Darren yang sedang menusuk sosis langsung mengangkat kepala.
Rio yang datang membawa hadiah kecil juga mengangkat alis.
Ardian menatap Sekar. "Aku belum bilang apa-apa."
"Wajah Pak Tan sudah punya komentar."
"Wajahku netral."
"Netralnya menghakimi."
Rio tertawa. "Aku suka rumah ini sekarang. Lebih sehat daripada ruang terapi."
Darren mengangkat tusuk sosis. "Dok, lihat. Aku bertanggung jawab atas protein hari ini."
"Tolong jangan membakar rumah."
"Aku tersinggung karena semua orang punya standar rendah terhadapku."
"Standar kami berdasarkan sejarah," kata Ardian.
Sekar tertawa sambil membawa piring ke halaman. Untuk beberapa jam, Rumah Tan terasa hampir seperti rumah biasa. Staf ikut makan bergantian. Bodyguard mendapat burger sisa yang sudah dipanaskan ulang. Rio memeriksa kaki Ardian sebentar, lalu disuruh Sekar berhenti bekerja karena hari ini ulang tahun.
Ardian tidak banyak bicara.
Tetapi ia melihat semuanya.
Sekar yang berlari dari dapur ke halaman, Darren yang pura-pura ahli memanggang, Rio yang menyembunyikan kue kedua karena takut kue pertama kurang matang, dan foto Dufan di kulkas yang kini ditemani foto melati belum mekar.
Kebahagiaan berhari-hari.
Mungkin Rio benar.
Menjelang siang, mobil hitam berhenti di depan rumah.
Darren yang sedang makan sosis ketiga langsung berdiri. "Koko, Mama datang."
Ardian membeku.
Lina Santoso masuk tanpa banyak pengawal. Usianya sudah lima puluhan, tetapi penampilannya rapi dan tenang, seperti perempuan yang pernah belajar menyimpan badai di balik senyum. Ia memakai blouse warna hijau gelap, rambut disanggul rendah, dan matanya langsung mencari Ardian.
"Ardi."
Satu panggilan itu membuat halaman hening.
Ardian memutar kursi roda perlahan. "Mama."
Lina menatapnya dari kepala sampai kaki. Matanya bergerak ke rambut pendek baru, wajah yang sedikit lebih hidup, lalu ke Sekar yang berdiri di belakang meja dengan tangan masih memegang penjepit daging.
Sekar cepat menaruh penjepit. "Selamat siang, Bu Lina."
Lina tersenyum kecil. "Kamu Sekar."
"Iya, Bu."
"Terima kasih sudah membuat rumah ini terdengar seperti rumah."
Sekar mendadak tidak tahu harus menjawab apa. "Saya cuma... memanggang sosis."
Darren berbisik pada Rio, "Mama langsung suka."
Rio berbisik balik, "Semua orang yang punya mata juga."
Ardian menatap mereka berdua.
Lina membawa kotak kecil dari tasnya. Kotak itu dilapisi beludru hijau tua. Ia memberikannya pada Ardian, bukan pada Sekar.
"Ini dari Oma dulu untukku," katanya. "Gelang giok hijau imperial. Aku menyimpannya lama."
Ardian membuka kotak.
Di dalamnya, gelang giok hijau tua berkilau halus, warnanya dalam seperti daun setelah hujan. Sekar yang berdiri cukup jauh pun tahu benda itu mahal. Bukan mahal seperti tas bermerek, tetapi mahal seperti sejarah keluarga.
Lina menatap Ardian. "Untuk calon istrimu nanti."
Udara berubah.
Darren hampir menjatuhkan sosis.
Rio langsung pura-pura melihat panggangan.
Sekar mendadak sangat tertarik pada piring kosong.
Ardian menutup kotak itu pelan. "Mama tidak perlu..."
"Aku perlu," potong Lina lembut. "Karena aku mungkin tidak akan lama di Jakarta."
Ia menyentuh tutup kotak itu dengan ujung jarinya. "Dulu Oma memberikannya padaku saat aku menikah. Katanya, perempuan yang memakai gelang ini harus masuk ke rumah yang membuatnya tenang. Aku dulu terlalu muda untuk mengerti. Kalau suatu hari kamu memberikannya pada seseorang, jangan karena keluarga butuh menantu. Berikan karena kamu ingin dia bahagia bersamamu."
Ardian menatap kotak itu tanpa bicara.
Sekar di sisi lain meja tiba-tiba merasa dirinya tidak pantas mendengar kalimat sepribadi itu, tetapi kakinya seperti tertahan di tempat.
Darren menegang. "Mama?"
Lina menarik napas. "Aku akan pergi ke luar negeri. Bukan liburan. Aku ingin tinggal di sana untuk waktu lama. Mungkin menetap."
Halaman yang tadi hangat mendadak seperti kehilangan suara.
Ardian menatap ibunya. "Karena Papa?"
Lina tidak langsung menjawab. Itu sudah cukup.
Darren menggenggam tusuk sosis sampai hampir patah. "Mama, tapi..."
"Darren," kata Lina pelan, "Mama sudah terlalu lama tinggal di tempat yang membuat Mama lupa rasanya bernapas."
Sekar menatap perempuan itu. Di wajah Lina tidak ada drama besar. Tidak ada air mata yang dibuat-buat. Justru ketenangan itu membuat kata-katanya terasa lebih berat.
"Di sana ada kebahagiaan Bu Lina?" tanya Sekar tiba-tiba.
Semua orang menoleh padanya.
Sekar sadar ia mungkin terlalu lancang, tetapi pertanyaan itu sudah keluar.
Lina menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum. "Mungkin ada."
Sekar mengangguk. "Kalau di sana ada kebahagiaanmu, pergilah. Jangan pernah kembali."
Darren terkejut.
Ardian juga.
Sekar cepat menambahkan, suaranya lebih lembut, "Maksud saya, jangan kembali ke hal yang membuat Bu Lina sakit. Kalau rindu anak, anak bisa mengunjungi. Tapi jangan kembali ke sangkar."
Mata Lina berubah.
Untuk pertama kalinya sejak masuk, lapisan tenangnya retak sedikit.
"Kamu benar-benar anak yang berani," katanya.
"Kadang terlalu berani," gumam Ardian.
Sekar menoleh. "Saya mendengar."
"Bagus."
Momen itu nyaris kembali hangat ketika suara mobil lain terdengar dari gerbang.
Wajah Darren langsung berubah. "Papa."
Tan Hendrawan datang dengan telepon menempel di telinga. Ia tidak melihat pita di halaman. Tidak melihat kue. Tidak melihat panggangan. Matanya hanya sekilas menyapu Ardian, lalu berhenti pada Lina.
"Kamu di sini rupanya," katanya.
Lina berdiri lebih tegak. "Ini ulang tahun Ardian."
Tan Hendrawan seperti baru ingat, lalu hanya berkata, "Oh."
Satu kata itu lebih dingin daripada semua hinaan sebelumnya.
Ardian tidak bergerak.
Sekar merasa tangan yang memegang piring menegang.
Telepon Tan Hendrawan berbunyi lagi. Ia melihat layar. Nama yang muncul tidak terlihat jelas dari jauh, tetapi suaranya melunak ketika menjawab.
"Yenny? Ada apa?"
Lina memejamkan mata sebentar.
Darren menatap ayahnya, wajahnya merah karena marah.
Tan Hendrawan mendengar beberapa detik, lalu berkata, "Saya ke sana sekarang."
"Sekarang?" suara Lina tetap tenang.
"Ada urusan."
"Di ulang tahun anakmu."
Tan Hendrawan menatap Ardian, lalu berkata pada Lina, "Dia sudah dewasa."
Setelah itu ia pergi.
Tidak ada ucapan selamat ulang tahun. Tidak ada hadiah. Tidak ada rasa malu.
Hanya suara mobil meninggalkan halaman.
Sekar meletakkan piring di meja dengan sangat pelan.
"Laki-laki itu tidak tiba-tiba busuk," katanya.
Darren menoleh.
Sekar menatap gerbang yang sudah kosong. "Kalau hari ini dia bisa meninggalkan ulang tahun anaknya demi orang lain, berarti dari dulu ada bagian dirinya yang sudah dibiarkan membusuk. Orang hanya pura-pura tidak mencium baunya."
Tidak ada yang tertawa.
Lina menatap Sekar lama, lalu menunduk, seperti menerima kalimat yang seharusnya sudah ia ucapkan pada dirinya sendiri bertahun-tahun lalu.
Sore itu, pesta tetap berjalan, tetapi lebih pelan. Lina memotong kue bersama Ardian. Darren makan sosis tanpa banyak bicara. Rio diam-diam mengambil foto saat Sekar memaksa semua orang berdiri atau duduk dekat meja agar bisa masuk Polaroid.
Setelah matahari turun, Lina meminta bicara berdua dengan Ardian di teras samping.
Sekar sedang membereskan piring di dapur. Dari teras, Ardian bisa melihat punggungnya bergerak cepat, sesekali berhenti untuk menegur Darren agar tidak mencuri kue kedua.
Lina mengikuti arah pandangnya.
"Kamu suka dia?"
Ardian tidak menjawab.
Angin sore bergerak di antara mereka. Kotak gelang giok hijau imperial berada di pangkuannya, tertutup, berat seperti pertanyaan yang belum berani ia buka.
Lina tidak mendesak.
Setelah lama sekali, Ardian menatap Sekar yang sedang tertawa kecil di dapur.
Lalu ia menjawab sangat pelan.
"Iya."