Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.
Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!
"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.
Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.
Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!
Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pendar lampu dinding kristal bernuansa warm white di koridor khusus menuju area toilet VIP lantai dua Hotel Grand Hyatt memantulkan kilau yang mewah namun terasa begitu dingin.
Bau harum minyak esensial kayu cendana yang berpadu dengan kelembapan pendingin udara tak sanggup menghilangkan atmosfer menekan yang menyelimuti lorong sepi tersebut.
Hilmira Hazelya melangkah perlahan di atas karpet tebal bernuansa merah marun. Perasaan membuncah dari dansa rahasia yang teramat intim bersama Arkan di balik tirai balkon VIP beberapa saat lalu masih membuat dadanya berdesir hebat
Sentuhan hangat jemari Arkan dan desah napas pria itu yang berbisik di keningnya masih terasa membakar kulitnya. Namun, rasa canggung dan gejolak emosi yang terlalu intens membuat Hilmira membutuhkan waktu sejenak untuk membasuh wajah dan menenangkan detak jantungnya yang belum sepenuhnya stabil.
Gaun malam midnight blue berhiaskan sulaman benang perak dan lapisan tulle berkilau melambai anggun menyapu lantai. Khimar panjang dan cadar sutra midnight blue yang terpasang rapi masih melindungi separuh wajah cantiknya.
Hanya sepasang mata bulatnya yang jernih yang memancarkan binar kebingungan bercampur getaran asmara yang asing.
Hilmira mendorong pintu kayu jati tebal menuju area toilet VIP wanita. Ruangan itu sangat luas, bersih, dan sepi. Hanya ada pendar lampu neon lembut di atas cermin-cermin lebar berbingkai emas.
Setelah membasuh kedua tangannya yang dingin di atas wastafel marmer, Hilmira mengeringkan jemarinya dengan tisu. Ia merapikan lipatan cadar sutranya di depan cermin, menghela napas panjang untuk menyuntikkan sisa-sisa keberanian ke dalam jiwanya sebelum kembali ke ballroom.
Namun, tepat ketika Hilmira membalikkan badan untuk melangkah keluar menuju lorong...
SREK.
Pintu service stainless steel yang terhubung ke koridor belakang katering mendadak terbuka sedikit. Seorang pria berseragam katering hitam melintas tergesa-gesa di celah pintu tersebut.
Pria itu membawa kotak besi berat, dan saat ia menoleh sekilas ke arah dalam toilet, siluet mantel kotor dan bau tajam asap tembakau murah bercampur zat kimia menyengat mendadak tersembur masuk.
Bukan pria itu yang berbahaya. Pria itu hanyalah kru katering biasa yang sedang memindahkan perlengkapan. Namun... aroma zat kimia, bau asap tembakau murah, dan bunyi dentang gesekan besi berat itu.
DEG.
Sensasi itu menghantam kepala Hilmira bagai dentuman petir di tengah malam buta.
Lantai marmer yang diinjaknya mendadak terasa bergoyang hebat. Pandangan mata Hilmira yang semula jernih mendadak berkabut, terdistorsi oleh kilasan bayangan masa lalu yang paling mengerikan.
"Bawa gadis ini! Kunci dia di dalam gudang bawah tanah !"
"Jangan biarkan dia berteriak !"
Suara benturan pintu besi yang dibanting kasar, bau lembap gudang penyekapan kartel tempat ia dikurung berhari-hari sebelum diselamatkan, dan dinginnya lantai semen yang meresap ke tulang mendadak mengepung seluruh kesadaran Hilmira dalam hitungan milidetik.
Trauma masa lalunya yang telah lama terkubur kini meledak liar tanpa ampun, dipicu oleh ketegangan dari intrik malam ini dan aroma spesifik yang membangkitkan memorinya.
"N-Napas... tidak bisa..." bisik Hilmira parau.
Oksigen di dalam paru-parunya serasa tersedot habis. Dada Hilmira naik turun secara tak teratur. Tangannya yang gemetar hebat refleks memegangi lehernya di balik cadar sutra. Sensasi mencekik yang teramat nyata mencekal tenggorokannya.
Dalam kondisi panik luar biasa dan pandangan yang kian menggelap, insting bertahan hidup Hilmira mendorongnya untuk bersembunyi. Ia melangkah mundur dengan sempoyongan, memegang dinding marmer yang dingin untuk menopang tubuhnya yang lemas, lalu masuk ke dalam salah satu bilik toilet VIP paling ujung.
KLAK!
Hilmira mengunci selot pintu bilik itu dari dalam dengan jemari yang tak lagi bertenaga.
Ia merosot jatuh ke atas lantai keramik dingin. Tubuh mungil berbalut gaun midnight blue itu meringkuk kaku di sudut bilik. Hilmira mencengkeram kain gaun di bagian dadanya kencang-kencang, matanya membelalak lebar dalam ketakutan murni.
Napasnya terdengar pendek, memburu, dan tersengal-sengal, sebuah serangan panik traumatis tingkat berat yang melumpuhkan seluruh fungsi dalam jiwanya.
"K-Kak... Arkan..." desis Hilmira dari balik cadarnya, suaranya sangat halus, tercekat di tenggorokan, tenggelam di antara dinding-dinding bilik yang membisu.
Sementara itu, di area lorong utama dekat tangga VIP.
Arkan Oliver baru saja melangkah keluar dari balik tirai beludru tempat mereka berdansa rahasia tadi. Pria tegap itu berdiri membetulkan posisi jam tangan peraknya, berniat menunggu Hilmira kembali dengan jarak aman.
Namun, ketika melihat sepuluh menit telah berlalu dan Hilmira tak kunjung muncul dari koridor toilet VIP, senyum tipis di wajah tampan sang pewaris Oliver Group itu seketika luntur.
Sepasang mata elangnya menyipit tajam. Ada gelombang kegelisahan dan firasat buruk yang mendadak menghantam dadanya, sebuah ikatan batin yang tak kasat mata namun begitu nyata meremas jantungnya.
"Terlalu lama..." batin Arkan.
Tanpa memedulikan Rian yang tampak celingukan mencari Hilmira atau jajaran direksi universitas yang berniat menyapa dirinya di dekat lorong, Arkan memutar tubuh tegapnya secara mendadak. Langkah kakinya yang panjang dan penuh otoritas bergerak cepat menyusuri koridor VIP menuju area toilet wanita.
"Pak Arkan? Ada acara penyerahan plakat di atas..." seorang panitia acara mencoba menghentikannya.
"Singkirkan semua orang dari lorong ini," perintah Arkan dingin tanpa menghentikan langkah kakinya sedikit pun. Aura cold CEO yang terpancar dari tubuhnya begitu pekat hingga panitia itu langsung bungkam dan mundur ketakutan.
Arkan tiba di depan pintu toilet VIP wanita.
Tanpa ragu sedikit pun, tanpa memedulikan etiket atau norma sosial tempat umum, Arkan mendorong pintu kayu jati tebal itu hingga terbuka lebar.
Keheningan yang dingin langsung menyambutnya.
"Hilmira?" panggil Arkan. Suara baritonnya bergema di dalam ruangan berlantai marmer tersebut.
Tidak ada jawaban. Hanya ada suara dengung rendah dari sistem pendingin udara.
Firasat buruk di dada Arkan kian memuncak. Sepasang matanya yang tajam menyapu seluruh area wastafel, lalu beralih menatap deretan pintu bilik toilet. Semua pintu terbuka, kecuali satu bilik di sudut paling ujung yang tertutup rapat dengan lampu indikator merah menyala, menandakan terkunci dari dalam.
Arkan melangkah cepat dengan ketukan sepatu yang berat. Ia mengetuk pintu bilik kayu bernuansa mahoni itu dengan buku jari tangannya.
"Mira? Kau di dalam?" suara Arkan melunak, bernada cemas yang tertahan.
Masih tidak ada jawaban. Namun, pendengaran Arkan yang sangat tajam menangkap suara hembusan napas yang sangat pendek, tersengal-sengal, serta gesekan kain halus yang gemetar hebat dari balik pintu.
Darah Arkan serasa berhenti mengalir seketika.
"Hilmira!" Arkan menepuk pintu bilik lebih keras. "Buka pintunya, Hilmira! Ini aku, Arkan!"
Dari balik pintu, Hilmira mendengar suara bariton yang teramat familier itu. Namun, serangan panik yang mencengkeram otaknya membuat lidahnya kaku. Ia tidak bisa bersuara. Tangannya yang gemetar mencoba menggapai selot pintu di atasnya, namun tubuhnya terlalu lemas hingga ia justru tersungkur semakin dalam di sudut lantai.
"K-Kak... A-Arkan..." bentakan bisikan parau itu akhirnya lolos dari bibir Hilmira, disusul suara rintihan menahan sesak napas yang amat berat.
Mendengar rintihan kesakitan dan napas istrinya yang hampir putus, seluruh ketenangan dan kendali diri Arkan Oliver hancur berkeping-keping.
"Persetan!" umpat Arkan parau.
Arkan mundur setengah langkah. Pria bertubuh tinggi tegap setinggi 185 sentimeter itu memasang posisi kokoh. Dengan kekuatan fisik yang penuh, Arkan mengangkat kaki panjangnya lalu menghantamkan tumit sepatunya tepat di sela engsel dan kunci kayu bilik tersebut!
BAMMM!
Sebuah dentuman keras bergema hebat di seluruh ruangan. Selot pintu kayu berkualitas tinggi itu retak dan terlepas seketika dari bingkainya.
Pintu bilik terbuka lebar.
Pemandangan di dalam bilik seketika menghancurkan hati Arkan hingga berkeping-keping.
Hilmira meringkuk di lantai keramik yang dingin, kedua tangannya mencengkeram dadanya sendiri. Gaun malam midnight bluenya yang indah tersingkap sedikit di bagian bawah, khimar dan cadarnya berantakan.
Wajahnya yang tertutup kain sifon tampak memucat ekstrem, dan sepasang mata bulatnya menatap kosong ke udara dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi kain cadarnya.
"Mira...!"
Suara bariton Arkan bergetar oleh rasa panik dan kepedihan murni yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.
Tanpa memedulikan jas tuksedo mewahnya atau lantai yang dingin, Arkan langsung berlutut dengan kedua kakinya di hadapan Hilmira.
Tangan kekarnya, tangan kiri yang bebas dan tangan kanan yang terbalut perban, langsung terulur, merengkuh tubuh mungil Hilmira yang gemetar gila ke dalam pangkuan tegapnya.
"Mira, dengarkan aku! Tatap mataku!" perintah Arkan. Tangannya menangkup lembut kedua sisi wajah Hilmira yang terbalut cadar, memaksa pandangan mata istrinya yang kabur untuk terkunci pada sepasang mata elangnya.
"H-Hampa... n-napas... tidak ada..." bisik Hilmira tersedak, dadanya naik turun semakin meliuk-liuk mencari udara.
"Ada udara di sini. Kau aman. Aku di sini, Hilmira!" tegur Arkan dengan nada bariton yang sangat dalam, mantap, dan berwibawa, sebuah jangkar penyelamat di tengah badai trauma Hilmira.
Melihat Hilmira yang masih belum bisa bernapas akibat tertutup cadar dan ketakutannya sendiri, Arkan tidak ragu sedikit pun. Dengan gerakan jari yang teramat lembut dan berhati-hati, Arkan melepaskan ikatan cadar sutra midnight blue di belakang kepala Hilmira.
Cadar itu terlepas.
Wajah polos Hilmira tanpa riasan kini terekspos sepenuhnya di bawah pendar lampu, kulit pipinya yang halus kini pucat pasi, bibir mungilnya yang merah muda gemetar parah, dan air mata membasahi pelipisnya. Keindahan alami wajah istrinya yang selalu tersembunyi kini terlihat begitu rapuh dan menyayat hati.
Arkan merapatkan tubuh bidangnya. Ia menarik kepala Hilmira agar bersandar tepat di atas dada kirinya, tepat di mana detak jantung Arkan bergemuruh kencang, berat, dan stabil.
Arkan melingkarkan kedua lengan kokohnya di sekeliling punggung dan pinggang Hilmira, mendekap tubuh wanita itu begitu erat hingga tak ada celah di antara mereka.
"Dengarkan detak jantungku, Hilmira," bisik Arkan di dekat telinga Hilmira, hembusan napas hangatnya menyapu kulit leher dan pipi istrinya. "Ikuti napasku. Tarik... buang... perlahan, sayang. Ikuti aku."
Arkan mengambil napas dalam-dalam, membiarkan dadanya naik turun secara teratur sebagai panduan fisik untuk Hilmira.
Tangan kekar Arkan yang dilapisi kain perban mengelus lembut rambut hitam panjang Hilmira yang terurai di balik khimarnya, memberikan sentuhan ketenangan yang konstan dan protektif.
"Aku di sini. Tidak ada orang jahat. Tidak ada gudang tua. Tidak ada yang bisa menyentuhmu selama kau ada di dalam pelukanku," bisik Arkan berulang kali.
Nada suaranya yang biasanya dingin dan tegas kini berubah seribu persen menjadi kelembutan yang teramat manis, matang, dan penuh kasih sayang yang tak bersyarat.
Berada di dalam pelukan hangat pria setinggi 185 sentimeter itu, mendengarkan detak jantung Arkan yang begitu kuat dan perkasa, serta menghirup aroma parfum maskulin beraroma cedarwood dan mint yang familier... perlahan-lahan meruntuhkan dinding ketakutan di kepala Hilmira.
Napas Hilmira yang semula memburu gila perlahan mulai teratur. Paru-parunya kembali terisi oksigen.
Hilmira menyandarkan seluruh bobot tubuhnya yang lemas pada dada bidang Arkan. Jemari mungilnya mencengkeram erat kain kemeja putih Arkan di bagian dada, mencari perlindungan mutlak dari pria yang sah menjadi suaminya itu.
"K-Kak... Arkan..." tangis Hilmira akhirnya pecah, sebuah tangisan lega yang teramat halus. "Aku... aku takut sekali..."
Arkan memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mengecup puncak kepala Hilmira dengan teramat dalam, menyalurkan seluruh keposesifan, rasa lega, dan janji perlindungan abadi dari dalam jiwanya.
"Jangan takut lagi," bisik Arkan parau di atas rambut Hilmira. Tangannya mencengkeram tubuh Hilmira semakin erat, seolah tak akan pernah membiarkan wanita ini terlepas dari dekapannya lagi.
"Kau adalah istri seorang Arkan Oliver. Dan demi nyawaku sendiri... aku tidak akan pernah membiarkan dunia membuatmu menangis seperti ini lagi."
Di dalam bilik sepi yang terisolasi dari megahnya pesta Gala Night di luar, di atas lantai tempat mereka terduduk bersama, sandiwara pernikahan kontrak itu telah sepenuhnya lebur. Yang tersisa hanyalah perlindungan mutlak dari sang CEO tampan yang siap menjadi perisai abadi bagi wanita yang kini telah mencuri seluruh hatinya.
...----------------...
To Be Continue ....
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼♀️😅
padahal bagus Liam
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤