"Aku sudah menutup semua pandanganku untuk dunia yang sementara ini, Ellana. Aku sudah buta, buta akan keindahan yang tersaji di luar sana. Jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu yang memang tidak ingin aku lakukan. Jangan paksa aku untuk menjadi seorang suami yang tidak pernah bisa mencium aroma surga karena tidak bisa berlaku adil."
***
Ketika Allah menunjukkan kasih sayangNya dengan menggubahkan segores ujian di dalam bahtera rumah tangga, mungkinkah cinta itu masih tetap terbingkai utuh? Sanggupkah sepasang suami istri menjalani ujian itu dengan penuh keikhlasan? Dengan selalu berpegang teguh pada janji Allah bahwa akan ada surga bagi orang-orang yang sabar dan ikhlas?
Dan ketika sebuah janji telah terikrar untuk sehidup sesurga bersama seorang wanita yang telah ia pilih untuk ia jadikan pendamping hidup, mungkinkah janji itu akan tetap terjaga, meskipun pendampingnya kini sudah tidak lagi sempurna? Masihkah surga itu tetap terbingkai indah di dalam kehidupan mereka?
Rama Gilang Pradana bersama Ellana Alessia Safaraz Ismail akan memulai kisah mereka di sini. Sosok dua manusia yang mendamba surga dalam perjalanan cinta mereka.
Slow Update
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Bagaimana?
Hembusan angin khas lereng gunung menerpa lembut wajah-wajah manusia yang saat ini tengah bercengkeram di taman sebuah rumah yang terlihat begitu asri. Mereka saling berbincang sambil tertawa, seolah hanya ada suasana hangat yang hadir di tengah-tengah mereka.
Nana hanya bisa menundukkan wajahnya. Rasa gugup begitu mendominasi. Ia sampai tidak tahu harus melakukan apa tatkala seorang laki-laki yang sudah berhasil mencuri perhatiannya, kini duduk berhadapan langsung dengannya.
Sepotong brownies kukus telah masuk ke dalam mulut Widya. Enak, sangat-sangat enak. Memang benar jika bakat Lintang menurun ke putrinya.
"Kamu juga ikut membantu Bunda membuat brownies kukus ini Nak?"
"Iya Tante, saya juga ikut membantu Bunda membuat brownies kukus ini. Sekaligus sambil belajar membuat kue. Karena sejauh ini saya belum terlalu bisa untuk membuat olahan kue."
"Ini enak sekali Nak." Widya menoleh ke arah Rama. "Apakah kamu setuju jika Bunda mengatakan jika brownies kukus ini sangat enak, Nak?"
Rama tersenyum simpul sembari mengangguk. "Iya Bun, benar-benar enak. Rasanya tidak kalah dengan brownies kukus merk Mamanda yang begitu terkenal itu."
Mendengar ucapan Rama, membuat perasaan Nana dipenuhi oleh kuncup-kuncup rasa bahagia yang berhamburan di hatinya. Ia tidak menyangka jika hasil kerja kerasnya ikut membantu sang bunda membuat kue ini, diapresiasi oleh Rama dengan apresiasi seperti ini.
Lintang terkekeh. "Kamu ini bisa saja Nak. Rasa brownies kukus ini masih jauh dari merk Mamanda itu."
"Saya rasa jika tante Lintang membuka toko kue khusus olahan brownies, pasti juga akan laku keras, Tan."
Lintang semakin tergelak. "Tante malah tidak berpikir sampai sana Nak. Tapi kalau kamu mau, setiap hari Nana bisa membuatkannya untukmu Nak. Ya, barangkali bisa kamu nikmati sambil melakukan aktivitasmu sehari-hari." Lintang menoleh ke arah Nana. "Bukan begitu Nak?"
Nana hanya tersipu malu sambil mengangguk pelan. "Iya Bun."
"Jangan Tan, bisa-bisa Tante dan juga Nana rugi banyak jika setiap hari membuatkan sebuah brownies untuk saya."
Lintang hanya dibuat tergelak oleh ucapan-ucapan pemuda ini. Semakin mengenal putra dari temannya ini, ia semakin mengerti bahwa Rama adalah sosok lelaki yang mudah bergaul dengan siapa saja. Bahkan dengan orang yang baru saja ia kenal.
"Oh iya, sepulang dari Bandung, saat ini kamu disibukkan dengan aktivitas apa Nak?"
Sembari ikut menikmati brownies kukus buatan sang istri, Hanan mencoba membuka obrolan dengan pemuda yang ada di depannya ini.
"Sama seperti sebelum saya ke Bandung Om. Saya akan kembali ke kafe milik ayah, resto milik bunda, dan juga kafe milik saya sendiri."
Hanan terkekeh. Di matanya, selain tampan, sholeh, dan segala bentuk sopan santunnya, Rama juga merupakan salah satu pemuda pekerja keras. Nyatanya seluruh bidang usaha milik ayah dan juga bundanya bisa ia handle sendiri.
"Jika kamu terlalu sering membenamkan dirimu dengan rutinitas di kafe maupun di resto, lalu kapan waktunya untuk kamu mencari pasangan hidup Nak?"
Rama tersenyum simpul. "Jika Allah meridhoi, inshaallah sebentar lagi saya akan bertemu dengan pendamping hidup saya Om."
"Mbak Widya!"
Lintang yang sedari tadi terdiam, kini mulai membuka suara. Sebenarnya ada hal yang ingin ia bicarakan dengan teman satu kajiannya ini. Ini semua menyangkut Nana dan juga Rama.
"Iya Mbak, bagaimana?"
Lintang menghela nafas dalam kemudian perlahan ia hembuskan. "Rama sampai saat ini belum memiliki calon pendamping bukan? Bagaimana kalau kita membiarkan anak-anak kita melakukan proses ta'aruf, Mbak? Rama masih sendiri, dan Nana juga masih sendiri. Aku rasa, tidak ada salahnya bukan kalau kita membiarkan mereka untuk ta'aruf?"
Widya tersenyum kikuk. Ia sedikit melirik ke arah sang putra yang saat ini di raut wajahnya juga nampak sedikit pias.
"Emmmm.. Bagaimana ya Mbak? Kalau untuk hal itu, saya serahkan langsung saja kepada anak saya ini. Karena bagaimanapun juga nantinya Rama sendiri lah yang akan menjalani kehidupan rumahtangganya."
Lintang menoleh ke arah Rama. "Nak, bagaimana? Apakah kamu setuju jika mulai melakukan proses ta'aruf dengan putri tante ini? Tante lihat usia kalian sudah sama-sama matang untuk memulai kehidupan berumah tangga."
Rama hanya bisa melukiskan senyum tipis di bibirnya. Sesekali ia mencuri pandang ke arah wanita muda yang sedang duduk di hadapannya ini yang lebih banyak menundukkan pandangannya. Sosok wanita sholehah, yang pasti akan menjadi idaman para laki-laki yang mendamba surga di dalam kehidupan rumah tangga yang akan mereka bangun.
Namun, Rama tidak dapat berbuat apa-apa, karena hati dan pikirannya sudah lebih dulu tertambat pada seorang wanita bernama Ellana. Bahkan bukan hanya itu, sebuah pinangan sudah terlanjur ia utarakan di hadapan keluarga Ellana. Sehingga sangatlah tidak mungkin jika saat ini, ia menyetujui rencana Lintang untuk membiarkan dirinya melakukan proses ta'aruf dengan Nana.
"Saya benar-benar merasa terhormat dengan usulan dari tante Lintang ini. Namun....."
"Aaaaaaaaa.... Hasan, Husein, hentikan. Kakak geli dengan hewan itu. Jauhkan dari Kakak!"
"Hahahaha hayolohh... Mau kemana kak El sekarang, hemmmm? Aku sudah membawa capung ini untuk aku kasihkan ke kakak!"
"Hentikan San, Sein! Kakak geli dengan hewan itu. Jauhkan dari Kakak!"
"Hahahaha tidak semudah itu Esmeralda! Capung-capung ini akan selalu mengikuti kemanapun kak El berlari!"
Percakapan lima orang dewasa di taman itu terpangkas oleh teriakan seorang wanita yang berada tidak jauh dari taman. Dan tanpa menunggu banyak waktu, wanita itu memasuki area taman disusul oleh dua orang laki-laki yang terlihat membawa dua hewan capung di tangan mereka.
Kelima orang yang tengah asyik berbincang di taman itupun sontak menoleh ke arah sumber suara.
"Ellana!"
Mendengar namanya disebut, Ellana menghentikan langkah kakinya. Begitu juga dengan si kembar, Hasan dan Husain, putra dari Hanan dan juga Lintang, mereka juga ikut berhenti mengejar-ngejar Ellana.
"Loh, mbak Lintang dan Rama mengenal Ellana juga kah?" Tanya Lintang sedikit keheranan saat mendengar Widya dan juga Rama memanggil nama Ellana.
Widya mengangguk pelan. "Iya Mbak. Ellana ini adalah salah satu teman Rama ketika masih ada di Bandung. Dan kemarin, tanpa sengaja mereka juga pulang ke Jogja dengan menggunakan armada bus yang sama."
"Ya Allah... Ternyata dunia itu memang sempit ya Mbak? Aku benar-benar tidak menyangka jika sahabat dari anakku ini juga mengenal Rama."
Widya hanya bisa tersenyum simpul. "Mungkin memang seperti itu Mbak."
Keadaan seperti ini hanya bisa membuat Ellana tersenyum kikuk. Akibat ulah dari Hasan dan Husein, membuatnya harus keluar dari persembunyiannya. "Hehehehe maaf ya Om, Tante, karena El, acara bincang-bincang Om dan Tante ini menjadi terganggu."
Hanan menyunggingkan senyum. "Hasan, Husein, kalian ini loh dari dulu tidak pernah berubah. Selalu saja nakut-nakutin kak El dengan capung!"
"Habisnya kak El hanya bersembunyi di kamar kak Nana sih Yah. Tidak seru, tahu!"
Hanan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dari dulu, kedua putranya ini selalu saja seperti ini. Menggoda Ellana dengan hewan yang begitu ditakuti oleh wanita itu. Ellana adalah salah satu teman Nana yang sangat supel. Sehingga tidak heran jika anak-anaknya bisa mudah akrab dengan El, meskipun saat itu mereka baru sekali bertemu.
"Hasan, Husein kembali lah ke dalam! Jangan ganggu kak Ellana lagi. Kasihan kak Ellana sudah ketakutan seperti ini, " titah Hanan kepada si kembar.
"T-tapi Yah....."
"Sudah Sayang. Ayo kalian masuk. Kasihan kak Ellana."
Husein menoleh ke arah Ellana. "Kak El, kali ini Kakak bisa lolos, tapi lihat nanti aku akan kembali datang dengan capung-capung ini." Ia kembali menatap saudara kembarnya. "Ayo San, kita masuk. Di sini kak Ellana dilindungi oleh Ayah, Bunda dan juga kak Nana. Jadi kita sudah tidak memiliki kesempatan untuk menakut-nakuti kak El."
Dua anak kembar itu melenggang pergi meninggalkan taman. Sedangkan El hanya tersenyum simpul sembari menghela nafas lega. Setidaknya ia bisa terlepas dari teror hewan yang sejak kecil ia takuti itu.
"El... Duduk di sini saja. Kita ngobrol sama-sama!"
Nana memberikan usul agar sahabatnya ini turut bergabung dengannya. Hal itu juga disetujui oleh orang-orang yang berada di sana.
"Eh, tapi... Aku takut jika mengganggu Na!"
"Tidak El. Kamu tidak akan menjadi pengganggu. Kemarilah. Duduk di samping Nana!"
Lintang juga ikut meminta sahabat anaknya ini untuk ikut bergabung. El pun mengalah. Ia duduk di salah satu bangku taman yang masih kosong di samping Nana. Sedangkan Rama, ia hanya bisa menatap wanita yang ada di hadapannya ini dengan tatapan penuh rasa takjub. Ia benar-benar tidak menyangka jika wanita yang kemarin ia pinang, menjelma menjadi sosok wanita yang begitu anggun dengan pakaian yang ia kenakan saat ini.
Berkali-kali Rama terlihat mencuri-curi pandang ke arah wanita yang duduk di hadapannya ini. Di hadapannya telah tersaji dua wanita dengan kecantikan masing-masing yang mereka miliki. Namun hanya ada satu titik yang membuatnya terkesima sedari tadi. Wajah siapa lagi jika bukan wajah Ellana.
Mashaallah... Kamu benar-benar cantik dengan pakaian seperti ini El. Sepertinya aku tidak salah memilih engkau untuk menjadi calon istriku. -Rama-.
Astaghfirullah hal'adziim... Mengapa sedari tadi mas Rama mencuri-curi pandang ke arahku? Aku merasa gugup sekali. Apakah mungkin mas Rama akan menyetujui usulan bunda untuk berta'aruf denganku? Ya Allah, aku hanya meminta, semoga penantianku selama lima tahun ini akan berakhir indah. -Nana-
Ya Allah, bolehkah saat ini aku meminta satu hal? Jangan sampai Rama kelepasan membahas pinangannya kemarin di depan keluarga Nana. Aku benar-benar tidak ingin membuat Nana kecewa dan bersedih hati. Aku tidak ingin memupuskan harapan Nana yang sudah lima tahun ia pendam sendiri. Apa yang harus aku lakukan saat ini? Aku merasa akan menjadi orang yang paling jahat jika aku menerima pinangan Rama. -Ellana-
Pada akhirnya mereka larut dalam obrolan-obrolan hangat. Apa yang menjadi topik pembicaraan sebelum Ellana masuk ke area taman mengenai proses ta'aruf antara Nana dan Rama seolah menguap begitu saja. Karena saat ini mereka hanya terdengar asyik membicarakan aktivitas sehari-hari yang mereka lakukan.
.
.
. bersambung.......
Hihihihi... sedang buntu... Maaf jika terlalu pendek dan membosankan ya kak...🙏🙏
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Bingkai Surga ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik bunga atau yang lainnya. jika punya tiket vote boleh juga jika ingin disumbangin ke author, hihiihii. dan jika menurut kakak-kakak cerita ini menginspirasi, boleh juga jika di share kepada teman-teman kakak semua..🤗🤗
Happy reading kakak..
Salam love, love, love❤️❤️❤️
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca🌹
lanjut thor...