NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Gadis Bermata Biru

Terjerat Cinta Gadis Bermata Biru

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya-senja

Cinta itu ada masa kedaluwarsanya, tapi hanya Tuhan yang tahu kapan cinta itu datang dan pergi.
Satya dibuat kesal karena kalah tender pembangunan mega proyek kilang minyak baru dan surat penalti yang dilayangkan perusahaan owner akibat kecerobohan karyawan baru yang salah dalam membuat project schedule. Alih-alih menerima konsekwensi pemecatan, Aritha malah memaksa Satya tetap mempekerjakan dirinya agar dapat bertanggung jawab atas kecerobohannya.
Tantangan diterima, namun bertemu pandang dengan mata biru elektrik perempuan itu membuat hatinya bergetar.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah Aritha berhasil menyelesaikan kasusnya atau kecerobohannya semakin membuat bosnya emosional dan bangkrut?

Session 2 :
Tentang bagaimana Ritha berjuang mempertahankan pernikahannya dengan seorang petarung bisnis yang kehidupannya sangat berbeda dengan kehidupan impiannya yang sederhana.
Sanggupkah ia bertahan dengan cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya-senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merajut Asa

Hari sabtu ini Ritha telah mendapat ijin dari kantor untuk ikut ujian masuk pasca sarjana. Sudah seminggu ini ia meluangkan waktu sekurang-kurangnya 2 jam tiap hari untuk mempelajari soal-soal tes potensi akademik yang didapatnya dari buku yang dibelinya di toko buku ternama ibukota, baik yang manual maupun yang computer based. Sebenarnya ia tidak terlalu percaya diri mengingat persiapannya mendadak dan telah berada di gelombang terakhir ujian penerimaan mahasiswa baru pasca sarjana. Kalaupun hasilnya kali ini belum memuaskan Ritha tak akan berkecil hati sebab ia akan belajar lagi dan ikut ujian ulang semester genap.

"Aku juga mendoakan kamu dalam sholat hajatku seminggu ini." bisik Ardi sambil tersenyum ketika melihat Ritha tampak gugup saat hendak masuk ruang ujian.

"Terimakasih, bang. You're the best friend."

"Biar semangat kuliah, kalau sudah masuk kita kompetisi ya. Siapa yang IPKnya rendah harus bayarin makan siang selama sebulan."

"Ayo, siapa takut," tantang Ritha yang seketika jadi penuh semangat mendengar kata kompetisi dan hadiah yang bakal didapatkannya kalau menang.

Ardi tersenyum. Mereka bersemangat masuk ruang ujian.

Ujian dilaksanakan dengan fasilitas komputer jaringan yang hasilnya dapat langsung dilihat satu jam kemudian. Ardi dan Ritha makan siang di kantin sambil bersiap untuk ujian interview jika dinyatakan lolos saat pengumuman ujian tertulis nanti.

"Abang yakin lulus tes tulis?"

"90% yakin, kalau passing grade aja sih kayaknya bisa terlewati." jawab Ardi percaya diri. "Kamu?"

Ritha menggeleng, "Nggak tahu. Sebagian soal sih familiar, sama persis dengan soal di buku TPA tapi ada soal yang aku ngisinya cuma ngitung kancing," jawab Ritha sambil menutup mulut.

"Aku sih yakin kamu lulus juga,"

"Abang tuh enteng banget ya kalau ngomong. Kayak nggak mikir gitu," protes Ritha

Ardi hanya tersenyum.

"Nggak usah terbebani. Makanlah, sotonya enak," katanya sambil menyerusup kuah soto kuning yang dipesannya.

Ritha melirik setengah hati. Ardi makan dengan lahap seperti tak ada beban. Sementara Ritha benar-benar berambisi kuliah secepatnya agar ada banyak kesibukan positif yang mendukung karir dan bisa cepat melupakan mantan.

"Ngapain juga sih terbebani lulus atau enggak. Kita tuh sudah kerja ya, posisi alhamdulillah lumayan. Kuliah kan cuma cari kesibukan dan status. Belajar itu nggak harus di kampus. Sehari-hari di manapun kita bisa belajar. Tinggal niat kita aja. Lagipula ujian kan sudah lewat. Santai aja, Cantik." katanya sambil tersenyum dan terus menyantap soto kuningnya dengan lahap.

Iya juga sih. Kenapa ia harus cemas? Sepertinya Ritha harus belajar cara menikmati hidup seperti Ardi yang setiap hari tidak tampak tergesa-gesa dan santai. Hidupnya terorganisir dengan baik, fisik dan mental spiritualnya. Tak tampak seperti orang alim yang sok menggurui tapi rajin sholat dan tak pernah berhenti berdoa untuk setiap langkah yang akan dijalaninya.

Ritha menyuap soto kuningnya. Benar. Enak seperti kata Ardi.

"Kira-kira sesi wawancara ditanya apa ya, bang?"

"Paling seputar motivasi, kemampuan finansial, minat dan hal-hal seputar kepribadian dan cara belajar dan pengambilan keputusan."

Ritha manggut-manggut. Diam-diam ia memperhatikan Ardi. Seorang lelaki yang parasnya biasa saja, tidak seganteng Aldo atau bos Satya. Bodynya tegap dan tingginya seperti rata-rata lelaki Indonesia, kira- kira sekitar 170 cm. Perlu waktu cukup lama untuk mengambil kesimpulan bahwa ia manis memesona. Mungkin perlu pengaruh unsur kharisma dan karakternya yang kuat untuk melihat keistimewaam lelaki itu, tidak semata-mata hanya fisik saja.

Memutuskan suatu hubungan memang tak harus tergesa-gesa. Perlu pertimbangan matang dan keyakinan apakah ada hal yang dapat melanggengkan cinta dalam waktu yang lama, karena ia mengharapkan pernikahan yang langgeng seumur hidup. Ritha tak ingin terjebak cinta sesaat.

Hanya Tuhan yang tahu kapan cinta itu datang dan pergi. Sepanjang pengetahuannya, cinta saja tak akan cukup untuk bekal sebuah pernikahan. Perlu komitmen, kesamaan visi dan tekat untuk tetap bersama sepanjang hidup. Jika ditanya soal cintanya pada Aldo, Ritha yakin hatinya masih terpaut pada lelaki bersuara merdu yang sering menyanyikan lagu cinta untuknya. Tapi Aldo memilih berbohong dan mengabaikannya demi karir. Ritha tak bisa hidup dalam kepura-puraan seperti itu.

"Rith, kenapa bengong? Cepat habiskan sotomu. Kita perlu sholat dulu sebelum kembali ke ruang ujian tadi." tegur Ardi membuyarkan pikiran Ritha yang sedang berkelana memikirkan nasib kisah cintanya yang telah usai.

Ritha sedikit gelagapan. Ia berharap Ardi tidak tahu kalau ia sedang memikirkan untuk membuka hati untuknya. Tidak. Jangan ada pemikiran ke arah sana. Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan yang mungkin esok akan disesalinya. Ardi masih fokus dengan pekerjaan dan rencana kuliahnya. Mereka masih punya banyak waktu menjalani hubungan sebagai teman baik. Jangan berharap lebih jika seperti ini saja sudah cukup membuatnya bahagia.

"Abang sholat dulu aja. Ritha lagi libur. Nanti Ritha langsung jalan sendiri ke ruang ujian aja setelah makan. Sotonya Ritha yang bayar."

"Oh, oke. Take care ya." Ardi beranjak dari tempat duduknya sambil tersenyum dan melambaikan tangan.

Cih, lebay. Sok manis. Cuma berpisah sebentar dan jarak dekat aja pakai bilang take care segala.

Diam-diam Ritha tersenyum sendiri sambil kembali menikmati soto hangat yang masih separuh mangkuk.

Ritha sampai di ruang ujian lebih dulu daripada Ardi. Kertas pengumuman hasil ujian tertulis sudah terpampang di papan pengumuman. Nama Ardi ada di urutan pertama nilai tertinggi, sementara Ritha hanya menempati peringkat ke-11. Alhamdulillah ternyata nilainya cukup jauh di atas passing grade sehingga otomatis ia dinyatakan lulus tes tertulis. Ritha langsung harus menghadapi interview yang menurut jadwalnya kira-kira terselenggara setengah jam lagi karena ia masuk ke dalam peserta interview sesi 1.

"Selamat ya, abang dapat nilai ujian tertulis terbaik di gelombang ini." kata Ritha memberikan selamat begitu Ardi sampai di koridor menuju papan pengumuman.

"Benarkah?"

"Lihat saja sendiri."

Ardi memoto kertas pengumuman lalu mengirimkannya ke seseorang yang berada di kontak ponselnya. "Benar, kan? Abang ternyata pinter juga ya. Nilainya nyaris sempurna," kata Ritha bangga.

"Mungkin hari ini aku lagi hoki," jawabnya. Jika didengar dari pilihan katanya seolah dia sosok yang rendah hati tapi melihat senyumnya bertolak belakang, tetap tengil.

"Foto pengumuman dikirim ke siapa, bang?" selidik Ritha penasaran.

"Ibu dan bos Satya."

"Penting banget ya?"

"Penting, karena ibu pasti bangga dan bahagia dengan hasil yang diperoleh anaknya berkat doa-doanya."

"Kalau bos Satya?"

"Supaya beasiswa cepat cair,"

"Tuh kan, bagaimana aku nggak curiga kalau abang itu orang dekatnya bos Satya. Hasil tes saja harus bos Satya orang yang pertama kali tahu." keluhnya.

"Kamu salah, kalau premisnya begitu maka orang terdekat aku itu ya kamu. Karena kenyataannya kamulah yang pertama kali tahu nilai hasil ujianku, bahkan sudah tahu sebelum diriku sendiri"

Hm, salah premis lagi ya? Ritha selalu kesulitan mengorek pengakuan Ardi soal kedekatannya dengan Satya. Harus diakui, sudah terbukti logika dan daya analitik Ardi jauh lebih cerdas dari dirinya. Nilai TPAnya saja jauh lebih tinggi dari Ritha.

"Kamu nggak kirim hasil ujianmu ke bos supaya beasiswa cepat cair? Pembayaran uang pangkal dan SPP kan paling lambat minggu ini. Menurut kalender akademik, perkuliahan akan dimulai senin minggu depan," Ardi balik bertanya dan mengingatkan Ritha soal kewajiban pembayaran uang pangkal dan SPP yang tenggat waktunya sebentar lagi.

Ritha menggeleng. Ups, lupa. Kenapa Ritha tidak langsung berpikir ke sana ya? Gengsi? Ah, sepertinya logika dan cara berpikir taktisnya masih kurang terlatih. Cenderung ceroboh, hanya menuruti intuisi yang tak jelas.

"Abang aja deh yang bantu kirim. Nilai aku kan nggak sebaik abang, jadi malu lah kalau harus memberitahu bos Satya," kilah Rhita malu-malu. Dalam hati Ritha berharap Ardi duluan yang menawarkan bantuan untuk mempercepat keluarnya dana beasiswa itu. Padahal ia sadar tabungannya tak cukup untuk bayar biaya kuliah.

"Bos Satya sudah tahu. Kan di baris ke 11 ada nama kamu,"

Ritha mengernyih dengan simpul senyum yang apik. Apapun bentuk kedekatan Ardi dan Satya selama tidak merugikannya, seharusnya tak patut dipermasalahkan. Bukankah Ritha justru banyak diuntungkan dengan kedekatan mereka? Ritha menyesal terlalu penasaran pada apa yang sesungguhnya tidak penting untuk diketahui. Setiap orang punya privasi dan rahasia yang tak harus tersentuh teman baiknya. Bukan begitu?

1
Aprila santi
asik
Aprila santi
suka ..author
Ali Tell
gk bahaya ta???
Titien Muliasari
Luar biasa
Rhyna e Krebo
aku pernah di posisi Satya,di musuhi bahkan di fitnah gara" warisan.bahkan hakku di minta paksa.karena orang luar yg benci padaku dan ikut campur urusan keluarga kami.tapi aku mencoba ikhlas dan legowo dan tak menaruh dendam.
Rhyna e Krebo
😂😂😂😂ngakak sama tingkah Satya
Rhyna e Krebo
padahal aku lama jadi reader di NT,tapi kenapa baru sekarang Nemu novel ini.dan pas moment skrg anak gadisku sekolah di jurusan dpib.bismillah semoga anakku masa depannya kayak aritha😂😂😂ngayal dikit boleh lah ya🤭🤭🤭
Kurnianingsih Sa'ud
ceritanya apik, temanya gak melulu soal percintaan...pembaca malah seperti di giring u memgetàhui seluk beluk bisnis,naik turunnya kemajuan perusahaan...pokoknya mantab lah...👍👍👍
Katherina Ajawaila
Bas mmg ngk jelas dr dulu bikn apes aja, mskin aja Sat k hotel Rodeo biar belajar utk menghargai Saudara. sifat serakah ngk pernah hilang dr otaknya. ngk tau sayang nya saudara bagaimana kalau lg susah hanya Satya yg perduli🙃🙃🙃
Katherina Ajawaila
belah duren aman terkendali tinggal ngebuahin ja, semoga cepat ada Satya yunior. tks Thour
Katherina Ajawaila
bagus bahasa nya, jadi dibacanya senyum2 sendiri. 🥰🥰🥰
Katherina Ajawaila
udh thour Satya biar sekalian ngelamar
Katherina Ajawaila
lucu juga Satya, bisa ngebanyol
Katherina Ajawaila
thour semoga Satya langsung ngelamar Ritha y
Katherina Ajawaila
Satya lucu juga untung badan gede, tapi hati hello kitty, 😁😁😁
Katherina Ajawaila
bagus banget thour,
Katherina Ajawaila
keren Thour, biar Satya ngk kaki🤭🤭🤭
Katherina Ajawaila
maka nya thour biar Satya nembak Ritha aja skng
Katherina Ajawaila
thour ceritanya keren tau, 😁🥰🥰🥰🥰
Katherina Ajawaila
thour ceritanya keren tau, 😁🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!