Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paradoks Penyulam Aksara
Malam semakin larut, namun gemuruh di kepala Glen tak kunjung reda. Langkah kakinya bergema lambat di atas lantai marmer yang dingin, melintasi lorong rumahnya yang besar dan mewah. Rumah ini adalah saksi bisu dari sisa-sisa kejayaan masa lalu, pilar-pilar tinggi yang kokoh, lampu gantung kristal yang temaram, dan deretan lukisan mahal yang kini terasa asing. Semuanya tampak megah dari luar, namun terasa begitu kosong dan mati di dalam. Tidak ada kehangatan keluarga, tidak ada tawa, hanya ada kesunyian yang mencekam yang selalu sukses menguliti isi kepalanya setiap kali ia melangkah masuk.
Glen menghentikan langkahnya di ambang pintu sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka. Di dalam sana, di bawah temaramnya cahaya lampu tidur, seorang pria paruh baya dengan rambut yang memutih seluruhnya sedang duduk diam di atas ranjang. Tatapan mata pria itu kosong, menatap lurus ke arah dinding tanpa binar kesadaran. Di sebelahnya, seorang wanita tua dengan guratan-guratan keriput yang penuh ketulusan sedang dengan sabar menyuapkan sesendok bubur hangat.
Bik Sisi. Beliau adalah pembantu setia yang telah menemani Glen sejak kecil. Bik Sisi ada di sana saat keluarga ini masih baik-baik saja, saat tawa hangat masih memenuhi setiap sudut rumah besar ini, dan beliau pula satu-satunya orang yang memilih untuk tetap bertahan ketika semuanya runtuh tak karuan seperti sekarang.
"Bagaimana keadaan Papa, Bik?" tanya Glen pelan, suaranya terdengar begitu lelah saat ia melangkah masuk dan duduk di kursi kayu dekat ranjang.
Bik Sisi menoleh, menyunggingkan senyum hangat yang selalu berhasil memberikan sedikit ketenangan di dada Glen. "Sudah agak tenang, Den Glen. Tadi sore sempat gelisah waktu hujan deras dan petir, tapi setelah ditenangkan, beliau mau makan lagi meskipun sedikit."
Glen menatap wajah ayahnya yang tampak jauh lebih tua dari usia aslinya. Pria yang dulunya berwibawa dan menjadi panutannya itu kini tak lebih dari seonggok raga yang jiwanya telah direnggut oleh pengkhianatan bisnis dua belas tahun lalu. Rasa perih yang teramat sangat kembali menghunjam dada Glen, mengobarkan kembali sisa-sisa api dendam yang sempat goyah setelah pertemuannya dengan Melanie tadi siang.
"Den Glen sendiri sudah makan?" tanya Bik Sisi lembut, sembari merapikan mangkuk bubur yang telah kosong. "Bik Sisi sudah siapkan sup di meja makan luar. Wajah Den Glen pucat sekali, jaketnya juga basah begini. Jangan sampai sakit, Den. Kalau Aden sakit, siapa yang mau jaga Bapak?"
"Glen tidak apa-apa, Bik. Nanti Glen makan. Terima kasih ya, Bik, sudah selalu setia menjaga Papa," jawab Glen, matanya menatap Bik Sisi dengan rasa hormat dan syukur yang mendalam.
Bik Sisi menghela napas pendek, menepuk bahu tegap Glen dengan kasih sayang seorang ibu. "Sudah jadi tugas Bik Sisi, Den. Bik Sisi hanya ingin melihat Den Glen kembali tersenyum tulus seperti dulu. Jangan terlalu sering mengurung diri dengan buku-buku tebal itu, Den. Hidup ini nyata, bukan sekadar cerita fiksi."
Setelah Bik Sisi pamit keluar untuk merapikan dapur, Glen kembali tenggelam dalam kesunyian kamar ayahnya. Ia mengeluarkan buku catatan kecil bersampul kulit miliknya dari dalam tas. Jemarinya memegang pena, bersiap untuk menuliskan kelanjutan bab tragedi balas dendam yang selama ini ia susun dengan rapi di dalam kepalanya. Sesuai rencana asli yang ia tulis, tokoh Danuel harus membenci Aira sepenuhnya tanpa menyisakan ruang sedikit pun untuk pengampunan. Karakter Melanie harus dihancurkan secara emosional sampai mawar merah itu layu tak bersisa.
Namun, ketika ujung pena itu menyentuh permukaan kertas, jemari Glen mendadak kaku.
Sebuah ketakutan yang teramat sangat, yang jauh lebih mengerikan daripada ketakutan akan kegagalan rencana balas dendamnya, tiba-tiba menyergap seluruh kesadaran Glen. Ia takut. Ia sangat takut bahwa retakan di balik topeng marmernya tadi siang bukan sekadar reaksi spontan karena emosi yang meluap. Glen takut jika rasa benci yang selama belasan tahun ini ia pelihara dengan darah dan air mata, perlahan-lahan mulai bergeser dan bermutasi menjadi sesuatu yang paling ia hindari di dunia ini.
Cinta.
"Tidak... tidak boleh," bisik Glen dengan suara bergetar, meremas pena di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta pada anak dari pria yang telah membuat ayahnya kehilangan kewarasan? Bagaimana mungkin ia membiarkan hatinya luluh oleh sepasang mata suci Melanie yang tadi siang menatapnya dengan penuh rasa simpati? Itu adalah sebuah paradoks yang menjijikkan bagi Glen. Jika ia membiarkan perasaan itu tumbuh, maka ia sama saja dengan mengkhianati setiap air mata dan penderitaan yang dialami ayahnya selama dua belas tahun ini.
Glen menatap lembaran kertas putih di hadapannya yang masih kosong. Pikirannya menolak untuk diajak bekerja sama. Setiap kali ia mencoba menuliskan kata 'benci' untuk Melanie, bayangan kehangatan tangan gadis itu saat mencengkeram jaket denimnya justru kembali menjalar di kulitnya. Naskah dongeng yang ia klaim berada di bawah kendalinya, kini justru mulai berbalik mengendalikan dirinya sendiri.
"Aku membencinya. Aku harus membencinya sampai akhir," gumam Glen berulang kali pada keheningan ruangan, seolah kalimat itu adalah doa mustajab yang bisa melindunginya dari kehancuran batin.
Namun, di bawah tatapan kosong ayahnya dan di dalam rumah mewah yang sepi itu, Glen tahu bahwa ia sedang membohongi dirinya sendiri. Ketakutan terbesar dalam hidup sang pangeran kegelapan kini bukan lagi tentang bagaimana cara meruntuhkan istana sang putri, melainkan tentang bagaimana cara menghentikan hatinya sendiri yang mulai menyerah pada pesona sang mawar.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...