"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29.Awal hubungan ibu dan anak.
Mobil pribadi melaju mulus membelah jalanan kota yang perlahan mulai sepi, menjauh dari pusat keramaian menuju kawasan pinggiran kota yang lebih tenang dan sejuk. Pemandangan gedung-gedung tinggi dan perumahan elit perlahan berganti menjadi hamparan pepohonan hijau serta jalan berkelok yang dikelilingi udara segar. Sepanjang perjalanan, Ivy diam saja, menatap keluar jendela dengan perasaan campur aduk. Rasa lega karena akhirnya bebas dari tekanan rumah itu bercampur dengan sedikit rasa bersalah—meskipun ayahnya sering bersikap tidak adil, namun tetap saja ia adalah ayah kandungnya sendiri.
Perlahan Ivy menoleh ke arah ibunya, matanya menatap lembut namun masih menyimpan keraguan. “Mama… apa benar tidak apa-apa meninggalkan Ayah sendirian di sana bersama Oliv?” tanyanya pelan, suaranya terdengar ragu.
Nyonya Lusi tersenyum tipis, lalu mengusap lembut rambut putrinya yang terurai indah. “Sayangku, seharusnya sudah sejak lama Mama berani melangkah membawamu pergi dari tempat itu. Bertahun-tahun Mama diam saja, berharap hati ayahmu akan luluh dan dia akhirnya bisa melihatmu sebagaimana mestinya—sebagai anak kandungnya yang berharga. Tapi ternyata kesabaran Mama saja tidak cukup untuk mengubah pandangannya yang sudah tertutup rapat oleh prasangka,” ucapnya lembut namun tegas. Tak lama kemudian senyumnya melebar sedikit, berusaha mencairkan suasana yang masih berat. “Dan jangan khawatir soal kebutuhan kita berdua ya. Mamamu ini juga memiliki warisan dari keluarga kakekmu yang nilainya tidak kalah besar dari harta keluarga Dermawan. Dengan uang itu, Mama masih sangat sanggup menyekolahkanmu, membawamu berobat ke mana saja, dan memenuhi segala kebutuhanmu tanpa harus bergantung pada siapa pun lagi.”
Mata Ivy terbelalak sedikit tak menyangka, namun kemudian ia kembali bertanya dengan nada pelan, “Lalu… setelah kita pergi hari ini, apakah kita akan kembali lagi ke sana suatu saat nanti?”
Nyonya Lusi menggeleng perlahan, tatapannya berubah menjadi serius namun penuh kasih sayang. “Tidak, Ivy. Mama sudah tidak sanggup lagi menghadapi sikap ayahmu yang tidak mau berubah, apalagi setelah mengetahui kondisi kesehatanmu yang berharga ini. Mulai hari ini, Mama akan melindungimu sekuat tenaga yang Mama miliki, tidak peduli apa pun risikonya. Bahkan jika kamu meminta untuk membatalkan pertunangan dengan Rama, Mama akan mendukungmu sepenuhnya—kamu berhak menentukan jalan hidupmu sendiri.”
Mendengar itu, Ivy segera menggeleng cepat dengan wajah bersungguh-sungguh. “Tidak, Ma! Aku tidak ingin membatalkannya. Justru aku… aku benar-benar ingin menerima pertunangan itu dengan Rama. Aku tidak mengira hal itu akan terjadi, tapi bagiku ini adalah keajaiban yang datang tepat waktu,” ucapnya tulus, matanya berbinar penuh harap.
Awalnya Nyonya Lusi tertegun sejenak, matanya menatap putrinya lekat-lekat seolah ingin memastikan kebenaran perkataan itu. Namun melihat ketulusan di wajah Ivy, perlahan senyum hangat kembali mengembang di bibirnya. “Jika itu keinginanmu, dan jika itu benar-benar keajaiban yang seperti kamu katakan, maka Mama percaya padamu sepenuhnya. Apa pun yang kamu pilih, Mama akan selalu ada di sisimu,” ucapnya lembut.
Mendengar dukungan penuh dari ibunya, hati Ivy terasa begitu hangat hingga matanya berkaca-kaca. Ia segera menyandarkan kepalanya di dada ibunya, membiarkan rasa aman dan kasih sayang yang selama ini ia rindukan menyelimuti dirinya. Nyonya Lusi pun memeluknya dengan lembut dan erat, seolah tak ingin melepaskan putrinya lagi. “Ingat ya sayang, apa pun yang kamu lakukan, Mama akan selalu mendukungmu—walaupun itu berarti harus berakhir hubungan dengan ayahmu sekalipun,” bisiknya pelan di telinga Ivy.
Ivy terharu luar biasa. Selama ini ia mengenal ibunya sebagai wanita yang tenang, tertutup, dan kadang terlihat dingin karena harus menahan diri demi menjaga keharmonisan rumah tangga. Namun hari ini, ia melihat sisi lain dari ibunya—sisi yang berani, tegas, dan penuh kasih sayang yang tak terbatas hanya untuk dirinya.
Tak berapa lama kemudian, mobil berbelok masuk ke sebuah jalan setapak yang tertata rapi, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah rumah kayu bergaya klasik yang luas namun sederhana. Rumah itu adalah peninggalan kakeknya, keluarga Martin, yang sudah lama kosong namun tetap terawat dengan baik. Cat temboknya berwarna krem yang mulai memudar, jendela-jendelanya berbingkai kayu cokelat tua, dan halamannya dipenuhi pepohonan rindang yang memberikan kesan damai.
“Ini rumah kita, Nak. Mulai hari ini, kita akan memulai hidup baru di sini, hidup yang lebih tenang, hangat, dan penuh kebahagiaan hanya untuk kita berdua sebagai ibu dan anak seutuhnya,” ucap Nyonya Lusi lembut sambil menggandeng tangan Ivy masuk ke dalam rumah yang menyimpan banyak kenangan indah masa kecilnya.
Sementara itu, di rumah megah keluarga Dermawan yang kini terasa semakin sepi dan dingin, suasana di kamar Oliv justru sedang sangat kacau. Gadis itu mengamuk sendirian, melemparkan bantal, buku, dan hiasan meja ke lantai dengan wajah memerah padam karena amarah yang meluap-luap.
“Dasar Ivy! Berani-beraninya kau pergi begitu saja setelah membuat diriku buruk didepan ayah! Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang dan bahagia di luar sana setelah apa yang kau lakukan padaku!” geramnya dengan suara tinggi, napasnya memburu tak terkendali.
Ia duduk di tepi tempat tidur, matanya menatap tajam ke arah layar ponsel yang dipegangnya erat. Perlahan senyum licik terukir di bibirnya saat sebuah ide jahat muncul di kepalanya. Ia segera membuka akun media sosial grup sekolah mereka, lalu mulai mengetik sebuah tulisan dengan cepat dan penuh kemarahan.
“Informasi untuk teman-teman semua: Siswi Ivy Dermawan ternyata sudah bertunangan diam-diam dengan seorang pengusaha kaya yang usianya terpaut hampir sepuluh tahun lebih tua darinya. Sungguh luar biasa, bukan? Siapa sangka dia rela menyerahkan masa mudanya demi harta semata.”
Setelah selesai menulis, Oliv menekan tombol kirim dengan senyum puas yang mengerikan. Ia membayangkan betapa hebohnya teman-teman sekolah saat membaca tulisan itu, betapa banyaknya bisikan dan pandangan sinis yang akan ditujukan pada Ivy. “Tunggu saja, Ivy. Saat acara kelulusan nanti, seluruh sekolah akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Aku akan memastikan namamu hancur sepenuhnya di hadapan semua orang,” bisiknya pelan dengan tatapan penuh dendam yang tak kunjung padam.
Awal hidup Ivy dan nyonya Lusi menjadi hangat dan dekat, walaupun berkali-kali tuan Tio menghubungi istrinya.
Nyonya Lusi bersikeras tetap tidak mau pulang kerumah mereka, Ivy pun tersenyum mengetahuinya dia merasa akhirnya dia bisa merasakan kasih sayang yang tidak terbagi oleh Oliv.
Walaupun terasa egois, tapi Ivy sadar dia membutuhkan keperdulian orang tuanya.
Hari-hari berlalu dan pagi ini Ivy bersiap untuk menghadiri sekolah terakhirnya, setelah dinyatakan kalau dirinya adalah lulusan terbaik di sekolah nya.
kalo berkenan mampir juga thor🤭😉