NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Yakuza

Tawanan Sang Yakuza

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.

Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.

Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.

Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.

Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.

Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.

Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.

Aiko dihadapkan pada pilihan.

bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 15

Pagi hari, Ren masih berada di dalam ruang kerjanya, di balik meja besar itu ia masih terduduk mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, Matanya yang memerah menatap tajam ke arah pintu yang mendadak diketuk dari luar.

Tok. Tok. Tok.

"Masuk," perintah Ren.

Pintu terbuka, menampilkan sosok Daichi yang melangkah masuk dengan langkah cepat. Di bawah matanya terdapat lingkaran hitam samar, dan dengan setelan yang sedikit kusut. Di lengannya, Daichi mendekap sebuah map tebal yang tampak kusam.

"Bos," Daichi membungkuk hormat sebelum melangkah mendekati meja kerja Ren. Ia meletakkan map itu di atas permukaan meja. "Saya baru saja tiba dari Kyoto Barat setengah jam yang lalu. Ini adalah seluruh informasi yang berhasil saya kumpulkan secara rahasia mengenai masa kecil Nona Aiko dan latar belakang mendiang ibunya."

Ren tidak langsung menyentuh map tersebut. Ia bersandar pada kursi kerjanya, menyatukan kesepuluh jemarinya di depan dada sambil menatap Daichi dengan pandangan menginterogasi. "Katakan padaku poin pentingnya sebelum aku membaca kertas-kertas itu, Daichi. Dari ekspresi wajahmu, kau seperti baru saja melihat hantu."

Daichi menelan ludah dengan susah payah, ekspresinya berubah menjadi sangat serius. "Penyelidikan ini sangat sulit, Bos. Hampir tidak masuk akal. Ketika saya pertama kali tiba di distrik tempat masa kecil Nona Aiko, saya menemukan bahwa seluruh catatan formal mengenai ibunya... telah lenyap. Tidak ada catatan sipil, tidak ada silsilah keluarga, bahkan tidak ada catatan medis di rumah sakit daerah setempat."

Ren mengerutkan keningnya, matanya berkilat berbahaya. "Apa maksudmu lenyap? Hiroshi Kurogawa mungkin kuat, tapi menghapus data seseorang dari arsip pemerintahan Kyoto bukanlah perkara mudah."

"Itulah masalahnya, Bos. Hiroshi Kurogawa tidak hanya menggunakan kekuasaannya, tapi dia membayar nominal yang sangat gila belasan tahun lalu," Daichi menjelaskan dengan nada yang sedikit bergetar. "Dia menyuap pihak berwenang, membeli seluruh tanah di sekitar rumah lama mereka, dan mengusir para pelayan tua yang pernah bekerja di sana. Dia sengaja membakar habis semua dokumen yang berkaitan dengan istrinya sendiri.

Ren terdiam, mengetukkan jemari telunjuknya di atas meja dengan gerakan lambat. "Lalu, bagaimana kau bisa mendapatkan berkas di dalam map itu?" tanya Ren dingin.

Daichi menunjuk map hitam di atas meja. "Saya berhasil menemukan seorang mantan biksu tua yang dulu mengelola sebuah kuil kecil terpencil di pinggiran Kyoto Barat. Dari dialah saya tahu... bahwa sebelum meninggal, ibu Nona Aiko tidak dirawat di rumah sakit umum karena sakit medis. Dia diisolasi oleh Hiroshi di dalam kuil tua tersebut selama bertahun-tahun karena memiliki kemampuan yang 'tidak biasa'. Orang-orang tua di sekitar kuil dulu menjulukinya sebagai wanita terkutuk yang bisa berbicara dengan kematian."

Mendengar kalimat terakhir Daichi, ketukan jari Ren mendadak terhenti. "Wanita yang bisa berbicara dengan kematian?"

Kalimat itu mendadak menyatu dengan ingatan Ren tentang bagaimana Aiko mengetahui detail lebam mayat di dermaga, dan bagaimana Aiko dengan berani menatapnya di koridor barat kemarin sore.

"Tinggalkan berkasnya di sini, Daichi. Istirahatlah," perintah Ren rendah.

"Baik, Bos," Daichi membungkuk hormat sekali lagi, lalu melangkah mundur dan keluar dari ruangan.

Sementara itu, di lantai dua bangunan utama kediaman Tachibana-gumi, Aiko perlahan membuka matanya saat cahaya pagi menerobos masuk melalui celah jendela kamarnya. Ia bangkit, duduk bersimpuh dengan napas yang terasa lebih plong. Obat dan istirahat yang dipaksakan semalam setidaknya telah mengembalikan sebagian besar energi fisiknya yang sempat drop.

Namun, rasa frustrasi langsung menghantam dadanya ketika ia mendengar bunyi gemerincing kunci besi dari arah luar pintu kamarnya. Pintu geser terbuka hanya beberapa senti, menampilkan nampan berisi sarapan pagi yang diletakkan oleh seorang pelayan wanita muda di bawah pengawasan ketat dua pengawal berjas hitam. Begitu nampan masuk, pintu itu kembali digeser menutup dan dikunci dari luar.

Aiko menatap pintu kayu itu dengan pandangan hampa. "Apa aku benar-benar menjadi tawanan di dalam rumah ini?" gumamnya lirih.

Hawa dingin di dalam kamar utama ini terasa semakin menekan. Bercampur dengan Aura gelap milik Ren yang pekat akibat kontak sebelumnya. Aiko memandangi setiap sudut kamar. "Tampaknya makhluk-makhluk itu masih belum berani mendekatiku."

Aiko menghela napas panjang, meraih benda peninggalan ibunya yang diletakkan di atas meja kecil. Ia memejamkan matanya, meremas permukaan tusuk konde itu, mencoba bermeditasi untuk menenangkan gejolak batinnya.

Namun, ketika ruangan itu menjadi sangat hening, mata batin Aiko mendadak menangkap perubahan suasana. Di sudut-sudut kamar yang tidak tersentuh cahaya pagi, bayangan hitam yang samar mulai bergerak di sepanjang dinding kayu.

“Perjanjian...”

Sebuah suara bisikan yang tumpang-tindih, terdengar serak, mendadak merayap masuk ke dalam indra pendengaran spiritual Aiko.

“Darah yang belum dibayar... keturunan yang terikat...”

Aiko membuka matanya dengan sentakan napas yang tertahan. Jantungnya berdegup kencang. Bisikan itu bukan suara ibunya yang lembut seperti di paviliun barat kemarin, suara itu dari entitas gaib rumah ini yang sedang menuntut sesuatu darinya. Aiko mencengkeram tusuk kondenya lebih erat.

Brak!

Suara hantaman pintu geser yang dibuka dengan sangat kasar memutus rantai bisikan gaib di dalam kamar. Bayangan hitam di sudut dinding seketika melesat mundur, menghilang ke dalam kegelapan atap kamar dalam sekejap.

Ren Tachibana berdiri di ambang pintu.

Di tangan kanannya, ia menggenggam selembar foto usang berwarna kecokelatan. Tatapan matanya luar biasa tajam, mengunci sosok Aiko yang masih duduk bersimpuh dengan tusuk konde di genggamannya.

Ren melangkah masuk, membiarkan pintu kamar tetap terbuka di belakangnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ren melemparkan foto usang itu tepat di hadapan lutut Aiko.

Aiko menunduk, menatap foto tersebut. Jantungnya berdesir tajam ketika melihat gambar sebuah bangunan kuil tua terpencil dengan arsitektur kuno yang dikelilingi oleh hutan bambu lebat di Kyoto Barat.

"Daichi baru saja kembali dari Kyoto Barat, Aiko," ucap Ren, suaranya terdengar sangat rendah.

Aiko mendongak, mencoba mempertahankan ekspresi wajahnya. "Lalu? Apa yang berhasil ia temukan di sana? Apa dia menemukan bukti bahwa aku adalah mata-mata yang akan menusukmu dari belakang?"

Ren merundukkan tubuhnya, bertumpu pada satu lututnya di depan Aiko hingga jarak wajah mereka sangat dekat. Dengan sepasang matanya yang menatap lurus ke dalam mata Aiko.

"Ayahmu, Hiroshi Kurogawa, menggunakan seluruh kekuasaan dan uangnya untuk menghapus setiap lembar sejarah mengenai ibumu dari dunia ini," desis Ren, suaranya bergetar. "Dia membakar catatan medisnya, mengusir semua orang yang mengenalnya, dan mengisolasinya di kuil tua di dalam foto itu sampai dia mati. Orang-orang di sana menyebut ibumu sebagai wanita terkutuk yang bisa berbicara dengan kematian."

Ren mengulurkan tangan kanannya, dengan ujung jari telunjuknya, ia mengangkat dagu Aiko, memaksa gadis itu untuk terus menatapnya.

"Katakan padaku yang sebenarnya, Nona Kurogawa... sebenarnya wanita seperti apa ibumu? Dan kekuatan aneh apa yang mengalir di dalam darahmu, sampai seorang pemimpin klan besar sekelas Kurogawa harus menyembunyikannya dari dunia?

Aiko tertegun, napasnya tertahan di tenggorokan. Rahasia supranatural yang selama ini ia kunci rapat-rapat di bawah ancaman ayahnya, kini perlahan mulai terbuka oleh pria di hadapannya.

1
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Cerita nya seru dan menegangkan. Kehidupan yang tidak biasa yang harus Aiko jalani. Karakter Aiko sendiri sangat Memukau.
putri
😖 mau ngapain knp gw yang ngeri
putri
mencekam muka nya si ren itu
putri
mau ngapain si Ren
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
jangan sampai ibunya Aiko di bunuh sam Ren ya.
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
istri yang di tahan
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
ada yang hawatir nih ye
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Kalau aku jadi Aiko langsung pingsan pasti
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
bagus Ren
putri
Ceritanya seru
ada tegang dari dunia yakuza plus horor sekaligus
putri
Si Renn kayanya? apa dia jemput Aiko 😂
putri
knp nih??
putri
SII ren ini sebenernya udah ada rasa sama Aiko blm ya?? tapi kaya ga ada cemburu-cemburunya
putri
Hana beneran tertarik sama daichi ini 😭 Jagan yahhh hana
putri
gigih bgt si Hana ini 🤣
putri
aku ikut batuk dengernya 😖
putri
🤣🤣🤣 Hana kamu jangan nekat ya
putri
kenapa ini hana?? apa suka Daichi 😂
putri
Si Charming
putri
Daichi ini ga kalah serem dari Ren
bedanya karakternya lebih manusiawi 🤣🤣 ga kaya ren kaya 😈
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!