NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.

Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.

Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?

Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?

Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.

Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)

Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Kami tidak Memiliki Ayah

"Kami tidak memiliki Ayah," bantah Kenzo.

"Hah? Maksudnya?"

"Ayah kami sudah mati!"

Erlangga tercengang dengan mulut terbuka. Bocah di depannya itu nyaris kehilangan kata-kata. Umurnya masih terlalu dini, tapi cara bicaranya sudah seperti orang dewasa, pasti dia mewarisi gen dari ayahnya, meskipun ia tidak tahu siapa ayahnya.

"Seriusan cil, ayah kalian sudah mati?" tanya Sofyan.

"Belum Om," sahut Kenzie.

"Loh! Bukannya tadi...?"

"Abang aja yang suka bilang kalau papi udah mati. Pada kenyataannya kan kita nggak pernah tahu papi ada di mana!"

Meskipun ada rasa kecewa di hatinya, Kenzie tak menaruh  dendam pada ayahnya, sekalipun tak pernah bertemu dengan ayahnya secara langsung.

"Apaan sih Zie!"

"Kamu yang apaan bang!"

Dua bocah itu perang dingin, seolah-olah mereka memiliki pemikiran yang berbeda.

"Kalian ini adik kakak atau...?"

"Kembar! Kami kembar Om, dia ini kakak saya, namanya Kenzo."

Sofyan manggut-manggut. "Oh..., jadi kalian itu kembar ya? Pantesan mirip," gumamnya. Pria itu mengerutkan keningnya dengan menoleh pada atasannya yang masih berdiri mematung di situ. "Tapi kalau dilihat-lihat kalian kok mirip ya?"

Sontak Erlangga melayangkan tatapan tajam padanya. "Apa maksudmu mirip?"

"M—maaf Tuan. Kalau dilihat-lihat kalian memang memiliki kemiripan, seperti keluarga. Ya..., sangat cocok menjadi keluarga, bagaikan ayah dengan anak."

Plak!

Erlangga langsung menempeleng Sofyan dengan gemasnya. "Jangan ngawur kamu! Mau buat masalah baru kamu?!"

"Ya enggak Tuan, tapi memang benar kalau mereka berdua memiliki kemiripan dengan anda. Atau jangan-jangan ~~

Erlangga menajamkan matanya tanpa bersuara. Seketika nyali Sofyan menciut dan tak melanjutkan celetukannya.

"Om kenal sama mami kan? Di mana mami sekarang? Apa mami masih kerja?"

Pertanyaan Kenzie seketika membuyarkan perdebatan dua pria dewasa yang saling bertatap dingin tanpa suara.

"I—iya cil! Tunggu sebentar ya? Om panggilkan mami kalian."

Sofyan berlalu menuju ruang kerja Ayuna. Sedangkan Erlangga masih mematung dengan tatapan tertuju pada bocah kembar yang berdiri tak jauh di depannya.

"Om ngapain ngelihatin kita segitunya? Om nggak suka kita di sini?" tanya Kenzie.

Refleks Erlangga mengatur posisinya dan langsung mengedarkan pandangannya ke arah lain. "Siapa juga yang ngelihatin kalian? Jangan ngasal!" Dengan angkuhnya pria itu berseloroh, seolah-olah tak peduli dengan kehadirannya.

"Kita cuma sebentar kok, setelah bertemu dengan mami kita bakalan pulang," celetuk Kenzo.

Merasa memiliki kesempatan untuk mencari alamat Ayuna, Erlangga kembali mengedarkan pandangannya ke arah bocah tersebut.

"Rumah kalian di mana? Jauh nggak dari sini?"

"Kenapa Om kepo ya," seloroh Kenzie.

Erlangga berdecak. "Ck, siapa yang kepo! Saya cuma nanya aja memangnya salah?"

"Nggak usah ngegas juga kali," sungut Kenzo.

Erlangga menarik nafasnya. Baru kali ini ia kalah debat dengan seseorang, dan itu bocah kecil. Haruskah ia bersikap keras terhadap mereka? Lalu bagaimana tanggapan Ayuna jika sampai dia tahu anak-anaknya diperlakukan kurang baik? Mungkinkah dia bakalan tetap bertahan bekerja bersamanya?

Tidak lama dari itu Ayuna datang dengan derap langkahnya cepat. Dia tak menyangka anak-anaknya datang untuk mencarinya. Gara-gara pekerjaan yang menumpuk ia sampai lupa menjemput anak-anaknya di sekolah.

"Ya ampun kalian, kok kalian ada di sini? Kalian tahu dari mana kalau mami bekerja di sini?"

Ayuna berjongkok mensejajari kedua anaknya tanpa menghiraukan keberadaan Erlangga di belakangnya.

"Bukannya mami kemarin bilang kalau kantor tempat kerja mami ada di daerah ini," cicit Kenzie.

Ayuna mengacak rambut Kenzie. "Iya, tapi bukan berarti kalian bebas nyariin mami ke sini. Mami di sini lagi kerja, kalau sampai ditegur sama atasan gimana? Sebaiknya kalian tunggu mami di sekolah aja ya?"

Kenzie mendengus dan memprotesnya. "Mami pikir kami nggak jenuh nunggu kedatangan mami jemput kami di sekolah? Kami dari tadi duduk di gerbang nungguin mami, tapi apa? Mami nggak kunjung datang," cerocos Kenzie.

Ayuna merasa bersalah, tapi apa  yang bisa diperbuatnya? Soraya mendesaknya untuk segera menyelesaikan desain, wanita itu juga tidak mengizinkannya keluar sebelum hasil desainnya terselesaikan.

"Maafkan mami sayang, mami terlambat jemput, mami masih banyak pekerjaan dan harus segera diselesaikan," cicit Ayuna.

"Yaudah nggak papa," sahut Kenzie. "Tapi mam..., gimana kami bisa pulang? Kami bahkan belum paham dengan lingkungan sekitar sini. Tadi pagi kita datang ke sekolah dengan menggunakan angkutan umum, apakah pulangnya juga menggunakan angkutan umum?"

Ayuna terdiam sejenak. Dia memikirkan hal apa yang harus dilakukannya. Sekiranya apakah boleh ia meminta izin untuk mengantarkan pulang si kembar?

"Kalian tunggu sebentar ya?"

"Memangnya mami mau ke mana?" tanya Kenzie.

"Em..., minta izin dulu."

Ayuna langsung beranjak dan menemui bosnya yang masih berdiri angkuh di belakangnya. Dengan langkah ragu-ragu dia memberanikan diri untuk mendekatinya.

"Em... Pak, bolehkah saya meminta izin untuk mengantarkan anak-anak sebentar? Saya janji tidak akan lama. Setelah memastikan mereka baik-baik saja saya akan kembali ke sini."

Dengan tenang Erlangga menjawab. "Memangnya kamu nggak punya pengasuh?"

"Pengasuh?" Ayuna tersenyum getir. "Kehidupan saya sangat sederhana, bagaimana saya mampu buat bayar pengasuh," bantah Ayuna.

"Terus suami kamu di mana? Bukankah seorang suami memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan istrinya? Termasuk ikut andil dalam mengurus anak?"

Ayuna menyikapinya dengan tenang meskipun itu membuatnya tersinggung.

"Saya belum menikah pak, saya tidak memiliki suami."

"Hah? Tidak memiliki suami? Terus mereka...?"

"Mereka anak saya. Mereka tidak butuh ayah, mereka butuh hidup dengan nyaman," jawab Ayuna. "Jika tidak ada hal lain tolong izinkan saya buat mengantar mereka pulang. Saya janji akan kembali setelah mengantarkan mereka."

Erlangga kembali memasang wajah dingin. Meskipun peraturan perusahaan cukup ketat tapi ia juga tak ingin dianggap manusia yang tak tahu diri, apalagi berurusan dengan seorang wanita dan juga bocah kecil.

"Baik, saya izinkan kamu buat mengantar mereka."

Ayuna mengangguk. "Terimakasih banyak pak."

Ayuna meraih kedua tangan si kembar dan mengajaknya pergi. "Ayo sayang, mami antar pulang."

Saat melangkah kembali Erlangga memanggilnya. "Nona Ayuna, biarkan saya yang antar."

Deg,,

"Em..., tidak perlu pak! Saya bisa naik kendaraan umum."

"Bukankah lebih cepat kalau naik mobil saya?"

"Iya benar, tapi saya tidak ingin menjadi gunjingan banyak orang. Mereka pasti menduga yang tidak-tidak, selebihnya  akan menyebarkan gosip yang membuat Bapak terganggu, apalagi anda ini pimpinan di sini."

Erlangga diam sejenak, dan akhirnya meminta seseorang untuk membantunya.

"Baiklah, kalau kamu tidak mau saya antar, biar Sofyan yang mengantarmu."

Bola mata Ayuna membulat. "A—apa? Tapi saya bisa pulang sendiri pak! Saya~~

"Saya tidak ingin mendengar alasan apapun." Erlangga langsung merogoh ponsel di kantong celananya dan menghubungi asisten pribadinya. "Tolong antarkan nona Ayuna pulang. Belikan makanan buat si kembar juga."

Ayuna mulai dilanda kegelisahan. Dengan Erlangga yang memiliki kepedulian terhadap anaknya tentu akan berdampak buruk di kehidupannya. Dalam  hati dia membatin, 'ini tidak benar. Jangan sampai dia mengetahuinya.'

1
Rohmi Yatun
sukaaa cerita nya. sat set.. tdk bertele2 👍.. lanjut thor
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Rohmi Yatun
masih teka teki ni.. 🤔sebenarnya apa yg terjadi di masa lalu
Rohmi Yatun
mampir Thor.. sepertinya cerita nya menarik ni.. 👍
Ika Dw: terimakasih kak... 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!