Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 selsai atau bab baru?
"Kita sudahi hubungan ini ya, Lex," ujar Putri malam itu. Kalimatnya pendek, namun sanggup meruntuhkan dunia Alex dalam sekejap.
"Kenapa? Masalahnya apa, Put?" tanya Alex, suaranya bergetar menahan panik. Ia buru-buru memeriksa ruang obrolan mereka, berharap ini hanyalah candaan.
Namun, balasan terakhir dari Putri justru menjadi awal dari siksaan panjangnya, "Kamu cari tahu kesalahanmu sendiri ya."
Setelah itu, ruang obrolan mereka sepi. Putri menghilang, meninggalkan Alex yang terpaku menatap layar HP-nya yang perlahan meredup. Sejak malam laknat itu, hidup Alex berubah menjadi labirin yang tersiksa. Jawaban terakhir Putri terus menggema di kepalanya bagai kaset rusak yang diputar berulang-ulang.
Malam pun berubah menjadi pagi, meninggalkan kenangan pahit yang selalu membayangi, dan Alex mencoba mengalihkan pikiran dengan melakukan rutinitas olahraga paginya, berlari kecil menyusuri jalanan kompleks. Namun, suasana pagi ini terasa sangat berbeda. Dingin dan hampa. Biasanya, setiap kali ia baru mengikat tali sepatu, ponsel di kantongnya sudah bergetar riuh, menampilkan notifikasi ucapan selamat pagi bernada ceria dari Putri. Pagi ini, benda pipih itu mati kutu. Tidak ada getar, tidak ada suara notifikasi dari orang yang paling ia sayang.
Alex memperlambat langkah lari kecilnya, lalu berhenti di tepi jalan sambil terengah-engah.
Perkataan Putri semalam itu... beneran? tanyanya dalam hati, menatap kosong ke arah jalanan di depannya.Kepalanya mendadak pening. Alex benar-benar bingung kenapa Putri tega memutus hubungan sepihak dengan alasan seperti itu. Sepanjang ingatan Alex, ia selalu berusaha menjadi pacar yang baik. Ia merasa tidak berbuat salah apa-apa. Sembari memegangi lututnya yang lemas, Alex berpikir keras, menyisir kembali setiap obrolan dan pertemuan mereka belakangan ini. Kira-kira, kesalahan fatal apa yang sudah ia perbuat sampai membuat Putri tega meninggalkannya begitu saja malam itu?
Setelah selesai berolahraga, Alex segera membersihkan diri. Di bawah guyuran air pancuran, ia masih terus merapal doa yang sama di dalam hati; berharap bahwa untaian kalimat ketus dari Putri semalam hanyalah sebuah candaan atau emosi sesaat.
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa siang nanti, semuanya akan kembali normal.
Sehabis mandi, Alex bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Ia memasukkan beberapa buku dan laptop ke dalam tas ranselnya dengan gerakan yang terasa lambat dan berat. Sebelum melangkah keluar kamar, ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Seperti biasa, ia ingin mengabari Putri bahwa ia akan berangkat kuliah pagi ini.
Namun, senyum tipis yang sempat terbit di wajah Alex langsung luntur seketika.
Saat ia menekan tombol kirim, pesan sapaannya hanya menyisakan tanda centang satu berwarna abu-abu. Foto profil Putri yang biasanya menampilkan senyum manis perempuan itu mendadak hilang, berubah menjadi ikon kosong. Kontak Alex telah diblokir total.
Darah Alex mendadak berdesir hebat. Rasa sesak, bingung, dan amarah yang bercampur aduk membuat pandangannya memanas. Tanpa sadar, tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan kiri. Di sana masih melingkar sebuah gelang couple hitam yang dulu mereka beli bersama dengan penuh tawa.
Dengan napas yang memburu frustrasi, Alex menarik gelang itu sekuat tenaga menggunakan seluruh sisa emosinya hingga talinya terputus paksa. Ia melemparkan benda itu kuat-kuat keluar jendela kamar. Saking kasarnya tarikan tersebut, kulit pergelangan tangannya ikut tergores dalam hingga meneteskan darah segar. Namun, rasa perih di kulitnya sama sekali tidak sebanding dengan hancurnya hati Alex saat ini.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, pikiran Alex benar-benar tidak berada di jalanan. Kepalanya dipenuhi bayang-bayang wajah Putri dan pertanyaan tanpa jawaban yang terus berputar bagai kaset rusak. Fokusnya buyar total. Akibatnya, saat melewati sebuah pertigaan, Alex hampir saja menabrak seorang emak-emak yang sedang menyeberang jalan. Ia terpaksa menginjak rem motornya secara mendadak hingga ban belakangnya berdecit keras ke aspal.
“Nak! Kalau naik motor yang fokus dong! Bahaya!” teriak emak-emak itu dengan wajah masis sambil marah-marah di tepi jalan.
Alex hanya bisa mengangguk samar tanpa tenaga, lalu kembali menarik gas motornya dalam-dalam.
“Ah, sialan! Gara-gara wanita brengsek itu, gue sampai dimarahin emak-emak di jalan!” umpat Alex dalam hati, meluapkan rasa frustrasinya yang kian menumpuk dan tak tahu harus dibuang ke mana.
Sesampainya di kampus, atmosfer ramai di area parkiran sama sekali tidak memperbaiki suasana hatinya. Dari kejauhan, langkah Alex yang baru saja melepas helm langsung disambut oleh suara lantang yang sangat ia kenal.
“Woi, Alex!” teriak Umam dari kejauhan, melambaikan tangan ke arah tempat parkir motor.
Alex berjalan menghampiri kedua sahabat dekatnya tersebut dengan langkah gontai. Ia memasang raut muka yang sangat berbeda dari biasanya—redup, lesu, dan kehilangan binar ceria yang selama ini menjadi ciri khasnya.
“Kenapa lo, Lex? Murung banget mukanya,” tegur Marco, menyadari perubahan drastis pada raut wajah sahabatnya itu.
“Iya, tumben banget. Biasanya paling heboh kalau datang. Apa pagi ini belum disemangatin sama ayang?” goda Umam sambil menyenggol pelan bahu Alex, bermaksud mencairkan suasana.
Alex mengembuskan napas berat, menatap Marco dan Umam bergantian sebelum akhirnya menjawab dengan suara rendah yang bergetar, “Gue... putus semalam sama Putri.”
Seketika itu juga, tawa Umam terhenti. Marco pun langsung terbelalak kaget. Kedua sahabatnya itu tertegun di tempat, benar-benar terkejut mendengar kalimat pendek tersebut. Bagaimana mungkin hubungan Alex dan Putri yang selama ini terlihat adem ayem dan baik-baik saja, bisa berakhir tragis hanya dalam waktu satu malam?
Setelah pengakuan mengejutkan di parkiran itu, tidak ada lagi kata-kata yang keluar. Keheningan yang canggung menyelimuti mereka bertiga sepanjang koridor menuju ruang kelas. Langkah kaki Alex, Marco, dan Umam terasa begitu berat. Suasana kali ini sungguh berbeda seratus delapan puluh derajat. Biasanya koridor itu akan dipenuhi gelak tawa dan candaan heboh mereka, namun sekarang, mereka berjalan sambil diam-diaman. Marco dan Umam melirik Alex berkali-kali, tampak kebingungan mencari cara untuk memulai percakapan atau sekadar menghibur sahabatnya itu. Namun, melihat rahang Alex yang mengeras, mereka memilih bungkam.
Sesampainya di kelas, atmosfer suram itu tidak juga hilang. Alex duduk di bangkunya dengan kondisi psikis yang sama sekali tidak stabil. Saraf-sarafnya tegang. Pikiran tentang Putri yang memblokir kontaknya terus berputar seperti kaset rusak, membuat Alex yang biasanya ceria dan ramah berubah menjadi sosok yang sensitif dan gampang tersulut emosi.
“Lex, senyum kali. Tumben banget lo jadi sok cool gini,” tegur Andre, salah satu teman sekelasnya yang tiba-tiba melintas dan berniat menyapa seperti biasa.
Alex tidak merespon apa-apa. Jangankan menoleh, melirik pun tidak. Tatapannya kosong menatap meja, tertahan oleh rasa patah hati yang teramat dalam.
"Put,ini boong an kan?"
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa
dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita