NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 023: Lampu Galeri

Kevin mematikan kompor.

Gerakannya begitu cepat sampai sendok kayu masih berdiri miring di atas wajan. Dia berjalan ke arah Meilin, mengambil ponsel yang disodorkan, lalu membaca email itu tanpa berkedip.

Meilin menahan napas. "Itu asli, kan?"

Kevin membaca bagian pengirim, tanggal, dan lampiran panduan peserta.

"Asli."

Satu kata itu membuat lutut Meilin lemas.

Dia belum sempat duduk ketika Kevin sudah menarik kursi dengan kakinya dan menuntunnya duduk. Tangannya tetap di punggung Meilin, hangat dan mantap.

"Aku masuk," ulang Meilin, kali ini dengan suara yang bergetar.

Kevin menatapnya. Sudut bibirnya naik sedikit, kecil sekali, tapi matanya terang.

"Kamu masuk."

Kalimat itu terdengar berbeda saat keluar dari mulut Kevin. Bukan seperti keberuntungan. Bukan seperti belas kasihan dunia. Seperti hasil yang memang pantas dia terima.

Meilin menutup wajah dengan kedua tangan.

"Jangan nangis dulu," kata Kevin.

"Aku tidak nangis."

"Tanganmu basah."

Meilin menurunkan tangan dan melihat ujung jarinya sendiri. Benar. Air mata sudah turun tanpa izin.

Kevin mengambil tisu. "Makan dulu. Setelah itu baru nangis dengan jadwal yang benar."

Meilin tertawa di sela air matanya.

Jessica lebih heboh.

Video call itu baru tersambung dua detik ketika suara Jessica memenuhi apartemen.

"Mei! Aku sudah bilang! Aku sudah bilang kamu harus submit!"

"Jess, kecilkan suara," Kevin mengingatkan dari dapur.

"Pak pacar galak, hari ini saya izinkan diri saya berisik."

Kevin tidak menjawab. Dia hanya meletakkan semangkuk capcay di depan Meilin, lalu menaruh obat lambung di samping gelas air putih.

Jessica melihat itu dari layar dan mendecak. "Baik. Saya akui pelayanan rumah tangga di sini sangat premium."

Meilin menyeka pipi. "Aku takut nanti pas dipasang di galeri, karyaku kelihatan kecil."

"Karyamu memang tentang ruang kecil," jawab Kevin.

Jessica langsung menunjuk kamera. "Dengar itu. Bahkan pacarmu bisa jadi kurator kalau sedang tidak mengatur lambung orang."

Malam itu, mereka membaca seluruh panduan peserta. Tanggal pembukaan. Ukuran label karya. Jadwal pengiriman karya fisik. Brief untuk sesi artist talk singkat. Nama Meilin tertulis di daftar peserta bersama belasan seniman muda lain dari Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Setiap kali melihat namanya, dada Meilin terasa seperti dipukul dari dalam.

Tiga minggu setelah email itu, galeri di Senopati dipenuhi cahaya putih dan suara langkah pelan.

Meilin berdiri di depan dinding tempat empat karyanya dipasang. Pintu kos-kosan Tangerang yang nyaris miring. Kursi rumah sakit dengan tangan laki-laki menggenggam tangan perempuan. Dua kartu akses apartemen di atas lantai kosong. Seorang perempuan berdiri di depan pintu terbuka, sementara bayangan laki-laki di belakangnya tidak menutup jalan.

Label kecil di bawahnya tertulis rapi.

Meilin Tan

Pintu Kedua, 2024

Mixed media on paper

Di bawah lampu galeri, semua yang dulu terasa sempit tiba-tiba punya nama.

Meilin meremas ujung tas kecilnya.

"Jangan remas terlalu kuat," bisik Kevin di sampingnya. "Tali tasnya tidak salah."

"Aku lebih gugup daripada waktu masuk IGD."

"Waktu itu kamu pingsan. Tidak dihitung."

Meilin menoleh, ingin protes, tapi melihat Kevin berdiri dengan kemeja hitam sederhana dan rambut yang disisir rapi membuat suaranya hilang sebentar. Di antara tamu yang memakai blazer mahal, parfum kuat, dan jam tangan mengilap, Kevin tetap tenang. Tidak memaksa terlihat kaya. Tidak juga terlihat kalah.

Dia seperti pintu yang berdiri diam di belakang Meilin.

Jessica datang sepuluh menit kemudian dengan dress hijau gelap dan anting kecil yang berkilau.

"Mei, kamu cantik sekali." Dia memeluk Meilin hati-hati. "Dan jangan bilang kamu belum makan. Aku tanya pacarmu."

"Sudah," jawab Kevin sebelum Meilin membuka mulut.

"Bagus. Aku suka sistem audit ini."

Seorang kurator perempuan mendekat bersama dua tamu. Namanya Nadya, tertulis di kartu panitia yang tergantung di lehernya. Sejak siang dia membantu pemasangan karya, ramah tapi sibuk.

"Bu Meilin," panggil Nadya, "boleh saya perkenalkan dengan Ibu Raina? Beliau tertarik dengan seri Pintu Kedua."

Meilin sempat lupa cara berdiri.

Kevin menyentuh ringan punggung tangannya. Hanya sebentar. Cukup untuk mengingatkan bahwa dia tidak sendirian.

"Tentu," jawab Meilin.

Ibu Raina, perempuan berusia sekitar empat puluhan dengan batik modern dan suara lembut, menatap karya ketiga paling lama.

"Saya suka bagian kartu akses ini," katanya. "Biasanya orang melukis pintu besar untuk bicara tentang harapan. Kamu justru memilih benda kecil."

Meilin menelan gugup. "Karena kadang perubahan besar datang dalam bentuk yang tidak dramatis, Bu. Kartu akses, semangkuk makanan, kursi di rumah sakit. Hal kecil yang membuat seseorang sadar dia tidak lagi terkunci di tempat lama."

Nadya tersenyum. "Itu kalimat yang seharusnya kamu pakai saat artist talk nanti."

Jessica di belakang mereka langsung mengangkat dua jempol.

Ibu Raina melihat lagi ke dinding. "Seri ini sudah ada pembeli?"

Meilin hampir menoleh ke Kevin, tapi dia menahan diri. Ini karyanya. Ini pintu yang harus dia jawab sendiri.

"Belum, Bu."

"Saya ingin reserve satu karya. Yang kartu akses."

Untuk beberapa detik, suara galeri menjauh.

Meilin mendengar napasnya sendiri. Pendek. Tidak rapi.

"Bisa, Bu," jawabnya, lalu suaranya lebih stabil ketika Nadya membantu membahas prosedur reservasi dengan panitia.

Jessica mencubit pelan lengan Meilin begitu Ibu Raina pergi.

"Mei, kamu dengar? Karya kamu dipesan orang di pembukaan."

"Aku dengar."

"Mukamu kenapa seperti baru lihat hantu?"

"Karena hantu biasanya tidak bawa uang muka."

Jessica tertawa sampai harus menutup mulut.

Kevin tidak ikut tertawa keras. Dia hanya memandang label nama Meilin dengan mata yang lebih lembut dari lampu galeri.

"Selamat," katanya.

Sederhana. Pendek. Tapi Meilin merasa kalimat itu jatuh tepat ke tempat yang selama ini kosong.

Artist talk dimulai pukul delapan malam. Meilin duduk di kursi kecil bersama dua seniman lain. Lampu diarahkan ke depan, membuat telapak tangannya berkeringat.

Saat moderator meminta dia menjelaskan Pintu Kedua, Meilin melihat ke arah penonton. Jessica berdiri di sisi kiri, siap merekam. Kevin berdiri agak belakang, dekat pilar, tangan menyilang di dada. Tidak tersenyum lebar, tapi tatapannya tidak bergerak dari Meilin.

Meilin menarik napas.

"Seri ini lahir dari ruang yang sangat kecil," katanya. "Ada tempat yang secara fisik sempit, tapi bisa jadi awal untuk seseorang memilih hidup yang berbeda. Bagi saya, pintu kedua bukan jalan keluar yang mewah. Kadang dia hanya seseorang yang tidak pergi saat kita paling berantakan."

Dia berhenti sebentar.

Tidak menyebut nama Kevin. Tidak perlu.

Karena matanya sudah menemukannya.

Tepuk tangan datang setelah moderator menutup sesi. Tidak besar seperti konser, tapi cukup untuk membuat bahu Meilin yang tegang perlahan turun.

Malam hampir selesai ketika seorang pria berkacamata tipis mendekati Kevin di dekat meja minuman. Meilin melihatnya dari jauh saat Jessica sedang membantu Nadya mengisi formulir reservasi.

Pria itu menunduk singkat, sopan.

"Pak Kevin Halim?"

Kevin menoleh.

"Saya Hendry Liang. Saya lihat presentasi dashboard Anda bulan lalu lewat teman saya di startup logistik."

Kevin tidak langsung menjawab. Wajahnya kembali menjadi wajah kerja, dingin dan terukur.

Hendry tersenyum kecil, seperti sudah menduga reaksi itu. "Orang seperti Anda tidak akan lama jadi karyawan. Kalau suatu hari Anda serius membuat produk sendiri, saya ingin bicara."

Dia menyerahkan kartu nama.

Meilin melihat Kevin menerima kartu itu.

Di bawah lampu galeri, satu pintu terbuka untuknya.

Dan dari tangan Hendry Liang, pintu lain mulai diketuk untuk Kevin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!