NovelToon NovelToon
Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 011: Kebun Cempaka

Kebun Cempaka berbau tanah basah ketika Sari turun dari mobil sewaan.

Hujan semalam membuat jalan semen kecil menuju lahan licin. Daun lengkeng masih menyimpan butir air. Di bagian bawah bukit, barisan pohon anggur dalam greenhouse sederhana tampak hijau, tetapi beberapa plastik atap mulai kusam dan perlu diganti.

Sari berdiri sebentar di tepi jalan.

Dadanya terasa lapang.

Di rumah lama, ia merasa seperti tamu. Di kontrakan, ia merasa baru belajar bernapas. Tapi di kebun ini, meski tanahnya tidak selalu ramah dan orang-orangnya sering lebih tajam dari duri ranting, ia merasa kakinya punya tempat berpijak.

Bu Maya, perempuan yang selama ini membantu mengawasi kebun, datang tergopoh dari arah gudang kecil.

"Bu Sari! Saya dengar kabar macam-macam. Ibu beneran sehat?"

"Belum sehat betul, tapi belum jadi almarhum."

Bu Maya memegang dada. "Ya Allah, Ibu masih sempat bercanda."

"Kalau tidak bercanda, saya bisa gila."

Bu Maya langsung memeluknya. Pelukan itu berbau sabun cuci dan daun. Sari menepuk punggungnya pelan.

Nadia yang ikut turun dari mobil tersenyum kecil.

"Bu Maya, aku Nadia."

"Aduh, Dokter Nadia. Kamu makin cantik saja. Tapi matamu sembap."

Nadia menyentuh wajahnya. "Keturunan kurang tidur."

"Keturunan ibumu keras kepala juga?"

"Sepertinya mulai aktif."

Sari menggeleng, tapi sudut bibirnya naik.

Mereka berjalan menuju gudang. Di sana sudah ada beberapa pekerja harian sedang memilah pupuk dan alat semprot. Dua orang menyapa Sari dengan tulus. Tiga orang lain menatapnya terlalu lama, jelas sudah mendengar cerita kain kafan dan resepsi.

Sari tidak memberi mereka bahan tontonan gratis.

"Mulai dari blok anggur dulu. Setelah itu lengkeng. Saya mau lihat catatan bunga dan penyakit daun."

Bu Maya langsung mengambil buku dari rak. "Saya sudah tulis semua. Ada beberapa pohon yang daunnya menguning. Terus Pak Warto kemarin datang lagi."

"Mau apa?"

"Tanya apa kebun ini masih Ibu pegang setelah cerai."

Nadia menoleh cepat. "Kenapa dia tanya begitu?"

Bu Maya mendengus. "Karena orang kurang kerjaan suka berharap lahan orang lain jatuh."

Mereka baru sampai dekat greenhouse ketika suara laki-laki terdengar dari belakang.

"Nah, yang ditunggu muncul juga."

Sari tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.

Pak Warto berjalan mendekat dengan sandal jepit, sarung dilipat sampai betis, dan topi lusuh. Di belakangnya ada dua petani lain yang sering ikut kelompok tani, salah satunya Pak Purnomo.

"Bu Sari," kata Pak Warto dengan senyum miring. "Saya kira setelah jadi berita satu komplek, Ibu tidak sempat lagi urus kebun."

Sari memegang daun anggur, memeriksa bagian bawahnya. "Berita tidak menyemprot hama. Jadi saya tetap harus datang."

Beberapa pekerja menunduk menahan senyum.

Pak Warto tidak suka kehilangan panggung. "Saya cuma khawatir. Orang cerai biasanya pikirannya kacau. Kebun butuh fokus. Kalau Ibu tidak sanggup, lebih baik lahan ini dialihkan ke yang lebih siap."

"Ke siapa? Bapak?"

"Saya kan cuma memberi saran."

"Saran yang kebetulan menguntungkan Bapak."

Pak Purnomo tertawa kecil, lalu pura-pura batuk.

Wajah Pak Warto mengeras. "Jangan salah paham. Kelompok tani juga punya nama baik. Kalau kebun Ibu gagal panen, order kolektif bisa terganggu."

Sari menutup buku catatan Bu Maya. "Order kolektif mana?"

Pak Warto mengerjap. "Ya... nanti kalau ada."

"Belum ada kontrak, belum ada DP, belum ada jadwal panen, tapi Bapak sudah khawatir nama baik?"

Nadia berdiri di samping ibunya, terlihat ingin bicara. Sari menahan dengan isyarat kecil.

Ini tanahnya.

Ia yang harus bicara.

"Pak Warto," kata Sari, "saya cerai dari Hendra, bukan dari kebun. Saya juga tidak kehilangan kemampuan membaca daun hanya karena suami saya kehilangan akal."

Beberapa pekerja tertawa pelan.

Pak Warto memerah. "Mulut Ibu sekarang tajam sekali."

"Tanah ini lebih suka orang jujur daripada orang manis."

"Saya cuma bilang, perempuan kalau terlalu sering keluar rumah, ya begini jadinya. Rumah tangga bubar."

Nadia langsung maju. "Pak—"

"Na." Sari memotong.

Ia menatap Pak Warto tanpa berkedip.

"Istri Pak Warto jarang keluar rumah, bukan?"

Pak Warto mengangkat dagu. "Istri saya tahu tugasnya."

"Tapi semua orang tahu Bapak punya perempuan di pasar Cileungsi."

Suasana langsung pecah.

Pak Purnomo menutup mulut. Bu Maya memalingkan wajah, bahunya bergetar menahan tawa. Pekerja yang sedang memegang sprayer hampir menjatuhkannya.

Pak Warto membelalak. "Ibu jangan fitnah!"

"Saya tidak sebut nama. Kalau Bapak merasa kena, itu urusan Bapak."

"Bu Sari!"

"Jadi jangan ceramahi saya soal perempuan keluar rumah. Istri Bapak di rumah saja tidak membuat Bapak setia."

Pak Warto menunjuknya, tapi jarinya gemetar. "Kamu sekarang merasa hebat karena punya kios dan kebun?"

"Tidak. Saya merasa sibuk. Jadi kalau tidak ada urusan kerja, silakan pulang."

Pak Warto ingin membalas, tetapi beberapa pekerja sudah terang-terangan menatapnya. Nama perempuan di pasar Cileungsi bukan rahasia baru, hanya selama ini tidak ada yang mengatakannya tepat di wajahnya.

Ia akhirnya berdeham kasar.

"Nanti kalau butuh bantuan jual panen, jangan cari saya."

"Baik. Saya akan cari pembeli yang membayar tepat waktu."

Pak Warto pergi dengan langkah berat. Pak Purnomo menahan senyum sambil mengikuti.

Setelah mereka cukup jauh, Bu Maya tertawa sampai memegang perut.

"Bu, saya sudah lama ingin dengar orang bilang begitu ke mukanya."

Nadia menatap ibunya dengan kagum. "Ibu tahu dari mana?"

"Kebun punya telinga lebih banyak daripada rumah sakit."

"Menakutkan."

"Berguna."

Mereka melanjutkan pemeriksaan. Sari mencatat bagian plastik greenhouse yang harus diganti, stok pupuk yang menipis, dan pohon lengkeng yang perlu dipangkas. Ia juga memeriksa jalur pengiriman menuju gudang sortir karena musim panen nanti membutuhkan kendaraan lebih besar.

Menjelang siang, Bu Maya membawa teh panas dan pisang goreng ke saung kecil. Sari duduk sambil memijat betis. Tubuhnya masih belum pulih. Nadia memperhatikan dengan wajah khawatir.

"Ibu memaksakan diri."

"Ibu bekerja."

"Itu sering jadi kalimat pembuka sebelum Ibu tumbang."

"Kamu sekarang dokter atau anak?"

"Dua-duanya."

Sari mengambil teh. "Kalau kamu jadi dua-duanya, Ibu juga boleh jadi pasien yang bandel dan pemilik kebun yang cerewet."

Nadia menghela napas, menyerah.

Bu Maya membuka buku catatan lain. "Ada satu hal lagi, Bu. Kemarin orang dari proyek atas bukit datang. Katanya Pradipta Group masih tertarik tanah sekitar sini. Bukan cuma kebun Ibu, tapi beberapa lahan dekat waduk."

Sari mengangkat alis. "Mereka datang lagi?"

"Bukan ke sini langsung. Lewat Pak RT. Katanya mau perluasan tanaman herbal dan fasilitas riset."

"Tanah saya tidak dijual."

"Saya sudah bilang begitu."

Nadia bertanya, "Pradipta Group besar?"

Bu Maya langsung menjawab, "Besar sekali, Dok. Punya proyek herbal, properti, rumah sakit, entah apa lagi. Orang sini kalau dengar nama Pradipta langsung rapi duduknya."

Sari tidak terkesan. "Kalau besar, mereka harusnya lebih bisa mengerti kata tidak."

Ponsel Bu Maya berbunyi. Ia membaca pesan, lalu menyerahkan pada Sari.

"Pak RT tanya, Ibu bisa datang sore ke balai warga? Katanya ada perwakilan proyek."

Sari membaca singkat, lalu mengembalikan.

"Balas: saya sibuk di kebun. Kalau mereka mau bicara, kirim surat resmi dan proposal. Jangan panggil saya seperti anak sekolah."

Bu Maya tertawa lagi. "Siap."

Nadia menggigit pisang goreng. "Bu, jangan musuhi semua orang kaya."

"Ibu tidak musuhi. Ibu hanya tidak mau kebun Ibu diobrolkan di balai tanpa dokumen."

"Masuk akal."

"Tentu."

Sore menjelang, setelah memeriksa blok terakhir, Sari berjalan sendiri ke arah waduk kecil di ujung lahan. Nadia sedang menerima telepon dari bagian SDM RS Pejaten. Bu Maya mengurus pekerja.

Angin dari air terasa lebih sejuk. Sari berhenti di bawah pohon, menatap permukaan waduk yang memantulkan langit keruh.

Ia lelah.

Sangat lelah.

Namun lelah ini berbeda dari lelah selama menikah. Dulu ia lelah karena menjaga rumah yang tidak menghargainya. Sekarang ia lelah karena menjaga sesuatu yang benar-benar miliknya.

Sebuah suara kecil memecah udara.

Seperti isak.

Sari menoleh.

Di sisi lain waduk, dekat batu besar, ada sandal anak berwarna pink tergeletak.

Satu.

Jantungnya langsung menghentak.

"Halo?"

Tidak ada jawaban.

Lalu permukaan air bergerak.

Sari melihat tangan kecil muncul sebentar, lalu tenggelam.

Semua rasa lelah hilang.

"Nadia!" teriaknya.

Tanpa berpikir, Sari melepas kardigan, menendang sandal, dan berlari ke arah air.

Di belakangnya, suara Nadia menjauh dari telepon.

"Ibu!"

Sari sudah melompat.

Air waduk dingin menghantam dadanya. Tubuhnya yang belum pulih menjerit, tapi matanya hanya mencari satu hal.

Anak itu.

Tangan kecil itu muncul lagi.

Sari berenang sekuat tenaga.

Kali ini, ia tidak akan membiarkan kehidupan siapa pun tenggelam di depan matanya.

1
ronarona rahma
.😭
Risna Wati
perempuan juga punya jalan sendiri mantap 👍👍💪
Risna Wati
mantap bu sari sekarang nambah lagi dukungan nya
Risna Wati
kyk gitu lh kalo membuang berlian yang berharga dapat nya lagi batu koral biasa tidak ada harganya 🤭🙏
Risna Wati
dua wanita yang tangguh dan hebat 💪💪💪👍😍
Lesmana
mnt duit sono sama bpk elu , cumi😡😡 bpk elu kan kepala keluarga , jgn cm bs kawin lg , tp gak bs nyokong anak
Lesmana
gak tau malu lu , raka😡😡😡 br ngelak eh ternyt lngsng buka kartu mnt duit sama ibu elu sndr yg elu abaikan😡😡
Lesmana
durhaka emang nih 2 anak laki nya sari😭😭😭
Lesmana
sari sptnya gak mau dipanggil mama sama raka nih , maunya dipanggil ibu 🤭🤭
Lesmana
aih aih..raka ternyt udah berkeluarga toh , udah pny anak pula.. tp msh aja mnt support sama ibu nya eh yg didukung kawin lg malah ayahnya ??
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
Lesmana
nadia manggil sari ibu , raka manggil mama , bayu manggil sari apa yah ??
kog bs beda2 yah ??
Lesmana
bukannya pabrik entah pabrik yg mana , awalnya dibangun sama orgtuanya sari yah ?? cm yg jalanin hendra.. tp kog skrng 2 pabriknya pny kel hendra ??🙄🙄
Risna Wati
mantap karma di bayar kontan 👍🤭
Risna Wati
mantap dan tegas 👍👍🙏💪
Risna Wati
keren dan lelah bersamaan 🤭
awesome moment
hasil dri kesongongan
awesome moment
😄😄😄udh habis baru nyadar
awesome moment
cinta arman menjaga bgts. cm di dunai halukah?
Sayekti 0519
bahasanya cerdas ,,aku baca aku belajar.
Inong Suzanna
ceritanya hampir mirip sama sya,cuma sy g punya harta,itu aj msh di pantau sama bini mantanku 🙈😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!