NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Berikut deskripsi novel singkatnya.

Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 — Masakan Pertama

Sore hari di kantor AZ Global Enterprises berjalan lebih lambat dari biasanya.

Di ruang kerja utama, Shaka masih duduk di balik meja besarnya dengan laptop terbuka. Beberapa dokumen tersusun rapi di samping cangkir kopi hitam yang sudah dingin sejak satu jam lalu.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas.

Waktu pulang kantor sudah lewat.

Namun Shaka masih belum beranjak.

Pikirannya memang tertuju pada pekerjaan, tetapi tidak sepenuhnya. Sejak pagi, bayangan Jenna beberapa kali muncul tanpa diminta. Kadang matanya yang teduh. Kadang suaranya yang datar. Kadang wajah samar yang ia lihat di sepertiga malam, yang sampai sekarang masih membuatnya ragu apakah itu mimpi atau kenyataan.

Pintu ruang kerjanya terbuka setelah dua ketukan singkat.

Rafa masuk tanpa menunggu jawaban, membawa tablet di tangan dan senyum jahil di wajah.

“Bos.”

Shaka tidak mengangkat wajah. “Apa?”

“Pulang.”

“Belum selesai.”

Rafa berjalan mendekat, lalu berdiri di depan meja Shaka.

“Jam pulang sudah lewat, Pak Suami.”

Tangan Shaka yang sedang mengetik langsung berhenti.

Ia mengangkat wajah perlahan.

Rafa tersenyum semakin lebar.

“Apa? Sekarang status lo sudah beda. Dulu kalau lembur, paling pulang ke rumah terus tidur di sofa karena kecapekan. Sekarang ada istri di rumah.”

Tatapan Shaka langsung menajam.

“Rafa.”

“Ya?”

“Kalau masih mau hidup tenang, jangan mulai.”

Rafa mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah.

“Oke, oke. Gue nggak mulai. Gue cuma mengingatkan bahwa lo punya rumah tangga yang perlu dihadiri, bukan cuma perusahaan yang perlu diawasi.”

Shaka mendengus pelan.

“Kerjaan hari ini belum selesai.”

“Kerjaan lo nggak akan pernah selesai kalau lo pakai standar manusia robot.” Rafa meletakkan tablet di atas meja. “Semua laporan penting sudah gue rekap. Sisanya bisa besok.”

Shaka menatap layar laptopnya lagi.

Rafa menyipitkan mata.

“Jangan bilang lo sengaja lembur karena bingung harus ngobrol apa sama Jenna.”

Shaka langsung menatapnya tajam.

Rafa menepuk meja pelan, wajahnya penuh kemenangan.

“Nah. Kena.”

“Keluar.”

“Belum. Gue baru mulai bersenang-senang.”

“Rafa.”

“Ka, serius.” Nada Rafa berubah sedikit lebih rendah, meski senyumnya belum hilang sepenuhnya. “Lo baru nikah. Jangan pulang saat semua orang di rumah sudah tidur. Lo harus belajar hadir sebelum berharap rumah tangga lo berjalan baik.”

Shaka terdiam.

Kali ini ia tidak langsung membalas.

Rafa menyadari itu, lalu melanjutkan dengan nada lebih ringan.

“Lagipula, siapa tahu Bu Jenna sudah nungguin lo.”

Shaka mendelik tajam.

“Jangan mengarang.”

“Gue nggak mengarang. Gue cuma memberi kemungkinan manis dalam hidup lo yang hambar.”

“Bonus dua kali lipat lo bisa gue batalkan.”

Rafa langsung mundur selangkah.

“Baik. Saya pamit. Tapi pulang, Ka. Serius.”

Setelah mengatakan itu, Rafa berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia masih sempat menoleh.

“Dan kalau nanti Jenna masakin sesuatu, jangan cuma bilang ‘hm’. Bilang terima kasih. Pakai suara manusia.”

Shaka mengambil pulpen dari meja.

Rafa langsung keluar cepat sebelum pulpen itu benar-benar melayang.

Ruangan kembali hening.

Shaka menatap pintu yang baru saja tertutup, lalu menghela napas. Menyebalkan sekali sahabatnya itu. Namun seperti biasa, Rafa tidak sepenuhnya salah.

Akhirnya Shaka menutup laptop.

Ia pulang.

Di rumah baru mereka, Jenna sudah pulang lebih dulu sebelum Shaka.

Setelah dari mall bersama Syana, ia sempat mampir sebentar ke kafe untuk memastikan semuanya baik-baik saja, lalu kembali ke rumah sebelum Maghrib seperti izin yang diberikan Shaka.

Selesai salat Maghrib, Jenna berdiri cukup lama di dapur.

Dapur rumah itu bersih dan luas. Peralatannya lengkap, tetapi Jenna belum benar-benar terbiasa menggunakannya. Di sampingnya, seorang asisten rumah tangga bernama Mbak Rini sedang menata beberapa bahan makanan yang baru datang dari supermarket.

Jenna menggenggam ponselnya.

Ia teringat ucapan Syana di restoran tadi.

Cowok biasanya luluh kalau dimasakin.

Jenna tahu itu terdengar sederhana. Bahkan mungkin terlalu klasik. Tetapi ia ingin mencoba. Bukan untuk merendahkan dirinya. Bukan juga karena ia melupakan rasa sakit yang Shaka berikan.

Ia hanya ingin memberi rumah tangganya kesempatan.

Pelan-pelan.

Dengan cara yang ia bisa.

Akhirnya Jenna membuka kontak Mama Aruna.

Panggilan tersambung tidak lama kemudian.

“Assalamu’alaikum, Jenna sayang,” suara Aruna terdengar begitu hangat dari seberang.

Jenna tersenyum kecil.

“Wa’alaikumussalam, Ma. Maaf mengganggu.”

“Tidak mengganggu sama sekali. Mama justru senang kamu menelepon. Ada apa, Nak?”

Jenna terdiam sebentar, sedikit malu dengan pertanyaannya sendiri.

“Ma, Jenna mau tanya sesuatu.”

“Tanya apa?”

“Makanan kesukaan Mas Shaka apa, ya?”

Di seberang sana, Aruna langsung hening.

Terlalu hening.

Jenna mulai khawatir. “Ma?”

Lalu terdengar suara Aruna yang jelas-jelas menahan bahagia.

“Jenna mau masak untuk Shaka?”

Wajah Jenna menghangat.

“Iya, Ma. Kalau tidak merepotkan.”

“Ya Allah, Nak. Sama sekali tidak merepotkan.” Suara Aruna terdengar haru. “Shaka itu paling suka sop iga bening, ayam panggang madu, dan tumis buncis bawang putih. Tapi kalau sedang lelah, dia biasanya paling lahap makan sop iga.”

Jenna langsung mencatat di kepalanya.

“Sop iga bening?”

“Iya. Jangan terlalu banyak santan atau bumbu berat. Shaka suka kuah yang ringan tapi gurih. Kalau bisa, tambahkan wortel dan kentang. Sambalnya dipisah saja, dia tidak terlalu suka yang terlalu pedas.”

“Baik, Ma.”

“Jenna bisa masak sop iga?”

“Bisa, tapi mungkin belum seenak masakan Mama.”

Aruna tertawa lembut.

“Tidak apa-apa. Shaka bukan tipe yang banyak komentar soal makanan. Tapi kalau dia suka, biasanya dia diam dan habis banyak.”

Jenna hampir tertawa kecil.

“Itu tanda sukanya?”

“Iya. Anak itu memang irit ekspresi.”

Jenna menunduk.

“Jenna mulai tahu, Ma.”

Aruna di seberang sana terdiam sebentar, lalu suaranya melembut.

“Jenna, Shaka mungkin sulit dipahami. Tapi Mama tahu, hati kamu lembut. Jangan terlalu lelah sendiri, ya.”

Jenna menggenggam ponselnya lebih erat.

“Iya, Ma.”

Setelah panggilan berakhir, Jenna menarik napas pelan.

“Mbak Rini,” panggilnya.

“Iya, Bu?”

“Kita masak sop iga bening, ayam panggang madu, dan tumis buncis bawang putih untuk makan malam.”

Mbak Rini tersenyum.

“Baik, Bu. Saya bantu siapkan semua.”

“Jenna ikut masak, ya. Jangan semuanya Mbak Rini yang kerjakan.”

“Tentu, Bu.”

Malam itu, dapur rumah yang biasanya lebih banyak dikuasai pekerja rumah menjadi lebih hidup.

Jenna mencuci beberapa sayuran, memotong wortel dan kentang dengan hati-hati, lalu membantu menyiapkan bumbu sop. Mbak Rini beberapa kali memberi arahan tentang posisi peralatan dan bahan di dapur. Jenna mendengarkan dengan teliti.

Ia tidak terlalu ahli memasak makanan berat, tetapi ia cukup sabar mengikuti prosesnya.

Kuah sop mulai mendidih perlahan. Aroma kaldu iga menyebar ke seluruh dapur. Ayam panggang madu masuk ke oven, sementara tumis buncis bawang putih disiapkan terakhir agar tetap segar saat disajikan.

Jenna sempat mencicipi kuah sop dengan sendok kecil.

“Kurang garam sedikit ya, Mbak?”

Mbak Rini ikut mencicipi.

“Iya, Bu. Sedikit saja.”

Jenna menambahkan garam perlahan, lalu mengaduknya kembali.

Di dalam hati, ia merasa gugup.

Ini hanya makan malam.

Tetapi baginya, ini usaha pertama.

Usaha kecil untuk mengetuk hati Shaka tanpa memaksa.

Shaka pulang ketika langit sudah gelap.

Begitu masuk ke rumah, ia langsung mencium aroma makanan yang berbeda dari biasanya.

Sop iga.

Langkahnya berhenti sebentar di ruang tengah.

Aroma itu terlalu familiar.

Makanan kesukaannya.

Ia berjalan perlahan menuju dapur dan ruang makan. Dari pintu dapur yang terbuka, ia melihat Jenna berdiri di depan kompor bersama Mbak Rini.

Jenna masih mengenakan gamis sederhana berwarna dusty blue dengan khimar dan cadar senada. Lengan bajunya sedikit ia rapikan agar tidak mengganggu gerakan memasak. Tangannya memegang sendok sayur, sementara Mbak Rini berdiri di sampingnya sambil menyiapkan piring saji.

Shaka terdiam.

Jenna sedang memasak.

Bukan sekadar berada di dapur.

Ia benar-benar ikut memasak.

Dan dari aroma yang memenuhi ruangan, Shaka tahu makanan itu bukan menu acak.

Itu makanan kesukaannya.

Ada sesuatu yang bergerak di dada Shaka.

Heran.

Bingung.

Lalu rasa bersalah yang datang diam-diam.

Apakah Jenna sudah tidak marah padanya?

Pertanyaan itu muncul begitu saja dalam hati.

Namun ketika Jenna menoleh dan menyadari kehadirannya, Shaka segera menyembunyikan pikirannya di balik wajah datar.

“Mas Shaka sudah pulang?” tanya Jenna.

Suaranya lembut.

Tidak sehangat dulu, tetapi juga tidak sedatar beberapa hari terakhir.

“Iya.”

Jenna menurunkan sendok sayur, lalu menunduk sopan.

“Mas bisa bersih-bersih dulu. Nanti kita makan malam bersama.”

Shaka menatapnya beberapa detik.

“Kamu yang masak?”

Jenna mengangguk pelan.

“Dibantu Mbak Rini.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu keluar terlalu cepat.

Jenna terdiam sebentar.

Mbak Rini yang peka segera menunduk dan berkata, “Saya siapkan meja dulu, Bu.”

Lalu ia keluar dari dapur, memberi ruang untuk keduanya.

Jenna menatap Shaka.

“Karena Jenna ingin.”

Shaka diam.

Jawaban itu sederhana, tetapi sulit ia pahami.

“Ini sop iga,” ucap Shaka perlahan.

“Iya.”

“Kamu tahu dari mana?”

Jenna menunduk sedikit. “Jenna bertanya kepada Mama Aruna.”

Shaka terdiam.

Ia tidak tahu harus berkata apa.

Jenna bertanya kepada ibunya tentang makanan kesukaannya. Lalu memasaknya sendiri. Setelah semua sikap dinginnya. Setelah semua kata-kata tajamnya. Setelah jarak yang ia ciptakan.

Kenapa?

Kenapa Jenna masih mau mencoba?

Jenna kembali bicara sebelum Shaka sempat menemukan jawaban.

“Mas tidak harus menyukainya. Jenna masih belajar. Kalau rasanya kurang pas, nanti Jenna perbaiki lain kali.”

Lain kali.

Kata itu membuat Shaka semakin diam.

Berarti Jenna tidak hanya memasak untuk malam ini.

Ia memikirkan hari berikutnya.

Hari-hari setelah ini.

Rumah tangga mereka.

Shaka menatap Jenna, tetapi hanya mata perempuan itu yang bisa ia lihat. Mata yang beberapa hari lalu terluka. Mata yang semalam mungkin ia lihat tanpa cadar dalam keadaan setengah sadar. Mata yang sekarang tampak hati-hati, tetapi tidak sepenuhnya tertutup.

“Aku yakin rasanya baik,” ucap Shaka akhirnya.

Jenna sedikit terdiam.

Shaka sendiri ikut terdiam setelah menyadari kata yang baru ia gunakan.

Aku.

Bukan saya.

Perubahan kecil itu keluar tanpa ia rencanakan.

Jenna tampak menyadarinya juga, tetapi ia tidak mengomentari.

“Mas bersih-bersih dulu,” ucap Jenna pelan. “Nanti makanannya Jenna siapkan.”

Shaka mengangguk.

Namun sebelum pergi, ia berhenti sebentar.

“Jenna.”

“Iya, Mas?”

“Terima kasih.”

Jenna menatapnya.

Untuk pertama kalinya sejak akad, Shaka mengucapkan terima kasih dengan nada yang tidak sepenuhnya dingin.

Jenna menunduk, menyembunyikan getar kecil di hatinya.

“Sama-sama.”

Shaka kemudian naik ke lantai dua untuk mandi dan berganti pakaian.

Di dapur, Jenna berdiri diam beberapa detik.

Dadanya terasa hangat, meski ia berusaha tidak terlalu berharap.

Mungkin ini hanya awal kecil.

Sangat kecil.

Tetapi setidaknya, malam itu Shaka tidak menolak usahanya.

Dan bagi Jenna, itu sudah cukup untuk langkah pertama.

Beberapa menit kemudian, meja makan tertata rapi.

Sop iga bening disajikan dalam mangkuk besar. Ayam panggang madu diletakkan di piring saji. Tumis buncis bawang putih masih mengepulkan uap tipis. Nasi putih hangat tersedia di mangkuk kecil, bersama sambal terpisah seperti pesan Aruna.

Ketika Shaka turun kembali, ia melihat Jenna berdiri di dekat meja makan.

“Makan malam sudah siap, Mas.”

Shaka menatap meja itu, lalu menatap Jenna.

Ada banyak hal yang ingin ia katakan.

Tentang rasa bersalah.

Tentang kebingungannya melihat Jenna tetap mencoba.

Tentang bagaimana rumah yang sejak kemarin terasa dingin, malam ini mulai memiliki aroma yang berbeda.

Namun Shaka belum pandai mengucapkan hal-hal seperti itu.

Maka ia hanya berjalan mendekat dan duduk di kursinya.

Jenna duduk di hadapannya.

Untuk beberapa saat, mereka masih diam.

Tetapi diam malam itu tidak setajam sebelumnya.

Di antara mereka, ada semangkuk sop iga hangat.

Ada usaha Jenna yang tidak banyak bicara.

Ada rasa bersalah Shaka yang mulai mencari jalan keluar.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya sejak mereka tinggal bersama, rumah itu terasa sedikit lebih seperti rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!