Di hari pernikahannya, seharusnya Leticia menikahi pria yang dicintainya, bukan pria yang terkenal memiliki sifat begitu kejam dan menyeramkan.
Dan Leticia baru menyadari, kalau semua ini permainan dari Ibu dan adik kembarnya yang sejak awal sudah memaksanya untuk memakai penutup mata saat pernikahan berlangsung.
Leticia harus menikahi calon suami sang adik kembar, dan adiknya… Leila menikahi pria yang sangat dicintai oleh Leticia.
Awalnya Letcia ingin mengajukan surat perceraian kepada Maximillan, tetapi pria itu tidak mau dan memaksanya untuk tetap mempertahankan pernikahan yang dari awal sudah salah.
Dan Leticia baru tahu kalau suaminya adalah seorang mafia kejam yang sangat posesif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
“Belum tidur?” Max tersenyum tipis saat melihat istrinya menunggu di ruang tamu.
Leticia yang hampir saja memejamkan matanya, langsung membuka matanya dengan lebar dan berdiri dari duduknya. Perempuan itu menghampiri suaminya yang baru pulang, padahal jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.
“Aku menunggu Kak Max,” jawab Leticia sambil membantu suaminya melepaskan dasi yang sudah miring itu.
Cup!
Max mengecup kening istrinya, ada perasaan hangat menyelimuti dadanya. Bahkan rasa lelahnya, langsung menghilang saat melihat orang yang dicintainya menunggu kepulangannya.
“Kau sangat cantik,” puji Max yang sejak tadi siang sudah ingin menemui istrinya, tetapi harus ditahan.
Jantung Leticia langsung berdebar sangat kencang, saat mendengar pujian manis itu.
“Kak Max sudah makan malam?” Tanya perempuan itu yang ingin mengalihkan topik pembicaraan.
“Sudah tadi siang,” jawab Max yang memang hanya makan tadi siang, malamnya ia tidak memiliki selera untuk makan.
“Kebetulan tadi aku membuat pasta pedas, apa Kak Max ingin mencobanya?” Tanya Leticia yang tadi memang sempat membuat pasta pedas, sebagai percobaan nanti kalau adik iparnya datang berkunjung.
“Tentu saja,” jawab Max yang kini menarik tangan istrinya menuju ke ruang makan.
Sebenarnya pria itu tidak menyukai makanan pedas, bahkan bisa dikatakan kalau dirinya tidak bisa makan makanan pedas. Namun Leticia yang memasaknya, jadi Max tidak akan menolak makanan yang dibuat oleh istri cantiknya itu.
Apalagi saat melihat binaran semangat di mata cantik Leticia, jadi Max tidak bisa menolaknya.
“Kakak tunggu di sini, aku ingin memanaskan pastanya!” Kata perempuan itu sambil mendorong bahu suaminya untuk segera duduk di kursi.
Dari tempatnya, Max bisa melihat apa saja yang dilakukan istrinya di dalam dapur. Sudut bibirnya tertarik pelan, saat melihat ekspresi serius Leticia yang sangat menggemaskan.
Sekitar dua menitan, perempuan itu kembali ke ruang makan dengan membawa pasta buatannya.
“Katakan saja apa yang masih kurang dari pastanya,” ucap Leticia dengan senyuman lebarnya.
Max mengangguk, sebelum mengambil garpu untuk menyantap pasta yang terlihat lezat itu.
Leticia sendiri tidak melepaskan pandangannya dari wajah sang suami yang mulai menyuap pasta ke dalam mulutnya, tadi Leticia sudah merasakannya dan menurutnya sangat pas… apalagi rasa pedasnya yang masih terasa di dalam tenggorokan.
“Uhuk… uhuk!” Max terbatuk, karena rasa cabai yang begitu kuat dan seakan membakar mulut sampai tenggorokannya.
Leticia yang panik, langsng menyodorkan segelas air kepada suaminya dan Max langsung meneguk semua air di dalam gelas tanpa tersisa.
“Maaf, apa rasanya tidak enak?” Tanya perempuan itu yang merasa bersalah, saat melihat wajah Max yang sangat merah.
Max menjawabnya dengan gelengan, sebab mulutnya seakan sulit untuk dibuka. Sedangkan Leticia merasa kalau masakannya tidak cocok di lidah sang suami.
“Nona? Tuan?” Kaget Mabel yang tadi mendengar suara berisik di ruang makan.
Kamar Mabel tidak jauh dari ruang makan, jadi wanita paruh baya itu bisa mendengar suara batuk Max yang cukup keras.
“Bibi, sepertinya masakanku beracun dan Kak Max keracunan!” Kata Leticia yang tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.
Mabel menatap ke arah piring yang ada di hadapan Max, lalu ia tersenyum tipis.
“Tuan Max tidak bisa makan pedas, karena memiliki masalah dengan lambungnya. Dari kecil Tuan Max memang tidak pernah menyentuh makanan pedas,” jelas Mabel yang membuat Leticia menatap ke arah suaminya yang tidak mengatakan apapun tentang ini.
“Sa-Sayang…”
Max hendak mengucapkan sesuatu, tetapi rasa perih kini menghantam perutnya dan membuat kesadarannya perlahan menghilang.
Yang terkahir Max lihat ada wajah panik istrinya dan suara teriakan Leticia yang tidak kalah paniknya.
...***...
“Bagimana keadaan Kak Max, Dok?” Tanya Leticia kepada dokter yang baru selesai memberikan obat kepada Max yang belum sadarkan diri.
“Tuan Max akan baik-baik saja, asam lambungnya naik… karena telat makan dan sekalinya makan, langsung makan makanan pedas. Saya sudah memberikan obat, sehingga Tuan Max akan baik-baik dan sekarang Tuan Max sedang tertidur,” jelas sang dokter.
Leticia merasa lega mendengarnya, ia sangat khawatir dan sekaligus takut… karena Max tidak mengatakan kalau pria itu tidak bisa makan pedas dan memiliki masalah pada lambungnya.
“Obatnya nanti di minum sehari dua kali, agar lambung Tuan Max semakin membaik. Kalau begitu, saya permisi dulu!” Pamit sang dokter yang langsung diantar keluar oleh Kai yang memang menjemputnya tadi.
Leticia mendekati suaminya, ia menatap wajah lelap Max yang tadi membuatnya sangat panik.
“Maaf sudah membuat Kak Max seperti ini,” ucap perempuan itu yang benar-benar menyesal.
“Ini bukan salah Nona Leticia. Tuan Max sendiri yang tidak mau jujur, jadi jangan salahkan diri sendiri. Nanti Tuan Max akan merasa bersalah, karena sudah membuat Nona merasa sedih,” ujar Mabel yang juga ada di sana.
“Kenapa Kak Max sampai memiliki masalah lambung?” Tanya Leticia yang saat ini memegang tangan suaminya.
“Dari kecil, Tuan Max sangat susah diajak makan. Makan sehari sekali itu adalah sebuah keberuntungan, karena kadang Tuan Max tidak mau makan dan hanya minum saja. Nyonya Calistha juga sudah mengikuti semua saran dokter, tetapi Tuan Max tetap keras kepala. Jadi sekarang Tuan Max harus merasakan sendiri akibat dari sifat keras kepalanya,” jelas Mabel yang memang sudah memahami Max dengan sangat baik.
“Apa bisa sembuh?” Leticia kembali bertanya.
“Kalau sembuh, kemungkin ada… tapi itu sangat kecil. Jika Tuan Max bisa menjaga pola makan dengan baik, kemungkinan besar penyakitnya akan jarang kambuh,” jawaban itu membuat Leticia mengerti.
“Maaf sudah merepotkan Bi Mabel, Bibi bisa kembali beristirahat dan aku yang akan menjaga Kak Max,” perempuan itu menatap ke arah Mabel yang terlihat sudah lelah, karena harus mengurusi Mansion seharian.
“Baiklah. Jika Nona membutuhkan sesuatu, bisa panggil saya!” Pesan Mabel, sebelum berlalu keluar dari kamar utama.
“Kita memang baru kenal, dan pernikahan ini terlalu mendadak bagi kita. Tapi aku ini istrimu, Kak. Kenapa sulit sekali untuk mengatakan kalau Kakak tidak bisa makan pedas? Aku hampir mencelakai Kakak, karena tidak tahu apa-apa tentangmu.”
Leticia rasanya ingin marah, tetapi apa ia pantas memarahi Max?
Perempuan itu naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sisi Max, ia juga mengantuk dan tidak bisa menahannya lagi. Leticia ikut tertidur, setelah memastikan suaminya masih tidur dengan nyenyak. Namun tidak lama kemudian, Max membuka matanya dan menoleh ke arah istrinya.
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini murni kesalahanku. Maaf sudah membuatmu panik, aku baik-baik saja. Dan terima kasih, karena sudah mengkhawatirkanku… istriku.”
Bersambung!
🌹🌹🌹☺️
🌹🌹🌹❤️❤️❤️☺️