Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Jiang Group.
Delvin baru saja turun dari mobil ketika puluhan wartawan yang telah menunggu di depan gedung langsung berlari menghampirinya.
“Presiden Jiang, apakah video yang beredar itu asli?”
“Benarkah Anda berselingkuh saat istri pertama Anda sedang sakit?”
“Presiden Jiang, tolong beri penjelasan!”
Puluhan mikrofon dan kamera langsung mengarah ke wajah Delvin.
“Tidak ada komentar!” jawab Delvin dengan wajah gelap sambil berjalan cepat menuju pintu masuk.
Para petugas keamanan segera menghalangi wartawan yang terus mengejar.
Begitu memasuki ruang rapat, suasana tidak kalah mencekam.
Beberapa pemegang saham utama telah duduk dengan wajah serius.
“Presiden Jiang, kami membutuhkan penjelasan,” ujar salah seorang pemegang saham.
“Video itu telah membuat citra Jiang Group hancur. Sejak pagi kami menerima banyak telepon dari mitra bisnis.”
Pemegang saham lain ikut menyela.
“Harga saham terus turun. Investor mulai kehilangan kepercayaan. Jika Anda tidak segera menyelesaikan masalah ini, kerugian perusahaan akan semakin besar.”
“Kami berinvestasi untuk mencari keuntungan, bukan ikut menanggung skandal pribadi Anda!”
Wajah Delvin semakin gelap.
“Itu hanya masalah pribadiku. Tidak ada hubungannya dengan perusahaan.”
“Tidak ada hubungannya?” salah seorang pemegang saham langsung membantah. “Anda adalah wajah Jiang Group. Sekarang seluruh negeri mengenal perusahaan ini karena skandal perselingkuhan Anda!”
Ruangan langsung dipenuhi suara perdebatan.
Beberapa pemegang saham bahkan mulai mengusulkan rapat luar biasa untuk mengevaluasi posisi Delvin sebagai direktur utama.
Mendengar usulan itu, wajah Delvin langsung berubah pucat.
“Di dalam rekaman itu terlihat jelas bahwa Presiden Jiang Group berselingkuh saat istri pertamanya sedang sakit. Setelah istri Anda meninggal, Anda justru menikahi wanita yang kini menjadi istri Anda, Moly. Berita ini benar-benar memalukan!” ujar salah seorang pemegang saham dengan nada kesal.
“Presiden Jiang, kita harus segera mencari jalan keluar sebelum perusahaan benar-benar bangkrut,” sambung pemegang saham lainnya.
Delvin menarik napas dalam-dalam.
“Aku juga sedang berusaha. Jelas ada seseorang yang sengaja menjatuhkan kita.”
“Bukan kita, tapi kau!” bentak seorang pemegang saham. “Lihat apa yang terjadi sekarang! Video memalukan itu sudah ditonton jutaan orang. Selama ini publik mengira kau adalah suami yang setia, ternyata wanita yang sekarang menjadi istrimu adalah selingkuhanmu. Apa kau tahu berapa besar kerugian yang kau timbulkan?”
“Karena skandalmu, harga saham terus anjlok. Investor menarik dana, mitra bisnis mulai ragu bekerja sama dengan kita. Jangan karena ulahmu sendiri, kami semua ikut menjadi korban!”
Suasana ruang rapat semakin memanas.
Seorang pemegang saham senior berdiri dari kursinya.
“Kalau dalam waktu dekat kau tidak mampu memulihkan citra perusahaan, kami akan mengadakan rapat pemegang saham untuk mengevaluasi jabatanmu sebagai direktur utama.”
“Kalian harus memberiku waktu,” ujar Delvin berusaha menenangkan para pemegang saham.
“Waktu?” salah seorang pemegang saham langsung membalas. “Kita tidak bisa menunggu lebih lama. Kondisi perusahaan sudah berada di ambang krisis. Harga saham terus anjlok. Jika terus seperti ini, nilai perusahaan akan semakin jatuh.”
“Satu-satunya jalan keluar adalah mencari investor baru atau menjual sebagian saham dengan harga murah kepada perusahaan yang memiliki modal kuat agar Jiang Group tetap bertahan,” ujar pemegang saham lainnya.
“Masalahnya, siapa yang berani membantu kita?” sahut yang lain. “Skandalmu sudah tersebar ke seluruh negeri. Hampir semua orang mengetahuinya. Perusahaan mana yang rela mempertaruhkan uangnya untuk menyelamatkan Jiang Group? Mereka pasti takut ikut menanggung kerugiannya.”
“Aku tidak mungkin menjual saham itu. Saham tersebut adalah milik keluarga Jiang. Jika aku menjualnya, maka perusahaan ini akan jatuh ke tangan orang luar,” kata Delvin dengan wajah tegang.
“Kalau kau tidak menjualnya, maka saat harga saham terus turun dan nilainya hampir tidak ada, semuanya akan berakhir,” balas salah satu pemegang saham.
“Benar. Daripada menunggu perusahaan hancur, lebih baik kita mencari pembeli yang memiliki dana besar dan bersedia membantu mempertahankan Jiang Group,” ujar pemegang saham lainnya.
Di mansion Dylan.
Dylan duduk di ruang kerjanya sambil membaca laporan di tablet. Tidak lama kemudian, Jay masuk membawa beberapa dokumen.
“Tuan, saya sudah mendapatkan informasi terbaru dari Jiang Group,” ujar Jay.
Dylan mengangkat pandangannya.
“Bagaimana kondisinya?”
“Seperti yang sudah diperkirakan. Setelah skandal video itu tersebar, para pemegang saham mulai menekan Tuan Jiang. Mereka meminta beliau mencari investor baru atau menjual sebagian saham perusahaan.”
Jay menyerahkan laporan tersebut.
“Namun, Tuan Jiang masih menolak menjual saham keluarga Jiang. Dia takut perusahaan jatuh ke tangan orang luar.”
Dylan melihat laporan itu dengan tenang.
“Dia masih terlalu percaya diri. Dia tidak menyadari bahwa semakin lama dia bertahan, semakin rendah nilai sahamnya.”
Jay mengangguk.
“Benar, Tuan. Saat ini Jiang Group sudah kehilangan banyak kepercayaan dari investor. Jika terus berlanjut, mereka akan berada dalam posisi terdesak.”
“Hubungi mereka. Sampaikan bahwa perusahaan kita bersedia membeli seluruh saham Jiang Group dengan harga terendah,” perintah Dylan.
Jay mengangguk.
“Dan satu lagi,” lanjut Dylan. “Sampaikan syaratnya. Aku ingin menjadi pemilik baru Jiang Group.”
Jay sedikit terkejut, tetapi segera memahami maksudnya.
“Untuk sementara, sembunyikan identitas kita. Jangan biarkan Delvin tahu siapa yang berada di balik pembelian saham ini.”
“Segera saya lakukan, Tuan,” jawab Jay.
Jay kemudian meninggalkan ruangan untuk menjalankan perintah.
Dylan berdiri di depan jendela dengan tatapan dingin.
“Delvin Jiang, kau sudah menikmati kehidupan mewah terlalu lama. Sekarang waktunya kau merasakan bagaimana rasanya kehilangan semuanya dan tunduk kepadaku.”
Dylan kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Hallo,” suara seorang pria terdengar dari seberang telepon.
“Perusahaan media?” tanya Dylan.
“Benar, Tuan.”
Dylan menatap layar ponselnya dengan tenang.
“Aku ingin memberikan berita penting mengenai putri keluarga Jiang yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit.”