NovelToon NovelToon
Thornless Red Rose

Thornless Red Rose

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Teen / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan di Ambang Batas

Keheningan di ruang makan yang megah itu kembali menebal setelah kalimat sang ayah menggantung di udara. Suara denting sendok yang beradu dengan piring marmer perlahan surut, menyisakan deru pendingin ruangan yang mendengung samar. Melanie menatap barisan lauk-pauk di hadapannya tanpa selera, sementara ibunya hanya bisa menghela napas panjang sembari sesekali membenarkan letak selendang batiknya yang tersampir di bahu.

Sang bapak memajukan tubuhnya sedikit, menumpukan kedua lengannya di atas meja makan. Guratan di dahinya tercetak jelas, memancarkan kecemasan seorang kepala keluarga yang sadar bahwa badai masa lalu kini sedang mengintai putri tunggalnya.

"Nduk, Melanie..." Bapak kembali membuka suara, logat Jawanya terdengar begitu berat dan penuh penekanan. "Bapak iki wis mikir ket wingi. Yen pancen kuliahmu neng Airrawan kuwi wis ora kepenak mergo diganggu karo bocah Sastra kuwi... luwih becik kowe neng omah kene wae dhisik. Ora usah bali neng kosan sing sempit kuwi." (Nduk, Melanie... Bapak ini sudah berpikir sejak kemarin. Kalau memang kuliahmu di Airrawan itu sudah tidak nyaman karena diganggu oleh anak Sastra itu... lebih baik kamu di rumah sini saja dulu. Tidak usah kembali ke kosan yang sempit itu).

Melanie masih bergeming, jemarinya meremas selembar tisu di bawah meja.

Melihat putrinya hanya diam, Bapak menghela napas panjang, lalu bertukar pandang sejenak dengan istrinya sebelum melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lebih tegas.

"Utawa... yen kowe pancen ngerasa wis ora krasan neng kono, Bapak iso ngurus kepindahanmu. Pindah kampus wae, Nduk. Neng Jakarta utawa neng luar negeri sisan. Bondone Bapak iki luwih saka cukup nggo nggawe kowe urip mulyo lan adoh saka perkoro sing nggawe kowe nangis koyo wingi." (Atau... kalau kamu memang merasa sudah tidak betah di sana, Bapak bisa mengurus kepindahanmu. Pindah kampus saja, Nduk. Di Jakarta atau di luar negeri sekalian. Hartanya Bapak ini lebih dari cukup untuk membuatmu hidup mulia dan jauh dari perkara yang membuatmu menangis seperti kemarin).

"Bener kuwi, Nduk," Ibu ikut menyahut, suaranya bergetar halus sembari mengusap lengan Melanie lembut. "Ibu ora tegel ndelok kowe mulih neng omah kanthi mripat abang lan sembab. Wis toh, manut omongane Bapakmu. Kabeh iki demi kebecikanmu dhewé." (Benar itu, Nduk. Ibu tidak tega melihatmu pulang ke rumah dengan mata merah dan sembab. Sudah toh, nurut omongan Bapakmu. Semua ini demi kebaikanmu sendiri).

Tawaran itu terdengar begitu menggiurkan bagi siapa saja yang ingin melarikan diri dari penderitaan. Sebuah tiket emas untuk keluar dari jaring dendam Glen, kembali ke dalam pelukan kemewahan dan melupakan semua caci maki yang ia terima di Tamansari kemarin.

Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah rasa yang menolak untuk menyerah. Melanie mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata ayahnya yang mulai memutih di bagian tepinya. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya, namun kali ini bukan karena rasa takut, melainkan karena sebuah ketetapan hati yang tak lagi bisa digoyahkan.

"Mboten, Pak... Ibu... Melanie mboten kersa pindah kampus," jawab Melanie, suaranya bergetar namun terdengar sangat tegas di dalam keheningan ruangan itu. (Tidak, Pak... Ibu... Melanie tidak mau pindah kampus).

Bapak mengernyitkan dahi, wajah tambunnya menegang. "Lho, kenopo toh, Nduk? Opo kowe isih pengen nemoni bocah sing wis nggawe kowe loro ati kuwi? Dheweke kuwi nggawa dhendam, Melanie! Kowe ora bakal iso urip tenang yen terus-terusan cedhak karo dheweke!" (Lho, kenapa toh, Nduk? Apa kamu masih ingin menemui anak yang sudah membuatmu sakit hati itu? Dia itu membawa dendam, Melanie! Kamu tidak akan bisa hidup tenang kalau terus-terusan dekat dengan dia)!

"Melanie ngertos, Pak. Melanie ngertos sanget yen Glen sengit dumateng Melanie," bisik Melanie, air matanya akhirnya luruh melewati pipi. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa keberaniannya untuk mengakui paradoks terbesar yang kini menguasai jiwanya. "Tapi... teng mriki, teng mboten saged ngapusi ati kula piyambak. Melanie tresna kalih Glen, Pak. Senadyan Glen sengit banget, senadyan Glen pengen ngrusak Melanie... Melanie mboten saged nilaraken dheweke sing saweg sekarat amargi tatanan dhendam meniko." (Melanie tahu, Pak. Melanie tahu banget kalau Glen benci kepada Melanie. Tapi... di sini, saya tidak bisa membohongi hati saya sendiri. Melanie suka sama Glen, Pak. Meskipun Glen benci banget, meskipun Glen ingin merusak Melanie... Melanie tidak bisa meninggalkan dia yang sedang sekarat karena tatanan dendam ini).

Ibunya terlonjak kaget, menutup mulutnya dengan telapak tangan mendengar pengakuan jujur dari sang putri.

Sementara sang bapak hanya bisa terdiam membisu, bersandar pada kursi marmernya dengan pandangan mata yang kosong. Pria tua itu menyadari bahwa jalinan benang merah di antara Melanie dan Glen kini sudah telanjur terikat mati; bukan lagi sekadar perkara harta dua belas tahun lalu, melainkan sebuah labirin rasa yang tak lagi bisa diselesaikan hanya dengan memindahkan raganya ke belahan bumi yang lain.

1
Filan
langsung nembak aja nih Melanie
Filan
terlalu kejam untuk Melanie? untukmu kali
Xlyzy
sadarkan teman mu itu thone
Xlyzy
Kamu fikir naskah mu sudah rapih namun kamu lupa kamu membuat naskah dengan manusia yang memiliki akal dan sifat yang berbeda kamu tidak bisa mengatur mereka sesuai dengan alur yang kamu mau seharus nya kamu punya naskah cadangan antisipasi kalau naskah pertama tidak sukses di eksekusi
-Thiea-
perlahan, tanpa kamu sadari, niatmu itu sudah melenceng dari tujuan aslinya.
-Thiea-
ditantangin langsung sama Melani tuh Glen. kamu melampiaskan kekesalan pada orang yang gak tahu apa-apa. Apakah itu adil?
Mingyu gf😘
wahhh ada apa nih
Three Flowers
kayaknya kehidupan Glen ini ngeri banget sampai dia selalu ngehalu jadi pahlawan, mungkin dia pingin banget menyelamatkan keluarganya tapi tidak berdaya
Mingyu gf😘
iya kalau di pikir pikir buat apa begitu
Mingyu gf😘
Aduhh para cogan kampus🤭
Three Flowers
dia habis ngadepin penjahat terselubung 🤣
Filan
Kok Thone tahu segalanya? Kasihan juga Glen sok misterius padahal semua orang bisa baca dia 😅
Cimol krispy
panjang lebar banget kalimat Melanie dan itu langsung kena ke hati sih harusnya
Cimol krispy
Kenapa Glen? Kamu berfikir Melanie akan terus menjadi kelinci ketakutan yang tidak akan melawanmu
Sarifah_Aini97: Kelinci penakutnya sekarang udah berubah jadi penantang paling telak buat Glen 🤭 Makasih banget ya Kak Cimol udah selalu ngikutin perkembangan karakter Melanie dan Glen sejauh ini 🤭
total 1 replies
Miu.Nuha
selamatkan Glen, Melanie...
dia kayaknya gk benar2 jahat, tapi tersesat 😭😭
Miu.Nuha
karna melanie bukan wanita yang mudah kamu pikirkan bahkan kamu permainkan...
mau dicoba? entar kamu kena mental lagi malah 🤭🤭🤭
Mega Siregar
memang benar... walaupun Melanie tidak tahu apa2, tapi hati Glen pasti sakit melihat kehidupan yg hancur karena orang tua Melanie sedangkan Melanie hidup dengan kecemewahan diatas air mata orang tua Glen..
Mega Siregar
akhirnya, kamu jujur juga, Glen...
pasti beran memendam semuanya sendiri...
ginevra
inikah awal Glen menyukai melanie
ginevra
makjleb banget melanie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!