Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Why?
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Setelah seharian membantu memanen cabai, mereka akhirnya beristirahat di pinggir kebun sambil menunggu waktu pulang.
Adrian dan Dion langsung merebahkan badan di atas rerumputan.
Alya pun ikut menjatuhkan tubuhnya ke tanah yang cukup lapang.
“Aduh… capek banget. Rasanya aku udah nggak sanggup jalan balik ke posko,” Keluh Alya sambil memejamkan mata.
Kevin ikut menghela napas.
“Iya, gue juga. Rasanya pinggang gue udah maU encok,” sahut Kevin sambil mengusap pinggangnya.
Dion langsung tertawa.
“Kalau Alya yang ngeluh masih wajar. Lah lu kan cowok, Vin. Ngapain ikut-ikutan ngeluh?” ledek Dion sambil tertawa.
Kevin langsung mendelik.
“Sejak kapan cowok dilarang ngeluh?”
“Sejak hari ini,” sahut Rizki santai.
Kevin langsung membalas cepat.
“Yang penting gue nggak ngeluh laper.”
Sindiran itu langsung membuat semua orang tertawa karena tahu sedang menyindir Rizki.
Pak Bagas yang melihat mereka ikut tersenyum.
“Makasih ya, Nak, udah mau bantuin panen.”
“Iya Pak, sama-sama,” jawab Arga mewakili yang lain.
“Oh iya, nanti pulangnya kalian naik mobil pick up aja. Mobilnya udah nunggu di depan,” ujar Pak Bagas sambil menunjuk ke arah jalan keluar kebun.
Mata Adrian langsung berbinar.
“Serius, Pak?”
“Iya.”
“Ayo.”
Mendengar itu rasa lelah mereka seolah langsung hilang.
Satu per satu mereka berjalan menuju mobil pick up yang sudah terparkir di pinggir jalan kebun.
Semua berebut naik lebih dulu.
Saat giliran Alya, lagi-lagi ia kesulitan menaiki bak mobil yang cukup tinggi.
Arga yang sudah lebih dulu dia atas langsung mengulurkan tangan.
“Sini.”
Tanpa berpikir panjang, Alya langsung meraih tangan Arga dan naik dengan bantuan cowok itu.
“Makasih.”
Alya kembali memilih duduk di bagian paling belakang, tepat di dekat Arga.
Tak lama kemudian terdengar suara Laura.
“Arga… bantuin aku dong, susah naiknya,” panggil Laura sambil mengulurkan tangannya.
Namun Arga tetap duduk di tempat tanpa bergerak.
“Arga…” panggil Laura sekali lagi.
Dion yang melihat itu langsung menyenggol Arga.
“Udah, gue aja.”
Meski wajahnya jelas menunjukkan rasa malas, Dion tetap berdiri lalu membantu Laura naik ke atas mobil.
Laura hanya tersenyum tipis, meski dalam hati rasa kesalnya semakin bertambah. Setelah berhasil naik, Laura sengaja memilih duduk tepat di depan Alya dan Arga.
Beberapa saat kemudian ia menoleh ke arah Alya.
“Al…”
“Boleh tukeran tempat nggak?”
Alya terlihat bingung.
“Kenapa?”
“Aku mau duduk di situ.”
Sebelum Alya sempat menjawab, Adrian yang sudah terlalu lelah langsung berteriak ke arah sopir.
“Pak… jalan aja!”
Mobil pikap pun mulai bergerak perlahan.
Laura kembali menatap Alya.
“Al, ayo tukeran.”
Alya baru saja hendak bangkit. Namun tiba-tiba Arga menahan lengannya pelan.
“Udah, duduk aja yang bener. Nanti jatuh,” ucap Arga singkat sambil tetap menahan Alya agar tidak berdiri.
Mendengar itu, Alya langsung kembali duduk tanpa banyak bertanya.
Sementara Laura yang melihat pemandangan tersebut hanya bisa mengepalkan tangan pelan karena kesal.
Dion yang duduk di dekatnya ikut menimpali.
“Duduk aja di situ, Lau. Sama aja kok, mau Duduk di sini atau di sana,” ujar Dion santai.
Melihat suasana mulai canggung, Kevin buru-buru mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Eh, kenapa tadi kita nggak lewat jalan sini aja?”
“Jalannya bagus, tuh.”
Rizki langsung menjawab.
“Jauh, Kalau lewat sini muter.”
Suasana sempat kembali tenang.
Namun tiba-tiba Nadia bersuara.
“Lo tega banget sih, Al.”
Alya langsung menoleh bingung.
“Maksudnya?”
“Ya, apa susahnya tukeran tempat sama Laura?”
“Lihat deh…Dia kelihatan sedih.”
Sebelum Alya sempat menjawab, Arga berbicara pelan tanpa mengalihkan pandangan ke depan.
“Nggak usah didengerin.”
Meski diucapkan pelan, beberapa orang yang duduk di sekitar mereka tetap mendengar kalimat itu dengan jelas.
Menjelang sore mereka akhirnya tiba kembali di posko.
Begitu sampai, semuanya langsung berpencar.
Ada yang buru-buru mandi karena tubuhnya penuh debu, ada yang duduk santai sambil minum, dan ada juga yang langsung merebahkan badan di teras karena kelelahan.
Sementara itu, Alya rupanya sudah lebih dulu tertidur pulas di teras posko. Bahkan sepatunya pun masih belum dilepas.
“Buset… nona kota kita udah ketiduran aja,” celetuk Dion begitu melihat Alya.
Adrian ikut menoleh.
“Ya wajar aja. Dia kelihatan capek banget, lagian Alya kan memang nggak biasa kerja seBerat tadi,” ujar Adrian sambil menatap Alya yang masih tertidur pulas.
Beberapa orang mengangguk setuju. Namun tak lama kemudian, perhatian mereka kembali tertuju ke arah Arga hingga semuanya dibuat melongo.
Arga yang sejak tadi lewat begitu saja tiba-tiba berhenti di depan Alya.
Tanpa mengatakan apa-apa, ia berjongkok lalu perlahan melepaskan sepatu dan kaus kaki Alya agar gadis itu bisa tidur lebih nyaman.
Belum berhenti sampai di situ.
Arga kemudian menggulung sweter miliknya dan menyelipkannya di bawah kepala Alya sebagai bantal.
Suasana langsung mendadak hening.
Dion pelan-pelan menyenggol Adrian.
“Buset… kalau begini terus, kayaknya bakal ada yang cinlok nIh,” bisik Dion pelan sambil menyenggol lengan Adrian.
Adrian menahan tawanya.
“Orangnya sih dingin terus mukanya kaku, tapi kalau soal perhatian… nggak main-main,” bisik Adrian sambil menahan tawa.
Keduanya langsung cekikikan pelan.
Tak lama kemudian Dimas keluar dari dalam posko sambil membawa handuk. Begitu melihat pemandangan di depannya, ia langsung berhenti.
“Buset... gue ketinggalan adegan apa nih?” tanya Dimas sambil menatap bingung ke arah Arga dan Alya.
Tak ada satu pun yang menjawab pertanyaan Dimas. Mereka hanya saling panDang sambil menahan tawa melihat ekspresi bingungnya.
Seolah tidak peduli dengan tatapan mereka, Arga berjalan beberapa langkah lalu duduk bersandar di tiang teras, tidak jauh dari tempat Alya tertidur.
Sementara itu, di sudut lain, Laura hanya bisa memandang ke arah mereka dengan rahang yang mengeras.
Rasa iri dan cemburu di dalam hatinya semakin sulit disembunyikan.
Nadia yang duduk di sampingnya mencondongkan badan lalu berbisik pelan.
“Lo harus gerak cepat, Ra.”
Laura tidak menjawab.
Tatapannya masih tertuju pada Alya, dipenuhi rasa iri yang perlahan berubah menjadi kebencian.
Laura memejamkan matanya pelan.
Entah kenapa…
setiap melihat Alya, ada perasaan sesak yang selalu muncul di dalam dadanya.
Kenapa…
kenapa Alya seberuntung itu?
Dari keluarga…
harta…
sampai sekarang Arga.
Semua seolah selalu berpihak kepadanya.
Padahal Laura juga bukan berasal dari keluarga yang kekurangan. Namun kekayaan yang ia miliki sekarang bukanlah sesuatu yang sudah ada sejak kecil.
Semuanya baru berubah setelah ibunya menikah lagi dengan seorang pengusaha.
Sebelumnya…
Laura tahu betul bagaimana rasanya hidup serba pas-pasan.
Bahkan setelah memiliki ayah tiri sekalipun, hidupnya tidak pernah benar-benar mudah.
Sejak kecil ia selalu dituntut menjadi anak yang sempurna.
Nilainya harus tinggi.
Prestasinya harus bagus.
Sikapnya harus terjaga.
Semua itu hanya agar ayah tirinya mau menganggap dan menerimanya sebagai anak.
Ibunya pun tak pernah berhenti menekan dirinya.
Jangan bikin malu.
Harus jadi yang terbaik.
Harus sempurna.
Kalimat itu terus menghantui masa kecilnya.
Karena itulah Laura selalu berusaha tampil paling baik di hadapan semua orang.
Namun semuanya berubah sejak ia mengenal Alya. Mereka pernah bersekolah di lingkungan yang sama.
Saat itu Alya masih duduk di bangku SMP, sedangkan kedua kakaknya sudah SMA. Meski gedungnya berbeda, sekolah SMP dan SMA mereka berada dalam satu kawasan.
Di sanalah Laura pertama kali melihat sesuatu yang tidak pernah ia miliki.
Ke mana pun Alya pergi…
kedua kakaknya hampir selalu menyempatkan diri datang menemuinya.
Kadang hanya untuk mengantar makanan.
Kadang sekadar memastikan adiknya baik-baik saja.
Kadang hanya mengobrol beberapa menit sebelum kembali ke kelas.
Awalnya Laura berpikir…
semua itu akan berhenti ketika kedua kakak Alya lulus sekolah.
Namun ternyata ia salah.
Perhatian mereka tidak pernah berkurang.
Papinya begitu menyayangi Alya.
Kedua kakaknya selalu mendukung apa pun yang ia lakukan.
Semua kasih sayang itu begitu tulus…
sesuatu yang diam-diam selalu Laura inginkan, tetapi tidak pernah benar-benar ia rasakan.
Kalau memang benar tidak ada manusia yang hidupnya sempurna…
lalu kenapa Alya terlihat memiliki hampir semuanya?