Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Lima Belas
“Hana memilih bangkit sendirian, tanpa tahu, di saat yang sama, suaminya sedang memilih wanita lain untuk menggantikan posisinya.”
Perintah itu akhirnya benar-benar dijalankan tanpa celah.
Dua hari setelah laporan awal, pintu ruang kerja Arsaka kembali diketuk. Kali ini ketukannya terdengar lebih ragu dari biasanya.
“Masuk.”
Pintu terbuka perlahan. Bawahannya melangkah masuk, membawa map tebal dan sebuah tablet di tangannya. Wajahnya terlihat lebih serius, seolah informasi yang dibawa bukan lagi sekadar laporan biasa.
“Pak … kami sudah menemukan lokasi tempat tinggalnya.”
Arsaka yang semula berdiri membelakangi langsung berbalik. Tatapannya tajam, penuh tekanan.
“Di mana?”
“Di daerah kontrakan, Pak. Lingkungannya sederhana, cukup jauh dari rumah lamanya.”
Arsaka berjalan mendekat. “Sendiri?”
“Iya, Pak. Dia tinggal sendiri.”
Jawaban itu membuat langkah Arsaka terhenti sesaat.
“Tidak ada orang lain? Tidak ada yang datang?”
“Sejauh ini tidak ada, Pak. Kami sudah pantau dari jauh. Aktivitasnya cenderung stabil.”
“Stabil seperti apa?” nada Arsaka mulai terdengar tidak sabar.
Bawahannya menelan ludah sebentar sebelum menjelaskan, “Dia lebih banyak di rumah. Kadang keluar beli kebutuhan. Selebihnya kerja dari laptop. Sepertinya dia mulai jualan online lagi.”
Arsaka mengambil tablet itu tanpa menunggu dipersilakan. Ia menggeser layar dengan cepat.
Foto pertama. Hana duduk di depan kontrakan kecilnya. Mengenakan kaos longgar, rambut diikat seadanya.
Foto kedua. Hana membawa kantong belanjaan, wajahnya datar.
Foto ketiga. Hana duduk di lantai, laptop di depannya, fokus menatap layar.
Tidak ada senyum. Tidak ada air mata. Hanya diam.
Arsaka menyipitkan mata. “Dia terlihat berbeda,” gumamnya.
“Pak?”
“Tidak seperti malam itu.”
Bawahannya tidak menjawab. Arsaka menghela napas pelan, lalu meletakkan tablet itu di meja dengan suara cukup keras.
“Teruskan pengawasan.”
“Baik, Pak.”
Arsaka terdiam beberapa detik, lalu menambahkan dengan nada yang lebih rendah, lebih dingin.
“Kirim satu atau dua orang khusus.”
Bawahannya sedikit terkejut. “Maksud Bapak …?”
“Awasi dia selama 24 jam.”
Ruangan mendadak hening. “Pak … full monitoring?”
“Iya,” jawab Arsaka tanpa ragu. “Aku mau tahu semuanya. Dia keluar jam berapa. Ketemu siapa. Ngapain saja. Jangan ada yang terlewat.”
Nada itu bukan lagi sekadar penasaran. Itu sudah menjadi obsesi kecil yang mulai tumbuh tanpa ia sadari.
“Baik, Pak. Akan kami atur.”
“Dan satu lagi,” Arsaka kembali bersuara sebelum bawahannya keluar. “Jangan sampai dia sadar.”
“Siap, Pak.”
Pintu tertutup lagi setelah bawahannya pamit. Arsaka berdiri sendiri lagi. Ia kembali menatap tablet itu, lalu tanpa sadar mengusap layar pada foto Hana.
“Kenapa kamu seperti ini …?” bisiknya pelan.
—
Hari pertama laporan penuh masuk.
“Pagi, Bu Hana bangun sekitar jam tujuh. Membersihkan rumah. Tidak ada aktivitas mencurigakan.”
Hari kedua. “Bu Hana mulai menerima paket barang. Kemungkinan stok jualan.”
Hari ketiga. “Bu Hana aktif membalas pesan di laptop selama berjam-jam.”
Hari keempat. “Bu Hana sempat keluar sore hari. Membeli makanan. Tidak bertemu siapa pun.”
Hari kelima. “Bu Hana terlihat duduk lama di depan rumah. Tidak melakukan apa-apa. Hanya diam.”
Laporan itu terus berlanjut. Hari demi hari. Tanpa jeda. Tanpa perubahan berarti.
—
Dua minggu berlalu.
Arsaka duduk di kursinya, membaca laporan terbaru dengan ekspresi yang semakin sulit ditebak.
“Tidak ada interaksi dengan suaminya tidak ada kontak langsung aktivitas tetap stabil.”
Ia melempar laporan itu ke meja.
“Dua minggu …,” gumamnya.
Tangannya naik, mengusap wajah kasar.
“Dua minggu dia tidak pulang dan tidak ada yang mencarinya?”
Ia mengangkat kepala, menatap bawahannya yang berdiri di depannya..“Suaminya?”
“Masih di rumah, Pak.”
“Tidak mencari?”
“Sejauh ini tidak ada pergerakan signifikan, Pak.”
Arsaka tertawa kecil. Sinis. “Menarik.”
“Pak?”
“Wanita itu pergi sendirian. Hidup sendiri. Mulai dari nol lagi.” Arsaka menatap kosong ke depan. “Dan suaminya diam saja?”
Tidak masuk akal. Atau Memang ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar pertengkaran?
“Cari tahu tentang hubungan mereka,” ucapnya tiba-tiba.
“Baik, Pak.”
“Detail,” lanjut Arsaka. “Aku mau tahu mereka ini sebenarnya seperti apa.”
Bawahannya mengangguk cepat. “Siap.”
Pintu tertutup lagi setelah bawahannya pamit. Dan untuk kesekian kalinya, nama Hana kembali memenuhi pikirannya.
—
Di tempat lain, suasana jauh berbeda. Rumah besar itu tidak lagi terasa seperti rumah. Lebih seperti medan perang tanpa suara.
“Mama tidak mau tahu, Farhan!”
Suara Mama Meri menggema di ruang tengah. Farhan berdiri di depannya, wajahnya terlihat kusut. Rambutnya berantakan, matanya lelah.
“Ma, aku belum cerai dengan Hana.”
“Lalu kenapa?” balas Mama Meri cepat. “Apa itu alasan untuk diam saja?”
Farhan menghela napas panjang. “Aku cuma butuh waktu.”
“Waktu untuk apa?” suara Mama Meri meninggi. “Menunggu dia kembali?”
Farhan diam. Tidak mau menjawab. Dan itu cukup untuk membuat Mama Meri semakin kesal.
“Dia pergi dari rumah tanpa izin, Farhan!” tekan Mama Meri. “Istri seperti itu masih kamu pertahankan?”
Farhan mengepalkan tangan.
“Dia bukan seperti itu, Ma .…”
“Lalu seperti apa?” potong Mama Meri tajam. “Kalau bukan durhaka, apa namanya meninggalkan suami begitu saja?”
Kata “durhaka” itu menggantung di udara. Terdengar berat dan menusuk. Dari arah tangga, langkah kaki pelan terdengar. Ia adalah Chika.
Ia berdiri di sana, tidak berani mendekat, tapi juga tidak pergi. Matanya menatap Farhan. Penuh harap dan kecemasan.
Mama Meri meliriknya sekilas, lalu kembali fokus ke anaknya. “Lihat Chika,” ucapnya lebih pelan tapi menekan. “Dia tidak pernah meninggalkan kamu.”
Farhan memejamkan mata sebentar. Terasa pusing. Semua terasa menekan dari berbagai arah.
“Aku tidak bisa buru-buru, Ma…”
“Bukan buru-buru!” Mama Meri memotong keras. “Ini keputusan!”
Farhan menatap ibunya. “Ini hidupku.”
“Dan Mama tidak mau lihat kamu hancur karena wanita yang tidak tahu diri!”
Suasana kembali sunyi. Tegang. Chika menunduk, air matanya mulai jatuh perlahan.
“Ma … cukup,” gumam Farhan.
Tapi Mama Meri tidak berhenti.
“Kalau kamu belum bisa cerai sekarang…” suaranya menurun, lebih dingin, “nikah siri saja.”
Farhan langsung menatap tajam. “Ma!”
“Itu solusi,” lanjutnya tanpa ragu. “Daripada kamu terus digantung seperti ini.”
Farhan menggeleng. “Pernikahan bukan main-main.”
“Justru karena bukan main-main!” bentak Mama Meri. “Mama tidak mau kamu terus hidup dalam ketidakjelasan!”
Farhan terdiam lagi. Bayangan Hana kembali muncul.Cara dia pergi, tanpaA tidak menoleh.
Dan kalimat itu … “Aku yang akan mundur.”
Dadanya terasa sesak. Sementara di depan, Chika menangis diam-diam.
Farhan masih mau menunggu. Selalu menunggu. Farhan tampak mulai merasa lelah. Sangat lelah dengan semua ini.
Dengan ketidakpastian penantiannya dan rasa bersalah. Dengan semuanya. Keheningan panjang itu akhirnya pecah.
“Baiklah, Ma .…”
Suara Farhan pelan. Tapi cukup jelas untuk didengar. Mama Meri langsung menatapnya. “Apa?”
Farhan mengangkat kepala. Matanya masih ragu, tapi ada keputusan di sana.
“Aku akan nikahi Chika segera.”
Chika membeku mendengar ucapan Farhan. Air matanya jatuh lebih deras.
“Bener, Han …?” suaranya bergetar.
Farhan tidak langsung menjawab. Tapi kali ini, ia tidak menarik ucapannya.
Mama Meri tersenyum puas. Akhirnya keputusan itu diambil sang putra.
Tanpa mereka sadari, di tempat lain, seorang wanita sedang berjuang memperbaiki hidupnya. Tanpa tahu bahwa hidup yang ia tinggalkan perlahan benar-benar digantikan.
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....