Zahra Syariah zalza Bila adalah seorang anak broken home, ia anak yg di besarkan oleh ibunya sebatang kara, akibat orang tuanya yang berpisah di usia dimn anak lain masih mendapatkan peran kedua orang tua nya, Zahra harus mencari peran itu dari orang² terdekat nya, namun sifat Zahra yang selalu susah di atur dan selalu membuat masalah bagi ibunya di tambah ibu nya juga yg sudh tua, ibunya pun harus menikah kan Zahra dengan seorang duda yang bernama Ansar zuliyan kerna menurut nya Ansar akan mampu mendidik Zahra di dalam proses menuju dewasa.....
di bacaa ya teman teman biar tau Gimn kelanjutan kisahnya Zahra dan Ansar.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bini pond, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
masa lalu kak Ansar?
setelah acara pertunangan Itu keluarga Ansar pun berpamitan kepada keluarga Zahra terutama kepada kakek dan neneknya untuk pulang ke rumah mereka .
"kalau begitu kami pulang ya Bu ya untuk acara pernikahan anak kita nanti nanti saja kita bahas lagi selamat malam bu,pak"ucap Ibu Ansar masuk ke dalam mobil duluan dengan diikuti Ayah Ansar mereka hanya pergi bertiga Ayah Ibu dan Ansar sedangkan Dimas dan istrinya dan anak mereka tidak ikut.
"kalau begitu aku pulang ya Ra kamu istrahat juga ya"ucap Ansar mengusap anak rambut Zahra.
"kalian hati' ya nak ansar"ucap kakek Hasan yang berdiri tepat di samping sang istri.
"kamu juga istrahat ya kak"ucap Zahra yang mengambil tangan Ansar untuk menyalin nya.
mobil yang dikendarai keluarga Ansar menjauh meninggalkan kawasan rumah Zahra.
Zahra yang meliat itu merasa hatinya sangat berbunga bunga, orang menemani nya sedari SMA, yang menemani di saat susah nya dirinya akan menjadi suaminya kelak. Namun disatu sisi Zahra sedih, bahkan di acara tunangan nya mama dan bapak tidak ada untuk menemaninya bagaimana jika dia nikah nanti apakah orang itu akan datang.
Up
Tak ingin berlarut-larut, Zahra Pun beristirahat di kamar nya. Dia merebahkan badannya setelah membersihkan diri.
Dia mencoba tidur, namun rasa ngantuk nya serasa hilang entah kemana.
Zahra mengambil ponsel dan memainkan hp nya.
dia membuka aplikasi hijau, disaat ada pesan masuk dengan nomor yang tak di kenal.
"siapa ini"gumamnya, dia membuka pesan aneh dari orang asing tersebut mengirimkannya pesan yang berisi "jalang kecil perebut cowo orang ".
Merasa tak terima dia pun mengirimkan pesan kembali kepada orang itu.
"enak aja aku dibilang jalang"ucapnya sambil mengetik untuk mengirim pesan di aplikasi hijab tersebut.
Zahra mengirimkan pesan kepada orang itu, "siapa yang merebut milikmu sialan".
Zahra yang merasa tak memiliki masalah dengan perempuan lain mulai berpikir siapakah perempuan itu. hingga pikirannya menangkap Ansar dengan masa lalunya.
dia mencoba mengingat waktu masa SMA nya dulu, seingatnya Ansar hanya punya mantan istri yang mereka berdua sama-sama sudah bercerai dan berdamai sekarang. Jadi siapa perempuan yang mengchatnya ini.
tidak mungkin anak Ansar Ansar sendiri tidak punya anak dengan mantan istrinya, dan kalaupun anak Ansar anaknya tidak bakal mengetik kata seperti itu.
"siapa sih orang itu!"merasa frustasi tak menemukan jawaban di otaknya ia membandingkan dirinya kekasih sendiri memandang langit-langit di atas kamarnya.
"apa Om Ansar punya masa lalu selain sama mantan istrinya doang"gumam Zahra sembari memeluk bantal guling.
sedangkan di tempat lain seorang wanita dengan tubuh yang sangat ramping bak gitar Spanyol, tersenyum ke arah ponselnya saat melihat balasan dari wanita yang baru saja dia chat.
"aku akan merebut kembali milikku jalang kecil!" guman wanita tersebut tersenyum miring, meremehkan.
"Calista, apa yang kamu senyumin?"ucap seorang pria melihat ke arah wanita yang memiliki tubuh bak gitar Spanyol itu tersenyum sendirian.
wanita itu bernama Calista Dila Winda, seorang model yang sempat memiliki hubungan dengan Ansar, namun hubungan itu sudah sangat lama bahkan saat Ansar belum menikah dengan Azizah.
saat memiliki hubungan dengan Ansar, bahkan sebelum Ansar menikah dengan Azizah calista lah yang pergi lebih dulu dari Ansar, Calista pergi dengan alasan ingin meningkatkan karirnya sebagai model di negeri orang.
Ansar sendiri tak bisa menolak, bahkan Ansar tidak tahu saat Calista pergi meninggalkannya ke luar kota begitu saja. Ansar tahu setelah salah satu temannya Calista memberitahunya bahwa Calista sedang meningkatkan bakatnya di negeri orang, dan saat itu juga Calista sudah berada di Amerika Serikat.
Ansar yang mendengar itu sangat kaget karena perginya Calista tidak memberitahunya sama sekali, bahkan mereka sempat putus kontak dan saat itu juga Ansar merasa bahwa hubungan mereka juga telah putus.
sedangkan pria yang menegur Calista adalah calon suami Calista yang dinikahkan dengan keluarga Calista sendiri. mereka juga sudah bertunangan lebih dulu sebelum Ansar bertunangan dengan Zahra.
pria itu bernama, Gilang Angga Pratama, yang bekerja sebagai seorang Intel.
"nggak ada aku cuma merasa bahagia kita sekarang sudah bertunangan dan sebentar lagi kita akan menikah"ucap Calista yang mengayunkan tangan di leher gilang.
"apakah kamu serius kamu tidak menutupin apapun dari aku kan?"tanya Gilang yang merasa tingkah Calista begitu aneh dan membuatnya curiga.
"nggak ada sayangku"ucapkan Calista dan mencium pipi Gilang.
Gilang yang dilakukan seperti itu kepada tunangan nya sendiri pun percaya.
"kamu jangan aneh-aneh sebentar lagi kita akan menikah sayang"ucap bilangnya menggendong Calista ke atas kasur.
"kamu yang aneh bukan aku!"ucap Calista saat Gilang melemparnya ke atas kasur.
Gilang dan Calista pun melakukan hubungan suami istri. mereka menghentikan kegiatan itu setelah pukul 05.00 pagi.
"aku capek!"ucap Calista yang meletakkan kepalanya di dada bidang Gilang.
"maaf sayang"ucap Gilang yang mencium kening Calista dan memeluknya.
....
Derrr derr derr
suara getaran ponsel menyadarkan Zahra, ponsel itu bergetar tepat di samping dia tidur. tanpa melihat itu panggilan dari siapa dia mengangkat panggilan itu.
"halo?"ucapnya dengan suara baru bangun tidur.
"bangun sayangku sudah pagi ini mandi, katanya mau daftar kuliah hari ini jadi nggak?"ucap pria membangunkan Zahra.
Zahra yang disuruh bangun begitupun melihat nama siapa yang meneleponnya di jam 05.00 pagi.
Ansar!!.
"apa sih Om ini masih jam 05.00 mana ada orang daftar kuliah jam 05.00!"ucap Zahra marah-marah saat melihat nama yang meneleponnya dan melihat jam.
"hehehe, bangun aja sayang siap-siap nanti aku antar"ucap Ansar yang terdengar sangat lembut.
"Om aneh bangunin orang jam 05.00 begini ah orang masih ngantuk!"ucap Zahra mengomel sembari memeluk bantal guling dan membenarkan selimutnya.
"ya siap-siap sayang biar kamu nggak telat nanti"ucapan Ansar yang sangat lembut kepada Zahra.
"nanti Om aku masih ngantuk"ucap Zahra dengan suara yang sangat lemas.
"emang tadi malam kamu tidur jam berapa sayang? terima dulu video call aku ini"ucap Ansar yang menanyakan jam berapa tadi malam dia tidur dan memintanya mengubah telepon menjadi video call.
Ansar melihat Zahra yang masih mengenakan baju tidur belum pendek dengan selimut berwarna biru yang menutupi setengah dadanya.
sedangkan Zahra melihat Ansar yang sedang duduk di di sofa. dengan outfit yang menunjukkan bahwa saja Ansar baru saja pulang dari jalan.
"Kamu dari mana pakai baju kayak gitu?"tanya Zahra yang tak tenang apalagi semalam dia mendapatkan pesan dari orang yang dia tidak kenal sendiri.
"aku habis ngantar sawit punyanya teman kakek sayang"ucap yang menatap layar yang menunjukkan wanita nya.
"jangan ngeliat aku kayak gitu aku malu!"ucap Zahra yang mengalihkan menjadi kamera belakang.
"raa, jangan gitu kameranya aku nggak ngelihat muka kamu"tegur Anshar yang melihat lemari Zahra.
"ya siapa suruh lihat aku mukanya kayak gitu kayak orang sange Om!"ucap Zahra yang tetap mengarahkan kamera ke belakang.
"apa sih Ra om-om terus, kamu mau jadi sugar baby aku kh"
"jelek banget om-om aku kayak orang pedofil yang suka sama anak kecil kayak kamu tahu nggak"sambung Ansar.
"biarin aja om om pedofil emang kamu tuh!"ucap Zahra yang membalik kamera menjadi kamera depan.
Zahra tersenyum aneh saat melihat wajah Anshar dari layar ponselnya terlihat begitu cemberut dan dibuat-buat seolah-olah Ansar sangat sedih dengan perkataan Zahra.
"aku sedih banget diginiin sama calon istri aku jahat banget kamu"ucap Ansar yang membuat suaranya seolah-olah menahan tangis.
"ututu jelek banget sih Om kayak gitu haha"ucap Zahra yang merasa senang membuat Ansar seperti itu.
"tuh kan Om lagi ah kamu mah memang jahat Raa"ucap Anshar yang seperti kenak-kanakan.
"iya deh nggak gitu lagi maafin ya sayangku"ucap Zahra yang langsung mematikan panggilan video call itu. dia merasa malu memanggil Ansar dengan sebutan sayang.
sedangkan di tempat Ansar, Ansar yang dipanggil seperti itu hanya merasa senang dan bahagia dipanggil dengan kata sayang dengan wanita yang dia cintai.
"lucu banget anjir, nikahi sekarang boleh nggak sih"ucapnya yang bertanya pada diri sendiri.
sedangkan Zahra yang baru saja mematikan video call-nya dengan Ansar, kembali mengecat Ansar.
Zahra memberitahu Ansar bahwa jemput dia jam 06.30. bersiap-siap untuk pergi mendaftar kuliah dan melengkapi formulir untuk pendaftarannya.
setelah semua itu dilakukan dia turun ke bawah tangga dan melihat kakek dan neneknya yang sudah mengoleskan selai di roti mereka dengan selai yang berbeda-beda.
"selamat pagi cucu nenek yang cantik"ucap nenek Siti Zahra duduk ikut bergabung sarapan pagi bersama, nenek Siti memberikan roti yang sudah diberi selai coklat kepada Zahra.
"pagi nek kakek"ucap Zahra yang menerima pemberian roti yang di selai coklat milik Nenek Siti.
"Jadi gimana Kamu mendaftar lagi sama siapa Nak?"tanya kakek kepada Zahra.
"Zahra nanti daftarnya ditemenin sama kak Ansar kek"ucap Zahra yang sedikit malu-malu.
"haha nenek merasa aneh kamu manggil orang itu dengan sebutan kakak biasa juga kamu panggil Dia om"ucapkan ya Siti sembari memakan roti dan meminum teh miliknya.
"hahaha kakek pikir kamu nggak mau loh Ra nikahin sama nak Ansar"ucap kakek Hasan yang sempat khawatir takut Zahra menolak saat dia menjodohkannya dengan Ansar.
"enggak kok kek"ucap Zahra yang entah harus berkata apa lagi.
"syukurlah dan untuk pernikahan kamu mungkin akan cepat kan sebelum kamu lulus kuliah Kamu sendiri gimana keberatan nggak Nak?"tanya kakek Hasan.
saat mendengar itu Zahra sedikit kaget, namun dia sendiri juga takut kalau perempuan yang mengecatnya semalam akan kembali merebut miliknya yang mungkin dimaksud perempuan itu menurut Zahra adalah si Ansar ini.
"nggak papa kek lebih cepat kan mungkin lebih bagus"ucap Zahra yang khawatir takut perempuan yang mengecat nya semalam merebut Ansar darinya.