NovelToon NovelToon
Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Pengkhianatan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lautan Ungu_07

Judul sebelumnya: Obsesi Sahabat Suami.

Regan Han Sebastian dikirim Dady-nya dari Singapura ke Indonesia untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Alvero Halim Winata, sahabat sekaligus orang yang paling ia hormati.

Semua berjalan sesuai rencana... hingga Alvero mulai selalu melibatkan kehadiran Regan dalam rumah tangganya.

Kehangatan sebuah keluarga. Tawa seorang anak kecil. Dan perhatian sederhana dari seorang wanita bernama Veyra Alettha, istri dari Alvero.

Regan berusaha menjaga jarak, saat ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan kepada siapapun. Ia bahkan memilih kembali ke Singapura demi melupakan semuanya.

Namun saat kembali ke Indonesia, yang pulang bukan lagi Regan yang sama.

Ia membawa perasaan yang tak pernah ia inginkan.

Perasaan yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan terhadap satu-satunya sahabat yang paling ia hormati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Perjaka Murni

Begitu tiba di penthouse, Regan langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa besar ruang keluarga. Sedangkan Sofia dan Raymond langsung masuk ke kamar mereka.

Lampu kristal menyala tenang. Cahayanya jatuh ke wajah Regan. Ia menatap langit-langit, satu tangan di dahi dan satu lagi di atas perut.

"Kenapa harus begitu formal?" Gumamnya lirih. "Harusnya seperti biasa saja." Lanjutnya.

Regan menghemat napas kecil. "Pak Al. Pak Al. Pak Al. Apaan?" Katanya lagi.

"Kenapa jadi seperti ini?"

Ia kembali diam, beberapa menit berlalu. Pintu kamar terdengar dibuka. Sofia keluar dengan stelan yang jauh lebih natural. Baju dresnya sudah berganti dengan piyama. Dan rambutnya sudah di gerai.

Makeup sudah sepenuhnya hilang dari wajah blasteran China dan India itu.

Sofia menghapiri Regan, di tangannya membawa segelas teh tawar hangat.

Begitu ia berdiri di sisi sofa, Sofia langsung membuang napas pelan. "Kamu masih mikirin kecurigaan, Dady?" Tanyanya.

Membuat Regan langsung duduk. "Nggak!" Jawabnya, terlalu cepat untuk orang yang sedang berbohong.

Sofia menyimpan gelas berisi teh itu di meja, kemudian ia duduk di sebelah putranya.

"Kenapa sampai harus dipikirkan? Kamu tahu..." Sofia menatap Regan lebih dekat. "Tingkah kamu saat makan malam tadi terlihat lebih aneh." Lanjutnya sambil tertawa kecil.

"My, untuk kecurigaan apapun bisa aku atasi. Tapi kalau sampai aku dikira gay... apa aku harus biasa saja?"

Tawa Sofia sontak mengencang. Membuat Regan menatapnya heran.

Tak lama dari itu, Raymond muncul dari dalam kamar. Rambutnya masih sedikit basah.

"Dear, anakmu masih kepikiran soal itu," kata Sofia di sela tawanya.

Raymond hanya terkekeh. Ia duduk di sisi kiri Regan.

"Anak ini!" Ia menyentil kening Regan pelan. "Dady cuma bilang kamu suka Alvero, bukan kamu cinta Alvero."

Regan langsung menoleh. "Tapi Dad, itu sama saja."

"Jelas beda. Suka itu umum, bisa diberikan kepada siapa saja. Kalau cinta hanya untuk orang-orang pilihan." Jelas Raymond. Sekarang ia seolah mencari jalan keluar atas candaan yang ia buat malam kemarin.

"Regan, kalau kamu tidak merasa. Kamu tidak perlu mengubah apapun. Kecuali kalau kamu memang merasa." Lanjut Raymond.

Regan akhirnya diam. Ia hanya menatap permukaan meja kaca. Pikiran seperti baru saja terbuka, kalau ia memang salah mengartikan.

"Jadi... lebih baik aku bersikap seperti biasanya?" Tanya seperti anak polos.

Sofia langsung mengangguk.

"Iya, karena kalau kamu seperti tadi. Kamu akan terasa aneh," sahut Raymond.

Ekspresi Regan kini berubah. Yang awalnya seperti kebingungan, sekarang justru ia hanya tersenyum. Tapi entah untuk apa.

Beberapa detik mereka hanya diam. Sofia sesekali menyesap teh tawar yang mulai hangat.

"Tapi, Regan. Di usia kamu sekarang, harusnya kamu sudah punya pacar. Apa kamu punya?" Tanya Sofia.

"Apakah harus? Aku tidak ingin berpacaran." Jawab Regan tanpa menoleh.

Sofia nyengir kecil. Tatapan jahilnya jatuh ke suaminya.

Sebelum kembali berbicara, Sofia berdehem kecil. "Hmm, tapi... kalau kamu normal... apa kamu pernah tidur bareng perempuan?"

Mata Regan membulat, mulutnya sedikit terbuka. Kepalanya bergerak pelan menoleh ke Sofia.

"My, apa tidak apa pertanyaan lain?" Suara Regan mulai naik satu oktaf, ia mulai frustasi.

"Dear, sepertinya aku punya ide untuk mengetes anak ini. Normal atau tidak?" Tatapannya beralih ke Raymond yang mulai nyengir kecil.

"Honey, aku harap kamu jangan membuat anak ini stres lagi."

Regan langsung menoleh ke Raymond, dengan ekspresi kesal.

"Tidak! Tapi kita sewa satu perempuan, lalu kita kurung mereka di kamar..."

"Lalu, aku menidurinya. Kemudian dia pergi begitu saja. Setelah beberapa tahun, dia datang kembali sambil membawa anaknya. Dan ternyata anak itu, anak dari seorang pewaris tunggal kaya raya." Potong Regan, ia berbicara cepat. Membuat Sofia melongo dan Raymond tertawa.

Regan berhenti sebentar, ia menarik napas. "My, tidak usah aneh-aneh. Cerita konyol itu hanya ada di drama Negara Opa."

"Tidak aneh, Mamy hanya memastikan."

"Tapi aku tidak ingin melakukan itu sebelum menikah. Aku masih perjaka murni."

"Di jaman sekarang, dan usia kamu sudah dua puluh tujuh tahun, itu sangat aneh..."

 "Tidak aneh, karena aku masih bisa melakukannya sendiri." Regan menutup kedua telinganya, matanya terpejam. Dan dengan cepat memotong ucapan Sofia.

Mulut Sofia ternganga. Matanya membulat sempurna.

Sementara Raymond hanya tertawa sampai perutnya sakit dan wajahnya merah. Ia berdiri dari duduknya, "honey, anakmu itu," katanya sebelum pergi menuju kamarnya.

Sofia membuang napas. "Ahh, baiklah. Mamy merasa lega kalau kamu normal." Ucapnya sambil berdiri. Dan mengikuti Raymond masuk ke kamar.

Setelah mendengar pintu kamar tertutup. Regan menurunkan tangannya. Perlahan ia membuka matanya.

Regan melamun beberapa detik, sebelum akhirnya ia tertawa sendiri. Ia kembali berbaring, kali ini menutup wajahnya dengan bantal sofa.

"Kenapa aku konyol sekali." Bisiknya.

Setelah obrolan ketiga manusia memenuhi ruangan. Sekarang kembali hening. Bahkan, Regan pun sudah tertidur.

...****************...

Hari berikutnya kembali datang. Jam sudah menunjukkan pukul 10:45 siang hari.

Mobil Regan perlahan memasuki kawasan bandara. Setelah melewati beberapa pemeriksaan keamanan, mobil mereka berbelok ke area yang jauh lebih sepi.

Sebuah bangunan kaca dua lantai berdiri di sana. Tidak terlalu besar, tapi terlihat mewah dan private.

Beberapa mobil lain terparkir rapi di depan pintu masuk. Sementara petugas berseragam sudah menunggu di bawah kanopi.

Sofia baru saja turun saat petugas menghampiri.

"Selamat siang, Bu Sofia."

Petugas itu langsung mengambil koper-koper mereka.

Sofia hanya mengangguk sambil terus menggenggam tangan Regan. Seolah takut anak itu kabur sebelum sempat dipeluk lagi.

Di dalam lounge jauh lebih tenang dibanding terminal umum. Sofa-sofa krem tersusun rapi. Aroma kopi memenuhi ruangan.

Jendela besar menghadap langsung ke landasan. Dari sana, jet putih milik keluarga Raymond sudah terlihat.

Beberapa menit kemudian, petugas datang untuk memeriksa dokumen perjalanan mereka. Paspor diperiksa, dan data penerbangan dikonfirmasi.

Setelah semuanya selesai, mereka kembali duduk di lounge.

Sofia duduk di samping Regan. Tangannya terus membetulkan kerah putranya. Padahal kerah itu sudah rapi sejak tadi. Sesekali ia mengusap rambut Regan. Membuat Regan mendesah pelan.

"My, kerahnya sudah rapi." Protes Regan lirih.

Sofia hanya tersenyum lembut. Tangannya mulai dingin.

"Kamu mau ikut pulang sekarang?" Tanya Sofia. Suaranya jauh lebih pelan dari biasanya.

Regan tidak langsung menjawab, ia menatap wajah Mamynya sedikit lebih lama. "Nanti, ya. Aku masih punya tanggung jawab sama Alvero. Aku belum dapat dua investor itu."

Sofia terkekeh pelan. "Sudah dewasa ternyata." Air matanya semakin menggenang.

Regan tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lebar. Tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.

Salah satu petugas datang menghampiri mereka.

"Pak Raymond, pesawat sudah siap."

Raymond tersenyum kecil sambil berdiri. "Baik, terima kasih."

Sofia ikut berdiri sambil terus menggenggam tangan Regan. Langkahnya seolah semakin berat.

Begitu keluar dari gedung. Cahaya matahari langsung menyambut.

Di depan mereka, jet pribadi berwarna putih sudah menunggu dengan tangga yang sudah di turunkan.

Langkah mereka berhenti, Raymond berdiri di depan Regan. Pria paruh baya itu menatap putranya dalam.

Ia menepuk pundak Regan. "Jaga kesehatan. Kerja yang bener. Jangan bikin ulah lagi. Berpikir dulu sebelum bertindak."

Regan tersenyum lebar. Ia mengangguk. "Iya Dad. Tapi naikin uang bulanan aku juga, ya."

Raymond tertawa getir. Ia menyentil kening Regan. "Anak nakal."

Tatapan Raymond belum beralih dari wajah Regan. Anak itu sudah dewasa, tapi baginya tetap saja. Itu hanya seorang anak manja.

Sofia yang dari tadi berusaha menahan air mata. Kini luruh juga, air mata terus jatuh tanpa henti.

"Makan teratur, ya. Jangan minum kopi terus. Kalau lagi sakit... langsung telpon Mamy, ya."

Pertahan Regan juga perlahan runtuh. Matanya terasa panas. Tenggorokannya tercekat. "Iya, My."

"Tubuh kamu kurusan. Jangan sampai... pas nanti kita ketemu lagi. Tubuh kamu semakin kurus." Ucapan Sofia keluar tanpa terjeda. Tapi justru air matanya semakin deras.

Regan mengangguk beberapa kali. Matanya sudah merah. Tapi tidak ada air mata yang jatuh. "Mamy tenang aja. Di sini aku baik-baik aja, kok. Aku juga senang di sini."

Sofia memeluk tubuh besar putranya, mengelus punggungnya lembut.

Setelah itu, pelukan mereka terlepas. Sofia dan Raymond mulai berjalan menaiki anak tangga.

Begitu di tangga paling atas, langkah Sofia berhenti. Ia kembali menoleh ke Regan.

"Kalau berubah pikiran. Kamu mau pulang cepat. Telpon Mamy." Teriaknya.

Regan hanya tertawa getir. Ia melambaikan tangannya.

"Makan yang banyak!" Teriak Sofia lagi.

"Honey, ayok. Nanti pesawatnya tidak jadi berangkat."

Sofia akhirnya masuk.

Kabin jet jauh lebih menyerupai ruang tamu dibanding pesawat biasa. Sofa kulit krem menghadap jendela besar. Meja kayu mengkilap berada di tengah. Lampu hanya menyala lembut dari langit-langit kabin.

Dari bawah, Regan masih berdiri. Kedua tangannya masuk ke saku celana. Matanya mengikuti jet yang perlahan bergerak menjauh.

Semakin cepat. Semakin jauh. Hingga akhirnya jet terangkat meninggalkan landasan.

Regan tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di sana sampai jet itu berubah menjadi titik kecil langit.

1
Laila Sarifah
Pleaseee jgn sampai lengan vey, Regan itu sebenarnya suka sama kamu😭
james
kira-kira Veyra kenapa yah/Doge/
james
ah Veyra yang tergoda atau Regan /Sly/
Addb_Rh
Veyra... ingatlah trs suamimu.. jan ingat pria lain.. ya...? 🥲
Lenny Utami
go regan🤭
Lenny Utami
holang kaya ini mahj
Addb_Rh
Ini si, gmn pinternya ngendaliin perasaan aja. Btw, congrats Gan. akhirnya bisa ya ngeyakinin kerja sama sama mereka
Agatha soul
tanggung jawab lhoo
Its me
sikap veyra bisa mancing Regan nih
hati-hati lidah tak bertulang vey
mama Al
untung Alvero ga marah.
kebanyakan suami kan ga suka istrinya dekat dengan pria lain walaupun sahabatnya sendiri
arsyila putri
regan Regan kok bisa sih
Laila Sarifah
Kamu udah mulai ada rasa ya Gan sama Veyra?
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ooooo.. regan memang begitu toh. mudah akrab ke siapa aja
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
di sini aku mulai curiga regan suka sama veyra
SANG
Lanjut👍👍👍💪👍👍👍👍💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Like iklan plus komen 💪👍
SANG
Semangat ya thor 💪👍
SANG
Apaan tuh
SANG
Tuh, disana
SANG
Aku kasih suka ya Thor 💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!