NovelToon NovelToon
Jalan Kultivasi Sang Dewa

Jalan Kultivasi Sang Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Adit

Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 - Bocah Pemburu, Cang Xuan

Sore hari di Benua Timur selalu membawa ketenangan yang singkat sebelum malam benar-benar turun. Cahaya matahari yang mulai tenggelam menembus celah-celah dedaunan, memancarkan semburat keemasan yang menyelimuti hutan lebat sejauh mata memandang. Pepohonan kuno yang menjulang tinggi berdiri seperti para penjaga abadi, sementara suara burung-burung yang sebelumnya ramai perlahan menghilang, digantikan oleh keheningan senja yang mulai merambat dari setiap sudut hutan.

Di tengah hamparan pepohonan itu berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar dua belas tahun. Tubuhnya tidak terlalu besar, namun terlihat kokoh dan terlatih. Ia mengenakan pakaian sederhana yang sudah tampak usang karena sering digunakan berburu, sementara di tangan kanannya tergenggam erat sebuah pedang yang selalu menemaninya ke mana pun ia pergi.

Di hadapannya, seekor serigala liar berukuran besar sedang menunjukkan taring-taring tajamnya. Mata binatang buas itu memancarkan keganasan saat mengitari mangsanya dengan langkah perlahan. Suara geraman rendah keluar dari tenggorokannya, membuat suasana di sekitar semakin menegangkan.

"Awooo!"

Dengan lolongan nyaring yang memecah keheningan hutan, serigala itu tiba-tiba menerjang ke depan. Tubuhnya melesat cepat, meninggalkan bayangan samar di antara rerumputan. Namun anak laki-laki tersebut tidak menunjukkan sedikit pun kepanikan. Tatapannya tetap tenang dan fokus, seolah serangan itu sudah berada dalam perkiraannya sejak awal.

Saat serigala itu hampir mencapai dirinya, ia menggeser satu langkah ke samping dengan gerakan yang gesit. Pada saat yang sama, pedang di tangannya bergerak membentuk lengkungan perak di bawah cahaya senja.

Sreet!

Suara tajam terdengar ketika bilah pedang itu menebas tepat pada leher serigala. Darah segar muncrat ke udara, membentuk garis merah yang kontras dengan cahaya keemasan di sekitarnya. Tubuh binatang buas itu terhuyung beberapa langkah sebelum jatuh keras ke tanah. Kakinya bergerak-gerak beberapa saat, lalu perlahan kehilangan seluruh tanda kehidupan.

Hutan kembali sunyi.

Anak laki-laki itu mengembuskan napas panjang sembari menurunkan pedangnya. Keringat tipis membasahi dahinya, namun tidak ada tanda-tanda kelelahan berlebihan di wajahnya. Ia telah terbiasa berburu sendirian sejak usia yang sangat muda.

Namanya adalah Cang Xuan.

Tatapannya tertuju pada bangkai serigala yang tergeletak di tanah. Setelah beberapa saat, ia menggeleng pelan sambil memperlihatkan senyum tipis yang bercampur rasa tidak puas.

"Hanya satu ekor..."

Suaranya terdengar pelan di tengah keheningan hutan.

"Sepertinya hari ini aku cuma bisa menangkap satu ekor saja."

Ia sebenarnya berharap bisa mendapatkan dua atau tiga ekor mangsa untuk dibawa pulang.

Tanpa berlama-lama, Cang Xuan menyarungkan kembali pedangnya ke punggung. Setelah itu, ia membungkuk dan mengangkat bangkai serigala tersebut ke atas pundaknya. Meski usianya masih muda, tubuhnya telah ditempa oleh kerja keras selama bertahun-tahun sehingga beban itu tidak terlalu menyulitkannya.

Ia menoleh ke arah langit yang mulai berubah kemerahan. Matahari sudah hampir sepenuhnya tenggelam di balik pegunungan yang jauh, menandakan malam akan segera tiba.

"Aku harus segera kembali ke desa sebelum monster Abyss mulai bermunculan malam nanti."

Memikirkan hal itu, Cang Xuan tidak lagi membuang waktu. Dengan bangkai serigala di pundaknya dan pedang di punggungnya, ia segera melangkah meninggalkan tempat tersebut. Sosoknya perlahan menjauh di antara pepohonan yang mulai diselimuti bayangan senja, berjalan menuju desa kecil yang menjadi satu-satunya tempat yang bisa ia sebut sebagai rumah.

Di dunia ini, malam bukanlah waktu untuk beristirahat dengan tenang seperti yang dibayangkan banyak orang. Bagi sebagian besar manusia, datangnya kegelapan justru menandakan dimulainya ancaman yang sesungguhnya. Ketika matahari tenggelam sepenuhnya di balik cakrawala dan cahaya terakhir menghilang dari langit, berbagai makhluk mengerikan yang dikenal dengan nama Monster Abyss akan mulai keluar dari persembunyian mereka.

Tidak ada yang mengetahui dari mana asal para monster tersebut. Sebagian orang percaya mereka lahir dari jurang kegelapan yang berada jauh di bawah dunia, sementara sebagian lainnya meyakini bahwa mereka merupakan makhluk terkutuk yang telah ada sejak zaman kuno. Apa pun kebenarannya, satu hal yang diketahui semua orang adalah bahwa Monster Abyss merupakan musuh alami umat manusia.

Makhluk-makhluk itu memiliki bentuk yang beragam. Ada yang menyerupai binatang buas dengan tubuh raksasa, ada yang memiliki cakar setajam baja, dan ada pula yang wujudnya begitu mengerikan hingga mampu membuat orang kehilangan keberanian hanya dengan melihatnya sekilas. Namun terlepas dari perbedaan bentuk mereka, seluruh Monster Abyss memiliki satu kesamaan, yaitu haus akan darah manusia.

Begitu malam tiba, mereka akan berkeliaran di berbagai wilayah, memburu siapa saja yang cukup sial berada di luar perlindungan. Banyak pengelana, pemburu, dan bahkan para kultivator lemah kehilangan nyawa mereka di tangan makhluk-makhluk tersebut. Dalam sejarah Benua Timur, tidak terhitung lagi jumlah desa dan pemukiman yang lenyap dalam satu malam akibat serangan gerombolan Monster Abyss.

Karena alasan itulah, sebagian besar manusia selalu berusaha kembali ke tempat tinggal mereka sebelum malam benar-benar turun. Tidak ada seorang pun yang ingin mempertaruhkan nyawanya menghadapi para monster yang menguasai dunia setelah matahari terbenam.

Beruntung bagi Cang Xuan dan para penduduk desa tempat ia tinggal, desa mereka memiliki sebuah penghalang pelindung yang telah berdiri selama puluhan tahun. Penghalang tersebut menyelimuti seluruh wilayah desa dalam lapisan energi tak kasat mata yang mampu menghalangi masuknya Monster Abyss. Meskipun tidak banyak orang yang mengetahui siapa pencipta penghalang itu, keberadaannya telah menjadi alasan utama mengapa desa kecil tersebut masih dapat bertahan hingga hari ini.

Selama penghalang itu tetap aktif, para penduduk dapat menjalani kehidupan mereka dengan relatif aman. Anak-anak masih bisa bermain di siang hari, para pemburu masih dapat memasuki hutan untuk mencari makanan, dan para petani masih dapat mengolah ladang mereka tanpa harus terus-menerus hidup dalam ketakutan. Namun semua orang memahami bahwa keamanan tersebut bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh, sebab di balik lapisan pelindung yang mengelilingi desa, kegelapan malam selalu dipenuhi oleh monster-monster lapar yang menunggu kesempatan untuk merenggut kehidupan manusia.

Beberapa saat kemudian, Cang Xuan akhirnya tiba di desa tempat ia tinggal. Cahaya senja yang tersisa masih menerangi jalan-jalan tanah yang membentang di antara deretan rumah kayu sederhana. Desa itu tidak terlalu besar, bahkan bisa dikatakan hanyalah sebuah pemukiman kecil yang berdiri di pinggir hutan. Meskipun demikian, suasananya selalu terasa hangat dan damai. Asap tipis mengepul dari cerobong beberapa rumah, sementara para penduduk mulai menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum malam benar-benar tiba.

Begitu memasuki desa, Cang Xuan tidak langsung pulang. Dengan bangkai serigala yang masih berada di pundaknya, ia berjalan menuju tempat penjualan hasil buruan yang biasa didatangi para pemburu desa. Tempat itu berupa bangunan kayu sederhana yang berada tidak jauh dari pusat desa.

Seorang pria paruh baya yang bertugas menjaga tempat tersebut segera memperhatikan kedatangannya. Ketika melihat sosok Cang Xuan, senyum ramah langsung muncul di wajahnya.

"Kau kembali lagi, Cang Xuan."

Cang Xuan membalas sapaan itu dengan anggukan ringan sebelum menurunkan bangkai serigala dari pundaknya dan meletakkannya di atas meja kayu yang telah dipenuhi berbagai hasil buruan lainnya.

"Maaf, Paman. Hari ini hanya dapat satu ekor saja."

Pria paruh baya itu tertawa pelan lalu memeriksa kondisi serigala tersebut dengan saksama. Tangannya menyentuh bulu dan tubuh binatang itu beberapa kali sebelum akhirnya menganggukkan kepala dengan puas.

"Satu ekor serigala ini saja sudah cukup bagus. Untuk anak seusiamu, ini sudah luar biasa. Tidak banyak orang yang mampu mengalahkan seekor serigala seorang diri."

Nada suaranya dipenuhi kekaguman yang tulus. Ia sudah berkali-kali membeli hasil buruan dari Cang Xuan, sehingga mengetahui dengan jelas kemampuan anak itu. Meskipun usianya masih sangat muda, keberanian dan ketekunannya bahkan melampaui sebagian besar pemburu dewasa di desa.

Pria itu kemudian membuka sebuah kantong kecil di pinggangnya dan mengeluarkan beberapa keping koin. Setelah menghitungnya sebentar, ia menyerahkan koin-koin tersebut kepada Cang Xuan.

"Kau memang bekerja keras, Cang Xuan."

Cang Xuan menerima uang itu dengan kedua tangan. Matanya sempat menatap jumlah koin yang berada di telapak tangannya sebelum senyum tipis muncul di wajahnya.

"Aku harus melakukannya. Demi membeli obat untuk ibuku yang sedang sakit di rumah."

Mendengar jawaban itu, pria paruh baya tersebut terdiam sejenak sebelum menganggukkan kepala perlahan. Tatapannya menunjukkan sedikit rasa iba, tetapi juga penghargaan yang mendalam.

"Kau memang anak yang berbakti."

Setelah mengatakan itu, ia kembali merogoh kantongnya lalu mengambil beberapa keping koin tambahan. Tanpa banyak bicara, ia langsung meletakkannya di tangan Cang Xuan.

"Ini bonus untukmu."

Cang Xuan terkejut dan menatap pria itu dengan bingung.

"Paman?"

Pria tersebut hanya tersenyum hangat.

"Mudah-mudahan ibumu cepat sembuh."

Untuk sesaat, Cang Xuan tidak tahu harus berkata apa. Ia menunduk melihat koin-koin tambahan yang berada di tangannya sebelum rasa hangat perlahan memenuhi hatinya. Di desa kecil ini, tidak banyak orang yang hidup berkecukupan, sehingga bantuan sekecil apa pun memiliki arti yang sangat besar.

Senyuman tulus pun muncul di wajahnya.

"Terima kasih banyak, Paman."

Ia menggenggam erat koin-koin tersebut seolah takut menjatuhkannya. Dengan uang itu, ia bisa membeli lebih banyak obat untuk ibunya.

"Aku pergi dulu. Besok aku akan membawa lebih banyak hasil buruan."

Pria paruh baya itu tertawa kecil mendengar semangat dalam suara Cang Xuan.

"Hati-hati di jalan."

Cang Xuan mengangguk sebelum berbalik dan berjalan meninggalkan tempat penjualan hasil buruan. Sosoknya perlahan menjauh mengikuti jalan tanah desa, menghilang di antara rumah-rumah yang mulai diterangi cahaya lampu.

Setelah anak itu tidak lagi terlihat, pria paruh baya tersebut menghela napas pelan. Tatapannya masih tertuju ke arah jalan yang baru saja dilalui Cang Xuan.

"Cang Xuan benar-benar anak yang hebat."

Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.

"Bahkan banyak orang dewasa belum tentu mampu berburu serigala setiap hari."

Ingatan tentang sosok anak laki-laki yang selalu berusaha keras demi keluarganya kembali muncul di benaknya. Semakin ia memikirkannya, semakin besar pula rasa kagum yang muncul di dalam hati.

"Aku yakin suatu hari nanti dia akan menjadi orang besar."

Ucapan itu perlahan menghilang bersama hembusan angin senja yang berembus melewati desa, sementara langit di atas kepala semakin gelap menandakan malam akan segera tiba.

End Chapter 1

1
asri_hamdani
tangkap 1-2 kan bisa untuk ganjel perut lapar 🤔
.: karena menurut Cang xuan menangkap hewan hewan kecil seperti kelinci ataupun kucing hutan itu hanya membuang-buang waktu karena hewan tersebut memiliki pergerakan yg cukup lincah Apalagi walaupun berhasil menangkap dia hanya mendapatkan koin yg sedikit apalagi dia mempunyai waktu terbatas yaitu jangan sampai malam hari karena banyak monster abbys yg berkeliaran oleh karena itu daripada membuang buang waktu ke hewan yg memiliki nilai koin yg sedikit menurut Cang xuan lebih baik mencari hewan yg ukuran nya cukup besar dan mendapatkan koin yg lebih banyak dibandingkan harus bersusah payah menangkap hewan ukuran kecil
total 1 replies
Kevandra
B🌻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!