NovelToon NovelToon
Glow Up Kontrak : Formula Rahasia Sang CEO

Glow Up Kontrak : Formula Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:332
Nilai: 5
Nama Author: Syawal Musa

Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 Api Kemarahan Ikatan Darah

"Jangan berharap aku memberikannya padamu!" teriak Kiara, mengengkal liontin di lehernya erat-erat. Dadanya sesak, campuran antara rasa kecewa, marah, dan takut bercampur menjadi satu.

Kakeknya, sosok yang dulu selalu memanjakannya dengan permen dan cerita dongeng, kini berdiri di hadapannya sebagai monster tanpa hati.

"Kau kejam, Kek... Kau menghancurkan keluarga kita sendiri hanya demi kekuasaan?" suara Kiara bergetar.

Kakek tertawa dingin, suaranya bergema di ruangan yang gelap itu. "Kekuasaan adalah segalanya, Kiara. Tanpa itu, kita hanyalah mainan orang lain. Ayahmu gagal, tapi kau... kau jenius. Kau akan meneruskan warisanku dengan cara yang benar."

"Selama aku masih bernapas, aku tidak akan pernah membiarkanmu menggunakan ilmunya untuk kejahatan!" seru Kiara memberanikan diri.

Wajah Kakek berubah masam. Senyumnya lenyap, digantikan oleh tatapan dingin yang mematikan.

"Kalau begitu... maafkan Kakek."

Kakek mengangkat tangannya, memberi isyarat. Seketika, empat orang pria bertopeng dengan tubuh kekar maju selangkah, tangan mereka menggenggam besi dan senjata tajam, siap menerkam.

Arkan berdiri kokoh di depan Kiara, tubuhnya membentengi istrinya sepenuhnya. Wajahnya tenang, tapi matanya menyala seperti api.

"Kiara," bisik Arkan tanpa menoleh, "ingat instruksiku. Saat aku kasih tanda, lari ke pintu belakang. Ada mobil siaga di sana."

"Dan kau?" tanya Kiara cemas.

"Aku akan menahan mereka," jawab Arkan singkat. "Pergi hidup-hidup dan selamatkan data itu. Itu satu-satunya cara mengalahkannya."

"Tidak! Aku tidak mau meninggalkanmu!" tolak Kiara tegas, mencengkeram baju Arkan dari belakang. "Kita hadapi bersama atau mati bersama!"

Arkan terpaku sejenak. Kata-kata itu menembus hatinya, memberikan kekuatan baru yang luar biasa. Ia tersenyum tipis, senyum penuh cinta dan tekad.

"Baiklah... Kalau begitu, kita hancurkan mereka bersama!"

BRUGGH!!!

Tanpa menunggu musuh menyerang duluan, Arkan mengambil sebuah vas porselen besar di sampingnya dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah lampu darurat yang baru menyala!

BRAKK!!!

Ruangan kembali gelap gulita!

"Serang mereka!" teriak Kakek dengan marah.

Suara langkah kaki gemuruh terdengar dari segala arah. Tapi Arkan sudah bergerak lebih cepat. Ia menarik tangan Kiara, berlari menjauh dari pusat ruangan menuju koridor samping.

"Dari kiri!" teriak salah satu preman.

Wusss!

Sebatang pipa besi melayang nyaris mengenai kepala Arkan, tapi pria itu menunduk cepat, lalu membalas dengan tendangan rotasi yang keras tepat ke rahang penyerang itu.

BUKK!

"Argh!"

"Ke sini!" Arkan menarik Kiara masuk ke dapur luas. Mereka memanfaatkan meja dan perabotan mahal sebagai benteng sementara.

Situasi sangat tidak seimbang. Arkan hanya berbekal keahlian bela diri dan apa saja yang bisa diambil di sekitarnya, sementara musuh terus berdatangan.

DOR! DOR!

Tembakan mulai terdengar. Kakek mulai kehilangan kesabaran. Peluru menghantam lemari kayu, membuat serpihan beterbangan.

"Arkan, hati-hati!" teriak Kiara. Ia melihat seorang pria mencoba menyelinap dari pintu samping dengan pisau besar.

Tanpa pikir panjang, Kiara mengambil botol saus cabai besar di meja dan melemparkannya sekuat tenaga tepat ke wajah pria itu!

BRUK!

"Aaaa! Mataku!!" jerit pria itu kesakitan saat saus pedas mengenai mata dan wajahnya.

"Bagus, Sayang!" seru Arkan, lalu ia melempar pisau dapur besar dengan akurasi tinggi, tepat mengenai tangan pria lain yang memegang pistol, membuat senjata itu terlepas.

Pertarungan sengit terjadi di tengah kegelapan dan kepanikan. Arkan bertarung seperti singa yang terluka, setiap pukulan dan tendangan penuh amarah karena musuhnya adalah keluarga sendiri yang telah merusak hidup mereka.

Namun, jumlah musuh terlalu banyak. Perlahan-lahan, tenaga Arkan mulai menurun. Keringat bercucuran membasahi wajahnya.

"Arkan!!" teriak Kiara saat melihat dua orang pria berhasil mengunci tangan Arkan dari belakang, sementara yang lain siap menghantam wajahnya dengan besi besar.

DUG!!!

Tiba-tiba, sebuah cahaya menyilaukan meledak di halaman depan! Suara sirine menderu keras memecah keheningan malam!

TIIIIIT... TIIIIIT...

"Polisi!! Kami sudah mengepung tempat ini!! Keluar dengan tangan di atas!!" teriak suara dari pengeras suara.

Semua orang di dalam rumah terkejut. Wajah Kakek pucat pasi.

"Tidak mungkin... Bagaimana bisa polisi tahu lokasi ini?!" geram Kakek tak percaya.

Arkan tersenyum lebar meski napasnya memburu.

"Kau lupa... sebelum kita pulang, aku sempat mengirimkan satu pesan singkat ke nomor darurat khusus," bisik Arkan penuh kemenangan. "Dan kau juga lupa... aku tidak hanya CEO perusahaan kosmetik. Koneksiku mencapai sampai ke tingkat negara."

Anak buah Kakek mulai panik. Suara langkah kaki pasukan khusus polisi dan SWAT sudah terdengar mendobrak pintu depan.

"Kau menang ronde ini, Arkan... tapi perang belum selesai!" Kakek menatap tajam, lalu dengan cepat mengambil sebuah alat kecil dari sakunya dan menekan tombol merah.

Seketika, seluruh dinding bagian belakang gudang penyimpanan meledak terbuka!

BOOOOM!!!

Debu dan asap mengepul tebal. Saat asap menipis, Kakek dan beberapa pengawal setianya sudah lenyap melalui jalan rahasia yang baru saja meledak itu.

"Kejar mereka!" teriak perwira polisi saat lampu utama akhirnya menyala kembali.

Beberapa petugas langsung mengejar melalui lubang ledakan itu, sementara yang lain menangkap sisa anak buah yang masih ketakutan dan terluka.

Ruangan kini berantakan total. Pecahan kaca, furniture hancur, dan noda darah di sana-sini.

Arkan lunglai, kedua kakinya gemetar. Ia segera berbalik dan mencari sosok istrinya.

"Kiara!!"

"Aku di sini, Arkan!"

Kiara berlari kecil menghampiri dan langsung memeluk tubuh Arkan yang penuh keringat dan goresan luka.

"Kau tidak apa-apa? Kau terluka parah..." isak Kiara, air matanya mengalir deras melihat luka di lengan dan wajah suaminya.

"Aku baik-baik saja... selama kau selamat," Arkan tersenyum lemah, lalu mengusap air mata Kiara dengan ibu jarinya yang kotor. "Kakekmu kabur... tapi kita punya chip ini. Kita punya bukti. Perlahan kita akan hancurkan organisasinya sampai ke akar-akarnya."

Kiara mengangguk, membenamkan wajahnya di dada bidang Arkan. Di tengah kekacauan dan bahaya yang baru saja berlalu, mereka menemukan kekuatan baru.

Mereka bukan lagi sekadar pasangan suami istri kontrak. Mereka adalah sekutu sejati, partner dalam pertempuran, dan cinta yang tumbuh di tengah badai.

"Tapi Arkan..." Kiara mendongak, menatap mata suaminya. "Kakek bilang dia akan kembali. Dan dia tidak akan main-main lagi kali ini."

Arkan menatap jauh ke pintu yang bolong karena ledakan, matanya kembali mengeras.

"Biarkan dia datang. Kali ini... kita yang akan siap menunggunya dengan perangkap yang jauh lebih mematikan."

1
Syawal Musa
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!