Di Benua Langit Biru, hukum kultivasi berlaku mutlak: fokus pada satu elemen murni adalah satu-satunya jalan pintas menuju keabadian. Mereka yang lahir dengan banyak elemen justru dianggap memiliki meridian cacat—sebuah wadah bocor yang hanya akan memperlambat kultivasi dan berakhir sebagai sampah masyarakat.
Namun, takdir justru menertawakan Ling Yun. Ia lahir dengan kutukan terjahat: memeluk empat elemen utama bumi sekaligus—Tanah, Air, Api, dan Udara—di dalam satu tubuh. Dicaci, dikhianati, dan dibuang oleh dunianya, ia menolak untuk berlutut pasrah pada nasib. Dengan tekad seteguh karang, ia merayap dari titik terendah demi membalikkan takdir langit.
Menggenggam bara api, membelah samudra, menggoncang bumi, dan memotong badai, Ling Yun menantang dunia:
"Siapa bilang empat elemen adalah sampah? Dengan empat elemen ini, aku akan menghancurkan para dewa yang angkuh, membakar kesombongan langit, dan menulis ulang hukum alam semesta!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blizzardauthor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Provokasi
Matahari merangkak semakin tinggi, namun ketegangan di sekitar bukit Divisi Alkimia justru semakin pekat. Di kaki bukit, tepat di luar batas jangkauan kabut putih Formasi Pusaran Qi Sembilan Langit, empat orang murid senior sekte luar mengenakan seragam Aula Pengawas tampak berdiri dengan wajah gusar.
"Sialan! Sudah tiga hari kita berjaga di sini, dan kabut sialan ini tidak berkurang sedikit pun!" umpat salah satu murid bertubuh kurus, melemparkan kerikil ke arah kabut yang langsung tertelan tanpa suara. "Bagaimana bisa pelayan cacat itu memicu fenomena aneh seperti ini di bukit Divisi Alkimia?"
"Diam, Feng!" bentak pria bermata elang yang berdiri di paling depan. Dia adalah Gao Yuan, pemimpin pengintai kiriman Tetua Mo yang telah mencapai Ranah Pengumpulan Qi Tahap Akhir. "Tetua Mo tidak ingin mendengar alasan. Selama lencana dekret Tetua Liu masih berlaku, kita tidak bisa menerobos naik tanpa memicu perang antar divisi. Tapi, bocah Ling Yun itu pasti akan turun lambat laun. Sifat pengecutnya tidak akan bertahan lama."
Tepat saat mereka sedang mengeluh, suara langkah kaki yang berat terdengar dari jalur setapak bawah bukit. Seorang pria paruh baya berpakaian pelayan logistik fana tampak berjalan terseok-seok sambil memikul dua keranjang besar berisi pasokan bahan makanan segar dan beberapa tanaman obat tingkat rendah. Itu adalah Paman Wang, salah satu pelayan fana tua yang dulu sering berbagi jatah makanan dengan Ling Yun dan Lu Han di gudang logistik.
Melihat kedatangan Paman Wang, senyuman kejam mendadak terukir di wajah Gao Yuan. ‘Jika tikus kecil itu tidak mau turun, maka kita hanya perlu menyiksa salah satu temannya di depan matanya sendiri,’ batin Gao Yuan licik.
"Heh, lihat siapa yang datang," Gao Yuan memberi isyarat mata kepada dua anak buahnya.
Dengan cepat, kedua murid senior itu melompat dan menghadang jalan Paman Wang. Paman Wang yang terkejut langsung menjatuhkan pikulannya hingga beberapa sayuran dan buah-buahan berserakan di tanah.
"T-Tuan Muda sekalian... ada apa ini? Saya hanya menjalankan tugas untuk mengantarkan pasokan makanan ke paviliun atas," ucap Paman Wang gemetar, langsung berlutut dengan wajah pucat karena mengenali seragam Aula Pengawas.
"Mengantar makanan?" Feng maju dan menendang salah satu keranjang hingga hancur. "Bukit ini sedang dalam pengawasan Aula Pengawas atas perintah Tetua Mo! Mulai hari ini, tidak ada makanan atau pasokan apa pun yang boleh naik ke atas! Dan kau... karena berani melanggar, kau harus menerima hukumannya!"
Brakk!
Feng melayangkan tendangan keras tepat ke dada Paman Wang, membuat pria tua itu tersungkur ke tanah sambil terbatuk darah. Siksaan itu terus berlanjut. Jeritan kesakitan Paman Wang menggema di kesunyian kaki bukit, sengaja dibuat sekeras mungkin agar terdengar hingga ke puncak.
Di dalam paviliun, Lu Han tiba-tiba membuka matanya. Berkat Teknik Pernapasan Fondasi Bumi Guntur yang baru ia pelajari semalam, indra pendengarannya yang kini terhubung dengan getaran tanah menjadi jauh lebih peka. Wajahnya seketika berubah drastis saat mengenali suara parau yang menjerit di bawah sana.
"Suara ini... Paman Wang?!" Lu Han langsung bangkit berdiri, tangannya mengepal erat hingga urat-uratnya menonjol. "Yun! Mereka menyiksa Paman Wang di bawah bukit! Bajingan-bajingan Aula Pengawas itu sengaja melakukannya!"
Ling Yun yang sejak tadi berdiri di dekat jendela tidak terkejut. Tatapannya tetap tenang bagai telaga tak berdasar. "Aku sudah tahu. Mereka frustrasi karena tidak bisa menembus formasi kabut ku, jadi mereka menggunakan nyawa orang biasa sebagai umpan agar kita turun."
"Aku tidak bisa tinggal diam, Yun! Paman Wang sering membantu kita saat kita kelaparan dulu!" Lu Han menatap Ling Yun dengan mata memerah, memohon izin. "Biarkan aku turun! Aku ingin menguji kekuatan yang kau berikan semalam pada bajingan-bajingan itu!"
Ling Yun menatap kakaknya dalam-diam, mengukur riak Qi elemen tanah yang berputar kokoh di dalam Dan Tian Lu Han. Ia sudah naik satu tingkat, membuat Ling Yun cukup terkejut. Walaupun dirinya sendiri belum menyadari bahwa ia sudah naik satu tingkat.
"Pergilah," ucap Ling Yun pelan, sebuah senyuman tipis misterius muncul di wajahnya. "Gunakan energi tanahmu untuk merasakan pijakanmu. Jangan ragu, dan jangan tunjukkan belas kasihan. Aku akan mengawasi mu dari belakang."
"Baik!"
Tanpa membuang waktu, Lu Han melesat keluar dari paviliun. Langkah kakinya yang kini diselimuti Qi elemen tanah terasa sangat ringan namun bertenaga, membelah kabut putih dengan kecepatan yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Ling Yun mengikuti di belakang dengan berjalan santai, tangannya disembunyikan di balik jubahnya, tampak seperti seorang master yang sedang membawa muridnya bertamasya.
Di kaki bukit, Feng baru saja hendak menginjak kepala Paman Wang yang sudah sekarat ketika sebuah angin kencang menerpa wajahnya.
"Hentikan, keparat!"
Sebuah bayangan melompat dari dalam kabut. Lu Han mendarat dengan hantaman keras yang membuat permukaan tanah di sekitarnya retak samar. Aura kokoh berwarna kuning kecokelatan berputar samar di sekeliling tubuhnya.
Gao Yuan dan anak buahnya tertegun sejenak, sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Aku mengira siapa yang akan turun, ternyata si pelayan cacat Lu Han! Tunggu... kau memiliki riak Qi? Kau berhasil menembus Ranah Pengumpulan Qi?"
Feng mencemooh, meremehkan aura Lu Han yang baru berada di Tahap Awal, sementara dirinya sendiri sudah berada di Tahap Menengah. "Paling-paling dia hanya memakan obat terlarang untuk membangkitkan Qi nya secara paksa. Biar aku yang memberinya pelajaran tentang perbedaan kasta!"
Feng melesat maju, telapak tangannya diselimuti oleh angin tajam, mengarah langsung ke leher Lu Han. "Mati kau, budak!"
Lu Han tidak menghindar. Mengingat instruksi teknik dari Ling Yun semalam, dia menarik napas dalam-dalam. ‘Teknik Fondasi Bumi Guntur... Tubuh Perunggu Kuning!’
BUMM!
Serangan telapak tangan Feng menghantam dada Lu Han dengan telak. Namun, alih-alih mendengar suara tulang patah, Feng justru merasakan seolah-olah tangannya baru saja menghantam dinding baja yang tertanam di dalam inti bumi. Pola energi tanah Lu Han bergulung mematikan, menahan seluruh daya hancur serangan Feng tanpa bergeser satu sentimeter pun.
"A-Apa?! Bagaimana mungkin pertahananmu sekuat ini?!" pekik Feng shock, merasakan telapak tangannya sendiri mati rasa.
Lu Han membuka matanya, kilatan amarah murni bergejolak di sana. "Sekarang giliranku!"
Lu Han mengepalkan tinju kanannya. Energi elemen tanah berkumpul padat di lengannya, mengeluarkan suara berderit berat bagai geseran lempengan bumi. Dengan satu pukulan lurus yang sangat sederhana namun masif, Lu Han menghantam perut Feng.
Prakkk!
"AAKKHH!"
Feng menjerit histeris saat jubah pelindungnya hancur seketika. Tubuhnya terlontar belasan meter ke belakang, menabrak pohon hingga tumbang, sebelum akhirnya pingsan dengan mulut memuntahkan darah segar. Hanya dengan satu pukulan murni, seorang murid senior Tahap Menengah tumbang di tangan Lu Han.
Dua murid senior lainnya menelan ludah dengan ngeri, sementara wajah Gao Yuan mendadak menjadi sangat gelap. Dia tidak pernah menyangka bahwa pelayan yang mereka tindas selama sepuluh tahun bisa memiliki kekuatan seaneh ini dalam semalam.
"Sialan, kau menyembunyikan kekuatanmu!" Gao Yuan melepaskan aura Ranah Pengumpulan Qi Tahap Akhirnya secara penuh ketika menyadari bahwa aura yang di keluarkan oleh Lu Han adalah tingkat menengah. Tekanan angin kencang berputar di sekelilingnya, menekan Lu Han hingga kakinya sedikit bergetar. "Jangan sombong, Pelayan! Di hadapan Tahap Akhir, teknik bumi amatiranmu tidak ada gunanya! Mati!"
Gao Yuan melesat dengan kecepatan penuh, memunculkan belati beracun di tangannya yang mengincar titik vital Lu Han. Lu Han mencoba memasang kuda-kuda bertahannya kembali, namun perbedaan ranah yang cukup jauh membuat tekanan Qi Gao Yuan mengunci pergerakannya.
Tepat ketika belati itu berada tiga inci dari tenggorokan Lu Han, sebuah suara sedingin es terdengar dari arah belakang.
"Siapa yang memberimu izin untuk menyentuh kakakku?"
WUSSHHH!
Sebuah tekanan yang jauh lebih mengerikan, sedalam lautan dan seberat langit, mendadak runtuh dari atas. Udara di sekeliling mereka seketika membeku. Gao Yuan yang sedang melesat maju merasa seolah-olah ada gunung gaib yang menghantam punggungnya.
CRACK!
"AGHH!" Gao Yuan menjerit saat kedua lututnya dipaksa menekuk ke tanah dengan kasar hingga mengeluarkan suara retakan tulang yang mengerikan. Belatinya terlepas, dan dia berlutut di tanah dalam kondisi gemetar hebat, tidak mampu bahkan sekadar mengangkat kepalanya.
Ling Yun melangkah keluar dari kabut dengan tenang. Setiap langkah kakinya tidak mengeluarkan suara, namun bagi dua murid senior yang masih berdiri, Ling Yun tampak seperti dewa kematian yang sedang berjalan mendekat. Aura empat elemen yang seimbang berputar samar di sekeliling tubuhnya, menciptakan tekanan absolut yang membuat napas siapa pun tercekat.
Ling Yun berjalan melewati Lu Han, lalu meletakkan satu kakinya di atas bahu Gao Yuan yang sedang berlutut, menekannya semakin dalam ke tanah.
"Pulanglah, dan sampaikan pada tuan mu itu," ucap Ling Yun, menatap Gao Yuan dari atas dengan mata sedingin es. "Jika dia ingin membalas dendam untuk keponakannya yang bodoh, suruh dia datang sendiri. Mengirim tikus-tikus kecil seperti kalian hanya akan mengotori bukit Divisi Alkimia milikku." Ucap Ling Yun penuh intimidasi lalu menendangnya hingga terbang puluhan meter jauh ke belakang. Ia juga melirik ke murid di sebelah Gao Yun dan melakukan hal yang sama kepada nya.
>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara ku.