Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangkai
Mentari sudah berada di ufuk utara. Ia berjalan dengan membawa buah semangka yang berukuran cukup besar, dan menyeretnya dengan kepayahan.
Seorang wanita tua dengan rambut panjang yang menjuntai hingga ke bawah terlihat menatap mentari.
Perlahan kedua matanya terpejam, lalu bibir keriputnya yang retak-retak bergetar membaca mantra.
Dari arah kejauhan, terlihat seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun sedang setengah berlari menuju ke arah gubuk tua di tepi hutan dan juga tak jauh dari bibir pantai.
"Dadong Ratri. Ibu ingin bertemu, dia sedang sakit keras," ucap sang pemuda dengan nafas terengah.
Wanita itu menatap ke arah sang pemuda yang tampak gelisah. "Ketut Candra, dadong ingin makan sebentar, sebab tak cukup tenaga untuk ke sana, mau kah kau membantu dadong membelah semangka ini?"
Wayan Ratri memperlihatkan buah semangka yang sedang di tentengnya.
Sebagai cucu lelakinya, ia tersentak kaget, dan tersurut kebelakang.
Sebab apa yang di lihatnya saat ini bukanlah buah semangka, melainkan bangkai yang di penuhi belatung dan langau hijau (lalat) yang berkerumun dengan aroma busuk yang cukup menyengat.
Karena banyak lalat dan belatung yang menempel, ia tidak tahu itu bangkai apa, hanya saja terlihat rambut yang mirip di gelung dan juga di penuhi oleh belatung.
Ketut Chandra ingin muntah, tetapi mencoba ia tahan.
Bau busuk itu semakin menusuk sampai ke ubun-ubun. Ketut Candra kembali mundur selangkah, tenggorokannya naik dan rasa mual semakin tak tertahan
Dalam penglihatannya, yang di tenteng Dadong Ratri adalah jelas bangkai.
Gumpalan daging pucat, belatung sebesar kelingking yang bergeliat-geliat dan juga lalat hijau yang terys berdenging menutupi permukaan.
"Da—dadong..." suaranya serak. Bahkan wajahnya cukup pucat, dan suaranya seolah tercekat di tenggorokannya. "itu... Itu bukan semangka," ia menunjuk dengan jemari bergetar.
Wayan Ratri tersenyum dengan datar. Gigi bagian depannya yang menghitam menebarkan aroma busuk, seolah tak pernah menyikat gigi selama seminggu.
Ia menatap lapar pada semangka yang di pegangnya. "Semangka, lho, Tu. Warnanya merah, rasanya sangat manis. Dadong sangat lapar." nada suarang terdengar sangat serak, kemudian ia menoleh ke arah Ketut Candra.
Tanpa menunggu lama. Kukunya yang panjang dan menghitam menancap ke atas permukaan bangkai yang saat ini dalam pandangan Ketut Candra.
Bleeeesssh!"
Cairan berwarna kuning dan juga kental memercik cukup deras. Belatung yang bergumpal ikut di makannya, dan juga lalat yang tak mau pergi, masuk kedalam mulut dan di kunyah dengan lahap.
Mendadak perut Ketur Candra terasa seperti diaduk, dan ingin muntah. Ia menutup mulutnya, air mata meleleh karena menahan rasa ingin muntah.
Ia berjalan mundur, dan memilih untuk pergi.
Langkahnya semakin di percepat, dan rumah Wayan Ratri dengan rumah orang tuanya berjarak sekitar lima ratus meter.
Ia berlari menyusuri bibir pantai, dan baru saja seratus meter ia meninggalkan rumah Wayan Ratri, ia memuntahkan isi perutnya, rasa mual tak lagi dapat di tahannya.
"Hah, hah, hah...." dadanya naik turun, dan terasa sesak saat mengingat apa yang baru saja di lihatnya saat tadi.
Sedangkan Wayan Ratri hanya melirik kepergian cucunya dengan senyum seringai, kedua mata yang terbeliak dan meneruskan santapannya yang baginya cukup lezat.
Kegagalannya mendapatkan jiwa Dwi dan juga bocah perempuan bernama Ni Luh, telah membuat ia melemah, dan harus mendapatkan tumbal.
Ia rak peduli pada Ketut Candra yang berlari meninggalkannya.
Ia masih menikmati santapannya. Otak yang berwana merah muda dan basah, membuatnya tak sabar ingin segera menghabiskannya.
Srrrrrruuupt!
Ia menyeruput isinya, dan matanya terpejam saat menikmati rasa segar dari makanan yang saat ini sedang di kunyahnya.
Giginya yang sudah rapuh, tetapi masih sangat kuat untuk meretakkan tulang tengkorak tersebut.
Dari mulutnya, mengalir cairan pekat berwarna kuning yang menetes hingga ke dagu.
Sedangkan Ketut Candra yang masih jatuh terduduk di pasir mencoba mengontrol deru jantungnya yang memburu.
"Apa aku tidak salah lihat? Kalau yang di makan dadong itu lebih mirip kepala manusia," ia bergidik ngeri membayangkannya.
Ia melirik ke arah gubuk Wayan Ratri, dan membuatnya beranjak bangkit untuk kembali pulang, meski tubuhnya sangat lemah.
Saat ia hampir tiba di rumahnya, ia mendengar suara gamelan yang cukup samar. Suara dentingan gamelan gambang yang biasanya di dentingkan saat acara mengantarkan jasad ke pembakaran.
Alunannya membuat Ketut Candra terdiam sejenak, dan ketika ia menajamkan pendengarannya, suara itu hilang terbawa angin ke dalam hutan.
"Candra! Mana dadongmu? Kenapa dia lama sekali? Ibumu sudah sekarat! Apakah dia tidak ingin melihat puterinya untuk terakhir kali?!" tiba-tiba saja, suara Putu Gantari—bapa nya membuyarkan lamunannya.
"Hah!" ketut Candra tersentak kaget, lalu menoleh ke arah sang Bapa.
Ia bingung harus menyampaikan apa, tidak mungkin ia mengatakan jika dadongnya sedang memakan bangkai.
"Bapa... Sebaiknya kita memanggil Mangku Gede untuk mengobati ibu, ataupun petugas medis..." sarannya.
Putu Gantari terdiam. Bahkan ia tak sempat menjawab saat Ketut Candra sudah pergi dengan sepeda motornya yang melaju untuk mencari pertolongan.
Sementara itu, wayan Bintari terlihat terbaring lemah di atas ranjang dengan kedua mata yang terbeliak, dan nafas yang terasa berat.
Mulutnya ternganga, dan tiba-tiba ia mengalami kejang-kejang.
"Hah, hah, hah!" suara berat mengalami rasa sakit terdengar di telinga Putu Gantari yang sedang berada di luar rumah.
Dengan gerakan yang cepat, ia berlari untuk melihat kondisi sang istri, sedangkan Ketut Candra sudah menghilang di tikungan jalan.
Saat ia tiba di ambang pintu kamar, ia dikejutkan oleh kondisi Wayan Bintari yang sudah sangat kritis.
"M-meme... Meme..." ucapnya dengan suara terbata dan bergetar.
"Putu Candra sudah menjemputnya, tetapi meme belum juga datang," Putu Gantari mencoba menjelaskan pada sang istri, bahwa ibu yang di carinya belum juga tiba.
Sedangkan Wayan Bintari saat ini sedang melihat Wayan Ratri sedang membawa bokor pitra yadnya sembari tersenyum seringai padanya.
Sementara itu, di dalam gubuk nan reot, Dadong baru saja menghabiskan hidangannya.
Sruuupt!l
Suara terakhir dari seruputannya, dan ia mengusap bibirnya dari sisa cairan yang menempel.
Braaak!
Ia melemparkan tengkorak kepala itu keluar, hingga bergelinding ke bawah pohon nyuh gading. Di bawahnya terdapat tanah berlubang, dan tengkorak itu masuk ke dalamnya.
Kini tenaganya sudah pulih, dan punggung bungkuknya dapat tegak kembali. "Nah, sudah kenyang," bisiknya dengan suara yang serak, di sertai dengan sendawa.
Ia keluar dari rumahnya, dan berjalan menuju ke rumah puterinya yang saat ini sedang sakaratul maut.
Ketika ia sudah di luar gubuknya, mendadak Wayang Bintari menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Tubuhnya yang tadi mengejang mendadak berhenti, lalu melemah, dan ia meninggal dalam kondisi kedua mata yang membeliak, di sertai mulut ternganga.
Putu Gantari mendadak membeku. Ia menatap tubuh sang istri yang sudah tak lagi bernyawa.
"Wayan Bintari, Meme datang..." suara wanita tua yang terdengar cukup serak berada di ambang pintu, dan membuat Putu Gantari tersentak kaget.
smgt kk 💪💪💪
dasar ya
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌