Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.
Tanpa sadar air mata Reka jatuh berlinang. Bukan karena mendengar tentang rencana pernikahan Lexi, namun teringat pada kata-kata kasar orang tuanya setiap kali ia hendak menyerah dalam mengejar cinta seorang Lexiano Fernandez. Kata-kata kasar orang tuanya sudah seperti makanan sehari-hari bagi Reka. Sebagai wanita yang menginginkan kehidupan bahagia dengan menikahi pria pilihan hati, tentu saja Reka ingin ayah dan ibunya memberikan kesempatan padanya dalam memilih pendamping hidup. Akan tetapi, semua itu hanyalah sebuah harapan yang mungkin hingga kapanpun tidak akan terwujud. Setelah Lexi menikah, mungkin saja ayahnya akan kembali mengatur perjodohannya dengan anak dari rekan bisnisnya yang lain.
"Hei....kenapa kau menangis? Kau juga pasti terluka sama sepertiku, bukan?." Leon melebarkan senyumnya. Rupanya Reka pun merasakan sakit hati dan terluka, sama seperti dirinya, hanya saja wanita itu berpura-pura tegar.
"Kau salah. Bukan karena itu aku menangis. Aku justru senang, akhirnya sekarang aku tak harus mengejar cinta mas Lexi lagi." Reka menyeka jejak air mata di pipinya. Kini tangisnya pun berubah menjadi sebuah senyuman.
"Apa maksudmu?."
"Kedua orang tuaku terlalu terobsesi untuk berbesan dengan keluarga konglomerat seperti keluarga kalian, hingga terus memaksaku untuk menaklukkan hati mas Lexi. Sekarang, mas Lexi telah berencana menikah dengan wanita lain dan itu artinya aku tidak perlu lagi menjadi wanita tak tahu malu dengan terus mengejar cintanya."
Deg.
Meskipun dalam kondisi ma-buk, Leon masih dapat menelaah dengan baik maksud dari kata-kata Reka. Rupanya selama ini wanita itu berada dibawah tekanan kedua orangtuanya.
"Aku ibarat seekor burung yang hanya ingin terbebas dari sangkar." Reka bergumam sembari menyadarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ditempatinya.
Deg.
Leon tidak menyangka, Reka yang selama ini terkenal dengan sikapnya yang ceria ternyata menyimpan kepedihan yang dalam.
*
Di kediaman Andrean.
Zira hendak bersiap untuk beristirahat, namun tiba-tiba ponselnya bergetar pertanda seseorang tengah melakukan panggilan telepon.
"My husband." Cicit Zira ketika melihat nama kontak yang tertera dilayar ponselnya. Sejak kapan ada kontak bertuliskan my husband di ponselnya? Zira jadi mengernyit bingung, mengingat ia tak pernah menyimpan kontak dengan nama seperti itu. Tanpa sepengetahuan Zira, rupanya Lexi lah yang menyimpan nomor kontaknya sendiri dengan nama my husband di ponsel Zira, saat Zira masih dirawat di rumah sakit.
"Halo...."
"Aku sudah menyampaikan tentang rencana pernikahan kita kepada keluargaku, termasuk pada adikku, Leon."
Deg.
Lama suasana hening, Zira tak merespon.
"Jangan bersedih seperti itu! Dengan ataupun tanpa restu dari Leon, kita akan tetap menikah, Zira." Tutur Lexi seolah dapat menebak apa yang kini tengah dipikiran oleh Zira.
"Anda benar-benar manusia kejam." Zira sudah membayangkan bagaimana reaksi Leon saat tahu ia dan Lexi akan menikah.
"Demi masa depan yang lebih baik, sekali-kali menjadi manusia kejam itu perlu, Azira." Balas Lexi dengan entengnya.
"Terserah! Tapi asal anda tahu, bersedia menikah dengan anda bukan berarti saya bersedia menjadi istri sungguhan bagi anda tuan Lexiano Fernandez." Maksud Zira di sinilah adalah, pernikahan yang akan terjalin di antara dirinya dan Lexi hanyalah sebuah formalitas untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya yang merasa anak gadisnya telah dirusak oleh Lexi.
"Aku ikut saja dengan apa yang diinginkan oleh calon istriku." Di seberang sana Lexi nampak tersenyum, seolah mengisyaratkan bahwa ia tidak keberatan dengan semua pernyataan Zira.
"Bagaimana jika akhirnya kamu jatuh cinta padaku?." Lanjut Lexi.
Zira berusaha menguasai emosi saat mendengar kalimat penuh percaya diri yang baru saja terucap dari mulut Lexiano Fernandez.
"Setidaknya tidurlah dulu jika ingin bermimpi, tuan Lexiano Fernandez!." Balas Zira, seolah menjamin apa yang dikatakan oleh Lexi tidak akan pernah terjadi hingga kapanpun.
"Sekarang sudah jam sepuluh malam, besok saya sudah harus kembali bekerja. Jika tidak ada lagi hal penting yang ingin anda sampaikan, maka sebaiknya sudahi panggilan anda!."
"Baiklah. Good night, baby girl."
Mendengar Lexi memanggilnya dengan sebutan demikian, tanpa sadar Zira melempar ponselnya begitu saja ke atas ranjang.
"Dasar tidak tahu malu." Geram Zira.
*
Setelah mengantarkannya kembali dari rumah sakit usai di rawat di sana beberapa hari, Zira tak pernah lagi bertemu dengan Lexi. Barulah sebulan kemudian, keduanya kembali bertemu dihari pernikahan mereka.
Mental Zira tidak sanggup diterpa gosip yang pastinya akan mengusik ketenangan hidupnya.Ya, setelah putus hubungan dengan Leon dan akhirnya menikah dengan Lexi yang sama-sama adalah putra dari tuan Fernandez, tentunya akan menjadikan nama Zira sebagai topik hangat untuk digosipkan. Karena alasan itulah, Zira meminta agar pernikahannya dengan Lexi dilangsungkan secara sederhana saja di kediaman orang tuanya. Pernikahan tersebut hanya dihadiri oleh keluarga serta kerabat dekat saja. Pagi itu tak lebih dari lima puluh orang yang hadir dikediaman keluarga Andrean
Di hadapan semua yang hadir, Lexi mengikrarkan janji suci pernikahan dengan satu tarikan napas, dengan begitu kini Azira putri Andrean telah resmi dipersunting oleh pria itu.
Tempat tidur berukuran king size yang dihiasi taburan kelopak bunga mawar merah ibarat taburan duri yang siap menusuk dan melukai tubuh Zira. Terluka, itulah gambaran hati Zira saat melihat taburan bunga mawar tersebut. Ya, setelah melangsungkan ijab Kabul di kediaman orang tuanya, Zira langsung diboyong oleh Lexi menuju kediaman keluarga Fernandez.
Untuk pertama kalinya bertemu dengan Leon dengan status barunya sebagai kakak ipar, sanggup membuat hati Zira bagai disengat lebah berbisa, sakit sekali rasanya. Zira dan Lexi tak sengaja berpapasan dengan Leon ketika tengah berjalan menuruni anak tangga hendak menuju ruang makan untuk makan siang bersama.
Sejenak tatapan Leon dan Zira bertemu, sebelum sesaat kemudian Zira lebih dulu memutuskan pandangan diantara mereka. Sedangkan Lexi, pria itu berpura-pura tidak menyadari hal itu dan terus melanjutkan langkahnya.
Leon sengaja menghindar, tidak ingin makan siang bersama dengan formasi baru dalam keluarga mereka, yakni dengan kehadiran Zira sebagai kakak iparnya. Akan tetapi, Daddy keburu berseru dan memintanya untuk ikut makan siang bersama.
"Leon....Ayo makan siang bersama!."
Dengan berat hati, Leon memutar balik arah langkahnya.
"Baik, Dad." Leon berjalan beberapa langkah di belakang Lexi dan Zira, menuju ruang makan.
Jujur, di satu sisi Leon masih merasa sakit hati pada Zira dan juga kakaknya, Lexi. Namun di sisi lain, Leon juga tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan kakak dan wanita yang kini telah resmi menjadi kakak iparnya tersebut, hingga berusaha bersikap seolah ia baik-baik saja.
Jangan pikir Leon berniat merebut kembali Zira dari kakaknya, karena faktanya Leon tidak serendah itu meskipun masih merasakan sakit hati. Leon justru ingin segera mencari pengganti Zira agar tidak terlihat menyedihkan. Tak jauh berbeda dengan Leon, Zira pun tidak berniat sedikit pun untuk kembali bersama Leon, namun tak juga berniat menerima kehadiran Lexi dengan sepenuh hati sebagai suaminya. Baginya Lexi tetaplah pria egois dan juga kejam.
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣