NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:942
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertahanlah untuk masa depan (part 1)

Kubasuh muka, hapuskanlah kesombonganku

Kucuci tangan, tanggalkanlah keangkuhanku

Kusapu kepala, lepaskanlah mahkota kecongkakanku

Kusiram kaki tuntunlah, agar baik amal ibadahku

Ampunilah aku, kalau ada rasa kibir pada diriku

Aku berangkat dari fitrah, berkahilah perjalananku

Aamiin...

Setiap gerakan wudu yang Azra lakukan, selalu ada untaian doa terselip di dalamnya. Ajaran yang Azra dapat dari nenek, saat dia dibesarkan olehnya.

Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Azra menghamparkan sajadah di kamar. Selama beberapa hari lalu, dia hanya diperbolehkan menghadap Tuhannya dengan berbaring di atas ranjang.

Hari ini, tubuhnya sudah lebih kuat untuk berdiri menghadap kepada Sang Kholik. Kembali menyembah, mengadu dan meminta hanya kepada Dia, Penguasa Alam Raya.

Ibadah Azra berhenti saat azan subuh berkumandang. Bergegas dia keluar kamar. Aroma bunga melati dan udara pagi yang sejuk, menguar dari taman samping ruang keluarga rumah Pak Kades.

"Lhoo, kamu kok sudah jalan-jalan?" Suara Bu Padma menyapa telinga Azra pagi itu.

"Ikut ke masjid ya, Budhe. Azra sudah enakan insya Allah." Senyumnya terbit menyambut Bu Padma pagi itu.

"Alhamdulillah, ya sudah ayo sama-sama ke masjid."

Mereka berjalan beriringan, melewati ruang keluarga, lalu belok ke kanan, menuju pintu samping belakang pendopo.

Sesampainya di luar, mereka bertemu dengan Raden Sastro dan beberapa abdi dalem yang hendak ke masjid bersama.

"Sudah enakan, Nduk?" Sapa Raden Sastro sambil tersenyum ke arah Azra.

"Sampun, Pakdhe."

Berangkatlah rombongan keluarga Pak Kades ke masjid Raya dengan berjalan kaki. Menikmati udara pagi yang menyehatkan dan menyegarkan badan juga pikiran.

Mentari pagi menyeruak gagah. Sinarnya menyentuh bumi, denyut nadi desa langsung berdetak kencang.

Para peternak mulai menggiring sapi-sapi mereka ke padang rumput, petani bersenda gurau menuju sawah, sementara deru mesin motor para pekerja yang hendak ke kota mulai bersahutan di jalan utama.

Pagi yang hangat telah tiba, dan desa ini kembali menghidupkan ceritanya.

Aktivitas di omah ndalem Pak Kades juga sudah riuh, dari dapur mengepul asap kayu bakar yang khas. Dan aroma masakan semerbak ke udara membangkitkan nafsu makan.

"Azra balik ke rumdin hari ini saja, Budhe. Sudah tiga hari Azra di sini," rengek Azra pagi itu di bale ruang keluarga.

"Walaaah, baru tiga hari neng kene wis bingung. Lali po yo, waktu SMA dulu biasa tidur di sini berhari-hari kalau liburan," sergah Sekar sambil memasukkan laptop ke dalam tasnya.

"Ora ngono, Kar. Aku sudah ninggalin Pustu tiga hari. Nggak enak sama rekan-rekan di sana." Sanggah Azra sambil memasukkan potongan pepaya ke dalam mulutnya.

"Obatmu wis diminum, Nduk?" Arunika muncul dari dapur sambil membawa sayuran buat pecel di tangannya.

"Sudah, Mbak." Azra menjawab sambil menampilkan senyum lesung pipinya ke arah Arun.

Arun tersenyum, diciumnya pipi Azra singkat.

"Hadeeeh, manja teruuss. Kalau sama Mbak Arun aja, manutnya biyyyuh. Kalau sama aku, harus diomeli dulu, baru manut. Sekar berangkat dulu ya, Romo, ibu." Sekar mencium punggung tangan orang tuanya.

Beranjak ke Arun, melakukan hal yang sama, setibanya di belakang Azra, diacak-acaknya jilbab Azra gemas. "Sekaaar!" Teriak Azra kesal.

Sekar berlari ke halaman sambil menjulurkan lidah ke arah Azra.

Pak Kades dan istrinya tersenyum bahagia, melihat Azra sudah kembali ceria. Meski 'lukanya' belum pulih sepenuhnya.

"Pulang ke rumdin nanti malam saja, Nduk. Budhemu sudah manggil mbok Jum, buat mijit kamu sore nanti. Wis gitu aja, Pakdhe mau ngantor." Pak Kades beranjak dari ruang makan.

Azra berdiri, membuntuti di belakang bersama Bu Padma, mengantar Pak Kades berangkat ke kantor desa.

.......

Sore itu, di omah ndalem.

"Azra, giliranmu dipijit. Cepat, ini mbok Jum sudah selesai mijit Mbak." Arunika mengenakan kembali pakaiannya, setelah dipijat mbok Jum.

Azra yang tidak ingin dipijat, sedang sibuk di taman, memilih merapikan bunga-bunga.

"Ya Allah, Azra! Mbak suruh kamu cepat siap-siap buat dipijat, bukan main tanah di taman!" Ucap Arunika sambil berkacak pinggang di hadapan Azra.

"Hehe ...." Azra mengangkat dua jarinya sambil terkekeh lebar.

"Azra, dengar nggak yang dibilang Mbak?"

"Bentar, Mbak. Nanggung, dikit lagi selesai ini motong daunnya." Ujar Azra berusaha berkelit.

Mendengar ribut-ribut di taman, Bu Padma keluar dari kamar, sambil berjalan ke arah Azra, dia berkata, "Azra. Mbok Jum sudah menunggu."

"Oh iya, Budhe." Bergegas Azra merapikan peralatan taman, kemudian menyimpannya di gudang.

Bu Padma dan Arun geleng-geleng kepala melihat cara Azra menghindari pijatan mbok Jum kali ini. Dulu, supaya terbebas dari pijatan mbok Jum, Azra bersembunyi di rumah Pak Wandi, dekat danau Widuri Asri.

Azra berbaring tengkurap di atas ranjangnya. Mbok Jum mulai mengoleskan minyak ke telapak kaki Azra. Saat jemari mbok Jum mulai memijat telapak kaki, Azra berteriak, "Aaaa"

"Aanak e jaran," latah mbok Jum kaget mendengar teriakan Azra.

Azra menahan tawa mendengar mbok Jum latah. "Nak dokter ini kenapa toh? Baru dipegang kok sudah teriak. Sakit tah kakinya?" tanya mbok Jum bingung.

"Mboten, mbok. Geli aja." Jawab Azra.

"Ealaah ... yo wis sini murep lagi. Ditahan ya kalau geli," ujar mbok Jum lagi.

Azra kembali tengkurap, dia menutup kepalanya dengan bantal, berusaha sekuat tenaga tidak bersuara saat merasakan geli.

"Nak dokter, jangan kaku kakinya, tripleks aja kakinya kalau dipijat."

"Hah??? Apa mbok? Tripleks? Kakinya Azra kena tripleks?" Tanya Sekar yang tiba-tiba muncul di kamar Azra.

"Lho, Mbak Sekar. Siapa yang kakinya kena tripleks?" tanya mbok Jum balik.

"Tadi, mbok Jum bilang kaki Azra tripleks."

Azra bangun dari posisi tengkurapnya, duduk menatap mbok Jum dan Sekar yang sedang berdebat. Wajahnya sudah memerah menahan tawa.

"Bukan, Mbak Sekar. Ini lho, nak dokter kalau dipijat kakinya jangan kaku. Tripleks aja, biar enak mijitnya." Jawaban polos mbok Jum membuat Sekar dan Azra tertawa geli.

"Rileks mbok, bukan tripleks. Itu kah maksudnya mbok Jum?" Tanya Azra setelah berhenti tertawa.

"Nah, iya itu. Wis sekarep lah ngomong apa. Ayo mapan maneh, lanjut lagi pijatnya."

Dengan enggan, Azra tengkurap kembali di atas ranjang, menahan siksaan menahan geli.

"Zra, dengar berita banjir bandang, nggak?" Tanya Sekar sambil mendudukkan pantatnya di kursi kamar Azra.

"Enggak. Belum tahu, di mana emangnya ada banjir bandang?" Tanya Azra balik, tubuhnya mulai rileks setelah diajak Sekar ngobrol.

"Di Colorado, parah banjirnya. Ribuan rumah roboh, bukan ratusan lagi."

"Akibat hujan, kah?"

"Iya, hujannya ekstrem. 600 orang dinyatakan hilang, belum ditemukan juga sampai sekarang. Kasihan," lanjut Sekar

"Di mana itu, Mbak banjirnya?" Mbok Jum ikut menyimak berita yang dibawa Sekar.

"Colorado, mbok," jawab Azra.

Sekar menyeringai, terlintas ide jahil di kepalanya.

"Di mana mbok?" Tanya Sekar lagi.

Mbok Jum berhenti memijat, alisnya bertaut, berusaha memikirkan tempat yang baru saja disebutkan Azra, "Kolor ... kolor ..."

"Baa!"

"Kolor ijo!" Teriak mbok Jum latah setelah dikageti Sekar.

Sekar lari meninggalkan kamar Azra sambil tertawa terbahak-bahak.

Sementara Azra sudah menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan tawa di bawah bantal.

Mbok Jum kembali memijat Azra sambil misuh-misuh tidak karuan

......

Selepas salat magrib, suasana pendopo Pak Kades terlihat ramai. Linda datang menjemput Azra dengan mobil pick-up Yanto, setelah menerima pesan singkat dari gadis mata hazelnut itu.

Belum lama Linda dan Yanto duduk, suara motor sport hitam terdengar memasuki halaman.

Seorang pemuda tinggi dan seorang kakek yang masih tegap badannya, turun dari motor. Berjalan beriringan memasuki pendopo.

"Assalamu'alaikum ..." ucap sang kakek.

"Wa'alaikumussalam ... masya Allah, Pak Wandi. Njanur gunung ini, sesepuh desa kerso sowan ke rumah saya," sambil berdiri, Pak Kades menghampiri Pak Wandi.

Mencium punggung tangannya, lalu memeluk erat tubuh kakek yang masih tegap badannya itu.

"Kowe ki, lek ora disambangi, yo ra tau moro nang omah." ujar kakek Wandi sambil memprotes Pak Kades yang tidak pernah berkunjung ke rumahnya.

"Inggih, Pak. Pangapunten, kegiatan desa ini lho, berlanjut terus. Monggo pinarak. Di kursi saja, Pak. Yanto, tolong ambilkan kursi di dalam, sekalian panggil semua, ada Pak Wandi sowan."

Yanto bergegas masuk ke dalam, melaksanakan perintah Pak Kades, sementara Linda terdiam mengamati situasi di depannya.

Dari yang Linda lihat, dia akhirnya paham bahwa Pak Wandi—yang dia temui beberapa waktu lalu bersama dokter Azra—bukan orang sembarangan di desa ini. Timbul rasa segan di hati Linda. ​

"Piye kabare Azra? Aku kok tidak kamu beritahu kejadian di kota. Aku malah dengar dari rasan-rasan -nya orang desa, kalau Dokter Azra sakit sepulang dari pernikahan Dokter Wita. Enek opo?" tanya Pak Wandi setelah duduk di kursi jengki.

Pak Kades duduk di atas tikar. Masih diam belum menjawab pertanyaan Pak Wandi.

Tidak berapa lama, anggota keluarga Pak Kades keluar semua dari dalam, menyalami Pak Wandi dengan hormat, kemudian duduk tertib di tikar pandan.

Azra datang paling akhir, saat mendekati Pak Wandi, kakek ini memegang erat tangan Azra. Menatap mata hazelnut-nya dengan penuh iba. Tak lama kemudian, merengkuh Azra dalam pelukan hangat seorang kakek.

"Isih kuat toh Nduk? Isih sabar toh?" bisiknya lirih di telinga Azra sambil menepuk-nepuk pelan punggung Azra.

Azra mengangguk, air matanya menetes di pundak Pak Wandi.

Dan benar, luka itu belum sepenuhnya pergi.

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!