NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Pilihan Dua Monster Kecil

Bab 4: Pilihan Dua Monster Kecil

​Kenzo Dirgantara dan Keira Dirgantara. Dua pewaris sah darah mafia sang penguasa kegelapan melangkah masuk dengan pakaian formal beludru sewarna marun yang sangat rapi. Wajah mereka sangat menawan, mewarisi garis wajah tegas milik Adrian, namun tatapan mereka... sama sekali tidak mencerminkan anak-anak seusianya.

​Kenzo tampak memegang sebuah tablet komputer ramping dengan jemari kecilnya, sementara Keira memilin seutas tali tambang tipis di tangannya dengan senyum manis yang justru terlihat mengerikan.

​"Kenzo, Keira. Bukankah Daddy sudah bilang untuk tetap di kamar kalian?" suara Adrian terdengar bariton dan tegas, namun ada nada toleransi yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain.

​"Kami bosan, Dad," sahut Kenzo datar. Ia melangkah mendekati Aline, menatap gadis itu dari ujung sepatu kainnya yang berdebu hingga ke ujung rambut pendeknya yang acak-acakan. "Semua kandidat di luar sangat bodoh. Wanita dari lulusan psikologi itu bahkan langsung menangis saat Keira meletakkan replika tarantula di tasnya. Lemah sekali."

​Keira terkekeh geli, menampakkan deretan gigi kelincinya yang lucu. Namun tatapan matanya mengunci Aline dengan lekat. "Tapi Kakak ini... dia bahkan tidak gemetaran karena takut pada Daddy. Tubuhnya bergetar, tapi pola napasnya sangat stabil. Menarik."

​Jantung Aline berdesir. Sial, anak ini jeli sekali! batinnya mengumpat. Kemampuan observasi si kembar benar-benar di luar nalar anak lima tahun. Insting mafianya Adrian tampaknya menurun sempurna pada dua bocah ini.

​"Kakak Desa," Keira tiba-tiba berjalan mendekat ke arah Aline. Di tangannya, ia membawa sebuah gelas kaca berisi jus jeruk yang penuh hingga ke permukaan. "Bisa tolong ambilkan mainanku yang jatuh di bawah meja itu?"

​Aline melirik ke arah bawah meja yang ditunjuk Keira. Tidak ada mainan apa pun di sana. Ini jebakan.

​Saat Aline berpura-pura membungkuk dengan kikuk, Keira dengan sengaja menyenggolkan tubuhnya ke lengan Aline, membuat gelas jus jeruk di tangannya miring dan siap tumpah mengotori seluruh kemeja kotak-kotak milik Aline.

​Gerakan itu sangat cepat untuk ukuran anak kecil, tapi di mata Aline yang sudah terlatih, gerakan itu terasa lambat. Aline punya dua pilihan: menghindar dengan gerakan refleks cepat yang akan membongkar kemampuan bela dirinya di depan Adrian, atau membiarkan dirinya basah kuyup demi mempertahankan penyamarannya.

​Aline memilih jalan ketiga. Jalan yang cerdik.

​Ia sengaja menjatuhkan tubuhnya ke depan dengan gaya yang sangat canggung, seolah-olah ia tersandung oleh kakinya sendiri. Bruk!

​Tubuh Aline mendarat di lantai dengan posisi telungkup yang tidak estetis sama sekali. Namun, tangan kanannya yang sengaja menyapu lantai justru berhasil menangkap gelas jus jeruk milik Keira yang melayang jatuh, menahannya tetap tegak di atas ubin marmer tanpa menumpahkan satu tetes pun cairan ke pakaiannya maupun ke lantai.

​"A-Aduh... m-maaf, Nona Kecil... saya sangat teledor," ucap Aline dengan suara yang sengaja dibuat bergetar dan sengau, pura-pura panik sambil buru-buru berdiri dan membetulkan kacamatanya yang miring. Ia menyerahkan kembali gelas jus yang utuh itu kepada Keira dengan tangan yang bergetar hebat.

​Keira melongo. Senyum liciknya sempat membeku sesaat. Ia menatap gelas jusnya, lalu menatap Aline dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana bisa wanita berkacamata tebal ini menangkap gelas jatuh dengan posisi sekonyol itu? Kebetulan?

​Sementara itu, Kenzo melangkah maju, mengetuk-ngetuk layar tabletnya. "Kakak dari desa, kan? Berarti Kakak tidak pernah belajar kalkulus maju. Coba lihat ini."

​Kenzo menyodorkan layar tabletnya ke depan wajah Aline. Di layar itu tertulis sebuah deret persamaan matematika rumit tingkat universitas yang sengaja ia retas dari forum ilmuwan. "Jika Kakak bisa menyelesaikan ini dalam waktu sepuluh detik, Kakak boleh tinggal. Jika tidak, Daddy akan menembak kepalamu."

​Adrian yang berdiri di belakang mereka hanya bersedekap, mengamati interaksi itu dengan mata elangnya yang dingin. Ia membiarkan anak-anaknya menguji mangsa baru mereka.

​Aline menatap deretan angka itu. Sebagai seorang ahli keamanan siber, persamaan seperti ini adalah makanan sehari-harinya. Tapi sekali lagi, ia adalah 'Aline si gadis desa yang bodoh'.

​Aline mengerjapkan matanya yang bulat di balik kacamata, memasang wajah super bingung dan polos. "I-Ini... ini angka apa, Tuan Muda? Seperti cacing kepanasan... t-tapi sepertinya saya pernah melihat angka tujuh di buku paket SD sepupu saya... jawabannya tujuh, ya?" Aline menjawab asal-asalan sambil tersenyum bodoh, menunjuk angka acak di layar.

​Kenzo tertegun. Ia melihat hasil akhir di sistem tabletnya. Angka mutlak dari persamaan rumit itu memang berakhir dengan variabel angka 7 yang disederhanakan.

​Kenzo menatap Aline dengan intens. Gadis di depannya ini menjawab dengan nada yang sangat bodoh dan asal tebak, tapi entah bagaimana, tebakannya 100% akurat.

​Saling bertukar pandang, si kembar Kenzo dan Keira menarik sudut bibir mereka secara bersamaan. Mereka tahu wanita di hadapan mereka ini sedang memainkan sebuah peran yang sangat rapi. Dia bukan gadis desa bodoh, dia adalah seorang pemain sandiwara kelas kakap yang sangat terampil. Dan bagi dua bocah genius yang merindukan hiburan ini, Aline adalah mainan paling sempurna yang pernah dikirimkan ke mansion mereka.

​Kenzo berbalik, menatap ayahnya yang masih berdiri tegak dengan aura dinginnya.

​"Dad," Kenzo menunjuk Aline dengan dagunya. "Kita mau pengasuh yang ini. Dia... sangat menarik."

​Apakah Adrian akan menuruti keinginan si kembar, atau justru tetap mengusir Aline keluar karena kecurigaannya?

1
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!