NovelToon NovelToon
Transmigrasi Figuran

Transmigrasi Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Ana

Lia, seorang pembaca setia novel populer berjudul Cinta dan Bayang Kekuasaan, tiba-tiba terbangun dan mendapati dirinya telah bertransmigrasi masuk ke dalam tubuh seorang tokoh figuran yang nyaris tidak disebutkan namanya dalam cerita aslinya. Tokoh ini adalah putri satu-satunya dari keluarga Adhitama—kelompok mafia sekaligus konglomerat terkaya nomor dua di dunia.

Dalam alur cerita asli, tokoh ini hanya berfungsi sebagai alat pengikat alur semata. Ia dijodohkan dengan Arjuna Dirgantara, pewaris keluarga Dirgantara, kekuasaan nomor satu di dunia yang juga dikenal sebagai sang antagonis utama yang dingin, kejam, dan dijuluki “Malaikat Maut” di dunia bawah tanah. Takdir tokoh ini sangat tragis: ia akan dibunuh secara diam-diam tak lama setelah pertunangan, menjadi korban pertikaian antar keluarga dan rencana licik tokoh-tokoh utama.

Sekarang dengan ingatan sebagai pembaca novel, Lia menyadari bahaya besar yang mengancam nyawanya. Tujuannya hanya satu: membatalkan pertunangan ini sece

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8 figuran tunangan antagonis

Jalan setapak makin menanjak pelan, kabut di antara pepohonan perlahan menipis saat matahari naik lebih tinggi. Suara aliran air terdengar makin jelas, bukan lagi gemuruh sungai, melainkan jatuhan lembut yang berirama. Di depan mereka, celah di antara dua pohon beringin raksasa terbuka—menampakkan sebuah kolam batu bundar yang sudah berumur ratusan tahun.

Di tengahnya berdiri patung anak kecil tanpa kepala yang memegang tempurung kerang; air jernih memancar perlahan dari mulut kerang, mengalir ke pinggiran yang berlumut hijau. Ini Air Mancur Tua, titik terakhir yang tertulis di ingatan masa kecil Damian.

“Jadi… dulu kamu sering main di sini?” tanya Elena sambil mengelap keringat di dahi, matanya tak lepas dari pemandangan yang tenang itu.

Damian mengangguk pelan, seolah sedang menyusun kepingan ingatan yang lama hilang. “Dulu airnya lebih deras, patungnya masih utuh. Di sini tempat kami biasa duduk, makan bekal yang dibawa Laras, dan saling lari‑lari mengejar capung.”

Arga dan pengawal berkeliling memeriksa sekelilingnya dengan tenang, sementara Elena dan Damian berjalan perlahan mendekati tepi kolam. Di bawah bayangan patung yang rusak, ada sebuah papan batu pipih tertanam di tanah, tulisan di atasnya nyaris hilang dimakan waktu.

“Lihat sini,” tunjuk Elena sambil berjongkok.

Di permukaan batu terukir dua nama kecil yang disambung garis lengkung: D + E, di bawahnya angka 2016.

Damian ikut berjongkok di sebelahnya, jarak bahu mereka hampir bersentuhan. “Tahun kejadian hilangnya Laras… tahun yang sama aku jatuh dari pohon di dekat sini dan hilang sebagian ingatan.”

“D dan E… Damian dan Elena?” bisik Elena, jantungnya berdebar pelan.

“Sepertinya begitu,” jawab Damian lembut, pandangannya jatuh ke wajah samping Elena. “Tapi dulu aku yakin teman kecilku itu rambutnya lebih ikal, matanya sering berbinar saat melihat bunga jeruk. Dulu aku kira bukan kamu—kamu pendiam, kaku, beda sekali.”

Elena menoleh, senyum tipis mengembang. “Bisa saja dulu aku lebih berisik, lalu berubah karena lingkungan. Atau… mungkin kita sama‑sama lupa.”

Damian diam sejenak, lalu tangannya perlahan menyentuh ujung rambut Elena yang sedikit melengkung kena angin. “Ternyata benar… ujungnya memang agak ikal. Dulu aku pernah bilang, rambutmu seperti gulungan awan kecil.”

Elena tertegun. Kalimat itu asing tapi rasanya akrab, seperti gema dari mimpi lama. Pipi‑nya terasa hangat, meski udara di sini masih sejuk.

“Kamu mulai ingat banyak hal ya?” tanyanya pelan.

“Sedikit demi sedikit,” jawab Damian, tangannya ditarik perlahan seolah sadar gerakannya terlalu dekat. “Dan anehnya, rasanya tidak asing. Seolah kenangan itu cuma tidur lama, menunggu sesuatu untuk bangun.”

 

Pesan di Dasar Air & Pertemuan Tak Terduga

Salah satu pengawal melapor dari sisi lain kolam: “Tuan, di dasar air ada kotak besi kecil, terikat tali nilon tua.”

Damian mengangguk. “Angkat hati‑hati.”

Kotak itu muncul basah berkilau, tapi tertutup rapat, tidak bocor. Di tutupnya ada lubang kecil—bukan kunci biasa, melainkan bentuk pas dengan liontin bulan sabit yang Elena temukan di Batu Berwajah. Elena mengeluarkan liontin dari lehernya, mendekatkan separuh perak itu ke lubang. Pas persis.

Saat tutup terbuka, tidak ada senjata atau harta—hanya sebuah buku catatan kulit kecil dan separuh liontin lain yang hilang. Sekarang bulan sabit itu utuh kembali.

Elena membuka halaman pertama. Tulisan tangan miring khas Laras:

“Kalau kamu baca ini, berarti kamu dan dia sudah kembali ke tempat kita mulai.

D dan E bukan sekadar nama panggilan—kalian dua sisi dari satu janji yang sempat terputus.

Clarissa tidak diculik, dia datang sendiri. Dia pikir dia memegang kendali, tapi dia cuma tamu yang tidak tahu aturan main.

Kelompok Rendra bukan musuh sejati. Mereka marah karena kebenaran disembunyikan sepuluh tahun lamanya.

Di balik patung tanpa kepala ada pintu kecil. Di sana jawaban terakhir menunggu.”

Damian langsung berjalan ke belakang patung anak itu. Di antara lumut dan akar pohon, terlihat celah batu sempit yang bisa didorong. Saat didorong, terdengar bunyi mekanisme tua yang berderit—pintu terbuka ke lorong pendek yang agak gelap.

“Arga, tunggu di depan dengan tim,” perintah Damian singkat. “Kami masuk sebentar.”

Arga mengangguk, meski matanya penasaran. “Hati‑hati. Kalau ada apa‑apa, teriak saja.”

Di dalam lorong cahaya minim, Elena mengeluarkan lampu kecil dari tas. Di ujungnya ada ruangan batu kecil yang kering, di dindingnya terpajang foto berbingkai kayu—foto Laras muda, tersenyum sambil memegang tangan dua anak kecil: Damian dan Elena kecil. Di meja tengah ada seseorang yang duduk bersandar tenang, rambutnya panjang beruban, wajah masih terlihat lembut.

“Selamat datang kembali,” suaranya rendah tapi jernih. “Aku sudah lama menunggu kalian.”

 

Bibi Laras & Kebenaran yang Tertunda

Elena dan Damian saling pandang, lalu maju selangkah. “Bibi Laras?”

Wanita itu mengangguk pelan. “Benar. Aku tidak hilang, aku bersembunyi supaya cerita tidak berakhir seperti yang direncanakan orang lain.”

Damian memotong langsung, nadanya tetap tenang tapi penuh tanya: “Tentang Clarissa dan kelompok Rendra… apa yang sebenarnya terjadi?”

Laras menunjuk kursi kayu di hadapannya, mengajak duduk. “Clarissa datang ke kelompok Rendra setengah tahun lalu. Dia tahu ada ketidakharmonisan lama, dia tahu pertunanganmu dengan Elena akan berakhir. Dia menawarkan info jalur rahasia Vareza, dengan syarat dia dibantu menjauhkan Luna dari Arga, lalu mengambil posisi kuat di antara klan besar.”

“Tapi kenapa Rendra mau membantu?” tanya Elena.

“Mereka bukan penjahat,” jawab Laras lembut. “Sepuluh tahun lalu ada kesalahpahaman soal pembagian wilayah. Ayahmu, Damian, dan ayahmu, Elena, sama‑sama takut perang meletus. Jadi mereka sepakat menyatakan Rendra kalah dan hilang—padahal mereka dikirim mengurus wilayah terpencil yang berbahaya. Kesepakatan itu rahasia, tapi perlahan bocor. Clarissa menangkap anginnya dan memanfaatkan celah.”

“Lalu Clarissa sekarang di mana?” tanya Damian.

“Di ruang istirahat sebelah, dijaga aman,” jawab Laras tenang. “Dia tidak terluka, cuma tidak boleh pergi sebelum paham seberapa jauh dia melangkah keluar batas.”

Elena teringat Arga yang menunggu di luar. “Arga sangat khawatir. Dia masih… terikat perasaan meski tahu banyak kesalahan Clarissa.”

Laras tersenyum tipis. “Arga baik, polos dalam hal hati. Tapi kebaikan bukan berarti harus buta. Biar dia yang bicara langsung sama Clarissa nanti.”

 

Momen di Teras Lorong: Jarak yang Menyempit

Sebelum keluar ruangan batu, Damian berhenti sejenak di ambang pintu yang diterangi cahaya alami. Elena berdiri di sampingnya, memegang buku catatan Laras.

“Jadi… kita memang kenal sejak kecil,” ucap Damian pelan, pandangannya menelusuri wajah Elena seolah melihat anak kecil di balik wajah remaja itu.

“Ternyata takdir suka main sembunyi ya,” jawab Elena sambil tertawa kecil. “Dulu kita bertemu, lalu lupa, lalu dipertemukan lagi sebagai tunangan yang mau putus.”

Damian ikut tersenyum, lalu suaranya turun satu nada, lebih lembut dari sebelumnya. “Dulu aku kira pertunangan itu cuma beban. Sekarang aku sadar… kalau tidak ada perjanjian itu, mungkin kita tidak akan mulai mencari tahu siapa satu sama lain sebenarnya.”

Elena menunduk sebentar, lalu memberanikan diri menatap balik. “Aku juga sempat takut kamu akan jadi seperti di cerita yang aku kira aku tahu. Tapi kamu… beda.”

“Cerita yang kamu kira kamu tahu?” ulang Damian penasaran.

Elena buru‑buru memperbaiki. “Maksudku… cerita orang‑orang soal kamu yang dingin dan kejam. Ternyata kamu juga bisa peduli, ingat hal kecil, dan… menolong tanpa pamer.”

Damian mendekat sedikit, jarak mereka tinggal satu jengkal. Di luar, angin menggerakkan dedaunan, menciptakan bayangan bergerak di wajah mereka.

“Elena,” panggilnya pelan.

“Iya?”

“Mulai hari ini… kita tidak perlu lagi berpura‑pura atau mengikuti aturan orang lain. Kita buat aturannya sendiri.”

Elena mengangguk, hatinya terasa ringan dan hangat. “Setuju. Asal jangan kamu jadi bos yang terlalu keras.”

Damian tertawa—suara tawa yang lepas, bukan tawa sopan atau dingin. “Aku cuma keras sama musuh. Sama teman lama… aku bisa sabar.”

Saat mereka melangkah keluar, tangan Damian tanpa sadar menyentuh punggung tangan Elena, lalu tetap di sana sebentar sebelum berpisah lagi—sentuhan ringan, sederhana, tapi cukup untuk membuat Elena tersenyum sendiri tanpa alasan jelas.

 

Arga Bertemu Clarissa: Kebenaran yang Menyakitkan

Di ruang samping yang lebih terang, Arga sudah masuk dan berdiri di depan Clarissa. Gadis itu duduk di kursi, wajahnya pucat, rambutnya agak berantakan, tapi matanya masih memancarkan pertahanan diri.

“Kau datang juga,” ucap Clarissa, nadanya campur rasa lega dan malu.

“Kenapa kau lakukan semua ini, Clarissa?” tanya Arga lurus, tidak membuang waktu. “Menjebak Luna, bekerja sama dengan kelompok yang menyerang Vareza, menyembunyikan rute rahasia… apa semua ini sepadan?”

Clarissa tertawa kecil, getir. “Sepadan? Aku cuma tidak mau kalah. Luna dari keluarga biasa, Elena dulu cuma figuran yang tak bersuara. Kenapa mereka bisa tenang, sementara aku harus selalu berusaha dua kali lipat supaya diperhatikan?”

“Kau salah mengira,” jawab Arga pelan tapi tegas. “Kau tidak kalah karena mereka lebih kuat. Kau kalah karena kau lupa cara menang dengan jujur. Aku mencintai gadis yang tulus, bukan gadis yang membangun posisi di atas kebohongan.”

Wajah Clarissa memerah menahan air mata. “Jadi… aku sudah tidak ada tempat di hatimu sama sekali?”

Arga diam sebentar, lalu menggeleng pelan. “Tempatnya masih ada, tapi bukan sebagai tunangan. Sebagai teman lama yang perlu belajar batas. Mulai sekarang, pertunangan kita berakhir.”

Kalimat itu terdengar ringkas, tapi berat bagi Clarissa. Dia menunduk dalam, tidak membantah lagi.

 

Kembali ke Air Mancur: Rencana Baru

Sore mulai menjelang saat mereka berkumpul kembali di dekat air mancur. Laras berdiri di samping Damian dan Elena, memegang separuh dokumen lama.

“Besok pagi kita kembali ke kota,” kata Laras. “Aku akan menemui kepala keluarga Aditya dan Vareza untuk menyelesaikan urusan lama sekaligus menjelaskan soal Rendra. Perdamaian bisa dimulai, asalkan tidak ada lagi rahasia yang ditimbun.”

“Dan soal Clarissa?” tanya Elena.

“Dia akan dikembalikan ke orang tuanya dengan syarat dia tidak mengulangi rencana berbahaya. Jika melanggar lagi, hukumannya sama untuk siapa saja,” jawab Laras tenang.

Saat berjalan kembali ke jalan utama, Damian memperlambat langkahnya agar sejajar dengan Elena. Di sela‑sela percakapan rencana pulang, dia menyelipkan satu kalimat pendek:

“Besok malam… ada acara makan kecil di rumahku. Hanya keluarga dekat dan kita. Datang ya?”

Elena terkejut sedikit, lalu tersenyum. “Undangan resmi atau permintaan teman lama?”

“Keduanya,” jawab Damian sambil menatap lurus ke depan, tapi sudut bibirnya terangkat senyum. “Dan aku berharap kamu datang.”

Di kejauhan, kabut sore mulai menutupi puncak bukit. Hutan yang tadi terasa penuh misteri dan bahaya, kini terasa seperti tempat di mana dua orang menemukan kembali bagian diri yang hilang.

Namun di dalam buku catatan Laras yang dibawa Elena, terselip satu baris tulisan yang belum sempat dibaca semua orang:

“Bulan sabit sudah bersatu, tapi awan gelap belum benar‑benar pergi. Matahari dan bulan tidak boleh bersinar sendiri—mereka butuh keseimbangan agar tidak terbakar.”

Elena melipat halaman itu rapi di dalam hati. Cerita belum selesai, tapi sekarang dia tidak lagi berjalan sendirian.

(Bersambung )

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!