NovelToon NovelToon
The Great Of Martial Art

The Great Of Martial Art

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur
Popularitas:641.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: IAN JF

Sinopsis:

Liu Bai berusaha sekuat tenaga untuk mencapai puncak bela diri. Dalam menghadapi kesulitan, Liu Bai harus bertahan dan pantang menyerah. Hanya dengan begitu Liu Bai dapat menerobos dan melanjutkan perjalanan untuk menjadi yang terkuat. Suatu hari murid rendahan Liu Bai menemukan bela diri terkuat yang tidak pernah di sangkanya dan menempatkan dirinya di jalan menuju puncak dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAN JF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 22 - Kediaman Keluarga Wu

Dengan cepat wanita itu kembali membalikkan tubuhnya di balik pohon besar tersebut.

'Apa yang baru saja ku lihat tadi?!' gumam wanita itu di dalam hatinya sambil menutupi wajahnya yang memerah.

Badump-! Badump-! Badump-!

Jantung wanita itu berdetak dengan cepat hingga terdengar sampai ke telinganya sendiri.

'Ah... Jantungku tak henti-hentinya berdetak dengan cepat. Apa sebelumnya tempat ini memang sepanas ini?' gumam wanita itu di dalam hatinya.

"Hei." ujar Liu Bai kepada wanita itu sambil membasuh tubuhnya.

"...!" Wanita itu tersentak saat pria itu berbicara kepada dirinya.

"Kenapa kau hanya diam saja? Aku kesulitan jika kau tidak mau berbicara denganku." ujar Liu Bai kepada wanita itu.

"..." Wanita itu tetap terdiam.

"Apakah kau marah karena aku sebelumnya menciummu? Yah, bagi seorang wanita di cium oleh pria yang tak di kenalnya, wajar saja apabila marah. Aku hanya berniat untuk menolongmu." ujar Liu Bai kepada wanita itu.

"Aku tahu... itu." ujar wanita itu membalas perkataan Liu Bai.

"Aku juga tidak membencinya." bisik wanita itu dengan suara yang pelan.

"Apakah kau barusan mengatakan sesuatu?" Liu Bai bertanya kepada wanita itu.

"Tidak ada." ujar wanita itu menjawab dengan cepat pertanyaan yang di berikan oleh Liu Bai.

"Kalau kau tahu, lalu kenapa kau tak mau berbicara denganku sebelumnya? Aku penasaran tentang itu." ujar Liu Bai kepada wanita itu.

"..." Wanita itu terdiam sejenak.

"Saat itu kau mengatakan jika terjadi apa-apa padaku, kau tidak ada urusannya denganku karena kau tidak mengenalku." ungkap wanita itu kepada Liu Bai dengan menggembungkan kedua pipinya.

"..." Liu Bai terdiam sejenak saat mendengar jawaban yang di berikan oleh wanita itu.

Setelah membersihkan dirinya di dalam danau tersebut, Liu Bai pun naik kembali ke tepi danau.

"Apa yang ku katakan tentang itu adalah kebenarannya." ungkap Liu Bai kepada wanita itu sambil mengenakan kembali pakaiannya.

"Aku tidak akan begitu saja menolong seseorang tanpa alasan. Bisa saja aku salah paham tentang situasi kalian jika aku tiba-tiba datang dan berteriak seperti seorang penyelamat. Aku tidak tahu siapa di antara kalian yang baik dan yang jahat. Bisa saja itu adalah kau karena aku tidak mengenalmu." sambung Liu Bai lagi sambil berjalan menuju ke pohon besar di mana wanita itu sedang berdiam diri di baliknya setelah selesai mengenakan pakaiannya.

"Tapi..." ujar Liu Bai.

"...!" Wanita itu tersentak saat Liu Bai berdiri di depannya.

Setelah berdiri di hadapan wanita itu, Liu Bai pun mengapit wanita itu di antara kedua tangannya yang bersandar pada pohon besar tersebut.

"...?" Wanita itu bertanya-tanya dengan kedua matanya yang terbuka lebar.

"...Itu akan berbeda jika kau adalah wanitaku. Aku tidak akan membiarkan wanita secantik dirimu mengalami hal seperti itu." ungkap Liu Bai melanjutkan perkataannya yang sebelumnya dengan tatapan tajamnya.

"...!" Wanita itu sontak terkejut dengan pernyataan yang di berikan oleh pria yang ada di hadapannya tersebut. Wajahnya seketika memerah sesaat setelah mendengar perkataan yang baru saja di ucapkan olehnya.

Badump-! Badump-! Badump-!

Jantung wanita itu berdetak dengan cepat.

"Ja-Jangan menggodaku." ujar wanita itu sambil memalingkan wajahnya ke sisi lain.

Melihat reaksi wanita itu, Liu Bai pun menarik kembali kedua tangannya yang di sandarkan pada pohon besar tersebut.

"Pergilah bersihkan dirimu di danau itu. Aku yakin hal itu akan dapat kembali menyegarkan tubuh dan pikiranmu. Kau sudah melewati kesulitan seperti ini. Aku akan menunggu di sini. Kita akan berangkat setelah kau selesai." ujar Liu Bai memberikan arahan kepada wanita itu.

"Tapi..." ujar wanita itu.

"Tidak ada tapi-tapian. Lakukan saja." ujar Liu Bai kepada wanita itu.

Kemudian wanita itu mengangguk pelan dan beranjak pergi menuju ke danau tersebut. Sedangkan Liu Bai duduk bersandar di bawah pohon besar untuk menunggunya.

'Kenapa aku dengan sangat mudah menuruti perkataannya? Bisa saja dia ingin mengintipku makanya dia berkata seperti itu.' gumam wanita itu di dalam hatinya sambil melirik ke belakang setelah sampai di tepi danau tersebut.

'Tak ada tanda-tanda dia akan mengintipku. Mungkin hanya perasaanku saja yang terlalu gelisah. Kalau begitu tidak ada yang perlu di khawatirkan.' gumam wanita itu di dalam hatinya sambil melepaskan seluruh pakaian yang di kenakan olehnya.

Setelah melepaskan seluruh pakaiannya, wanita itu pun masuk ke dalam danau.

'Seperti yang di katakan olehnya, membersihkan diri di saat seperti ini sangat menyegarkan. Haah... Aku jadi kepikiran dengan perkataannya sebelumnya.' gumam wanita itu di dalam hatinya sambil membasuh setiap bagian tubuhnya dengan wajah memerah.

Di sisi lain, Liu Bai sedang berdiam diri dengan tenang di bawah pohon besar tempatnya duduk bersandar.

'Apakah begitu caramu menggoda seorang wanita? Kekeke...' Sun Wukong bertanya kepada Liu Bai.

'Memangnya kau tahu apa soal itu?' gumam Liu Bai di dalam hatinya membalas perkataan Sun Wukong.

'Hei, saat ini bukankah dia sedang tak mengenakan apapun? Apakah kau tak berniat untuk mengintipnya? Kekeke...' ujar Sun Wukong kepada Liu Bai.

'Apakah kau dulu memang suka berpikir seperti ini? Aku tak menyangka kau akan mengatakan hal seperti itu padaku.' gumam Liu Bai di dalam hatinya membalas perkataan Sun Wukong.

'Kekeke... Aku hanya mengikuti zaman, kau tahu.' ujar Sun Wukong menanggapi perkataan Liu Bai.

'Terserahlah.' gumam Liu Bai di dalam hatinya membalas perkataan Sun Wukong.

'Jadi, apakah kau ingin mengintipnya?' Sun Wukong bertanya kepada Liu Bai.

'Masih mau di lanjutkan? Haah... Tentu saja aku ingin. Aku tidak akan berbohong soal itu.' gumam Liu Bai di dalam hatinya menanggapi perkataan Sun Wukong.

'Kau tidak akan memiliki kesempatan seperti ini di lain waktu. Kekeke...' ujar Sun Wukong kepada Liu Bai.

'Ya, kau benar. Mungkin jika sebentar saja tidak akan menjadi masalah. Aku akan menggunakan Mata Ilahi.' gumam Liu Bai di dalam hatinya membalas perkataan Sun Wukong.

'Dasar kau. Teknik milikku akan kau gunakan untuk melakukan hal seperti itu?' Sun Wukong bertanya kepada Liu Bai dengan sedikit kesal.

'Kenapa sekarang kau malah mau protes? Percuma saja. Teknik ini sekarang sudah menjadi bagian dari diriku. Jadi aku berhak menggunakannya sesuai dengan keinginanku sendiri.' gumam Liu Bai di dalam hatinya membalas perkataan Sun Wukong.

'Baiklah. Terserah padamu.' ujar Sun Wukong kepada Liu Bai dengan pasrah.

'Baiklah, aku mulai.' gumam Liu Bai di dalam hatinya sambil mulai menggunakan Teknik 7 Perubahan Bentuk, Bentuk Pertama, Mata Ilahi miliknya. Kedua matanya pun berubah warna menjadi emas dan bersinar.

"...!" Liu Bai tiba-tiba di kejutkan sesaat setelah menggunakan teknik miliknya tersebut bahwa wanita itu sudah berdiri di sampingnya.

"Aku sudah selesai." ujar wanita itu kepada Liu Bai.

"..." Liu Bai terdiam sejenak.

'Kekeke... Sayang sekali.' ujar Sun Wukong kepada Liu Bai.

'Diamlah. Ini semua karena kita terlalu lama saat berbicara. Aku bahkan tak sempat menyadarinya.' gumam Liu Bai di dalam hatinya membalas perkataan Sun Wukong sambil beranjak berdiri dan melepaskan Teknik 7 Perubahan Bentuk, Bentuk Pertama, Mata Ilahi miliknya. Kedua matanya pun kembali normal seperti sedia kala.

'Kekeke...' Sun Wukong hanya tertawa menanggapi perkataan Liu Bai.

"Ayo kita lanjutkan perjalanannya." ujar Liu Bai kepada wanita itu. Wanita itu pun menganggukkan kepalanya.

Kemudian Liu Bai dengan sigap menggendong wanita itu di depannya. Lalu tanpa ragu wanita itu merangkul Liu Bai dengan wajahnya yang memerah.

Setelah itu, Liu Bai pun menggunakan Teknik Langkah Ilahi dan melompat ke atas dengan kedua kakinya yang masing-masing menendang pijakannya di udara. Di ketinggian yang di rasa cukup, Liu Bai berdiri dengan menapakkan kedua kakinya di udara dan bersiap untuk melakukan gerakan selanjutnya.

"Hei, apakah semua ahli bela diri dapat melakukan ini?" Wanita itu tiba-tiba bertanya kepada Liu Bai.

"Tidak. Selain aku, hanya ada 1 ahli bela diri lagi yang juga dapat melakukan ini." ujar Liu Bai menjawab pertanyaan yang di berikan oleh wanita itu.

"Begitu, ya." ujar wanita itu membalas perkataan Liu Bai.

"Ya." balas Liu Bai sambil menekan pijakannya di udara dengan kuat pada kedua kakinya.

Boom-!

Liu Bai pun terbang dengan cepat sesaat setelah melepaskan pijakannya.

"Xinxin..." ujar wanita itu kepada Liu Bai saat mereka berdua sedang terbang di udara.

"Apa? Maaf, bisakah kau mengulanginya? Aku tidak mendengarnya barusan." ujar Liu Bai kepada wanita itu.

"Namaku Wu Xinxin." ujar wanita itu kepada Liu Bai sambil mengeratkan rangkulannya dengan malu-malu.

"Nama yang indah. Aku Liu Bai. Senang berkenalan denganmu." ujar Liu Bai menanggapi perkataan wanita itu sambil tersenyum kecil.

'Aku juga.' gumam wanita itu di dalam hatinya dengan senyuman lebar di wajahnya.

***

Malam harinya, di kediaman Keluarga Wu, tepatnya di aula utama, Wu Shan yang merupakan Kepala Keluarga Wu sekaligus ayah dari Wu Xinxin sedang gelisah dan panik di tempat duduknya.

"Putriku tercinta, di mana kau sekarang?" gumam Wu Shan dengan sedih.

Tok-! Tok-! Tok-!

Suara ketukan pintu sontak terdengar.

"Tuan, bolehkah aku masuk?!" seru salah satu pelayan pria yang berada di balik pintu tersebut.

"Ada apa? Jika tidak ada yang penting, pergilah!" seru Wu Shan kepada pelayan pria tersebut.

"Ini mengenai Nona Xinxin, Tuan!" seru pelayan pria itu.

"...!" Wu Shan sontak terkejut mendengar perkataannya.

"Masuklah!" seru Wu Shan menyuruh pelayan pria itu untuk masuk ke dalam aula utama.

Bam-!

Pintu terbuka dengan lebar saat pelayan pria itu membukanya.

"Katakan padaku apakah kau mendapatkan kabar dari Putriku?!" Wu Shan bertanya kepada pelayan pria itu.

"Iya, Tuan! Nona Xinxin... Nona Xinxin sudah kembali dengan selamat!" seru pelayan pria itu.

"...!" Wu Shan tersentak saat mendengarnya.

"Di mana dia sekarang?" Wu Shan bertanya kepada pelayan pria itu.

"Sekarang Nona Xinxin sedang berada di halaman depan." ujar pelayan pria itu kepada Wu Shan.

Sesaat setelah mendengar perkataan yang di ucapkan oleh pelayan pria itu, Wu Shan dengan cepat bangkit dari tempat duduknya dan pergi menuju ke halaman depan.

1
Jumadi 0707
thor knp ngalahin musuh yng jauh dibawah bertele tele sampe terluka aneh
Aryadi
bisa tidak mengurangi obrolan dengan sun wukong nya Author.
Raimon
Thor....kamu tau tak kenapa like pada Novelmu semakin menurun tajam....diawal diatas 1000....sampai bab 62 like 370....Jujur banyak detail deskripsi seharusnya ada tetapi kenyataannya tidak ada...contoh...selera pembaca itu rata rata pingin mcnya Cerdas, Sadis, sedikit kocak dan suka merampas atau menguras harta musuh....dah...itu tip dari aku...
Raimon
Kok semakin turun like ny...apa yang salah yaa....
Raimon
Sungguh pembicaraan buang buang waktu....
Raimon
Aaah....goblok lagi....seharusnya kesempatan Wu Shan mempromosikan pil tingkat Bumi Sempurna ini....
Raimon
Awal yang baik....seharusnya Xin Xin langsung ambil kesempatan dan MC juga bisa Membuat Paviliun Pil di Ibukota....Haaah....jauh kalu imajinasinya....
Raimon
Aaah.....kelewatan pula Tolol MC nya.....tidak menarik....sementara MC disebelah walaupun diawal sudah ahli membedakan jenis dan tingkatan pil ....
Raimon
Benarkan dugaan ku....semakin keatas Authornya semakin membuat kebodohan alias kesalahan yang tak perlu....saya yakin sama seperti novel lain disebelah semakin keatas semakin sedikit likenya....sama kita buktikan....
Raimon
Ini adalah suatu kebodohan yang tak perlu dalam alur cerita....seharusnya MC sudah dari awal memanfaatkan mata illahinya dari semua hal ....terlepas dari curiga atau tidaknya....seorang yang baru keluar dari hutan kematian alias baru turun gunung maka otomatis akan memanfaatkan ilmunya....Bodoh kaan....Iyaa ini kebodohan yang tak perlu....
Raimon
Kalau disebelah khasiat pil akan cepat hilang kalau tidak disimpan dalam botol khusus....kebodohan berikutnya...m
Raimon
Blm ada cincin yaa ...kok Sun Go Kongnya miskin...biasanya dewa itu ada harta Karun nya....Kebodohan berikutnya....
Raimon
Kok hanya 1 pil ular sebesar itu....mulai ada kebodohan....
Raimon
Disebelah ada Kristal jiwa binatang buas tuuh...laku dijual sekian koin emas....disini blm jelas....
Raimon
Mmmhhhh....ada ada saja....mana pula ada akibat jurus seperti itu....ngaco Authornya
Raimon
Aku mulai tertarik....Smoga tidak ada kebodohan kebodohan seperti novel novel sebelah....
Rolland
Luar biasa
Wah membuat pil
1 pil 5 koin emas tinggal x bisa kaya mendadak
Makin bagus tor 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!