Kehidupan Selia yang penuh dengan warna menjadi rumit semenjak pertemuannya dengan seorang laki-laki bernama Franz,pasalnya laki-laki berusia tiga puluh tahun itu memiliki perasaan cinta yang menggebu-gebu sejak pertemuan pertama mereka. Namun Selia tidak ingin terburu-buru menikah,meski ia juga memiliki teman laki-laki yang begitu dekat dengannya.
Tujuan hidupnya hanya satu ingin membanggakan orang tua tunggalnya dan memberikan hidup yang lebih bahagia kepada ibu dan adiknya itu,namun apakah Selia dapat mewujudkan mimpinya itu? atau justru cinta dan ambisi yang akan menang?
Simak terus ceritanya dan jangan sampai ketinggalan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inirindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJODOHAN GILA
Hari ini Selia begitu sibuk dengan persiapan event dan memberi arahan pada tim marketing,sudah hampir pukul 20.00 Selia baru selesai dan hendak pulang sebelum akhirnya YUda menawarkan diri untuk mengantarnya.
"Selia..." panggil Yuda
"Iya mas,kenapa?"
"Kamu pulang naik apa?"
"Ojek online mas"
"Ya sudah aku antarkan saja sekalian"
"Gak ngerepotin?"
"Alah kayak sama siapa aja,udah ayo"
"Oke deh"
Selama perjalanan Selia baru saja sempat memegang ponselnya lagi,ia melihat dilayar lima panggilan tak terjawab dari Nadhiva dan pesan singkat yang mengatakan kalau ia harus segera pulang. Dengan panik Selia segere menelfon balik adiknya dengan perasaan khawatir,tak berselang lama panggilan tersebut mendapatkan jawaban
"Halo mbak"
"Kamu tadi telfon mbak kenapa dek? Apa terjadi sesuatu dirumah?"
"enggak mbak,aku cuma mau ngasih tahu aja kalau tadi om Franz datang kemari"
"Tuan Franz? Buat apa dia kerumah?"
"Buat melamar mbak Selia"
"Apa....?"
"Kenapa Sel?" tanya Yuda yang ikutan panik
"Mas tolong menepi sebentar"
"OKe-oke"
"Dek,katakan sekali lagi apa yang kamu bilang barusan" ucap Selia tak percaya
"Iya mbak,om Franz memang kesini buat melamar mbak Selia. Ibu bahkan sudah terima beberapa uang buat persiapan pernikahan mbak nanti"
"Terus sekarang dia masih disitu?"
"Sudah pulang dari tadi sih mbak"
"Ya sudah kalau begitu"
"Mbak sendiri kenapa jam segini belum pulang?"
"Mbak harus lembur karena ada event besar,ya sudah mbak tutup dulu"
"Iya mbak"
"Apa semuanya baik-baik saja Sel?" tanya Yuda lagi
"Mas kamu buru-buru?"
"Enggak sih,kenapa?"
"Antarkan aku ke suatu tempat"
"Kemana?"
"Tunggu sebentar,biar aku telfon seseorang dulu"
"Oke,tapi gimana kalau kita ke minimarket diseberang itu. Aku sekalian mau beli minum nih"
"Ya sudah ayo"
Yuda dan Selia menyebrang ke minimarket yang tak jauh dari tempat mereka berhenti tadi,setelah memarkirkan motornya Yuda hendak masuk kedalam
"Kamu mau apa Sel?"
"Air mineral aja mas"
"Oke"
Saat Yuda sudah masuk kedalam,Selia segera menghubungi Franz untuk meminta kejelasan soal apa yang dikatakan oleh Nadhiva tadi
"Halo..." suara tegas dari laki-laki diseberang telefon
"Kamu di Semarang?"
"Iya,ada apa?"
"Bisa kita bertemu sekarang juga?"
"Ini sudah hampir malam Selia,apa kamu yakin?"
"Ya,kebetulan saya baru pulang kerja. Ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan anda"
"Baiklah,saya ada di hotel Emerald. Kamu mau kesini atau saya yang harus menghampiri kamu?"
"Biar saya yang kesana"
"Okey saya tunggu"
Tak lama Yuda keluar membawa dua botol air mineral dan dua cemilan
"Nih minum dulu"
"Mas,antarkan aku ke hotel Emerald"
"Hotel Emerald yang terkenal itu?"
"Iya"
'Mau ngapain"
"Sudah anterin aja"
"Sekarang?"
"Iya sekarang"
"Ya sudah tapi kamu minum dulu nih"
"Udah itu gampang,ayo"
"Iya-iya"
Yuda dan Selia butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke lokasi,setibanya di lobi hotel tersebut security meminta Yuda untuk membawa motornya di parkiran khusus motor yang ada di basement
"Selamat malam mas,mbak. Ada keperluan apa kemari?" tanya security
"Saya mau ketemu seseorang pak"
"Sudah buat janji sebelumnya?"
"Sudah,tadi saya sudah menghubungi yang bersangkutan"
'Baik,tapi sebelumnya mohon maaf. Untuk lobi hanya bisa dimasuki oleh kendaraan roda empat saja,jadi untuk mas nya silahkan parkirkan motornya di basement terlebih dahulu"
"Tidak usah mas,kamu pulang saja"
"Terus kamu nanti gimana?"
"Nanti gampang,aku bisa pesan taksi"
"Kamu beneran gak apa-apa? Lagian kamu mau ketemu sama siapa sih Sel dihotel begini?"
"Aku gak apa-pa kok mas,sudah kamu pulang saja"
"YA sudah kalau begitu,aku duluan ya"
"Iya"
Yuda meninggalkan lobi hotel dengan motornya,sebenarnya ia tidak benar-benar pergi. Ia hanya menunggu didepan gerbang hotel sambil mencari tahu siapa orang yang Selia temui didalam sana.
Selia segera menghubungi Franz lagi dan memberitahu laki-laki tersebut bahwa dirinya sudah berada dilobi hotel.
"Halo,saya sudah berada di lobi sekarang"
"Baik tunggu sebentar,saya akan segera turun. Bilang saja pada resepsionis untuk mengantarkanmu ke lounge atas nama saya"
"OKey"
setelah menutup panggilan itu Selia melakukan instruksi yang Franz berikan,ia menghampiri meja resepsionis dan mengutarakan maksudnya
"Selamat malam mbak"
"Selamat malam,selamat datang di hotel Emerald. Sebelumnya sudah reservasi nona?"
"Emb tidak mbak,saya kemari bukan untuk chek in"
"Lalu apa yang bisa kami bantu nona?"
"Saya perlu menemui seseorang di Lounge"
"Maaf sebelumnya kalau boleh tahu mau bertemu dengan siapa?"
"Franz"
"Baik mohon ditunggu sebentar biar saya cek terlebih dahulu"
"Baik"
"Atas nama tuan Franz Abraham?"
"YA mungkin itu mbak"
"Maaf nona saya tidak tahu jika nona sudah janjian dengan tuan Franz,kalau begitu mari saya antar"
Selia diantar kesebuah tempat yang cukup mewah dan pertama kalinya ia menginjakkan kaki disana,resepsionis tadi mempersilahkannya duduk lalu menawarkannya untuk memesan minuman. Selia memesan segelas kopi dan resepsionis tersebut pergi untuk menyiapkan pesanan itu,tak lama kemudian Franz menghampirinya dengan wajah tersenyum senang
"Maaf membuat kamu menunggu,oh ya kamu sudah makan? mau pesan sesuatu?" ucapnya sembari duduk dihadapan Selia
"Tidak perlu,saya kemari hanya ingin menanyakan sesuatu soal maksud kedatangan tuan Franz kerumah saya tadi"
"Oh apa ibu kamu sudah cerita?"
"Jadi benar kalau tuan Franz mengajukan lamaran pada ibu saya?"
"Lebih tepatnya didepan keluarga kamu,kebetulan tadi juga ada om dan tante kamu disana"
"Apa maksud tuan melakukan hal itu tiba-tiba?"
"Tidak ada maksud lain,saya hanya mengutarakan keseriusan saya terhadap kamu"
"Jangan ngaco deh,ini lamaran bukan hal main-main"
"Saya tidak main-main Selia,saya memang benar-benar ingin menikah dengan kamu"
"Menikah? Tiba-tiba sekali,kita bahkan tidak sedekat itu untuk melakukan sebuah pernikahan apalagi ini semua terkesan mendadak"
"Karena memang semua harus serba cepat,saya tidak ingin jika nanti keduluan oleh orang lain"
"Keduluan? Bahkan saya sendiri tidak memberi izin hal ini terjadi"
"Tetapi orang tua dan keluarga kamu sudah memberi izin dan menyetujuinya,mereka bahkan sepakat jika pernikahan kita akan dilaksanakan satu minggu lagi"
"Apa? Enggak-enggak ini semua gak mungkin. Tuan bercandakan?"
"Apa ibu kamu tidak cerita kalau beliau sudah menerima seserahan dan sebagian uang dari saya untuk perlengkapan kamu dan sekeluarga"
"Apa? Jadi...."
"Sebaiknya kamu pulang dan dengarkan semuanya dari ibu kamu dulu Selia. Lagi pula ini sudah malam tidak seharusnya kamu masih berada diluar,ayo saya akan antarkan kamu pulang"
"Tidak perlu,saya bisa pulang sendiri. Oh ya soal seserahan dan uang besok saya akan antarkan kemari dan saya pastikan pernikahan konyol ini tidak akan pernah terjadi.Permisi"
"Selia tunggu...."
Selia berjalan keluar menuju lobi sebelum akhirnya Franz mencoba menghentikannya
"Selia dengarkan saya,keluarga kamu begitu senang mendengar kamu sebentar lagi akan menikah. Apa kamu tega menghancurkan kebahagiaan mereka?"
"Itu jauh lebih baik didengarkan dari pada aku harus mendengar seseorang yang sama sekali tidak aku inginkan mengucapkan ijab khobul dengan namaku dipelaminan"
Selia segera menghampiri taksi yang baru saja berhenti dihadapannya dan meminta driver segera pergi dari sana,sementara itu dikejauhan Yuda melihat bahwa seseorang yang Selia temui ternyata adalah klien ditempatnya bekerja. Sontak hal tersebut membuat Yuda terkejut dan tak percaya dengan apa yang barusan ia lihat.
"