NovelToon NovelToon
SHINIGAMI The Shadow Of Hero

SHINIGAMI The Shadow Of Hero

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Fantasi Isekai / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Voltigern

Berlatar di sebuah dunia yang dihantui ramalan Invasi Volgath. Sebuah perang dahsyat ketiga dunia yakni melawan dunia atas, tengah, dan bawah ditakdirkan melawan makhluk asing dari luar dunia. Di tengah bayang-bayang kehancuran, muncul harapan dimana datangnya seorang pahlawan yang ditakdirkan untuk mencabut pedang legendaris dan menyatukan semua ras sebagai harapan terakhir dunia.

Di Benua Gradecya, benua sihir tempat mayoritas penduduknya adalah penyihir, hiduplah Ardius. Terlahir di keluarga penyihir Leonheart yang ternama. Kehadirannya dianggap sebagai aib dan produk gagal karena tak mampu menggunakan tongkat sihir.

Tak goyah oleh takdir yang melanda hidupnya, Ardius berjuang balik melawan takdir itu sambil diam-diam menyimpan rahasia bahwa ia adalah reinkarnasi dari dunia lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 : Mimpi Rumah Yang Menghantui

"Kadet Takayama! Kenapa kau terlambat?" bentak seorang pria dewasa dengan kumis lebat beserta seragam militernya yang berwarna hitam.

Seorang pemuda berdiri di hadapannya dengan napas terengah-engah dan tak teratur. "Mohon maaf Pak! Saya terlambat kare—"

"Tidak usah banyak alasan, Kadet!" bentak kembali pria itu yang berpangkat Mayor. "Lihatlah Kadet yang lain!" mayor tersebut menunjukkan jarinya ke arah lapangan.

Takayama tidak berbalik, tanpa melihat pun dia sudah tahu di lapang tersebut terdapat orang-orang satu angkatannya yang sudah mulai latihan.

"Sebagai hukuman atas tindakan tak disiplin yang kau lakukan, kau dihukum dijemur satu hari penuh!"

Beberapa saat berlalu, Takayama berdiri di tengah lapangan dengan matahari yang sangat terik bukan main. Hukuman yang diberikan bukan hanya sekedar hukuman biasa. Dia diarahkan untuk berdiri sambil mengangkat karung penuh dengan batu di punggungnya, bergerak satu langkah saja akan mendapat peringatan berupa tembakan. Benar-benar hukuman yang berat baginya yang merupakan Kadet dalam Minggu pertama.

Untung saja Takayama tidak sendirian. Terdapat empat Kadet lain yang juga dihukum karena melakukan pelanggaran—dua remaja pria dan dua remaja perempuan. Jarak mereka berdekatan.

Siang itu tak ada yang berbicara. Situasi memungkinkan mereka untuk mengobrol satu sama lain, namun tidak ada yang memulai perbincangan entah karena canggung. Untuk mengatasi keheningan tersebut, orang yang pertama membuka obrolan adalah Takayama sendiri.

"Hey... apa kita benar-benar akan dipanggang seharian?" tanya dia.

Keempat orang itu langsung melirik ke arah Takayama yang berada di posisi tengah.

"Menurutku tidak... Mayor bodoh itu tidak akan tega. Cuaca malam hari akan sangat dingin. Tidak mungkin dia membiarkan pemula seperti kita mati konyol," jawab salah satu gadis di ujung kanan.

"Kurasa dia akan membiarkan kita sampai sore," timpal pemuda di ujung.

"Hahahhaha...." Mereka berlima tertawa bersama-sama.

Setelah semua tawa itu mereda, salah satu pemuda melirik ke belakang, mencoba memastikan penjaga tidak mendengar tawa mereka.

Usai memperhatikan, salah satu yang memiliki luka di pipi itu berbalik kembali. "Ngomong-ngomong kita semua belum berkenalan. Namaku Murasaki Asahiro."

"Aku Hojou Arisa, salam kenal." gadis berambut perak di sebelah Takayama menjawab. Dari penampilannya, dia memiliki sikap yang lembut dan tenang.

"Tachibana Sae, salam kenal. Aku harap kita berlima bisa menjadi teman akrab!" gadis bernama Sae tersebut memiliki rambut merah yang diikat kepang dua, cocok dengan kepribadiannya yang ceria.

"Namaku inoue Ushiro." Pemuda di sebelah Takayama memperkenalkan dirinya.

Setelah memperkenalkan namanya masing-masing, kempat orang itu melirik ke arah Takayama. Dari tatapannya, mereka menunggu pemuda di tengah untuk memperkenalkan dirinya.

Takayama tersenyum lebar penuh dengan rasa akrab. "Senjiro Takayama. Aku yakin, kita berlima pasti akan menjadi sahabat selamanya."

Pandangan berubah menjadi gelap. Sebuah sensasi pusing terasa cukup kuat di dalam kepala. Suara deru napas yang terengah-engah bagaikan diburu oleh binatang buas.

Ardius kembali membuka mata. Dia terbangun di tengah padang pasir yang sama, dengan langit-langit malamnya yang tak berubah, dan lingkungan yang tetap asing baginya. Pria tersebut bangkit perlahan. Dia ingat pertarungan sebelumnya membuat tubuhnya penuh luka, namun begitu dia kendali sadar, semua luka yang dia alami telah pulih sepenuhnya.

Menoleh ke samping, rupanya Profesor Gilbert telah duduk di sana menemaninya. Ardius tak berkata apa-apa, dia tahu Profesor Gilbert lah yang menyembuhkan semua lukanya.

"Tidurmu cukup nyenyak juga. Tapi kau mengigau kata-kata yang aneh," kata Profesor Gilbert.

"Mengigau?" gumam Ardius penasaran.

Profesor mengelus-elus kumis putihnya. "Kau mengucapkan kata-kata seperti 'Asahiro', 'Arisa', 'Sae', dan 'Usiro'. Aku tidak tahu kau bermimpi apa, tapi dari kata-kata yang kau ucapkan saat tidur, sepertinya kata-kata itu terdengar lebih ke sebuah nama. Apa mereka nama-nama teman dalam imajinasi mimpimu?"

Ardius terdiam. Matanya penuh dengan perasaan yang campur aduk. Wajahnya menoleh ke bawah. Saat membayangkan wajah-wajah keempat orang itu, Ardius sekilas melihat Luna dan Axel dalam bayangannya menggantikan sosok keempat sahabat lamanya.

Mereka berempat bukan hanya sekedar sahabat, melainkan sebuah rumah yang pernah berdiri untuknya. Namun semuanya lenyap akibat perang yang merenggut semuanya dari dirinya. Ardius mengepalkan tangan kanannya, meraih segenggam pasir dan mencengkeram dengan sangat keras. Bagaimana juga, Ardius tidak ingin Luna dan Axel yang merupakan keluarga barunya pergi. Dia tak boleh kehilangan rumah yang berdiri untuknya kembali pergi untuk kesekian kalinya.

"Profesor! Bagaimana dengan hasil pertarungan saya barusan?" tanya Ardius dengan suara pelan namun terdengar begitu serius.

"Kendali mana eksternal dalam tubuhmu belum terbiasa beradaptasi dengan pergerakan tubuhnya yang cepat. Mana eksternal memang dirancang untuk seorang penyihir bukan untuk petarung sepertimu." Prosedur Gilbert menjelaskan dengan tenang.

"Terus kenapa Anda mengajarkan teknik mana eksternal jika memang tidak cocok dengan gaya bertarung saya?" tanya kembali pemuda itu, kali ini dia bertanya dengan nada sedikit geram.

"Kau pikir aku berubah suruh ini dengan tanpa alasan?" Profesor membalas dengan tetap tenang. "Selama beberapa bulan ini, aku tengah mempelajari teknik mana eksternal lebih lanjut dan menghasilkan sebuah metode baru supaya dapat digunakan untuk seorang penyihir petarung sepertimu."

Ardius kembali menoleh. Wajahnya penuh dengan penasaran dan seolah bertanya bagaimana cara kerja metode tersebut.

Profesor Gilbert mulai sedikit membicarakan metode pelatihannya. Kendali mana eksternal awalnya hanya dirancang untuk seorang penyihir yang minim atau jarang melakukan pergerakan dan lebih memusatkan dalam serangan sihir yang memerlukan energi sihir yang besar untuk menciptakan serangan masif atau mematikan. Karenanya, mana eksternal tidak cocok dengan gaya bertarung Ardius.

Untuk mengatasi hal itu, Profesor Gilbert telah membuat sebuah metode pelatihan dimana mana eksternal dapat dikendalikan oleh petarung seperti Ardius. Caranya adalah dengan memaksa mana eksternal untuk beradaptasi dan menjadi seimbang sesuai dengan pergerakan Ardius. Tak hanya itu, prediksi Ardius dalam menciptakan perisai sihir dapat menggangu penerapan mana alam dan aliran mana eksternal dalam akan mana, karena itu Profesor juga akan mendapatkan sebuah teknik yang sering digunakan oleh penyihir berpengalaman, yaitu menciptakan perisai sihir secara otomatis saat serangan tiba.

"Selama enam hari terakhir ini, aku tidak akan pergi ke akademi. Persiapkan dirimu, Ardius! Bagaimana juga, aku akan menjamin kau tidak akan bisa tertidur selama seminggu terakhir ini!" ucap Profesor Gilbert sambil menunjukkan senyuman yang berdiri meyakinkan.

.

.

.

Hari kesembilan.

Hari berikutnya, Profesor belum mengajarkan apapun tetapi mereka tetap datang kembali ke lantai delapan. Hari ini, Profesor Gilbert hanya menyuruhnya untuk bertarung melawan beberapa monster kecil di lantai delapan.

Bukan tanpa alasan, tujuannya yaitu untuk melatih aliran mana eksternal supaya mampu beradaptasi dengan ritme dan gaya bertarungnya. Prosesnya mungkin memang terdengar melelahkan dan lambat karena Ardius diharuskan untuk terus bertarung tanpa henti sampai batas maksimalnya, namun sedikit perkembangan saja sudah lebih dari cukup untuk latihan di hari berikutnya.

Udara dingin dungeon kembali menerpa. Profesor berdiri dengan wajah menganalisa. Dia berdiri di atas gundukan pasir padang itu yang membentuk sebuah bukit. Beberapa ratus meter di depannya, dia melihat Ardius bertarung melawan puluhan monster serangga seukuran rusa.

Ardius terus melayangkan serangan, sesekali melakukan pertahanan saat serangan musuh datang. Pergerakannya cepat dan lihai. Akan tetapi, butuh beberapa tebasan untuk membunuh satu monster. Bukan tanpa sebab, monster-monster di lantai delapan memang kuat termasuk kumpulan monster tingkat rendah seperti yang tengah dia hadapi saat ini. Tak hanya itu, aliran mana dalam tubuhnya juga masih belum terbiasa dan belum sepenuhnya dapat mengikuti ritme pergerakannya.

Beberapa jam berlalu, Ardius akhirnya telah mencapai batas bertarungnya. Dia mulai bertarung dari pukul sebelas sampai pukul enam sore. Benar-benar hari yang panjang dan melelahkan. Selama pertarungan tadi, Ardius tidak merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Dia tidak tahu apakah aliran mana eksternal dalam dirinya telah beradaptasi atau tidak. Paling tidak, sampai Profesor Gilbert memberitahunya bahwa aliran mana eksternal dalam tubuhnya sedikit mengalami perkembangan.

Hari kesepuluh.

Keesokan harinya, Profesor Gilbert kembali memerintahkan untuk kembali bertarung. Kali ini, dia harus melawan monster-monster tingkat sedang. Monster-monster yang harus dia lawan berjumlah sekitar dua puluh.

Sebelum itu, Profesor Gilbert menyuruh Ardius untuk mengenakan sebuah gelang. Terdapat kristal merah muda di tengah gelang tersebut. Dia menjelaskan jika Ardius harus bertarung sembari mengenakan gelang itu. Kristal yang berada dalam gelang berfungsi sebagai alat pendeteksi. Apabila kendali mana eksternal Ardius kacau atau terganggu, maka gelang akan hancur dan Ardius harus kembali mengulang pertarungan dari awal. Sebelum gelang hancur, gelang terlebih dahulu memberi peringatan berupa getaran kecil.

Dalam latihan hari ini, tujuannya adalah membuat kendali mana tetap seimbang. Tak hanya itu, meski aliran mana eksternal dalam tubuhnya masih sedikit beradaptasi, dengan latihan hari ini, Profesor Gilbert yakin mana eksternal akan beradaptasi dengan cepat tanpa sepengetahuan Ardius.

Pemuda itu berjalan sendirian menuju kumpulan monster humanoid bertubuh besar dan bermata tiga. Dia menegaskan katana miliknya, bunyi pedang tersebut terdengar oleh para monster. Mereka meraung, lalu berlarian ke arahnya.

Pertarungan dimulai. Baru beberapa menit, gelang di tangan Ardius bergetar. Dia terus bertarung sambil berusaha mengendalikan mana eksternal supaya stabil. Puluhan serangan dia lalui dengan lihai, namun semenjak awal pertarungan, dia baru melayangkan satu tebasan saja. Ardius hanya menggunakan Izanagi untuk bertahan dan menangkis saja. Alasan Ardius belum melayangkan tebasan lain adalah saat dia menyerang, aliran mana kembali kacau.

Beberapa jam berlalu, pertarungan masih berlanjut. Sebelumnya, Ardius berhasil mengendalikan mana eksternal dalam tubuhnya dan berhasil membunuh tiga ekor monster. Sayangnya semua itu tidak bertahan lama, aliran mana terus kacau dan membuat gelang hancur. Tak ada pilihan lain, Ardius harus kembali memulai pertarungan dari awal. Tiga monster yang berhasil dia bunuh menjadi tidak dianggap dan harus kembali membunuh satu nol.

Pertarungan berlangsung begitu lama. Tubuhnya sudah mulai kelelahan. Beberapa bagian tubuhnya terluka karena pertarungan. Beberapa kali kegagalan terus dia dapatkan yang membuatnya terus mengulang dari nol. Dalam benak Ardius, hanya satu yang dia pikirkan, yaitu berusaha untuk terus mengembangkan kendali mana eksternal.

Sementara itu, Profesor Gilbert terus menyaksikannya dengan sangat seksama. Dia tersenyum bangga. Seperti yang dia duga, kondisi Ardius mengalami perkembangan yang cepat tanpa sepengetahuan Ardius sendiri.

Setelah beberapa jam yang terasa panjang, akhirnya Ardius telah selesai. Dengan tubuh lemas, dia langsung membaringkan dirinya. Ardius tepat menyelesaikan latihannya pada pukul tujuh malam. Karena stamina yang sudah habis, Ardius tertidur dengan cepat di tengah padang pasir itu.

Profesor mendekatinya. Tanpa berlama-lama, dia mengangkat tubuh Ardius dan menggendongnya di punggungnya. "Astaga... tubuhmu lebih berat dari yang aku duga," ucap Profesor Gilbert.

Sebelum melangkah, Profesor Gilbert kembali teringat hal yang sama saat semasa dirinya masih menjadi seorang remaja. Dia pernah digendong oleh seseorang, tepat sepeti yang dia lakukan kepada Ardius.

"Hahaha... entah kenapa ini semua membuatku nostalgia." Profesor mulai berjalan meninggalkan lantai delapan diikuti dengan tongkatnya yang melayang di belakang.

Hari kesebelas.

Seperti yang dikatakan Profesor Gilbert sebelumnya, dia akan mengajarkan sebuah teknik yang dikuasai penyihir berpengalaman, yaitu menciptakan perisai sihir secara otomatis.

Hari itu, mereka tidak pergi ke lantai delapan. Profesor dan Ardius kembali berlatih di lantai lima. Setelah pertarungan kemarin, Ardius merasaakan adanya perkembangan dalam kendali dan aliran mana eksternal dalam tubuhnya yang lebih stabil dan sudah beradaptasi dengan cukup baik.

Ardius dan Profesor Gilbert duduk di atas hamparan padang rumput lantai lima dungeon. Sebelum melatih teknik yang akan dia ajarkan, Profesor menjelaskan dahulu mengenai cara kerja perisai sihir.

Perisai sihir adalah sebuah sebuah teknik menciptakan perisai yang tercipta dari sihir. Dengan memprediksi arah serangan yang datang, pengguna dapat memanggil pelindung sihir di area yang dia prediksi.

Cara kerja manual seperti itu membutuhkan prediksi yang harus tepat. Jika pengguna tidak tepat memprediksi arah serangan, maka serangan dari musuh tetap akan mengenai pengguna. Untuk mengatasi hal itu, ditemukan sebuah teknik memanggil perisai sihir secara otomatis.

Pengguna harus mengeluarkan dan mengalirkan energi sihir ke area sekitarnya dengan jarak maksimal satu meter. Mana yang tersebar di area sekitar pengguna berfungsi mendeteksi datangnya serangan yang mengarah ke pengguna. Saat serangan berhasil dideteksi, mana secara otomatis akan memberi peringatan kepada pengguna lalu pengguna dapat menciptakan perisai sihir di area tersebut tanpa dia prediksi.

Teknik ini memiliki kelemahan seperti penggunaan mana yang boros. Hanya beberapa penyihir berpengalaman atau penyihir yang memiliki kapasitas mana yang luar biasa yang dapat menggunakan teknik ini. Tak hanya itu, apabila serangan dengan tingkah yang lebih kuat dari perisai sihir juga mampu menghancurkan perisai sihir.

Karena Ardius berasal dari keluarga Leonheart yang memiliki kapasitas mana yang besar, membuatnya sangat memungkinkan untuk menguasai teknik tersebut. Tak sampai sana, dengan dirinya yang mulai menguasai mana eksternal, membuat Ardius dapat mengendalikan teknik perisai sihir otomatis tanpa henti.

Usai mendengar penjelasan yang cukup panjang tersebut, Ardius dapat menangkap keseluruhan dengan baik. Selanjutnya adalah praktik. Profesor meminta Ardius untuk bersiap karena dia sendirilah yang akan menyerang Ardius menggunakan sihir-sihirnya.

1
Erna Wati
Kereen
Tuxedo Mask
Seru banget deh!
Ahmad Voltigern: Makasih udah baca novel saya kak🙏🥰
total 1 replies
ella ellie
Banyak air mata terbuang untuk cerita ini, tapi worth it!
Ahmad Voltigern: makasih udah baca cerita ini!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!