Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk ke hutan!
Matahari sore kian merunduk, dan jika memasuki hutan, pasti sudah akan gelap di sana.
Semburat jingga di ufuk barat mulai meredup, melemparkan bayang-bayang panjang yang perlahan ditelan oleh keremangan malam yang merayap turun.
Udara pegunungan yang tadinya sejuk kini berubah menjadi dingin. Sri dan Bagas berjalan bergegas, berusaha menyamakan ritme langkah dengan tiga orang warga desa yang memandu mereka, Pak Basir yang dituakan, Kang Tono yang berbadan tegap, dan Tedi, seorang pemuda desa yang lincah.
Mereka berlima memulai penyisiran dari batas terluar jalan utama kampung.
"Senter sudah siap semua, toh?" tanya Pak Basir sembari mematuk-matukkan lampu senter besarnya yang berwarna kuning ke arah semak-semak lebat di pinggir jalan.
"Sudah, Pak." jawab Bagas sambil mengangkat senter miliknya yang berpendar putih terang, membelah remang sore.
Kang Tono, yang berjalan paling depan membawa golok panjang, mulai membabat ranting-ranting liar dan sulur-sulur berduri yang menghalangi jalan masuk menuju hutan yang lebih rapat. Suara tebasan goloknya berayun ritmis, menciptakan jalur darurat untuk mereka lalui.
"Dua malam lalu itu gerimis, jalurnya pasti licin sekali. Kita harus jeli melihat ke bawah, siapa tahu ada bekas orang terpeleset, patahan ranting yang janggal, atau barang yang jatuh," kata Kang Tono tanpa menoleh, suaranya berat penuh kewaspadaan.
Sri melangkah dengan sangat hati-hati, mencengkeram senternya erat-erat. Sepatu ketsnya sesekali amblas ke dalam tanah yang gembur dan becek akibat sisa hujan.
Matanya menyipit, menyisir setiap jengkal semak belukar di sisi kiri jalan dengan penuh konsentrasi.
"Pakde Rasman...! Pakde...!" teriak Tedi memecah kesunyian yang merayap.
Tangannya membentuk corong di depan mulut, berusaha melempar suaranya sejauh mungkin ke dalam rimbunnya pepohonan.
"Kang Rasman...! Tolong bersuara kalau dengar!" timpal Kang Tono, suaranya yang lantang menggema di antara batasan pohon-pohon pinus dan mahoni.
Mereka berlima berhenti sejenak. Pak Basir mengangkat tangan, mengisyaratkan semua orang untuk diam. Mereka memasang telinga lebar-lebar, menahan napas, berharap ada suara erangan, rintihan, atau sahutan lemah dari balik kegelapan.
Namun, yang terdengar hanyalah gesekan dedaunan akibat hembusan angin sore yang semakin dingin dan suara jangkrik yang mulai bersahut-sahutan.
"Belum ada tanda-tanda, Pak," ujar Bagas setelah beberapa saat terdiam dan hanya mendapati kesunyian.
"Jalanan di sebelah sini bersih, sepertinya tidak ada bekas orang atau tanda-tanda tubuh yang terjatuh ke jurang kecil ini."
Pak Basir menghela napas panjang, menatap lurus ke kegelapan hutan yang kian pekat.
"Kalau begitu, kita harus masuk lebih dalam lagi."
Mereka mulai meninggalkan batas jalan utama, melangkah mantap menembus barisan pohon yang menjulang tinggi.
Cahaya matahari sore kini hampir sepenuhnya terhalang oleh rimbunnya dedaunan di atas kepala. Suasana di dalam hutan seketika terasa jauh lebih gelap dan pekat dibandingkan di luar, seolah malam telah datang lebih awal di tempat ini.
Meskipun, mereka sebenarnya tidak yakin, apa mungkin Rasman sampai masuk kedalam hutan, tapi mereka harus tetap mencari, karena siapa tahu memang Rasman masuk kehutan.
Sri mengarahkan sorot senternya ke barisan akar pohon yang menjalar layaknya ular, juga ke gundukan daun-daun kering yang kecokelatan. Bau tanah basah dan humus menyengat indra penciumannya.
"Bagas, coba senter sebelah sana, agak melingkar ke balik pohon yang besar itu," kata Sri. Rasa tidak nyaman mulai menggelayuti pundaknya akibat kegelapan yang tiba-tiba mengepung mereka dari segala arah.
Bagas memutar tubuhnya, mengarahkan cahaya senter led-nya ke titik yang ditunjuk Sri. Cahaya putih itu menembus kabut tipis yang mulai turun.
"Kosong, Sri. Cuma semak berduri dan pohon tumbang yang sudah lapuk."
"Ayo, tetap merapat! Jaga jarak pandang, jangan ada yang berpencar sendiri-sendiri!" seru Pak Basir dari barisan tengah dengan nada tegas, mengingatkan kembali instruksi ketat dari Pak RT sebelum mereka berangkat.
"Hutan ini menyesatkan kalau kita teledor."
Langkah kaki mereka memecah ranting-ranting kering dengan bunyi berderit dan patah yang konstan di atas tanah.
Setiap pasang mata kini fokus, menyipit dalam ketegangan, mencari tanda sekecil apa pun, sandal yang mungkin tertinggal, robekan kain yang tersangkut di ranting, atau jejak tapak kaki yang tercetak di tanah liat.
Di bawah temaram sore yang kian mendingin dan berselimut misteri, kelima orang itu terus melangkah membelah belantara. Mereka bergerak cepat, berpacu dengan waktu sebelum kegelapan malam benar-benar menutup seluruh pandangan dan mengunci mereka di dalam pelukan hutan yang sunyi.