Asyifa yang lugu dan polos, menjadi korban permainan kotor dari sepasang suami istri.
Pernikahan Asyifa dengan Randa, ternyata hanyalah bagian dari rencana busuk Randa dan Nikita untuk segera mendapatkan keturunan.
Setelah Asyifa melahirkan anaknya, Asyifa shock ketika Nikita datang tiba-tiba membuka jati dirinya sebagai istri pertama Randa dan berniat untuk merebut Safina anaknya.
Asyifa berjuang keras mempertahankan anaknya Safina. Segala cara yang dilakukan Nikita, selalu bisa ia gagalkan.
Namun suatu hari, Randa yang sudah dilanda cemburu buta karena melihat Asyifa bersama pria lain, berhasil kabur membawa Safina anaknya dari tangan Asyifa.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Apakah Asyifa dan Safina bisa bertemu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afriyeni Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Randa dan Wahyu menatap tajam pada sosok pemuda pelukis yang berwajah tampan dihadapan mereka. Sosoknya yang tinggi semampai berkulit kuning langsat dengan sebuah tato yang menghias lengannya menunjukan sisi seniman dari pemuda itu.
Randa sedikit bergidik ngeri tatkala tatapan mereka berdua dibalas pemuda itu dengan tak kalah tajamnya.
Langkah kaki Randa tersurut selangkah, saat pemuda pelukis yang sempat dia hardik tadi berjalan pelan mendekati mereka dengan sikapnya yang tenang.
"Maaf, apa maksud anda? Istri, istri siapa yang anda tanyakan pada saya?" tanya pemuda itu dengan sikap yang masih sopan.
Randa nyaris gugup menjawab pertanyaan pemuda itu. Namun, Wahyu lebih dahulu menjawab sambil menunjuk lukisan sketsa wajah yang terpajang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Itu..., lukisan itu. Itu lukisan wajah Asyifa 'kan? Perempuan itu adalah istri temanku ini." Ucap Wahyu dengan nada gusar.
Bola mata pemuda pelukis itu bergerak melirik arah jari telunjuk Wahyu dan ujung matanya terbentur pada lukisan sketsa wajah milik seorang perempuan yang tadi dia lukis. Hatinya sedikit kecewa saat mengetahui, perempuan yang sempat mencuri perhatiannya itu, ternyata telah mempunyai suami.
"Hmm, maksud anda perempuan dalam lukisan ini adalah istri anda. Kenapa anda mencarinya? Apakah istri anda kabur?" tanya pemuda pelukis itu kemudian dengan nada sinis kepada Randa.
Sikap dan kalimat sinis yang dilontarkan pemuda pelukis itu, membuat Randa dan Wahyu tersulut emosi.
"Bukan urusanmu anak muda! Yang harus kau jawab, dimana perempuan itu sekarang?" bentak Randa tidak senang.
Bukannya takut melihat ekspresi wajah sangar yang ditunjukan Randa, pemuda itu malah terkekeh pelan.
"Lucu sekali, jika dia istrimu, kenapa bertanya padaku?" sahut pemuda itu dengan santainya.
Randa dan Wahyu semakin gusar. Tangan Randa bergerak cepat hendak menyambar lukisan sketsa wajah Asyifa yang saat ini berada disamping pemuda pelukis itu.
Hups!
Gerakan tangan Randa terhenti di angkasa saat tangan kekar pemuda pelukis itu menangkap gerakan tangannya dengan tak kalah cepatnya.
"Jangan sentuh suatu benda yang bukan milikmu! Walau itu sketsa wajah istrimu, itu adalah lukisanku. Hasil karya tanganku ini!" ucap pemuda itu dengan nada penuh tekanan memberi peringatan pada Randa.
Randa makin emosi, dadanya terasa sesak dengan nafas yang mulai tak beraturan, dia menyentakkan pergelangan tangannya dari pegangan tangan pemuda pelukis itu yang ternyata sangat kuat.
"Aku akan membeli lukisanmu itu!" dengus Randa marah.
Pemuda pelukis itu tertawa hambar. Dia melepaskan pegangan tangannya dari tangan Randa dengan cara yang kasar.
"Maaf, lukisan itu tidak diperjual belikan. Itu hanya pajangan!" tolak pemuda itu mengerutkan bibirnya keatas berlagak sombong.
"Kau...!" suara bentakan Randa terhenti saat tangannya disikut Wahyu dari samping.
Wahyu yang sedari tadi ikut menyimpan amarah melihat sikap pemuda pelukis itu, bergerak maju menghalangi gerakan Randa yang nyaris tak bisa mengontrol dirinya didepan umum.
"Hei anak muda! Cukup jawab pertanyaan kami saja. Dimana perempuan yang kau lukis itu sekarang berada? Setelah itu, kami tak'kan menganggumu lagi." Hardik Wahyu dengan nada keras.
Pemuda pelukis itu menyunggingkan senyuman tipis. Hatinya mulai diliputi rasa curiga pada Randa dan Wahyu. "Kedua orang pria ini, sepertinya bukan orang baik-baik. Walau Mereka berpenampilan perlente, mereka sangat kasar. Tak bisa dipercaya begitu saja, penjahat zaman sekarang banyak yang memakai topeng. Kasihan perempuan itu, pantas saja, dia seperti hidup dalam tekanan." Pikir pemuda pelukis itu dalam hati.
"Lebih baik kalian segera pergi dari sini! Aku tak mengenal perempuan yang kalian maksud. Kalian salah alamat jika bertanya padaku. Aku tak sengaja bertemu dengannya tadi. Susah payah aku membujuknya untuk menjadi model lukisanku. Apa kalian puas dengan jawabanku?" jawab pemuda pelukis itu kemudian.
Randa dan Wahyu saling bertukar pandangan. Hati mereka jadi bimbang dan ragu setelah mendengar jawaban pemuda itu.
"Jika begitu, serahkan lukisan itu padaku. Aku akan membayar sesuai harga yang kau berikan." Ujar Randa tetap memaksa untuk membeli lukisan sketsa wajah Asyifa yang dimiliki pemuda pelukis itu.
"Maaf, dari awal aku memang tak ingin menjualnya. Lukisan wajah itu, adalah aset berharga bagiku." Tolak pemuda itu sekali lagi.
Randa mengepalkan kedua tinjunya, menahan rasa geram yang melanda dadanya sedari tadi. Pemuda pelukis itu, sangat keras kepala dan seolah ingin mencari perkara dengan mereka berdua.
"Sudahlah, abaikan lukisan murahan itu. Kau jangan buang uang hanya karena rasa cemburu yang membakar hatimu." Bisik Wahyu pelan di telinga Randa, membuat kedua belah telinga Randa memerah dan memanas.
"Kau harus memantau gerak gerik pemuda itu. Aku mencurigai dirinya menyembunyikan keberadaan Asyifa." Ungkap Randa membalas perkataan Wahyu dengan setengah berbisik.
"Kau...! Lihat saja kalau kau ketahuan menyembunyikan istriku! Aku akan menjebloskan mu ke penjara anak muda!" kecam Randa sebelum berlalu pergi meninggalkan pemuda pelukis itu bersama Wahyu yang mendorong bahunya agar pergi dari tempat itu dengan segera.
Jari telunjuk Randa yang menunjuk lurus ke wajah pemuda itu, segera ditepiskan Wahyu yang sudah punya rencana untuk memata-matai si pemuda pelukis.
Mereka berdua pun segera pergi, diikuti pandangan tajam si pemuda pelukis yang cuma tersenyum sinis melepas kepergian mereka dengan hati jengkel.
"Asyifa, siapa kamu sebenarnya?" gumam pemuda pelukis itu seraya memandang lukisan sketsa wajah Asyifa dengan perasaan yang makin dihantui rasa penasaran.
FLASH BACK OFF.
Seperti biasa, Asyifa terbangun saat azan subuh hendak berkumandang. Setelah menjalani aktivitas sholat subuh, dia terlihat sibuk di dapur, membuat kue yang akan dititip ke warung-warung tetangga. Kesibukan Asyifa membuat kue, tak luput dari perhatian Zaki dan neneknya yang merasa kasihan melihat Asyifa.
"Nenek lihat sendiri 'kan, kak Asyifa itu 'gak pantas kerja berat begitu. Dia bisa cepat kaya kalau jadi artis." Kata Zaki, merasa iba melihat Asyifa yang masih muda dan cantik hidup bersusah payah demi kehidupan dirinya dan anaknya.
"Iya, nenek paham maksudmu, tapi kamu 'gak bisa memaksa dia jadi seseorang yang bukan dirinya. Dia pasti punya alasan sendiri untuk tidak menyukai profesi itu." Jawab nenek Zaki membela Asyifa.
Zaki langsung merungut mendengar jawaban neneknya.
"Kalau kak Asyifa jadi artis, Zaki kan bisa ketiban rezeki juga nek, Zaki bisa jadi gitaris band terkenal juga." Keluh Zaki keceplosan.
Nenek Zaki ternganga mendengar ucapan Zaki. Tangan mungil nenek, bergerak cepat menepuk bahu cucunya.
Plak!
"Kalau kamu mau jadi gitaris terkenal, kamu usaha dong! Jangan nebeng popularitas orang lain!" omel nenek tidak senang dengan keluhan Zaki.
Zaki meringis pelan sembari mengusap bahunya yang sedikit perih.
"Iya nek, iya! Zaki usaha kok. Tapi, Kakak Asyifa 'kan punya potensi lebih besar dari Zaki." Ujar Zaki tetap mempertahankan tekadnya untuk menjadikan Asyifa artis terkenal.
"Kalau dia 'gak mau, ya jangan di paksa! Biarkan saja Asyifa memilih jalan hidupnya sendiri. Ingat! Kamu itu bukan siapa-siapanya dia. Dia itu bukan kakak kandungmu!" tekan nenek dengan nada jengkel.
Deg!
Sebaris kalimat yang diucapkan neneknya terakhir kali cukup menyakitkan hati Zaki. Tanpa sadar, setitik airmata jatuh bergulir dipipinya. Sosok kakak kandungnya yang telah meninggal dunia, melintas kembali dibenaknya seketika.
"Aku rindu padamu kak Inara!" gumam Zaki pelan.
Raut wajahnya berubah drastis berselimut kedukaan. Sebuah kejadian tragis yang menimpa kakak kandungnya, membentang kembali dalam ingatannya.
.
.
.
Peristiwa tragis apa yang pernah dialami kakak kandungnya Zaki? Yuuk kepoin terus ceritanya y 🤗
BERSAMBUNG