Sequel dari Pesona Setelah Menjadi Janda
(Mohon untuk membaca novel sebelum nya agar kalian tidak bingung)
***
Arra, gadis berusia delapan belas tahun yang baru saja melangkah ke dunia perkuliahan, tengah menghadapi berbagai perubahan dalam hidupnya. Namun, ada satu hal yang tak pernah berubah—keberadaan Leo Rexander.
Leo mengaku sebagai pacarnya. Arra tidak pernah mengiyakan. Namun Leo tetap yakin, seolah hubungan mereka telah terpatri sejak lama. Sikapnya yang tenang namun posesif, membuat banyak orang meragukan ucapannya. Dan keraguan itulah yang mendorong sejumlah pria mencoba merebut tempat yang tak pernah benar-benar kosong di sisi Arra.
Meski seringkali berbenturan, Arra dan Leo justru saling melengkapi—dua kutub berbeda yang terus tertarik satu sama lain, meski tak pernah tahu kapan harus berhenti.
Ini bukan sekadar kisah cinta remaja, tapi tentang dua hati yang keras kepala, saling mempertahankan tanpa pernah benar-benar saling mengucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saras Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpesona Pada Pandangan Pertama
Arra baru saja tiba di kampusnya. Ia menatap sekeliling, merasakan kekosongan yang aneh menggelayuti dadanya. Ini kali pertama ia datang tanpa ditemani Leo.
Arra menghela napas kasar, lalu melangkah menuju gedung fakultasnya. Namun, baru beberapa langkah berjalan, sebuah suara dari belakang menghentikannya.
"Arra."
Arra menoleh cepat.
"Apa?" tanyanya ketus.
"Mau ke kelas? Gue anter, ya."
Pemuda yang berdiri di hadapannya adalah Brandon—sepupu yang terus mengejar-ngejar hatinya.
"Nggak perlu. Aku bisa ke kelas sendiri."
Arra membalikkan badan, hendak pergi. Namun Brandon tiba-tiba menarik lengannya.
Terkejut, Arra langsung menepis tangan Brandon dengan kasar.
"Lepasin, Brandon!" serunya.
"Kenapa sih? Cowok tengil itu lagi nggak ada, kenapa lo nggak coba kasih gue kesempatan, Ra?" ucap Brandon, masih menahan tangan Arra.
Dengan tenaga penuh, Arra menyentakkan lengannya hingga bebas.
"Ada atau nggak ada Leo, aku nggak akan pernah ngasih kamu kesempatan. Kita keluarga, Brandon. Dan akan tetap seperti itu."
Raut wajah Brandon mengeras, tak suka dengan jawaban itu.
"Gue bakal bikin lo jadi milik gue, Ra. Apapun yang terjadi, lo milik gue."
Arra menatap datar. Berdebat dengannya hanya buang waktu.
"Terserah. Yang pasti, aku nggak akan pernah anggap kamu lebih dari sepupu."
"Arra!"
Arra menoleh. Senyumnya merekah saat melihat Gladys berlari ke arahnya.
"Lo gangguin Arra lagi, ya?" kata Gladys tajam, menatap Brandon dengan sengit.
"Apaan sih lo? Sok kenal banget. Lo naksir gue, ya? Maaf, spek ikan buntal kayak lo nggak masuk list gue."
Mata Gladys melotot. Ia mengepal tangan, ingin menghajar wajah pemuda itu.
"Apa lo bilang? Ikan buntal? Lo nggak sadar kalau lo itu mirip ikan blobfish?!"
Kini giliran Brandon melotot. Ia jelas tahu rupa hewan yang dimaksud.
"Apa lo bilang?! Untung lo cewek, kalau cowok udah gue hajar!"
Tanpa aba-aba, Gladys menginjak kaki Brandon keras-keras. Brandon menjerit.
"Rasain! Awas aja kalo lo gangguin Arra lagi. Gue bikin lo jadi rujak, mau?!"
"Udah, Dys. Ayo kita ke kelas." Arra menarik tangan sahabatnya, muak dengan kelakuan Brandon.
Ia berniat melaporkan hal ini ke orangtua Brandon. Ia benar-benar terganggu.
Gladys mengangguk dan mereka pergi begitu saja.
"Dasar cewek gila! Awas lo nanti!" teriak Brandon dari belakang.
Brandon membalik badan. Sebenarnya ia sudah jadi mahasiswa di kampus ini, tapi tidak pernah benar-benar niat kuliah. Tujuan utamanya hanya satu: Arra. Sayangnya, ada Leo dan Gladys yang terus menghalangi.
Sementara itu, Arra dan Gladys sudah tiba di kelas. Suasana sudah ramai.
"Ra, kok bisa sih lo punya sepupu kayak dia?" gerutu Gladys.
Arra tertawa, "Kalau bisa milih mah, aku juga maunya sepupuan sama oppa Taehyung."
"Ih! Sama dia mah gue juga mau. Lumayan buat cuci mata… sama cuci dompet!" Gladys tertawa dan Arra ikut tertawa bersamanya.
Tak lama, dosen masuk dan kelas pun hening.
---
Di tempat jauh, Leo menatap layar tablet di tangannya. Raut wajahnya gelap.
"Apa aja yang kalian kerjakan selama ini?" bentaknya, tajam.
Laporan dari orang kepercayaan Vincent membuatnya geram. Banyak kemunduran terjadi dalam organisasi sejak Vincent tak lagi turun tangan.
"Maaf, Tuan. Sejak Tuan Vinx tak datang, kami mengalami kesulitan," jawab pria berjas hitam dengan tubuh tegap.
Leo mendengus. "Apa kalian bukan orang-orang terlatih? Cuma bisa jalan kalau diperintah? Aku tidak tahu kalau Daddy punya anak buah sepayah ini."
Aura Leo jauh lebih tajam dari Vincent. Pria bertubuh 185 cm itu memancarkan wibawa seorang pemimpin sejati.
"Aku sendiri yang akan pilih ulang anggota inti. Aku tidak butuh orang yang cuma bisa bergantung."
Anthony, pria di hadapannya, mengangguk penuh hormat. Ia tahu mengapa Vincent memilih Leo jadi penerus.
"Tuan, besok Anda ingin melihat mereka langsung?"
Leo mengangguk. "Besok siang. Sekarang pergi. Aku ingin istirahat."
Anthony memberi hormat dan pergi, meninggalkan ruangan kerja yang kini ditempati Leo. Di dalamnya ada tempat tidur, dan malam itu Leo memilih bermalam di markas.
Ia menoleh ke jam tangannya. Pukul 9 malam.
Itu berarti di Indonesia, sekarang pukul 12 siang. Arra pasti masih di kampus.
Leo menghela napas. Rindu menghantam dadanya.
Satu bulan tanpa Arra... bisakah ia bertahan?
---
Arra dan Gladys keluar dari gedung fakultas. Mereka berjalan menuju parkiran, menunggu jemputan Arra.
"Kayaknya Pak Tomo belum dateng. Nunggu di sana yuk," ucap Arra, menunjuk bangku di bawah pohon.
"Yuk."
Mereka duduk di bangku bercat hijau itu sambil mengobrol. Namun, suara klakson bertubi-tubi mengalihkan perhatian mereka.
Gladys memperhatikan beberapa motor sport mendekat.
Arra langsung berdiri, matanya berbinar.
Empat motor berhenti di depan mereka.
"Kalian!" seru Arra riang.
Keempat pengendara melepas helm. Gladys langsung menutup mulutnya karena terkejut—dan terpukau.
"Woah… ganteng-ganteng banget…" lirihnya, tanpa sadar didengar semua orang.
"Belum dijemput?" tanya pria berjaket kulit hitam.
Arra menggeleng. "Mungkin Pak Tomo lagi kejebak macet."
Gladys menyenggol lengan Arra, penasaran siapa mereka.
"Oh iya, Dys. Kenalin, mereka anak-anak Lionsky, geng motor Leo. Ini Kevin, itu Saga, Jonathan, dan yang ekspresinya datar itu Dewa."
Gladys menatap satu per satu. Jantungnya berdetak cepat saat melihat Dewa. Wajahnya dingin seperti Leo.
"Guys, ini sahabat aku, Gladys," ujar Arra.
Saga menyapa duluan dengan senyum lebar.
"Hai, gue Saga. Anggota Lionsky paling ganteng nomor dua setelah Leo."
Gladys tersenyum, sesekali mencuri pandang ke arah Dewa yang tak menatap balik.
"Hai. Nggak nyangka Leo punya geng motor juga."
"Mau gue antar atau nunggu Pak Tomo?" tanya Dewa. Suaranya berat, bikin jantung Gladys makin kacau.
Arra menggeleng. "Nunggu aja. Kasihan kalau dia udah di jalan."
Dewa mengangguk. Jonathan dan Kevin turun dari motor dan duduk di bangku. Saga dan Dewa tetap di atas motor.
Arra menarik Gladys duduk bersama Kevin dan Jonathan.
"Eh, Ra! Tau nggak tadi di kampus, Jonathan mencret!" celetuk Kevin.
Jonathan langsung melotot.
"Serius? Kok bisa?" tanya Arra tertawa.
Jonathan bersiap meninju Kevin, tapi Kevin sembunyi di belakang Arra.
"Lo maju, otomatis kena Arra. Kalau dia sampai lecet, tamat lo, Jo!"
Jonathan mengepalkan tangan, kesal. Arra hanya geleng-geleng kepala. Kadang anak-anak Lionsky memang absurd.
Dan tanpa mereka sadari, benih rasa mulai tumbuh.
Gladys terus mencuri pandang ke arah Dewa.
Dewa menatap datar ke sekeliling.
Dan Saga… diam-diam memperhatikan Gladys.