Dira Namari, gadis manja pembuat masalah, terpaksa harus meninggalkan kehidupannya di Bandung dan pindah ke Jakarta. Ibunya menitipkan Dira di rumah sahabat lamanya, Tante Maya, agar Dira bisa melanjutkan sekolah di sebuah sekolah internasional bergengsi. Di sana, Dira bertemu Levin Kivandra, anak pertama Tante Maya yang jenius namun sangat menyebalkan. Perbedaan karakter mereka yang mencolok kerap menimbulkan konflik.
Kini, Dira harus beradaptasi di sekolah yang jauh berbeda dari yang sebelumnya, menghadapi lingkungan baru, teman-teman yang asing, bahkan musuh-musuh yang tidak pernah ia duga. Mampukah Dira bertahan dan melewati semua tantangan yang menghadang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucky One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Tertipu
Dira mengendap-endap memasuki kamar Levin, penasaran kenapa kakaknya belum juga mengganti baju dan lampu kamarnya masih menyala. “Dia kenapa belum ganti baju, ya? Lampu juga masih nyala…” bisiknya, sambil perlahan mendekati Levin yang tertidur pulas. Saat mendekat, Dira tak bisa menahan diri untuk mengagumi wajah kakaknya. “Wah, emang ganteng banget ini orang,” gumamnya, wajahnya semakin dekat dengan wajah Levin.
Namun tiba-tiba, klik—lampu kamar Levin mati, membuat Dira tersentak dan refleks menutup mulutnya. "Aduh, mampus gue," batinnya, berusaha tetap tenang di tengah kegelapan.
Levin terbangun mendengar suara Dira. Ia mengucek matanya yang masih pedih, bingung dengan situasi yang tiba-tiba gelap. “Kenapa mati lampu?” gumamnya, sambil turun dari kasur dan berusaha meraba-raba dalam kegelapan. Sementara itu, Dira yang berada di samping ranjang Levin dan berjongkok, menahan napas, merasa gelisah saat Levin mulai bergerak. "Aduh, tangan gue keinjek," Dira meringis pelan, menahan sakit saat kaki Levin tanpa sengaja menginjak tangannya.
Levin yang tidak sadar apa yang terjadi, terus meraba-raba mencari ponselnya di atas meja samping tempat tidur. Tiba-tiba, tangannya menyentuh sesuatu yang aneh. “Apaan ini?” gumamnya sambil meraba... kepala Dira! Tepat pada saat itu, lampu kamar kembali menyala, dan pemandangan yang disaksikan Levin membuatnya terkejut. Dira, berjongkok di bawah meja, menatapnya dengan wajah terkejut.
“Keluar dari kamar gue!” Levin tersentak dan, tanpa basa-basi, menarik tangan Dira dan mendorongnya keluar dari kamarnya.
“Biasa aja dong! Tangan gue sakit lo injek, tahu!” teriak Dira kesal begitu sudah berada di luar kamar.
Levin hanya mendengus, tak ingin memperpanjang masalah. Sementara itu, Dira bersandar di dinding, mengeluh pada dirinya sendiri. “Ah elah, salah lagi gue. Aduh, Dira tolol! Makin susah aja kan bikin dia suka sama lo…” umpatnya dalam hati, kecewa pada dirinya sendiri.
Akhirnya, Dira menghela napas panjang. “Sudahlah, tidur aja. Pusing gue.” Dengan langkah lemas, dia pun kembali ke kamarnya, mencoba melupakan kejadian tadi.
Pagi itu di sekolah, Dira dan Gerry dipanggil oleh Miss Morin untuk menerima hukuman akibat keterlambatan mereka. "Miss serius nih, kita harus bersihin toilet?" keluh Dira, tak percaya dengan hukuman yang diberikan.
“Ini risiko kalian sendiri. Siapa suruh telat,” omel Miss Morin, tak memberi ruang untuk protes. Akhirnya, dengan berat hati, Dira dan Gerry menerima hukuman itu dan mulai membersihkan toilet.
"Gara-gara lo, Dir, gue jadi kena hukuman," keluh Gerry, kesal.
"Ya udah sih, yang penting mobil lo udah balik, kan?" jawab Dira santai.
"Itu juga gara-gara lo. Tapi kok mobil gue bisa balik dengan mudah ya? Lo ngomong apa sama polisi tadi malam?" tanya Gerry penasaran.
Dira tersenyum tipis. "Ada deh," ujarnya misterius, membuat Gerry semakin penasaran. Dalam hatinya, Dira membatin, “Cuman polisi mesum, gampang lah gue kibulin.”
Setelah melewatkan jam pelajaran pertama, Dira dan Gerry duduk di kantin, sibuk menyalin catatan dari Dinda. Tiba-tiba, brak—Naomi datang melabrak Dira dengan marah.
“Ada apa?” tanya Dira datar, tak menatap Naomi dan masih fokus menulis catatan.“Kalo orang ngajak ngomong, liat matanya. Nggak punya sopan santun, ya?” Naomi semakin kesal karena Dira mengabaikannya.
“Gue emang nggak mau ngomong sama lo,” balas Dira dingin. Naomi tak mau kalah, “Terserah lo. Pokoknya gue mau laporin lo ke kepala sekolah karena ngerjain gue di tempat les!”
"Laporin aja, memang lo punya bukti?" balas Dira tenang, tanpa mengangkat wajahnya. Naomi mendengus marah, “Aduh, Dira. Gue itu pinter, nggak kayak lo. Di ruangan les itu ada CCTV, jelas lo sama banci ini yang ngerjain gue,” ujar Naomi sambil menunjuk Gerry. Gerry, yang mulai panik, menyenggol lengan Dira. “Gimana ini, Dir?” bisik Gerry takut-takut.
"Ya udah, laporin aja. Lagian, kejadian itu di luar sekolah. Dan gue juga punya orang tua, mereka bisa tuntut sekolah ini karena kepala sekolah alias bokap lo nutupin semua kejahatan lo di sini,” ancam Dira balik, dengan tatapan tajam.
Plak—tamparan keras Naomi mendarat di pipi Dira. "Kurang ajar lo!" Dira hanya tersenyum tipis, matanya berkilat. "Ayo, coba tampar lagi. Din, tolong rekam," katanya tenang, meminta Dinda untuk mengabadikan momen itu, membuat Naomi makin tersulut emosi. Tanpa berkata apa-apa lagi, Naomi akhirnya pergi bersama dua temannya dengan wajah merah padam.
Gerry, yang ketakutan, langsung merengek, "Aduh, Dir! Lo jangan berani-berani gitu, gue bisa mampus kalau gue dikeluarin." Dinda, yang sejak tadi diam, ikut panik. "Dira, lo nggak boleh gegabah gitu. Kasihan si Gerry, jadi kebawa-bawa masalah lo!"
Dira hanya mengangkat bahu. “Kita nggak boleh keliatan lemah di depan mereka, Din. Kalau kita nggak galak, kita bakal diinjek-injek terus.”
Dinda tak bisa lagi menahan kekesalannya. "Lo itu anak baru, Dira. Lo nggak tahu apa-apa soal Naomi! Lo gegabah, lo egois!" Setelah berkata begitu, Dinda menarik tangan Gerry dan pergi meninggalkan Dira sendirian di kantin. Dira memandangi kepergian mereka dengan hampa. “Salah lagi kan gue… pusing banget. Ada aja masalah tiap hari,” gumamnya, merasa kesal pada dirinya sendiri.
...****************...
Vanya melangkah pelan di lorong sempit menuju kamar kost-kostan yang tampak sepi sore itu. Tak ada suara, hanya derit lantai kayu di bawah sepatunya. Ketika ia hampir sampai di depan salah satu kamar, tiba-tiba sebuah tangan kuat menariknya masuk ke dalam, membuat Vanya terkejut dan hilang keseimbangan.
Sementara itu, sekitar pukul setengah empat sore, Dira, Levin, dan Rico sedang menikmati makan siang di ruang makan, bersiap-siap untuk pergi ke tempat les. Suasana sempat hening sampai Tante Maya mengajukan pertanyaan yang mengusik hati Dira.
"Si Vanya itu, hampir seminggu ini izin terus kerja kelompok sama temennya. Kalian tahu nggak siapa teman Vanya itu?" tanya Tante Maya sambil memandang Levin dan Dira dengan curiga.
Levin dengan santai menjawab, "Paling teman sekelasnya, Mah, yang anak cheerleader itu."
Namun, bagi Dira, jawaban Levin justru menambah kegelisahannya. Baru kali ini dia sadar bahwa Vanya sudah lama tidak terlihat pergi les. "Aduh, perasaan gue jadi nggak enak banget," pikir Dira dalam hati, merasa ada sesuatu yang salah. Hatinya semakin resah dengan segala kekhawatiran yang mulai muncul.
"Haruskah gue minta bantuan Levin?" pikir Dira, namun ia langsung teringat permintaan Vanya. "Tapi Vanya bilang nggak boleh cerita sama Levin... Tapi kalau terus begini, bisa-bisa Vanya celaka!"
Dira termenung, otaknya bekerja keras mencari cara untuk membantu Vanya tanpa melanggar kepercayaannya. Di satu sisi, dia ingin melindungi adiknya, tapi di sisi lain, dia tahu risikonya semakin besar jika tak segera bertindak.
yu follow untuk ikut gabung ke Gc Bcm thx