Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Kasandra
Jason membanting stir mobilnya keras saat mengetahui orang suruhannya gagal
Wajahnya penuh amarah, rencananya untuk menakuti dan mengancam Fisya gagal total.
Bukan hanya gagal… Fisya malah mendapatkan orang baru yang terlihat mulai dipercaya olehnya.
Jason menggertakkan giginya.
“Bodoh!” makinya kesal.
Empat orang suruhannya kalah hanya oleh satu pria dan yang paling membuatnya marah… Fisya sepertinya mulai mencurigainya.
Jason mengusap wajahnya kasar lalu menarik napas panjang, ia tidak boleh terlihat panik.
Sekarang yang harus ia lakukan adalah tetap bersikap normal.
Mobilnya akhirnya masuk ke halaman rumah sakit.
Jason turun lalu berjalan cepat menuju kamar Kasandra.
Begitu pintu dibuka, Kasandra terlihat sudah berdandan dan mengemasi barang-barangnya.
“Akhirnya datang juga,” ucap Kasandra malas.
Jason menatap koper di dekat ranjang.
“Kamu sudah boleh pulang?”
Kasandra mengangguk.
“Tadi dokter baru izinin.”
Jason melihat bayi kecil yang tertidur di box bayi.
“Itu anak kita?”
Kasandra langsung mendecih.
“Jangan bilang begitu keras-keras.”
Jason langsung diam, Kasandra terlihat sama sekali tidak tertarik mendekati bayinya sendiri.
“Ayo cepat pulang,” ucapnya.
Jason akhirnya mengangkat koper sedangkan Kasandra berjalan lebih dulu keluar kamar tanpa menggendong bayinya.
Jason mengernyit.
“Kamu gak gendong bayi itu?”
Kasandra menoleh malas.
“Capek dan aku malas"
Jason menatap tidak percaya.
“Biar bagaimanapun kita masih membutuhkan bayi itu juga"
Kasandra mendecih lagi.
“Kamu saja yang gendong anaknya Fisya itu"
Bayi itu mulai menangis pelan Jason akhirnya terpaksa menggendong bayi kecil itu sendiri, ia terlihat kaku saat menggendong.
Tangisan bayi semakin keras sepanjang perjalanan menuju parkiran.
“Dia kenapa sih?” tanya Jason kesal.
Kasandra langsung menjawab dingin.
“Mungkin lapar.”
“Kamu gak buatkan dia susu?” tanya Jason
Kasandra malah sibuk melihat ponselnya.
“Nanti saja sampai rumah, bibi yang buatkan saja"
Jason langsung kesal, tangisan bayi itu terus terdengar sampai mereka masuk mobil.
Sepanjang perjalanan pulang bayi itu terus menangis, Jason beberapa kali terlihat terganggu.
Sedangkan Kasandra justru memasang headset dan mendengarkan musik.
“Aku pusing dengar tangisannya,” ucap Kasandra.
Jason melirik tajam.
“Ya kamu gendong dan diamin"
Kasandra tidak peduli.
“Aku gak suka bayi karena dia bukan putri kita"
Jason akhirnya diam, beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah Kasandra
Rumah itu cukup besar karena selama ini Jason memang sering memberikan uang pada Kasandra.
Begitu masuk rumah, seorang pembantu langsung keluar menyambut.
“Ibu sudah pulang?” ucap wanita itu sopan.
Namanya Nisa, wanita muda yang baru beberapa bulan bekerja di rumah itu.
Kasandra langsung menyerahkan bayi yang masih menangis ke tangan Nisa tanpa hati-hati.
“Nih bawa ke dapur bersama kamu"
Nisa langsung panik menerima bayi itu.
“Ya ampun bu…”
“Rawat dia.” perintah Kasandra
Nisa mengangguk cepat.
“Iya bu”
Kasandra langsung melepas heelsnya lalu duduk santai di sofa.
Jason masih berdiri memperhatikan.
“Bibi,” panggil Kasandra.
“Iya bu?” jawab Nisa cepat
“Mulai sekarang kamu yang urus bayi itu.” ucap Kasandra
Nisa sedikit terkejut.
“Saya?”
Kasandra terlihat malas menjawab
“Iya, dia tidur sama kamu di belakang.”
Jason langsung mengernyit.
“Kamu gak mau anak itu tidur di kamar kita?”
Kasandra langsung menatap Jason kesal.
“Aku mau istirahat.”
“Dia hanya seorang bayi Kas, kamu tidak boleh seperti itu" ucap Jason
Kasandra berdiri lalu menatap bayi itu dingin.
“Makanya ada pembantu.”
Tangisan bayi itu semakin keras dan Nisa langsung mencoba menenangkannya.
“Sayang jangan nangis ya…”
Nisa terlihat sangat kasihan melihat bayi kecil itu, selama hidupnya baru kali ini ia melihat seorang ibu bersikap sedingin ini pada anak yang baru dilahirkan.
Kasandra bahkan tidak mau menyentuh anaknya sendiri.
“Oh ya Bik anak ini ku berinama Agnes,” ucap Kasandra tiba-tiba.
Jason menoleh.
“Agnes?”
Kasandra mengangguk.
“Iya. Agnes.”
Nisa memandang bayi kecil itu dengan iba.
“Kasihan sekali…” batinnya.
Agnes masih terus menangis dan Kasandra langsung memegang kepalanya kesal.
“Berisik banget sih.” teriaknya
Nisa buru-buru menggendong Agnes lebih erat.
“Mungkin lapar bu”
“Ya kasih susu lah sana, agar diam" bentak Kasandra
Lalu Kasandra berjalan menuju kamarnya akan tetapi ia berhenti sebentar
“Nisa.” panggil Kasandra
“Iya Non?” jawab Nisa
“Bawa bayi itu ke dapur atau ke belakang karena saya gak mau dengar suara tangisannya" ucap Kasandra
Nisa hanya terdiam menyaksikan perilaku majikannya itu
Setelah mengatakan itu, Kasandra langsung masuk kamar dan menutup pintu keras.
Brak!
Nisa langsung menatap pintu kamar itu dengan tidak percaya.
Jason berdiri diam beberapa detik entah kenapa bahkan dirinya sendiri mulai merasa aneh dengan sikap Kasandra
Namun akhirnya Jason hanya menghela napas.
“Aku pulang dulu,” ucapnya.
Nisa mengangguk pelan.
“Iya Pak.”
Jason pergi meninggalkan rumah itu, kini hanya tinggal Nisa dan bayi kecil Agnes di ruang tengah.
Tangisan Agnes mulai melemah Nisa buru-buru membuat susu lalu menggendong bayi itu dengan lembut.
“Kamu lapar ya sayang…” ucap Nisa pelan.
Agnes akhirnya mulai tenang setelah minum susu.
Nisa tersenyum kecil sambil mengusap kepala bayi itu.
“Kamu bayi kecil yang kuat ya nak..”
Matanya mulai berkaca-kaca, ia benar-benar tidak tega.
“Kenapa ada ibu seperti itu…” gumamnya pelan.
Malam itu Nisa membawa Agnes ke kamar kecilnya di belakang rumah.
Meski sederhana, setidaknya Agnes mendapatkan kehangatan dari seseorang.
Sedangkan di kamar utama… Kasandra justru sibuk memakai masker wajah dan bermain ponsel sama sekali tidak memikirkan bayinya.
***
Di sisi lain… Fisya akhirnya sampai di rumah setelah seharian bekerja.
Begitu masuk rumah, langkah pertamanya langsung menuju kamar bayi.
Wajahnya langsung melunak saat melihat Tina tertidur pulas di tempat tidur kecilnya.
Tina terlihat sangat tenang Fisya duduk di samping tempat tidur bayi lalu mengusap pipi kecil putrinya.
“Anak mama…” ucapnya pelan.
Pintu kamar terbuka perlahan Bik Lili masuk sambil membawa botol susu.
“Oh Bu sudah pulang.”
Fisya menoleh lalu tersenyum tipis.
“Iya Bik.”
Fisya kembali melihat Tina.
“Dia gimana seharian?”
Bik Lili langsung tersenyum.
“Anteng Bu.”
“Gak rewel?” tanya Fisya
“Enggak sama sekali.” jawab Bik Lili
Fisya terlihat lega.
“Syukurlah.”
Bik Lili mendekat lalu ikut melihat Tina.
“Cantik banget ya Bu.”
Fisya tersenyum kecil.
“Iya.”
Beberapa detik suasana terasa hangat berbeda jauh dengan suasana di rumah Kasandra.
Fisya lalu berdiri.
“Bik.”
“Iya Bu?” jawab Bik Lili
“Minggu depan aku mau buat pesta.” ucap Fisya
Bik Lili langsung terlihat semangat.
“Pesta apa Bu?”
“Perayaan kelahiran Tina.” jawab Fisya dengan semangat
Mata Bik Lili langsung berbinar.
“Wah bagus banget Bu!”
Fisya mengangguk.
“Aku mau undang relasi bisnis sama teman-teman juga.”
Bik Lili tersenyum lebar.
“Pasti meriah Bu.”
Fisya menatap putrinya lagi.
“Aku juga mau umumkan nama lengkap Tina di sana.”
Bik Lili terlihat ikut bahagia karena melihat majikannya bahagia dan bersemangat
“Anak ibu Fisya pasti nanti jadi anak yang hebat.”
Fisya tersenyum tipis.
“Aamiin.”
Namun perlahan senyum itu berubah dingin karena di dalam hatinya… Ia sudah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar untuk masa depan!
"Jason, Kasandra tunggu saja hari pembalasan untuk kalian berdua" batin Fisya
__Bersambung__
#Mohon bantu like, commen dan vote nya ya guys#