NovelToon NovelToon
Cinta Tak Ada Dalam Pasal

Cinta Tak Ada Dalam Pasal

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Duda
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kiky Mungil

Shira adalah pengasuh ke-14 yang berhasil bertahan lebih dari dua bulan dan satu-satunya pengasuh yang berhasil membuat Lulu - gadis kecil pemurung yang diasuhnya - tersenyum. Ia menyukai pekerjaannya, karena dia setulus itu mengasuh Lulu. Sampai suatu malam, Ruan - ayah Lulu - yang sedingin es kutub, memberikannya tawaran kerjasama dengan gaji lima kali lipat dan bonus gaji setiap hari! Tawaran fantastis yang tidak bisa diabaikan oleh seseorang yang sedang membutuhkan suntikan dana darurat seperti Shira.
Masalahnya kerjasama itu berupa pernikahan kontrak dimana Shira harus berperan sebagai istri sungguhan di depan semua orang. Kontrak itu akan diatur dalam pasal-pasal tertulis yang disepakati bersama, salah satunya adalah "Tidak boleh melibatkan perasaan pribadi dalam menjalankan peran."
Tapi masalahnya, ketika sandiwara membuat peran terasa nyata, Shira menyadari perasaannya telah melanggar pasal. Ia tidak lagi bisa meneruskan, apa lagi ketika ibu kandung Lulu datang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Setelah Sore Yang Terasa Hangat

“Yeeeeaaayyy!” 

Suara sorak gembira dari halaman belakang terdengar ketika Ruan baru saja membuka pintu. Sebuah suasana yang telah menjadi hal baru dalam hidupnya. Keceriaan telah memasuki tempat yang biasanya menjadi tempat yang hening dan muram. 

“Eh, Pak Ruan tumben udah pulang sore?” Bi Marti menyapa begitu melihat Ruan datang. 

Ruan mengangguk, matanya langsung mengarah pada halaman belakang dimana suara Shira terdengar penuh semangat. 

“Ibu biasa lagi main sama Nona di belakang, Tuan. Mau saya beritahu Ibu kalo Tuan udah datang?”

“Ga perlu. Biar saya yang ke sana.”

Ruan melangkah menuju halaman belakang, sekali lagi terdengar suara Shira bersorak kali ini dengan suara tepuk tangan. Ia berdiri di ambang pintu, terlihat bagaimana Lulu dan Shira sedang duduk dengan sebuah papan permainan ular tangga di antara mereka. 

Lulu terlihat tersenyum sangat lebar, sementara wajah Shira sudah cemong dengan bedak tabur, namun dia terlihat… cantik. 

Ruan refleks menggelengkan kepala begitu satu kata itu muncul dalam kepalanya. 

“Papa!”

Shira sontak menengok begitu Lulu menggerakkan tangannya. 

“Loh Pak… eh, Mas Ruan udah pulang?”

“Iya.” Ruan melangkah. “Main apa? Suara kamu sampai terdengar di pintu depan.”

“Mama kalah main sama Lulu.” Lulu melapor terlihat cukup senang. 

“Lulu senang sekali ya lihat Ibu jadi donat.” ucap Shira sembari pura-pura merajuk, tapi Lulu semakin nyengir lebar. 

Ruan semakin terpaku melihat pesona Shira yang pura-pura memberengut dengan rambutnya yang dicepol asal, bedak tabur hampir menutupi seluruh wajahnya, tapi entah kenapa hal itu malah membuat Ruan refleks mengulurkan tangan mengusap wajah Shira. 

“Donat… manis.” katanya seperti tersihir.

“Hah?” 

Ruan berdeham, menarik kembali tangannya dari pipi Shira. 

“Jadi, apa Papa boleh ikut main?” Ruan bertanya pada Lulu. 

Lulu langsung mengangguk semangat sambil bertepuk tangan. 

Ruan melepaskan jasnya, melonggarkan dasi, melepaskan sepatu beserta kaos kakinya, lalu dia menggulung lengan kemejanya seraya ikut duduk di depan Shira. 

Sore itu menjadi sore yang paling hangat yang pernah terjadi dalam masa hidup Ruan, dia duduk memangku Lulu, ikut menorehkan bedak ke wajah Shira, begitu pun sebaliknya, membiarkan Shira dan Lulu menorehkan bedak pada wajahnya sambil tertawa… bersama. 

*  *  *

Senyum tak lepas dari wajah Shira saat menemani Lulu tidur malam, mengingat Ruan yang santai bermain bersama membuat Shira harus berkali-kali mengingatkan dirinya bahwa dirinya bukan alasan Ruan tertawa sore tadi. Dia tidak akan pernah menjadi bagian dari hati Ruan, jadi semua perasaan-perasaan yang hadir dalam hati harus segera dia netralkan kembali sebelum dia berharap pada sesuatu yang tidak seharusnya.

Senyum itu harus dia hilangkan dari wajahnya setelah Lulu akhirnya terlelap setelah dibacakan cerita. ia turun dari kasur pelan-pelan, diselimutinya gadis kecil itu lalu dikecup keningnya.

Begitu dia keluar dari kamar Lulu, tepat saat itu Ruan juga keluar dari dalam kamarnya yang berada di depan kamar Lulu.

Mereka sama-sama membeku sejenak saat kedua mata mereka saling bertubrukan. Shira lebih dulu memalingkan wajahnya, dia tersenyum singkat, mengangguk singkat, lalu bergerak untuk beranjak.

“Shira,” 

Suara Ruan yang berat menggema di dalam gendang telinga Shira yang membuat kedua telapak kaki Shira seperti menginjak lem super.

“Ya Mas…eh, Pak?” Shira menepuk pelan bibirnya.

“Apa saya bisa bicara denganmu?”

Shira mengangguk, “Bisa Pak.”

“Kita bicara di bawah.” Ruan bergerak melewati Shira lebih dulu menuruni tangga.

Shira mengikuti punggung lebar itu dari belakang. Otaknya mencoba menerka-nerka apa yang ingin dibicarakan oleh Ruan yang telah kembali ke setelan pabrik.

Hhh, padahal tadi sore ganteng banget pas ketawa, berasa kayak punya suami beneran… eh, sadar Shira, Pak Ruan ga akan pernah suka sama aku …

Mereka duduk di ruang keluarga, pada sofa yang berbeda. Ruan menyandarkan punggungnya, lalu menyilangkan kaki dengan gerakan yang tenang. Shira di seberangnya duduk dengan kikuk, entah kenapa aura yang dirasakan Shira sungguh berbeda. Seolah pria yang ikut memenuhi wajahnya dengan taburan bedak tadi sore adalah pria yang berbeda dengan pria yang duduk di hadapannya saat ini.

“Menurut kamu, bagaimana perkembangan kontrak ini?” 

“Hah?” Sejujurnya Shira sama sekali tidak mengerti dengan pertanyaan yang barusan saja dilontarkan oleh pria itu. “Maksudnya, Pak?”

Ruan berdeham pelan, “Menurut kamu, berapa lama lagi kira-kira kontrak ini berjalan?”

Deg!

Se-ga suka itu kah Pak Ruan ke aku? Sampai-sampai ga sabar untuk menyelesaikan kontrak ini? 

Meskipun Shira sudah tahu sejak awal bahwa majikannya itu tidak pernah menyukainya, namun ini membuat hatinya terasa perih.

“Oh…hmm, saya… maaf Pak, kalau saya punya kemampuan lebih, saya pasti ga mau terus-terusan numpang hidup dan numpang nama sebagai istri Pak Ruan, tapi, saya ga bisa memaksakan Lulu untuk mulai bicara dan mandiri seperti kebanyakan anak-anak. Jadi, kalo Pak Ruan tanya kapan kontrak ini selesai, saya ga bisa memastikan. Maaf kalau status saya dan Pak Ruan udah sangat mengganggu Pak Ruan.” Shira menundukkan kepala setelah menyelesaikan jawabannya. Dia mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan, menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak tampil dan membuatnya seperti orang bodoh di depan pria itu.

Semua momen kebersamaan yang terjadi selama mereka bersama di bawah kontrak pernikahan pelan-pelan berputar di dalam sel otak Shira. 

Genggaman tangan, tatapan mata, kecupan, senyuman bahkan tawa semuanya hanya angan-angan yang tidak akan pernah menjadi nyata. 

“Jika, selama masa kontrak ini ada yang menyukai dirimu dan bersedia membayarkan semua sanksi dan pinalti, apakah kamu bersedia bersamanya?”

Shira perlahan mengangkat wajah, dia melihat tatapan mata Ruan yang begitu dingin juga tajam seperti orang yang mengancam. Ia sendiri juga tidak mengerti mengapa tatapan Ruan begitu mengintimidasi. 

“A-ada yang suka sama… saya?”

Ruan mendengkus, “Kalau iya, apa kamu akan melepaskan kontrak ini?”

“Saya…”

“Bukankah keinginanmu adalah merasakan dicintai dan mencintai, jika memang ada kesempatan itu, apakah kamu bersedia?”

Shira menundukkan kepala, menghindari tatapan intimidasi yang malah membuatnya berdebar.

“Kalau saya bersedia …”

Ruan mengeraskan rahang tentu saja tanpa Shira ketahui.

“apa Pak Ruan mengijinkan?”

“Kalau saya ga mengijinkan, apakah kamu rela melepaskan kesempatanmu kehilangan orang yang menyukaimu bahkan mau membayarkan semua sanksi kontrak untukmu?”

“Pak Ruan ga mengijinkan? Alasanya apa?”

“Tentu saja… Lulu.”

Shira tersenyum masam. Dia mengutuk kerapuhan hatinya yang mudah sekali merasa terbang, padahal setiap kali ia merasakan hatinya berdebar, saat itu juga kenyataan melempar dirinya dengan keras ke dalam jurang yang penuh dengan bebatuan.

“Kalau saya misalnya bersedia, apakah Pak Ruan akan berpikir kalau saya ga sayang Lulu?”

“Saya ga seegois itu. Kamu berhak mencintai dan dicintai siapa pun.” 

Hatinya mencelos. Jawaban Ruan sangat menegaskan bahwa Shira tidak akan pernah bisa menyentuh hatinya.

“Saya juga ga seegois itu, Pak.” Sahut Shira setelah beberapa saat keheningan mengisi ruangan. “Saya ga akan membiarkan orang lain membayar sanksi dan pinalti untuk saya. Saya punya tanggung jawab di dalam kontrak ini, jadi saya akan menyelesaikan kontrak. Kalau memang orang itu tulus dan mau menunggu saya sampai kontrak selesai, saya akan dengan senang hati membuka lembaran baru hidup saya.” Shira menyelesaikan jawabannya dengan hatinya yang patah arang.

.

.

.

Bersambung

 

1
Humaira izzatunisa
luar biasa
ms. S
up lagi kak. ceritanya seru lho
Anonim
😍😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
/Drool/
Anonim
Lanjut thor cerita nya fresh beda dengan yang lain😍😍😍
Oksy_K
lanjut kak.... penasaran kisah selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!