Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butuh Waktu
Suara benturan bola dengan papan pantul menggema di seluruh lapangan.
Bruk!
Sesaat kemudian bola memantul pelan sebelum akhirnya masuk tepat ke dalam ring. Sorak sorai langsung meledak dari segala penjuru tribun.
"Masuk!!"
"Kelas kita menang!" teriak salah satu siswa dari tribun seberang, tempat teman-teman sekelas Dirga berkumpul.
"Dirga! Dirga! Dirga!"
Bunyi peluit panjang terdengar nyaring, menandakan pertandingan telah berakhir. Skor di papan berubah menjadi 60–58.
Rekan-rekan setim Dirga langsung berlari menghampirinya. Mereka menepuk bahu, memeluk, bahkan mengacak-acak rambutnya karena berhasil membalikkan keadaan di detik-detik terakhir.
"Gila, Ga! Tembakan lo keren banget!" seru salah satu rekan setimnya sambil merangkul pundak Dirga.
"Nyaris aja kita kalah!" timpal yang lain, masih terengah-engah.
Dirga hanya tertawa pelan sambil menerima pelukan teman-temannya. Nafasnya masih memburu, keringat membasahi wajah dan seragam basketnya.
Di tribun penonton, Andira ikut berdiri sambil bertepuk tangan. "Wah, keren juga."
"Iya," sahut Kinan antusias. "Tadi gue kira bakal kalah."
Oca tidak mengatakan apa-apa. Namun tanpa sadar ia ikut tersenyum kecil melihat euforia kemenangan yang memenuhi lapangan.
Beberapa saat kemudian para pemain mulai berpencar. Ada yang mengambil botol minum, ada juga yang duduk di pinggir lapangan untuk mengatur napas. Namun berbeda dengan yang lain, Dirga justru menoleh ke arah tribun, tempat Oca duduk sejak awal pertandingan. Tanpa mengatakan apa pun kepada teman-temannya, ia melangkah pelan ke sana.
Awalnya tidak ada yang menyadari, namun semakin dekat langkah Dirga, semakin banyak pasang mata yang mengikuti arah tujuannya.
"Loh... Dirga mau ke mana?" tanya salah satu siswa yang duduk tak jauh dari tribun.
"Nggak tau," sahut temannya sambil mengangkat bahu.
"Kayaknya nyamperin seseorang," celetuk yang lain, ikut penasaran.
Andira dan Kinan yang menyadari arah langkah Dirga langsung melirik Oca.
"Ca..." bisik Andira, sementara Kinan cuma bisa mengangkat alis penasaran.
Oca mengernyit. "Hah?"
Belum sempat Andira menjawab, Dirga sudah berhenti tepat di depan mereka. Suasana di sekitar perlahan menjadi lebih tenang, beberapa siswa bahkan sengaja menghentikan obrolan mereka karena penasaran.
Dirga mengusap tengkuknya yang masih dipenuhi keringat. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Oca melihat laki-laki itu tampak sedikit gugup.
"Lo..." Dirga terkekeh kecil, lalu menghela napas. "Beneran datang."
Oca mengangguk pelan. "Kan gue udah janji."
Jawaban sederhana itu justru membuat senyum Dirga semakin lebar. Ia terdiam beberapa detik, seolah sedang mengumpulkan keberanian.
"Sebenernya..." Dirga menggaruk pelan belakang kepalanya. "Alasan gue minta lo datang hari ini... bukan cuma karena pengen ada yang dukung gue."
Andira dan Kinan spontan saling pandang. Oca sendiri mulai merasa ada yang tidak beres.
"Terus?"
Dirga menarik napas dalam-dalam. "Gue suka sama lo, Ca."
Kalimat itu terdengar sangat jelas, hingga suasana di sekitar mereka seolah membeku beberapa saat. Mata Oca langsung membulat. Andira refleks menutup mulutnya sendiri, sementara Kinan menatap Dirga dengan wajah yang tak kalah terkejut.
"Apa?" Suara Oca terdengar pelan.
"Gue serius." Dirga menatap Oca tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya. "Awalnya mungkin cuma karena tugas kelompok. Tapi makin lama gue makin pengen kenal sama lo. Gue nyaman setiap ngobrol sama lo. Dan... gue pengen jadi orang yang bisa ada di samping lo."
Beberapa siswa yang masih berada di sekitar tribun mulai bersorak pelan.
"Cieee..." salah satu siswi menggoda dari kejauhan.
"Terima! Terima!" seru beberapa anak lain, ikut bersorak.
"Wih, ditembak di depan banyak orang!" celetuk yang lain, disusul tawa kecil dari sekelilingnya.
Oca sama sekali tidak memedulikan suara-suara itu. Ia masih berdiri mematung, tak pernah sedikitpun terlintas di pikirannya kalau Dirga benar-benar akan menyatakan perasaannya secepat ini.
Dirga kembali membuka suara. "Gue nggak minta jawaban sekarang. Tapi kalau suatu hari nanti lo kasih kesempatan... gue bakal seneng banget."
Oca masih terdiam. Dadanya berdebar tidak karuan, sementara pikirannya terasa kosong. Ia menatap Dirga beberapa saat, lalu menghembuskan napas pelan sebelum akhirnya membuka suara.
"Gue... butuh waktu buat mikir."
Dirga terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. Senyum tipis tetap terukir di wajahnya, seolah memang sudah menduga jawaban itu.
"Nggak apa-apa. Gue bakal nunggu.”