“Gue ngelakuin itu tanpa ada rasa ke lo, Na.”
Hidup Alana yang sempurna berubah drastis ketika dia hamil anak mantan kakak kelasnya, Rayyan.
Mimpi Alana sudah di depan mata yaitu untuk kuliah di Seoul National University. Sedangkan Rayyan, laki-laki itu punya pacar yang sangat dicintai. Tapi bagaimana dengan bayi dalam rahim Alana?
Update hari jumat, sabtu, dan minggu!
Happy Reading, Guys
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 - Hari Pertama
Ira pulang dari apartemen baru yang ditinggali Rayyan dan Alana saat malam tiba. Rayyan sudah tidur sejak tadi sehabis maghrib, kecapekan. Sudah semalam tidur dengan posisi duduk, lalu hari ini dia harus membawa empat koper Alana.
Alana berjalan mengelilingi apartemen, menatap ke sekeliling. Apartemen itu tidak terlalu luas dengan satu kamar. Saat membuka pintu, ada koridor yang satu sisinya dapat digunakan untuk ruang penyimpanan dan meletakkan hiasan. Ujung koridor itu ada sebuah dapur yang menyatu dengan living dan dinning room di tengah ruangan dengan balkon kecil di salah satu sisinya. Sedangkan di samping koridor, ada satu kamar tidur, dan di sebelahnya lagi ada satu kamar mandi.
Alana berjalan menuju kamar. Dilihatnya Rayyan masih terlelap dalam tidur. Tubuhnya terlentang di atas kasur berukuran queen bed. Alana mendekati kasur, menatap lekat Rayyan yang masih tidur lelap.
Alana masih tidak menyangka dia sudah menikah dengan Rayyan, bahkan mulai sekarang mereka akan tinggal berdua dalam satu atap.
Rasanya baru kemarin Alana melihat Rayyan dihukum di depan tiang bendera saat sedang upacara. Bahkan sejak dulu Alana tidak pernah tahu apapun tentang Rayyan kecuali nama dan wajahnya.
Alana mengalihkan pikirannya. Di berjalan mendekati koper-koper yang ada di sudut kamar. Alana membuka satu persatu koper itu. Satu koper berisi seluruh koleksi album dan merchandise kpop miliknya, satu koper berisi sepatu, sandal, dan tas, sedangkan dua koper berisi baju, skincare, make up, dan perlengkapan lainnya. Itu semua adalah barang-barang yang ada di kamar Alana.
Alana mengambil satu buah album berwarna hijau dengan tulisan GOLDEN yang berwarna emas. Alana mengusap pelan album itu. Pemiliknya sedang wamil saat ini, pasti jika Alana bisa kuliah di Korea, Alana bisa melihat konser comeback nya satu tahun lagi.
Andai saja Alana tidak hamil, Alana pasti kuliah di Seoul National University. Alana pasti sudah ada di Korea untuk mempersiapkan keperluannya. Dan yang paling Alana inginkan adalah Alana bisa banyak menonton konser kpop dan ikut fanmeet di sana.
Setelah beberapa saat terdiam, Alana bangun. Dia mulai merapikan barang-barang. Dimulai dengan menata album, merchandise, dan hiasan di sebuah rak yang ada dalam kamar. Satu per satu, Alana mulai meletakkan barang-barang itu tanpa bersuara. Di telinganya sudah ada earphone yang menyenandungkan lagu-lagu kesukaannya. Sesekali tubuhnya bergerak pelan mengikuti irama lagu.
Alana mengambil satu album, dia menatap rak paling tinggi. Hanya itu barisan rak yang masih kosong, sisanya sudah terisi penuh.
Alana berjinjit untuk meletakkan rak yang cukup tinggi itu, tapi tidak langsung berhasil. Alana mencobanya lagi, tapi tidak berhasil. Hingga sebuah tangan terulur mengambil album dari tangannya kemudian meletakan album itu di rak.
Alana menoleh pada Rayyan yang sudah berdiri di belakangnya, meletakkan album itu ke rak paling atas. Wajahnya terlihat kusut dan masih mengantuk dengan rambut yang berantakan.
“Kenapa gak besok aja, Na?” ucap Rayyan dengan suara serak khas bangun tidur.
Alana melepas earphone yang ada di telinga. “Gue gangguin lo tidur ya?” tanya Alana pelan.
Rayyan menggeleng, kemudian berjalan menjauh sambil mengacak rambutnya asal sambil kembali menguap.
“Yang tinggi lewati aja. Biar gue yang naroh besok.”
Rayyan menuju dapur untuk mengambil air minum.
“Itu kalau lo mau makan, makanannya ada di meja,” ucap Alana yang sudah ada di ambang pintu kamar, menatap Rayyan.
Rayyan menenggak habis satu gelas air, kemudian menoleh pada Alana.
“Lo udah makan?”
Alana mengangguk. Setelah membeli makanan itu secara online, Alana dan Ira langsung makan. Mereka menyisakan satu porsi untuk Rayyan.
Rayyan mengangguk pelan. “Besok deh gue makan. Sekarang jam berapa?”
Alana bergumam. Dia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, kemudian kembali ke ambang pintu.
“Sebelas lebih.”
“Mending lo tidur aja, Na. Udah malem. Beberesnya lanjutin besok.”
Alana hanya mengangguk pelan.
Dengan wajah yang masih menahan kantuk berat, Rayyan kembali ke dalam kamar. Dia mengambil sebuah bantal yang ada di kasur.
“Lo tidur di sini, Na. Gue biar tidur di luar, di sofa.”
Rayyan berjalan keluar dengan mata setengah terpejam karena menahan kantuk. Tapi baru di ambang pintu, langkahnya terhenti karena mendengar ucapan Alana.
“Ray, gue… gak berani tidur sendiri.”
Alana bukan mencari-cari alasan. Dia memang cukup penakut. Alana tidak bisa tidur sendirian di tempat asing, apalagi jika tempat itu sudah lama tidak ditinggali seperti apartemen ini.
Rayyan menatap Alana, kemudian menguap lebar. Rayyan keluar dari kamar tanpa menjawab perkataan Alana membuat Alana menghela napas pelan. Bahu Alana merosot turun.
Alana berjalan menuju kasur dengan wajah kecewa. Alana tidak bisa memaksa Rayyan. Dia sedang merapikan bantal untuk tidur saat melihat Rayyan kembali masuk ke dalam kamar. Kali ini dia kembali dengan membawa karpet bulu yang ada di ruang keluarga. Rayyan meletakkan karpet itu di bawah, tepat di samping kasur.
“Lo di atas aja. Gue biar di bawah.”
Alana hanya diam menatap Rayyan yang kali ini sudah meletakkan bantal di atas karpet, kemudian merebahkan tubuhnya di sana. Beberapa kali Rayyan bergerak mencari posisi yang nyaman, sebelum berhenti pada posisi miring kiri menghadap tempat tidur.
“Tidur, Na,” ucap Rayyan dengan mata terpejam.
Tidak lama setelah mengatakan itu, Alana dapat melihat napas teratur Rayyan. Rayyan sudah terlelap.
Alana menurut. Dia mematikan lampu kamar, menyisakan lampu tidur, kemudian naik ke atas kasur. Alana memiringkan badan menghadap Rayyan yang ada di bawah, kemudian ikut memejamkan mata dan tidur.
***
Sudah menjadi rutinitas, setiap pagi Alana selalu muntah-muntah dan setiap pagi Rayyan selalu mendengar suara Alana yang muntah-muntah. Hari ini pun sama, Rayyan terbangun karena mendengar suara Alana yang muntah-muntah. Padahal ini masih pagi-pagi buta. Matahari saja belum terlihat cahayanya.
Rayyan bangun. Dia meletakkan bantal di atas kasur, kemudian keluar. Dia duduk di sofa menunggu Alana keluar.
“Gak papa, Na?” tanya Rayyan setelah Alana keluar dari kamar mandi. Wajahnya masih kusut dan mengantuk.
Alana menggeleng pelan. Wajahnya pucat pasi.
“Pucat banget muka lo, Na,” komentar Rayyan. “Lo tidur lagi aja, ini masih pagi banget.”
Alana hanya mengangguk pelan, Alana juga masih mengantuk. Dia masuk kembali ke dalam kamar. Sedangkan Rayyan masuk ke kamar mandi. Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi, Rayyan keluar dan kembali ke dalam kamar. Dilihatnya Alana sudah tidur dengan posisi miring sambil memegangi perut.
Rayyan mendekati Alana, kemudian menaikkan selimut menutupi tubuh Alana.
“Kasian lo, Na, Na.”
Rayyan berbalik badan. Barang-barang masih berantakan di dalam kamar. Semalam Rayyan tidak terlalu memperhatikan karena sudah mengantuk berat.
Rayyan mendekati album-album milik Alana yang masih berada di koper yang dalam kondisi terbuka. Rayyan mengambil salah satu album itu, membuka isinya tanpa minat.
“Ngapain sih beli ginian?” tanyanya pelan.
Meskipun dibuat heran akan hal itu, Rayyan tetap meletakkan album-album itu di rak, meletakkannya dengan asal yang penting tersusun rapi di rak.
Setelah selesai dengan itu, Rayyan membuka koper miliknya dan memindahkan barang-barangnya ke dalam lemari. Lemari itu sengaja Rayyan sisakan ruang yang banyak karena dia yakin baju-baju Alana banyak.
Tapi saat Rayyan ingin membuka koper Alana untuk menata baju, Rayyan mengurungkan niatnya karena takut Alana tidak suka jika Rayyan memegang barang-barangnya. Lagipula, tidak sopan juga menyentuh barang Alana tanpa izin.
Alana menggeliat kecil, terbangun dari tidurnya. Saat matanya terbuka, yang pertama kali Alana lihat adalah punggung lebar Rayyan yang tidak tertutup baju, berada di depan lemari.
Rayyan menoleh ketika mendengar ada suara di belakangnya. Dilihatnya, Alana sudah bangun. Saat Rayyan berbalik badan, refleks Alana mengalihkan pandangan. Meskipun Rayyan sudah terbiasa tidak memakai baju atasan di rumah, Alana masih tidak terbiasa melihat itu.
Alana malu.
Rayyan yang menyadari itu buru-buru mengambil sebuah kaos dan memakainya.
Alana mengedarkan pandangan. Kamar yang semalam dia tinggalkan dalam kondisi berantakan, kini sudah bersih dan rapi. Koleksinya sudah terpampang rapi di lemari.
“Makasih udah beresin koleksi gue,” ucap Alana pada Rayyan yang hanya dibalas dengan anggukan pelan.
“Udah baikan?”
Alana mengangguk pelan. Wajahnya masih kusut khas bangun tidur.
“Na,” panggil Rayyan yang membuat Alana menoleh padanya. “Gue hari ini kuliah ya.”
...***...
lanjuuuut..