Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Kalau itu pilihannya, Kiana akan mengingatnya.
Kalimat terakhir yang ia bisikkan di ambulans masih menempel di lidah ketika kesadarannya kembali pelan-pelan. Bukan lagi bau asap yang menyambutnya, melainkan aroma minyak kayu putih, teh hangat, dan sprei bersih yang sudah terlalu lama tidak ia cium.
Kiana membuka mata.
Di meja samping tempat tidur ada gelas air hangat, obat pereda nyeri, dan kotak tisu.
Vila Lim.
Kamarnya sendiri.
Kiana menggerakkan jari. Telapak tangannya sudah dibalut kasa. Pergelangan kaki kirinya dipasang penyangga ringan. Dadanya masih berat akibat asap, tetapi ia masih hidup.
Lalu sebuah tangan menyentuh dahinya.
"Kia?"
Suara itu membuat napas Kiana berhenti.
Ia menoleh pelan.
Lily Lim duduk di sisi tempat tidur, rambutnya digelung asal, matanya sembap karena kurang tidur. Wajah itu masih sama seperti dalam ingatan Kiana.
Hanya saja, di kehidupan sebelumnya, wajah itu sudah lama tertutup kain putih di ruang jenazah setelah kecelakaan pesawat.
"Mama..." Suara Kiana pecah.
Lily langsung menunduk. "Kia, pelan-pelan. Dokter bilang kamu masih harus istirahat. Jangan banyak gerak dulu."
Kiana tidak mendengar sisanya.
Ia memeluk pinggang Lily sekuat yang bisa dilakukan tubuhnya yang masih sakit. Begitu wajahnya menempel di perut Mama, semua pertahanan yang ia bangun di ambulans runtuh.
Hangat.
Mama masih hangat.
Masih hidup.
"Kia?" Lily terkejut, lalu buru-buru memeluk balik. "Sayang, sakit? Mana yang sakit? Mama panggil dokter lagi?"
Kiana menggeleng kuat. Air matanya membasahi kain blus Lily.
Di kehidupan sebelumnya, telepon itu datang saat ia sedang menunggu Jovian pulang. Pesawat jatuh, nama Lily Lim ada di daftar korban, dan dunia Kiana sejak hari itu kehilangan warna.
Sekarang Mama ada di sini. Tangannya mengusap rambut Kiana. Suaranya bergetar, tetapi nyata.
"Mama di sini, Kia. Mama di sini."
Kiana menggigit bibir. Ia tidak boleh terlalu lama menangis. Kesempatan kedua bukan hadiah untuk ia pakai meratapi masa lalu.
Ia menarik napas, memaksa tubuhnya tenang. Setelah beberapa menit, ia melepaskan pelukan dan menyeka wajah.
"Sekarang tanggal berapa?" tanyanya.
Lily mengerutkan kening. "Sembilan belas Mei. Kamu baru tidur beberapa jam setelah dibawa pulang dari rumah sakit subuh tadi."
Benar.
Satu hari sebelum pernikahannya dengan Jovian, pernikahan yang sejak awal sudah busuk.
Kiana menunduk melihat jari manisnya. Kosong. Cincin pertunangan itu sudah tidak ada di sana. Ia ingat telah melepasnya di ambulans.
Bagus.
Benda seperti itu memang tidak pantas kembali ke jarinya.
"Jovian bagaimana?" tanya Lily hati-hati. Pertanyaan itu terdengar seperti paku yang dibungkus kain.
Kiana mengangkat wajah. "Dia menyelamatkan Vanya."
Lily terdiam.
"Dia melewati aku, Ma." Kiana berkata pelan, tanpa air mata baru. "Aku ada di lantai. Kakiku tidak bisa bergerak. Dia melihat aku, lalu tetap pergi ke Vanya."
Wajah Lily berubah pucat. Lalu marah datang perlahan, dari mata sampai rahangnya.
"Kurang ajar," bisiknya. "Anak itu makan garam di rumah siapa selama ini?"
Dulu, Kiana pasti akan membela Jovian. Mengatakan ia panik, ia tidak sengaja, ia pasti punya alasan.
Sekarang, Kiana hanya menatap Mamanya dan berkata, "Ma, Mama benar, aku tidak percaya Jovian lagi."
Lily menggenggam tangan putrinya. "Mama percaya kamu."
Sebelum Kiana sempat mengatakan apa pun lagi, suara ribut terdengar dari lantai bawah.
Pintu utama dibuka. Ada suara langkah cepat, suara Bi Lan yang kebingungan, lalu suara laki-laki yang ia kenal.
"Saya ingin bertemu Kiana."
Jovian.
Tubuh Kiana menegang.
Lily langsung berdiri. "Dia berani datang?"
Bi Lan muncul di pintu kamar dengan wajah cemas. "Nyonya, Pak Jovian datang. Sama Mbak Vanya."
Kiana menahan tawa dingin.
Baru semalam ia melangkahi tubuh Kiana di tengah api. Pagi ini ia membawa perempuan itu ke rumah Lim.
"Ambil kursi roda," kata Kiana.
Lily berbalik cepat. "Kia, kamu belum boleh turun."
"Aku harus turun, Ma." Kiana menatap Mama. "Kalau aku tidak turun, mereka akan bercerita sesuka hati."
Lily menatap luka putrinya. Beberapa detik kemudian, kemarahannya berubah menjadi ketenangan yang lebih berbahaya.
"Bi Lan, kursi roda."
Ruang tamu Vila Lim seperti panggung kecil ketika Kiana dibawa turun.
Jovian berdiri di dekat sofa, kemejanya kusut, wajahnya pucat. Di sampingnya, Vanya Pai mengenakan cardigan putih. Lengan kanannya diperban ringan.
Rapuh, tetapi matanya sempat menyapu ruang tamu dengan cepat.
Kiana menangkapnya.
Di sofa utama, Hendro Lim duduk memegang cangkir teh. Tidak ada kemarahan karena putrinya hampir mati. Tidak ada pertanyaan mengapa Jovian meninggalkannya.
Kiana merasa sesuatu yang dingin menetes di hatinya.
Kaku dan tidak peduli ternyata bisa terlihat hampir sama.
Begitu kursi roda berhenti, Jovian menatap Kiana. Ia seperti hendak mendekat, tetapi menahan diri karena Lily berdiri di belakang putrinya.
"Kiana," katanya. "Kamu sudah sadar."
Kiana menatapnya tanpa menjawab.
Lily maju satu langkah. "Kamu datang untuk minta maaf?"
Jovian menarik napas. "Tante Lily, saya datang untuk menjelaskan."
"Menjelaskan kenapa kamu melewati anak saya saat dia tergeletak di lantai?" suara Lily meninggi. "Atau menjelaskan kenapa pagi-pagi kamu membawa perempuan ini ke rumah kami?"
Vanya langsung menunduk. "Tante, maaf. Aku nggak bermaksud membuat masalah. Semalam aku juga tidak sadar. Jovian cuma..."
"Saya tidak tanya kamu." Lily memotong tanpa berteriak, tetapi ruang tamu langsung membeku.
Mata Vanya memerah seketika.
Hendro meletakkan cangkir. "Lily, jangan terlalu keras. Vanya juga korban kebakaran."
Lily menoleh kepada suaminya. "Anakmu juga korban kebakaran."
"Aku tahu." Hendro menghela napas. "Tapi anak muda panik dalam situasi seperti itu. Jangan semua dibuat besar."
Kiana menatap Papa-nya. Hendro selalu begitu. Saat Kiana terluka, ia meminta Kiana memahami orang lain. Saat Vanya menangis, ia meminta dunia berhenti.
Jovian mengepalkan tangan. "Saya tidak akan mencari alasan. Semalam saya memang menyelamatkan Vanya lebih dulu."
Lily tertawa pendek. "Akhirnya ada satu kalimat jujur."
"Karena saya mencintai dia," lanjut Jovian.
Ruang tamu sunyi.
Bi Lan yang berdiri di dekat tangga menutup mulut. Bahkan Hendro tampak berhenti bernapas setengah detik.
Jovian menatap Kiana. "Kiana, selama ini aku selalu menganggap kamu seperti adik. Pernikahan besok tidak bisa dilanjutkan. Orang yang ingin aku jaga seumur hidup adalah Vanya."
Kalimat itu seharusnya menghancurkan.
Namun Kiana sudah hancur semalam.
Yang tersisa pagi ini hanya serpihan yang mulai ia susun menjadi pisau.
Lily melangkah maju, wajahnya memucat. "Seperti adik? Tujuh tahun kamu dekat dengan anak saya, keluarga kami membantu Loe Group waktu kalian hampir jatuh, dan sekarang kamu bilang anak saya cuma adik?"
"Tante..."
"Jangan panggil saya Tante dengan mulut semudah itu." Lily menunjuk pintu. "Kalau kamu punya sedikit saja rasa malu, kamu datang sendiri. Bukan membawa perempuan yang setengah tahun ini tinggal di rumah kami, makan di meja kami, diperlakukan seperti keluarga."
Vanya menangis pelan. "Tante, aku benar-benar minta maaf. Aku juga tidak tahu perasaan Jovian sebesar ini. Aku sudah mencoba menjauh, tapi..."
"Tapi tetap ikut datang untuk membatalkan pernikahan orang di ruang tamu keluarga orang itu?" Kiana akhirnya bersuara.
Semua mata beralih kepadanya.
Suara Kiana tidak keras. Justru karena terlalu tenang, Vanya tampak kehilangan ritme.
Kiana mengangkat wajah. "Vanya, kalau kamu memang merasa bersalah, kamu tidak akan berdiri di sini pagi ini."
Air mata Vanya tersendat.
Jovian langsung maju setengah langkah. "Kiana, jangan serang dia. Ini keputusan aku."
Kiana menatapnya. "Aku belum selesai bicara."
Jovian terdiam.
Kiana menoleh ke Vanya lagi. "Tapi tidak apa-apa. Dia bertemu cinta sejatinya. Aku tentu merestui."
Lily menatap Kiana dengan kaget. Hendro mengendurkan bahu, seolah lega. Jovian justru mengerutkan kening, seperti jawaban Kiana tidak sesuai dengan bayangannya.
Vanya juga terpaku.
Kiana tersenyum tipis. "Jovian, mulai hari ini, tidak ada pernikahan. Tidak ada pertunangan. Tidak ada hubungan apa pun antara kita. Kamu bebas melindungi siapa pun yang kamu cintai. Aku juga bebas hidup tanpa kamu."
Wajah Jovian berubah.
Untuk pertama kalinya sejak masuk, ada kepanikan kecil di matanya.
"Kiana, kamu tidak perlu bicara seperti itu karena marah."
"Aku tidak marah." Kiana meletakkan tangan di atas lutut. "Aku hanya sadar."
Lily menoleh ke Bi Lan. "Panggil Bi Wang. Semua barang Vanya di kamar tamu, keluarkan sekarang."
Vanya mengangkat wajah. "Tante..."
"Mulai hari ini kamu tidak tinggal di rumah Lim." Lily berkata dingin. "Kami tidak menyediakan tempat untuk orang yang menusuk anak saya dari dalam rumah."
Hendro berdiri. "Lily, jangan emosional. Vanya gadis muda, dia baru pulang ke Indonesia, Kiara menitipkan dia pada kita."
"Kalau kamu kasihan, sewakan hotel untuk dia. Pakai uangmu sendiri."
Wajah Hendro menggelap.
Bi Wang datang dengan tergesa-gesa. Setelah mendengar perintah Lily, ia naik bersama Bi Lan. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, dua koper besar dan beberapa tas diturunkan ke ruang tamu.
Vanya menangis tanpa suara. Jovian berdiri di depannya seperti perisai.
Orang yang selalu butuh dilindungi ternyata paling pandai memilih medan perang.
Jovian akhirnya menarik koper Vanya. "Baik. Kami pergi dulu."
Sebelum keluar, ia menatap Kiana sekali lagi. "Aku akan bicara denganmu setelah kamu tenang."
"Tidak perlu." Kiana memandangnya datar. "Aku sudah sangat tenang."
Jovian tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi Vanya menyentuh lengannya. "Jovian, ayo. Jangan memperburuk keadaan."
Mereka keluar.
Hendro ikut berjalan cepat ke halaman, seolah hendak memastikan tamu tidak merasa dipermalukan. Dari tempat kursi rodanya, Kiana melihat lewat jendela tinggi ruang tamu.
Di sisi mobil, Hendro berdiri dekat Vanya. Suaranya tidak terdengar jelas, tetapi Kiana bisa membaca gerak bibirnya pada kalimat terakhir.
Senin. Bintang Grup. Posisi wakil direktur teknologi.
Tangan Kiana di atas lutut mengencang.
Jadi secepat ini.
Belum genap setengah hari setelah pembatalan pernikahan, Papa-nya sudah menyiapkan kursi untuk Vanya.
Lily mengikuti arah pandang Kiana. Wajahnya berubah pelan.
"Kia," bisiknya. "Apa yang Papa kamu katakan?"
Kiana tidak langsung menjawab. Ia menunggu Hendro kembali ke rumah, wajahnya sudah kembali menjadi ayah yang pura-pura tenang.
Baru setelah Hendro masuk ke ruang kerja dengan alasan menelepon, Kiana menggenggam tangan Mama.
"Ma," katanya pelan, "mulai hari ini, jangan tanda tangan dokumen apa pun dari Papa."
Lily menatapnya.
Kiana menahan nyeri di kaki, tetapi suaranya tetap stabil.
"Dan satu lagi. Cek mutasi rekening Papa beberapa bulan terakhir."
Di mata Lily, kemarahan tadi berubah menjadi sesuatu tajam.
"Kia, kamu tahu sesuatu?"
Kiana menatap pintu ruang kerja yang tertutup.
Ia tahu banyak.
Tapi saat ini, satu kalimat sudah cukup.
"Aku cuma tidak mau kehilangan Mama untuk kedua kalinya."