NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Yordan Dan Amara

Takdir Cinta Yordan Dan Amara

Status: tamat
Genre:Cinta Murni / CEO / Kisah cinta masa kecil / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hania

Sejak lama Yordan menyimpan rasa pada Amara, namun rasa itu harus dia simpan dalam-dalam dikarenakan ada sesuatu perbedaan mendasar antara mereka.

Sedih dan sakit tentu saja dia rasakan kini. Omong kosong jika, cinta tak harus memiliki, tapi ia sadar, cinta tak boleh memaksakan diri.

Bisakah Yordan menghapus rasa yang selama ini ia simpan ataukah ia akan menyerah sehingga cinta itu akan menemukan jalannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keysha cemburu

Balik ke cerita Amara

 

Yordan sudah tak kuasa lagi, untuk berdiam diri. Menyaksikan dan mendengarkan lagu merdu yang  dialunkan Amara. Bak kaset rusak, diputar berulang-ulang, semakin membuat pusing kepala.

“Sudah selesai ceritanya?” tanya Yordan tiba-tiba.

Ups...

Apakah Kak Yordan mendengar semuanya?... idiiih. Sungguh malunya diriku.

“Kakak, sudah bangun ya...” Secara refleks, Amara menutup mukanya dengan kedua telapak tangan.

Senyum Yordan mengembang. Rasanya ingin sekali menggoda gadis manja yang ada di hadapannya.

“Tenang saja aku nggak denger apa-apa kok,” kata Yordan menenangkan.

“Alhamdulillah... Syukurlah kalau begitu.”

“Emangnya kamu ngomong apa sih? kok aku jadi penasaran,” tanya Yordan dengan wajah serius.

“Cerita yang gak penting kok, Kak. Hanya untuk menghibur diri. Aku lagi gabut.” Amara mencoba  mengelak.

“Oooooo.... Aku kira apa.” Dia pun bangkit, seolah-olah tak peduli. Namun ekor matanya mengikuti bahasa tubuh Amara. Dia tahu kalau Amara menyembunyikan sesuatu darinya. Dan dia suka itu.

“Eee... Kakak mau ke mana?” tanya Amara dengan khawatir.

“Capek ah, bobok terus. Aku ingin keluar. Menghirup udara segar. Tolong aku dong...ambilkan kursi roda!” kata Yordan mencoba untuk bangkit.

“Iya Kak. Aku akan ambilkan.”

Amara keluar ruangan. Dia menuju ke tempat penyimpanan kursi roda. Meninggalkan Yordan seorang diri. Maklumlah Papa Marthen dan papa Gabriel menghilang, pergi entah ke mana. Sedangkan nenek Yohana belum  kembali juga.

Tak berapa lama, Amara pun kembali dengan mendorong kursi roda kosong.

“Kakak, apakah kamu sudah siap untuk jalan-jalan,” ledeknya. Dia membawa kursi roda ke arah Yordan dengan tertawa lebar.

Seketika Yordan tertawa lebar, menampakkan gigi-giginya yang berjejer rapi. Bangun pagi-pagi sudah ada yang menghibur dirinya. Siapa yang  tak senang.

Namun dia tersentak, mengapa  mulutnya mengeluarkan bau yang kurang sedap. Mungkin karena dia tidur terlalu lama sehingga tidak bisa membersihkan giginya setiap hari.

“Idih Kakak, sepertinya kamu belum siap untuk pergi, deh. Lihat mukamu masih kusut, dan mulutmu...” Amara menghimpit hidungnya dengan dua jari, serta mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan hidung.

“Bauuuu...” kata Amara sambil tertawa.

“Iya deh, iya deh. Mulutku memang masih bau, tapi apakah mulutmu sudah terbebas dari bau,” jawab Yordan tak mau kalah.

“Jelas dong,” jawab Amara singkat, jelas dan padat.

Amara segera mengambil odol dan sikat gigi dan handuk kecil. Dia memberikannya pada Yordan.

“Entar dulu lah. Aku mau duduk di kursi roda.”

Ups... Iya. Mengapa Amara menjadi tak sabaran.

“Lupa,” kata Amara sambil tersenyum lebar seakan tanpa dosa.

Meskipun diwarnai dengan aksi ledek- meledek di antara keduanya, tetapi tidak menyebabkan keduanya berhenti untuk saling menolong.

Yordan mencoba memposisikan tubuhnya, untuk bisa duduk dengan baik di pinggir tempat tidur.  Sebelum akhirnya perlahan-lahan berdiri untuk bisa duduk di kursi roda.

Perlu perjuangan keras melakukan itu semua. Mengingat tubuhnya yang belum bisa digerakkan dengan sempurna disebabkan oleh tidur yang amat panjang.

Amara ingin sekali membantunya. Namun dicegah oleh Yordan. Bukannya dia tidak mau dibantu, namun dia sangat menghormati Amara sebagai seorang Muslimah.

“Bukankah kita bukan muhrim, Amara.”  Tolaknya.

“Baiklah.”

Amara pun membiarkan Yordan berjuang sendiri. Sementara dia memegangi kursi roda itu dengan erat. Agar pada saat Yordan duduk, tidak akan bergeser.

 Meskipun sudah berusaha untuk hati-hati, namun tetap saja dia belum mampu berdiri dengan sempurna. Sehingga hampir saja Yordan terjerembab dari kursi roda, kalau saja Amara tidak segera menggapainya.

“Hati-hati Kak.” Amara segara membantunya ke posisi yang benar.

“Terima kasih, Irma.”  Yordan pun bisa duduk dengan baik di kursi roda.

 Tanpa  mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka di tengah pintu, dengan hati yang bergemuruh karena cemburu.  Seketika dia pun menjatuhkan satu kantong buah apel yang dibawanya.

Brughk...

Amara dan Yordan terkejut. Secara bersamaan mereka menengok ke arah pintu.

“Keysha,” ucap Amara tertahan.

Wah...gawat ini. Dia salah faham. Amara segera menghampirinya. Namun Keysha sudah terlanjur lari.

“Keysha,” panggilnya sambil menunjukkan kantong yang Keysha jatuhkan. Amara hendak berlari, mengejarnya. Namun dicegah oleh Yordan.

“Sudah. Jangan dikejar,” kata Yordan.

“Tapi Kak.”

“Aku nggak mau. Gara-gara aku kalian salah paham.”

“Oooh... salah paham soal apa. Antara aku dan Keysha tidak punya hubungan apa-apa.”

“Bukannya dia...” Amara mengangkat kedua jari telunjuknya berhadap-hadapan. Menunjukkan kalau Yordan dengan Keysha memiliki hubungan serius.

“Kamu tuh masih kecil, Irma. Tahu apa soal itu.”

“Lha benerkan. Dia tunangan kakak.” Kata Amara dengan wajah serius.

Yordan tertawa seketika. Mana Amara tahu, kalau mereka telah putus. Lagi pula itu bukan sesuatu banget, yang harus diceritakan pada semua orang.

Yordan meninggalkan Amara seorang diri masih dengan rasa bersalah dengan kantong plastik di tangan.

Dia pergi toilet untuk cuci muka dan sikat gigi. Agar saat dia kembali ke kamar, dirinya sudah segar dan wangi. Tak menjadi bahan olok-olokan Amara. Jatuh harga dirinya.

Kini dia sudah siap. Dia pun menemui Amara yang masih dalam keadaan yang sama saat dia meninggalkannya. Bengong sendiri dengan sesekali matanya menengok ke pintu berharap Keysha kembali.

Amara...Amara...kamu kalau begini makin menarik deh. Bagaimana kalau dihalalkan segera ... hehehe.

Sabar dulu Yordan. Sepertinya belum saatnya. Nikmati dulu persaudaraan kalian sebagai adik dan kakak.

“Irma, kita pergi yuk,” Ajak Yordan.

Amara tersentak. Dia pun sadar.

“Lalu apel ini, bagaimana?”

“Letakkan saja di nakas, Irma. Kalau kamu suka, bisa kamu makan.”

“Kakak ini bagaimana sih. Nggak enak sama Keysha lah.”

“Lalu, baiknya bagaimana?” tanya Yordan mencoba mengambil jalan tengah.

“Iya deh, Kak. Aku taruh dulu buahnya.” Amara akhirnya mengalah meski diliputi rasa bersalah.

Dia merasa dirinya lah yang menyebabkan Keysha marah dan pergi tanpa pamit. Dan yang bikin dia makin sebel, kenapa kak Yordan begitu cuek pada Keysha. Sepertinya sengaja. Ada apa dengan mereka.

Jangan-jangan Yordan ingin menguji seberapa besar keseriusan Keysha pada hubungan mereka. Dan Yordan menjadikan dirinya sebagai alat untuk mengetahuinya.

Astaghfirullah al adzim...

Ya Allah ampunilah diriku yang tahu apa-apa ini.

Lindungilah diriku menjadi orang ketiga dari jalinan kasih yang hendak engkau ikatkan.

Capek ya Allah, menjadi orang ketiga itu. Hiks...hiks...hiks...

“Hai, kenapa kamu bengong. Hayo... sedang memikirkan si dia ya...” kata Yordan membuyarkan lamunannya.

Amara tersenyum simpul dan berkata, “Kakak ingin ke mana?”

“ke taman lah. Mau melihat orang pacaran. Hahaha...” goda Yordan.

“Huh! Kakak. Bilang saja mau minta antar, menemui Keysha. Iya kan?”

Ini anak, sulit banget dialihkan. Kembali lagi pada hal yang tak penting itu.

“Bolehlah. Aku mau minta ijinkan dirimu untuk bisa makan apelnya, bagaimana?”

“Kakak jangan bercanda. Kalau kamu ditinggal Keysha, nyesel lho.”

Apa sebaiknya Yordan katakan sekarang ya. Kalau selama ini yang ada dihatinya adalah dia bukan Keysha.

1
Tien
co cuit 🥺
Tien
Alhamdulillah akhirnya sah
Tien
ceritanya menggemaskan
Tien
akhirnya, lama sekali kakak
Tien: ya Allah sehat selalu kakak
total 2 replies
Tien
terima kasih
Tien
in syaa Allah Allah mudahkan untuk kakak
Hania
mohon dukungannya ya... kedepannya bisa update setiap hari
Tien
ye .....kakak dah up lagi, terima kasih
Tien
Maacih kakak
Tien
lagi.... lagi.... semangat kakak
Tien
kakak terima kasih
Tien
ah....kakak kenapa kepotong disini kan jadi kesel aku 😭....... penasaran harus nunggu lagi. cepat up lagi ya kak
Tien
terima kasih up-nya kak & ditunggu lanjutannya
Tien
terima kasih up-nya kak
Tien
semangat terus kakak
Tien
up yang banyak kak
aku dah sabar menunggumu ❤️
Tien
hayu kakak semangat untuk berkarya
Hania
maaf beribu maaf, jika update sangat lama, banyak kesibukan di dunia nyata sehingga sulit menemukan waktu untuk menulis.🙏🙏🙏
Tien
justru selalu menunggu up nya kak
Hania
Alhamdulillah sudah 14 bab.
jangan bosan untuk baca karyaku. ♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!