NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Dibenci

Istri Gendut Yang Dibenci

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:205k
Nilai: 5
Nama Author: picisan imut

Memang sangat tersiksa tatkala menikah dengan Pria yang sejatinya tak pernah mencintaiku. Namun apakah bodoh, jika aku lebih memilih terluka demi bisa terus bersamanya?

— Erika Rawles —

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perbedaan.

Aku bermimpi, mimpi yang sangat indah… ada pangeran berbaju putih yang tampan sedang mengulurkan tangannya padaku. Ia membawa serta tubuh besarku ke sebuah altar pernikahan. 

Kami pun berdansa bersama. Hatiku berdesir saat Pria itu memanggil namaku dengan halus.

Erika… 

Erika…

.

.

.

Indra penciumannya menangkap aroma obat. Suara denting jam terdengar, berbarengan dengan suara pria yang memanggil lembut. 

"Erika…" 

Elvan?

Matanya masih berat untuk terbuka. Namun hatinya langsung mengenali siapa suara laki-laki ini. Hingga membuatnya tidak sabar untuk membuka mata.

"Erika…" 

Pelan-pelan perempuan itu mulai mengangkat kelopak matanya. Samar, wajah seorang pria yang ia tangkap lebih dulu. 

Benarkah dia Elvan? 

Akan sangat bahagia rasanya jika benar yang ia lihat pertama kali adalah sang tambatan hati. Objek di depan semakin jelas, menangkap sosok pria dengan aura bahagia bercampur khawatir. Dan dia bukanlah laki-laki yang diharapkan. 

"De…an?" lirih-nya sedikit tidak jelas.

"Syukurlah—" Dean mengusap wajahnya lega. 

Erika masih agak linglung. Matanya mengedar ke seluruh bagian ruangan VVIP. Kondisi yang berbeda tak seperti saat baru pertama memejamkan mata. 

"Selamat Erika, operasi mu berjalan lancar." Air wajah berbinar ditunjukkan Dean. Ini adalah operasi bariatrik pertamanya selama bekerja di sini. Terlebih pasiennya adalah mentarinya sendiri. 

Bibir pucat perempuan berbadan besar itu tersungging tipis. Air mata pun mengalir ke sudut-sudut matanya mengenai telinga. 

"Setelah ini kau akan pulih, semangat, ya?" 

Erika mengangguk. Tubuh yang masih lemah tidak mampu banyak merespon. 

Selama menjalani perawatan pasca operasi di rumah sakit. Dean banyak membantunya, dari yang belajar miring, duduk, hingga berjalan.

Jujur, Erika amat terbantu sekali, sampai-sampai ia melupakan masalahnya dengan Elvan, saking seringnya Dean meluangkan waktu untuk menemaninya selama di rumah sakit. 

***

Di tempat lain.

Elvan terjaga. Selama beberapa minggu terakhir laki-laki itu memang tidur di rumah Veni. Ia malas pulang ke rumah orang tuanya demi menghindari bersitegang dengan Ayah. 

Dilihat pintu kamar terbuka. Veni masuk dengan penampilan yang sama dengan kemarin. 

"Oh, sudah bangun?" Menyapa singkat sambil membawa dua tas belanjaan besar di kedua tangannya. 

"Apa kau baru pulang?" tanya Elvan, tatapannya tertuju pada brand terkenal yang tertera di dua paper bag besar tersebut.

"Iya, pemotretan baru selesai subuh tadi. Anak-anak PH mengajakku untuk makan-makan dulu," jawabnya. 

"Lalu dua belanjaan itu?" Menunjuk dua tas yang ada di bawah meja rias. 

Veni tersenyum. "Dari fans, Sayang." 

"Fans?" 

"Iya!" Menjawab mantap. 

Veni masih sibuk melepaskan aksesoris di telinga. Sementara Elvan bangkit lantas memeluk tubuh Veni dari belakang. 

"Penggemar seperti apa yang bisa seroyal ini membelikan dua barang mewah. Aku saja belum tentu bisa membelinya sekaligus dua?" 

"Kau ini, tentu saja semua fansku royal. Ini tuh, hadiah gabungan dari Veni lovers. Kau kan tahu, aku model papan atas." 

"Kau benar, saking terkenalnya aku sampai cemburu setiap kali kau berakting adegan dewasa dengan laki-laki lain." Elvan mulai mempermainkan salah satu dari area sensitif Vani. 

Ah, sial… jangan pula dia minta aku untuk tidur bersamanya pagi ini. Semalaman aku sudah lelah bermain diatas ranjang dengan sutradara itu.

"Sayang, aku lelah sekali. Lagi pula– kau akan bertemu client, 'kan?" 

"Emmm, tapi dua puluh menit cukup untukku memanjakanmu." 

"Ya tapi, aku lelah, Sayang… tolong mengertilah." Veni masih berusaha menolak ajakan Elvan dengan hati-hati.

"Ck! Kau itu terlalu sering pulang pagi akhir-akhir ini. Menyebalkan!" runtuknya.

"Hahaha, maaf sayang. Aku benar-benar harus menjadi peran utama di film ini. Maka dari itu aku harus bekerja keras." Wajahnya nampak memohon. 

"Haaaah, baiklah. Aku mau mandi, dan kau? Tolong siapkan sarapan pagi untukku ya." 

"Aaah, Sayang. Aku sudah bilang aku tidak suka direpotkan," rengek Veni. 

"Repot?" Elvan mengangkat satu alisnya.

"Iya! lagian masakan ku belum tentu enak. Beli saja, ya? Akan ku pesankan." 

"Tidak perlu! Aku bisa pesan sendiri di kantor." Pria itu terlihat jengkel. Veni pun mengejarnya. 

"Sayang, jangan marah. Kau ini kenapa jadi sensitif sekali sih semenjak keluar dari rumah si babi itu?" 

Elvan melirik ke arah perempuannya. "Kita akan menikah setelah aku resmi cerai dengannya. Dan aku tidak mau terus-terusan seperti ini, Ven." 

"Seperti ini bagaimana maksudmu?" 

"Ya?" Elvan garuk-garuk kepala. 

Ia sebenarnya tidak suka Veni yang terus-terusan mengejar karirnya sebagai model dan pemain film. Belum lagi pelayanannya sebagai wanita. Untuk urusan ranjang mungkin ia adalah satu-satunya wanita paling lihai yang membuatnya sampai mengacungkan dua ibu jari. 

Tapi untuk urusan keperluan kantor serta makanan, Veni benar-benar nol. Berbeda jauh dengan Erika. Padahal kalau dipikir-pikir pekerjaannya tidak sesibuk Erika. Tapi perempuan itu bisa mencukupi segala kebutuhannya. 

"Lupakan saja. Aku mau mandi dulu. Oh, pakaian ku bagaimana?" 

"Pakaian?" 

"Aku sudah bilang bajuku habis, semuanya kotor, Veni." 

"A-aku kan sudah memintamu untuk bawa sekalian ke laundry. Karena aku tidak sempat. Apa kau tidak membawanya?"

Elvan berkacak pinggang. "Jadi aku benar-benar kehabisan baju bersih? Kau ini benar-benar, ya?" 

"Kenapa kau jadi kesal, sih! Kau pikir aku wanita pengangguran?" 

"Ven— kita akan menikah loh. Tidak bisa terus-terusan seperti ini. Aku juga butuh dilayani!" 

"Jadi kau mau menganut sistem patriarki setelah menikah nanti?" hunus Veni tak mau kalah. "Kalau begitu lupakan saja. Tidak usah mengajakku menikah!" 

"Ven— Veni!" Elvan menahan kekasihnya yang hendak berlalu. "Maafkan aku. Oke lah… lupakan soal makanan dan pakaian ku. Tapi tolong, jangan marah, ya." 

"Kau menyebalkan!" runtuknya. 

"Maaf… maaf." Elvan langsung memeluknya. Mendadak ia jadi rindu rumahnya bersama Erika. Perempuan itu memang tak sedap dipandang, tapi soal melayani pasangan? 

Sial apa yang kupikirkan? 

"Baiklah, ku maafkan. Sekarang mandi saja sana. Aku akan beli baju yang baru. Saat kau selesai mandi, ku pastikan pakaianmu sudah ada." 

"Terima kasih, Sayang." Elvan mencium pipi kekasihnya setelah itu berlalu menuju kamar mandi. 

"Cih! Sudah ngasih uangnya kecil, tapi banyak maunya! Makin kesini makin berpikir untuk mendepaknya saja, mana ibu dan adiknya pengeretan. Sialan! pantas saja Ayah mereka pelit." 

….

Karena tidak nyaman dengan pakaian yang dibeli Veni. Elvan pun kembali ke rumahnya dan Erika. Tak peduli jika harus bertemu Erika, perempuan itu sudah pasti akan menerima walau gugatan cerai sudah di dilayangkan ke pengadilan. 

Mobil yang dikendarai Elvan berhenti di pelataran. Sang kepala asisten rumah tangga dengan tergopoh-gopoh mendekat. 

"Selamat pagi, Tuan." 

"Hemmm…" Masih dengan sikap dinginnya. Laki-laki itu terus melangkahkan kaki masuk. 

Di dalam kamar, pria itu terdiam sejenak. Sejujurnya ia cukup merindukan suasana kamar yang bersih dan nyaman ini. Setelahnya buru-buru ke ruang ganti untuk memakai setelannya. 

"Saat di rumah Veni aku terasa gembel sekali. Tapi di sini?" Elvan membuka lemari kaca yang berisi setelan jas mahal miliknya dari Erika. "Yang ini saja, lah–" 

Selesai memilih dan memakainya, pria itu beralih pada arloji yang harganya mencapai puluhan juta rupiah. 

Plaaaaaak! Bayangan tangannya menampar pipi Erika kembali terngiang. Rasa bersalah pun muncul lagi. 

"Ck!" Elvan memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut. 

Di luar… 

"Anda mau pergi lagi, Tuan?" 

"Ya!" jawabnya singkat sebelum membuka pintu mobil. "Emmm, omong-omong apa Nyonya sudah berangkat sejak pagi?" 

Sang kepala asisten rumah tangga menggeleng. "Beliau tidak pulang sejak dua minggu yang lalu, Tuan." 

"Apa? Apa dia pulang ke rumah orangtuanya?" 

"Tidak. Setahu saya, Nyonya cuti berlibur di villanya." 

"Berlibur, di Villa?" 

"Iya, Tuan." 

"Villa yang mana?" 

Sang asisten rumah tangga diam sejenak. Sebelum akhirnya memberitahu. Harapannya Tuan Elvan akan berbaik hati menjemput kembali Nyonya mudanya itu. 

Dan seperti dugaan sang asisten rumah tangga. Elvan yang semula hendak ke kantor, justru belok arah menuju puncak Bogor.

1
Sulis
nyesel sekrng wkwkwk,ibu nya pun rada2 ngomong pas lgi makan,yaa tak tertelan 🫣🫣
Kaira Caem
👍👍👍
fitria linda
bahkan orang luar negri pun berpikiran gt???
fitria linda
jahat bgt
fitria linda
jahat semua mulut mereka
Wiliam Zero
Novelnya bagus,akhirnya erika berbahagia 👍
RIMAWATI
bagus ksryanya
Tuti Tyastuti
semangat thor
Tuti Tyastuti
makasih thor ceritanya bagus di tggu karya yv baru💪
Tuti Tyastuti
semangat erika
Tuti Tyastuti
lanjut
💞R0$€_22💞
Tetap semangat berkarya kak..
disebelah baru ta masukkan daftar pustaka..bakal baca ..💪
💞R0$€_22💞
Yahh Erika dah tamat aja..🥲
makasih banyak kak imut sudah menyelesaikan novel ini, happy Ending dah Erika bersama Dean Raka..
mudah²an ada kisah² baru lagi ya..
💞R0$€_22💞
Aron laki² bakal lebih sat set nanti gerakannya
💞R0$€_22💞
Kenapa ga bapaknya aja yg dipindah deket km Win, suka ngebayangin kalo resign ngurus ortu nanti pendapatannya dari mana, utk hidup sehari hari dan pengobatan
💞R0$€_22💞
Erika terlalu baik..mudah iba pula, ketemu keluarga yg suka drama,,lengkap sudah...
Sabar ya bang Dean,
💞R0$€_22💞
Takutnya ditolong nanti setelah aman terkendali berulah lagi..😏
Tuti Tyastuti
semoga bahagia selalu kelarga dean
Tuti Tyastuti
erika jangan terlalu baik
Tuti Tyastuti
lanjut💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!